My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Ancaman mematikan



Suara amukan Axton membuat keributan besar hingga para penjaga di luar sana segera masuk. Namun, mereka terkejut kala melihat siapa yang tengah di rantai dengan mata terpejam menahan isakan dan rasa takut yang juga menjalar di tubuh mereka semua.


Groel yang baru masuk-pun terdiam menatap sosok wanita dengan keadaan tak baik-baik saja itu.


"Dia marah karna apa?" gumam mereka bergidik kala melihat besi di belakang kepala Kellen sudah membekas tinjuan kasarnya.


"Panggil Tuan Martinez kesini!"


"Baik."


Para penjaga sana bergegas keluar sedangkan Gorel, ia masih diam membiarkan Axton mengamuk membuat wanita itu tampak sudah lemas di tempatnya.


"Dia siapa?"


"Tadi aku kesini, tak ada wanita itu."


Desas-desus para penjaga yang masih terisa di dalam. Gorel masih menyimpan tanda tanya besar di benaknya hingga kedatangan Martinez di belakang sana.


"Tuan!"


"Ada apa?" tanya Martinez tapi pandangannya segera terpaku pada sosok wanita dengan tubuh lebam bahkan semuanya penuh luka.


Tentu saja ada rasa senang di hati Martinez melihat Kellen benar-benar tersiksa.


"Wowww!!" gumam Martinez bertepuk tangan hingga menarik kesadaran Axton yang berhenti dengan kedua tangan mengepal mengungkung kepala Kellen ke dinding.


Darah itu terlihat menetes menyusuri baja di belakang Kellen yang tampak sudah pucat pasih.


"Luar biasa. Aku sangat terhibur."


"Tuan." gumam Gorel tak mengerti. Ia hanya diam membiarkan Martinez yang mendekati Axton. tentu tatapan membunuh dan sangat terganggu itu terlihat jelas di netra elang Axton yang merapatkan giginya kuat segera bangkit menyerang Martinez.


"Peggang dia!!!"


"Baik!"


Para penjaga sana langsung memeggangi tubuh kekar Axton yang memberontak dengan geraman murkanya menatap penuh hasrat benci pada Martinez yang menyeringai.


"Tuan. Dia terlalu kuat!!"


"Rantai!" titah Martinez bertopang dada hingga penjaga di pintu sana segera membawakan rantai yang baru.


5 penjaga yang memeggangi tubuh Axton benar-benar terombang - ambing di tempatnya. Mereka harus menanggung pukulan panas yang benar-benar kuat dari kepalan kasar itu.


"Rantai!!! Jangan sampai lepas!!"


"S..Susah. Peggang tangannya!"


Groel terus berjaga di dekat Martinez yang hanya diam dengan seringaian yang semakin memancing Axton untuk mengoyak semua yang ada disini. Tatapan matanya benar-benar sangat ingin membunuh Martinez.


Setelah beberapa lama. Barulah mereka berhasil membekuk Axton yang di ikat dengan rantai sama seperti Kellen.


"Sudah. Tuan!" ucap mereka membuang nafas lega.


Axton masih berusaha lepas tapi sayangnya kuncian rantai ini benar-benar kuat. Melihat dua insan manusia dengan keadaan tak jauh berbeda ini, menggelitik hati Martinez yang segera menuai senyum liciknya.


"Cih. Apa ini seorang Miss Kellen yang hari itu menantangku. Hm?"


"Dia menantang anda? Tuan!" tanya Gorel menatap Kellen yang sama sekali tak membuka matanya. Rasa sakit ini membuatnya berada di permukaan alam bawah sadarnya.


"Kau begitu angkuh dan sombong padaku. Dan.."


"Ss..sakitt." geraman Kellen kala rambutnya di tarik ke atas oleh Martinez hingga wajah penuh lebam dan darah mengering itu terdongak kasar.


Netra ember Kellen sayu-sayu terbuka. Pandangan kabur bahkan begitu menyedihkan.


"Sakit? Benarkah, apa dia memukulimu?"


"Sepertinya benar. Tuan! Lukanya sangat parah." sambung Groel bergidik melihat tubuh indah Kellen yang di penuhi memar dan luka berat. Di pastikan tangan dan kaki wanita ini patah.


"Ini sangat bagus. Sangaaat luar biasa."


"S...Sialan.." gumam Kellen sama sekali tak takut mengumpati Martinez yang semakin berhasrat untuk menghancurkan wanita ini.


"Dalam keadaan di ambang kematian ini. Kau masih bisa bicara kasar. Hm?"


Plakkk..


"Kellll!!!!" geraman Axton menggema kala Martinez menampar Kellen hingga wanita itu tergeletak di lantai ini.


Ia ingin bangkit tapi tubuhnya di bekuk lagi hingga suara berat dan mengerikan itu mampu memecah gendang telinga semua orang.


"Kelll!!! Kellll!!!"


"Kel? Woww!" decah Martinez sekali lagi bertepuk tangan meriah. Ia mendekati Axton yang terlihat memburu menatap Kellen yang sudah diambang batas nafasnya.


"Axton. Kakakku tersayang, kau tahu namanya?"


"K..Kell." gumam Axton menatap cemas wanita itu. Baru kali ini mereka melihat sosok mengerikan ini bisa mengingat nama seseorang dan bisa sedekat ini dengan yang namanya manusia.


"Kak! Kau begitu tampan dan sangat gagah, apa yang kau lakukan padanya. Hm?"


Axton mengepalkan tangannya kuat. Gertakan giginya tak bisa di hindarkan dengan wajah mendidih dikala Kellen memuntahkan darah itu dari mulutnya.


"Kenapa? Apa kau ingin membunuhnya atau.."


"Kelll!!!" bentak Axton menggila langsung mengayun kakinya menerjang betis Martinez yang terkejut saat tubuhnya di hantam keras sampai membentur dinding.


"Tuan!!" mereka terkejut hebat.


"Shittt!"


"Tuan! Kau..kau tak apa?" Groel ingin membantu Martinez berdiri tapi pria itu menepisnya kasar seraya tertatih-tatih menatap kelam Axton yang bak iblis menggeram marah.


"Sialan ini memang menyusahkan."


"Anda bisa membunuhnya sekarang. Tuan! Nyonya pasti hanya menganggap ini kecelakaan." bisik Gorel menghasut Martinez yang terdiam sejenak.


Jika ia membunuh Axton maka semua harta ini akan di bawa mati pria ini. Sangat sulit sekarang ia memilih.


"Tak semudah itu."


"Tuan! Dia tak tahu apa-apa. Kita bisa me.."


"Aku punya rencana lebih baik." gumam Martinez mengalihkan pandangannya pada Kellen yang terlihat masih setengah sadar.


"Baik."


Martinez menyaksikan penjaga sana menyiram Kellen dengan selang air di samping sana hingga wanita itu terperanjat dengan mata lemah sayu terbuka.


"D..Dad." gumam Kellen merasa ia akan mati sekarang.


"Dady? Kau merindukan dadymu?"


"D..Dad." lirihnya lagi dengan nafas terputus-putus. Kellen benar-benar tak bisa bergerak banyak di tengah luka ini.


"Aku punya penawaran bagus untukmu."


"K..kau..."


"Hm? Kau tertarik?" tanya Martinez berjongkok di samping tubuh Kellen. Ia akui wanita ini memang cantik dan sangat di sayangkan tubuh indahnya dijadikan samsak tinju Axton.


"Menurutlah padaku. Maka kau akan bebas."


"K..Kepalamu." umpat Kellen meludai kemeja yang Martinez pakai hingga darahnya menempel di sana.


Tentu mereka sangat syok bahkan Groel bisa menebak jika Tuannya akan benar-benar membenci wanita ini.


"Kau begitu angkuh rupanya." desis Martinez mendecah jengah.


Ia menghela nafas halus lalu mengeluarkan ponselnya. Ntah apa yang pria itu ketik di benda pipih itu Kellen hanya bisa menegguhkan fisik dan batin.


"Sepertinya kau harus mendengar ini dulu."


Martinez memperbesar Volume ponsel lalu mendekatkan benda itu ke telinga Kellen.


"Ini siapa?"


Duarrr...


Seketika jantung Kellen seakan mau keluar kala mendengar suara seseorang yang beberapa waktu ini terbayang di benaknya.


Bibir Kellen bergetar dengan mata berkaca-kaca tak tahan akan rasa sesak di dadanya.


"D..Dad."


"Kellen! Ini.. Ini kau sayang?"


Sekuat tenaga Kellen menahan rasa sakit di hatinya. Air mata itu turun dengan sangat menyedihkan.


"Kellen! Kenapa tak menjawab telfon, Dady? Apa kau baik-baik saja? Nak! Kau dimana sekarang? Kapan kau pulang?"


Pertanyaan beruntun dari Tuan Benet yang seperti begitu mencemaskannya. Rasa rindu Kellen membuncah pada pria itu.


"Kellen! Apa kau baik-baik saja? Jawab dady. Nak!"


"D..Dad..."


"Kenapa? Kenapa suaramu serak. Kau sakit?"


Kellen mengigit bibirnya kuat agar tak mengeluarkan suara isakan. Air matanya sudah turun deras membayangkan wajah sang ayah.


"Kellen! Kalau tak bisa, tak apa Sayang. Kau bisa pulang. Dady sudah sangat merindukanmu."


"D..Dady... K..kau.. Kau b..baik.. Baik saja-kan?"


"Kau kenapa? Katakan. Apa kau sakit?"


Sungguh. Aku..aku ingin mati, Dad. Aku..aku ingin menemui. Momy, hiks. Aku..aku sangat menyayangimu.


Batin Kellen menjeritkan sesuatu yang tertahan di ujung lidahnya. Ia ingin pulang dan kembali seperti biasa.


"Kellen. Jawab!"


"K..Kellen baik. It's ok, Dad!" jawab Kellen berusaha mengatur nafas.


"Kenapa kau tak memakai ponselmu? Ini.."


"Dady.."


Martinez langsung mematikan sambungannya membuat mata Kellen terbuka lebar. Ia ingin bicara lagi bahkan ia yakin Dadynya masih mencemaskannya.


"K..kau..."


"Bagaimana? Itu dadymu. Bukan?" tanya Martinez menyeringai bengis. Ia sudah menyiapkan rencana matang untuk membuat wanita ini mau menurutinya.


"K..kau jangan mengusiknya!!! Jangan sialan!!!"


"Sutttt!!! Pelankan suaramu. Baby!" desis Martinez mengusap pipi lembut Kellen yang memar. Dari raut wajahnya, ia mengatakan jika akan ada hal besar yang akan terjadi.


"Kau tahu apa yang bisa-ku lakukan. Hm?"


"J..jangan.. Kau..." Kellen menggeleng pucat. Ia takut jika Dadynya di incar.


"Takut? Ouhh.. Kau sangat manis dan seksi." desis Martinez memeggang dagu lancip Kellen yang menggeleng dengan air mata menuai deras.


"K..kau..kau bisa m..mebunuhku. Tapi.. Tapi jangan mengusiknya. Kau..."


"Itu yang ku mau sayang. Itu yang-ku tunggu dari bibir indahmu ini." sela Martinez tersenyum lepas. akan sangat membahagiakan melihat dua insan tak berguna ini saling membunuh.


"Kau harus melakukan sesuatu."


"A.. Apa? Aku..aku akan.."


"Bersedia Menikah dengan DIA."


Degg...


Mata Kellen membulat melihat ke arah Axton yang juga memandangnya dengan raut murka. Jelas ia tak berani sampai terus bersama pria ini.


"Bersiaplah malam ini. Hm?"


"D..Dia..."


.....


Vote and Like Sayang..