
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan intensif. Akhirnya Kellen baru di perbolehkan pindah ke kursi roda untuk menjenguk putranya yang masih ada di ruang rawat.
Si kecil itu menghirup asap yang sedikit mengganggu sistem pernafasannya tetapi karna kecakapan dan kecerdasan Hugo, ia bisa menangani itu.
Tentu saja perasaan tak menentu itu tengah membumbui hati keduanya. Roda kursi terdorong pelan kedepan menuju ruangan yang tampak di jaga ketat oleh para anggota yang menunduk.
"Tuan, Nona!"
"Hm."
Axton mengangguk datar mendorong kursi roda Kellen masuk sehingga ruangan yang lumayan luas dengan siklus udara yang segar ini bisa mereka rasakan.
Ada Bangkar khusus bagi sesosok malaikat mungil yang tampak tertidur dengan Bedong yang masih melapisi tubuhnya.
"Tuan kecil tertidur setelah meminum Asi dari Dot milik anda. Nona!" jelas Dokter Terry
"A..Ax!" gumam Kellen berkaca-kaca melihat ke arah sana. Ia menggenggam tangan kekar Axton yang ada di peggangan kursi roda sampai mendekat ke arah Bangkar.
Nyonya Verena yang tadi menjada di dalam sini hanya bisa mengulum senyum hangat saling pandang dengan Dokter Terry.
"Keadaannya baik-baik saja. Semua kendala yang terjadi di awal bisa di atasi apalagi, sistem kekebalan tubuh Tuan kecil sangat kuat. Walau menghirup asap dalam jumlah yang cukup mengkhawatirkan, dia masih bisa bertahan."
"P..Putraku.."
Gumam Kellen dengan gemetar mengangkat tangannya menyentuh kain yang melapisi tubuh si kecil ini. Wajahnya sangatlah mirip dengan Axton kecil.
Garis alis yang datar dan pas serta raut wajah yang begitu misterius. Aura kekuasaan dari Axton benar-benar turun pada malaikat kecil ini.
"A..apa dia.. Apa dia begitu mirip dengan Axton?"
"Yah. Dulu saat lahir Axton selalu menjadi yang terbaik, ia tak membuat Mommynya berjaga tengah malam atau sekedar merengsek. Tapi, berbeda jika bersama Daddynya." jelas Nyonya Verena mengulum senyum.
Kellen melirik Axton yang tampak masih diam dengan exspresi datar tak berkedip menatap wajah merah nan halus si kecil yang nyatanya adalah bagian dari dirinya.
Kellen tahu. Axton pasti merasa aneh dan tak terbiasa dengan sebuah hubungan baru dan kehangatan yang selama ini dia bicarakan.
"Kau begitu ingin menghasilkan penerus keluargamu bukan, ayo sapa dia. Sayang!"
"Aku?" tanya Axton tampak canggung. Ia terdiam melihat Kellen mengulur jemarinya menyentuh pipi mulus gembul bayinya yang mulai menggeliat.
Bibir mungil itu terlihat mencari jemari Kellen yang mengusap hangat pipi lembut ini. Kehangatan yang Kellen hadirkan membuat mata si kecil itu perlahan terbuka dan..
"Ouhhh. Sayangku!" gemas Kellen benar-benar tak menyangka jika mata ambernya menurun dan terlihat bisa berubah-ubah.
Manik Amber yang menatap lembut Kellen dan sangat memuja wanita itu.
"Ax! Dia..dia juga mewarisi ketampanan-mu. Lihat, wajahnya sangat imuut."
"Benarkah?" tanya Axton melihat tatapan bayi mungil ini pada Kellen sangatlah halus dan membuai seakan menghipnotis untuk jatuh dalam kelembutannya.
Tetapi, kala Axton perhatikan lebih dalam. Manik ini berubah menuruni pandangan membunuh darinya, ini sangat menakjubkan.
"Dia akan tunduk hanya padamu."
Batin Axton menghela nafas dalam. Ia tak menunjukan jika dirinya akan terpengaruh atau sekedar memuja berlebihan.
"Ax! Kenapa kau diam saja? Ayo sapa, Baby!"
"Hm." gumam Axton hanya memandang saja. Tak mau mendekat atau sekedar mengeluarkan kalimat hangat.
"Ayo. katakan 'Hello'!"
"Hello!" ucap Axton dengan suara datarnya hampir membuat Nicky yang ada di belakang sana tersedak. Yang benar saja seorang Ayah kandung tengah menindas putranya sendiri.
"Ax! Sepertinya kau butuh buku panduanku." sambar Nicky dari arah Sofa membuat tatapan membunuh Axton tak terhindarkan.
"Sudahlah! Bisa ambil Baby dan taruh ke pahaku. Sayang?"
"Kellen!" sangga Nyonya Verena mendekat. Ia tak yakin Axton bisa melakukannya dan bisa saja ini akan menyakiti tubuh rentan Bayi ini.
"Biarkan aku membantumu. Axton belum terbiasa, dia perlu berlatih."
"Benarkah?" goda Kellen melirikan mata geli melihat raut pucat Axton kala di suruh menyentuh si kecil ini. Ia juga tahu Axton tak akan mau karna tak berani.
Melihat itu Nyonya Verena berinisiatif menggendong perlahan dan hati-hati si kecil itu sampai Kellen bersemangat ingin menggendongnya.
"Hati-hati. Dia masih lemah."
"Iya. Mom!" ucap Kellen membuat Nyonya Verena terdiam. Ia menatap Axton yang hanya menunjukan wajah datarnya tetapi tentu ada rasa senang di hati Nyonya Verena mendengar panggilan Kellen barusan.
"Mom?"
"A.. Iya. lakukan dengan hati-hati." ucap Nyonya Verena tersadar segera meletakan si kecil itu di atas paha Kellen. Tatapan matanya enggan berpaling menyatakan kepemilikan pada sosok cantik ini.
"Baby! Kau sangat menggemaskan. Sayang!" lirih Kellen tampak begitu bahagia. Senyuman di bibirnya membuat Axton tersihir untuk selalu memandang ini.
"Ax!"
"Hm?"
"Namanya siapa?" tanya Kellen menggendongnya stabil tampak sudah biasa. Bahkan, Kellen melabuhkan kecupan yang membuat si kecil itu menunjukan Gusi merahnya.
Dia terlihat seperti Bunglon. Kemampuan pengamatannya cukup mengesankan, liar dan misterius. Kau memang sesuai harapanku.
"ALEXSAN DEZEE MILLER!"
"Woooww!!" pekik Nicky bertepuk tangan. Nama yang berikan Axton sangatlah berwibawah dan nama itu memang memiliki arti yang sangat tangguh.
Kellen tersenyum lebar mendengar Axton sudah memilihnya dan ia yakin ini bukanlah sembarang nama.
"Alexsan adalah seorang yang tangguh dan misterius! Dalam sejarah Keluargaku, nama itu adalah kajian misterius dari sejarah Klan."
"Nama yang bagus. Aku suka." jawab Kellen sampai tak berhenti melabuhkan kecupan ke kedua pipi putranya.
"Dia akan melindungimu lebih baik dari aku."
"Kau juga." imbuh Kellen yang diangguki Axton. Ia sudah mempersiapkan apa saja yang akan ia lakukan di masa depan dan tunggu saja sampai umur Setan kecil ini sudah memenuhi standarnya.
"Baby San!"
"San?" gumam mereka kecuali Axton yang hanya diam menarik sudut bibir kecil. Ia mengusap kepala Kellen yang selalu saja membuat kegagahan jatuh menjadi kelembutan.
"Itu nama kesayangan untuknya. Terserah kalian ingin memanggil apa tapi itu nama dariku."
"Apapun untukmu." jawab Axton mengecup puncak kepala Kellen yang tersenyum lebar merasa bahagia Axton mendukungnya.
"Baiklah. Ayo sapa Baby!"
"Tadi sudah."
"Yang mana? Ayo. cium Baby!" paksa Kellen membuat mereka menahan kegelian melihat raut wajah Axton yang kaku dan tampak diam. Ia terlihat sangat-sangat tersiksa.
"Ax!"
"Aku rasa tak perlu."
"Apa???" geram Kellen menatap tajam Axton yang segera menundukan tubuhnya untuk melakukan permintaan Ibu muda ini.
Nicky tersenyum licik melihat Axton berkeringat dingin kala melihat wajah yang belia dan sangat sama dengannya. Baby San menatap datar Axton seakan enggan.
"Ayo. Ax!"
"Cih! di dalam hidupnya hanya dua wanita spesial yang sering mendapat ciuman Robot hidup ini."
Batin Nicky sangat suka melihat Axton di siksa seperti ini. ia sangat menantikan momen yang begitu langka sekarang.
Nyonya Verena juga paham. Ntah bagaimana Axton melawan rasa kaku dan canggung dalam hidupnya tanpa kehadiran Kellen.
"Ax! Ayolah kau.."
Kellen tersentak kala Axton malah mencium pipinya. Tentu hal itu sudah di prediksi Nicky yang menyilangkan kaki angkuh diatas sofa.
"Percuma. Kellen! Dia hanya akan menciummu dan Wanita yang melahirkannya." sahut Nicky membuat Axton diam masih belum bisa melawan dirinya sendiri.
Kellen mengulum senyum. Ia mengusap rahang tegas Axton agar bisa tenang dan nyaman disini.
"Baby adalah bagian dari kita. dia akan senang jika kau memberi kecupan selamat datang. Sayang!"
"Tapi.."
"Tak usah canggung. Anggap saja kau latihan, tentu kau tak mau berhenti dengan satu keturunankan?" pancing Kellen menaik-turunkan alisnya memberi keberanian pada Axton yang tampak menimbang-nimbang.
"Kalau tak bisa mencium. Bagaimana kalau peggang pipinya saja?"
"Apa dia tak akan kesakitan?" tanya Axton beralih memandang tangannya. Ia tak pernah memeggang mahluk selembut ini.
"Tanganku berbeda dengan tanganmu." imbuh Axton menarik tatapan sendu semua orang. Apalagi Nyonya Verena yang merasa bersalah karna membawa Axton ke Fase ini.
"Jika tanganmu kasar, maka itu berguna untuk melindungi kami, tak ada masalah, Sayang!"
"Benarkah?" tanya Axton mulai percaya diri. Ia perlahan mengulurkan telunjuknya ke arah pipi gembul merah itu.
Kala jemarinya sudah bersentuhan. Axton merasa tersengat akan perasaan yang belum pernah menelusup ke relung hatinya.
Apa ini rasanya menjadi seorang ayah?
Batin Axton membiarkan telunjuknya bertahan di tempat itu. Rasanya sangat hangat dan penuh tanggung jawab.
"Dia menyukaimu."
"Hm."
Gumam Axton mendiami dirinya sejenak. Nyonya Verena hanya bisa diam merenungi semua kesalahannya. Walau selama ini hanya sebuah cara melindungi Axton, tetapi ia membatasi kehidupan normal pria ini.
"Dua puluh tahun kau berada di kegelapan! Masa-masa itu sangatlah mengerikan tapi kau mampu menjalaninya, aku rasa aku sudah tak bisa menutupi kebahagiaanmu lagi, Ax! Kau berhak mengetahuinya."
Batin Nyonya Verena melangkah pergi enggan mengganggu kebersamaan keluarga kecil itu. Ia ingin Axton tahu hal yang selama ini dia cari.
"Aku rasa ini sudah terlambat. Tapi, aku akan menunjukannya padamu."
.....
Vote and Like Sayang..