
Mobil yang melaju cepat di jalanan kota Barcelona itu tampaknya tak segan untuk menyalip beberapa Mobil di depannya agar lebih cepat sampai ke tujuan.
Nuansa bangunan tinggi yang tengah mendaki langit memancarkan cahaya dari mentri yang tampak cukup terik siang ini. Para aparat Kepolisian yang tengah ada di sekitar jalan hanya memandang Mobil mereka yang tampaknya tak bisa di cegat sembarangan.
"Aku sudah menghubungi Nicky dan dia bilang dia tak ada mengalami hal aneh." ucap Castor seraya membelokan kemudinya ke arah jalan Kediaman khusus bagi Miller Family.
Tetapi, jelas Hugo mengatakan jika racun pelumpuh itu mempunyai dampak besar. tak mungkin analisis Dokter sekelas Hugo bisa melenceng.
Lamunan Axton membawanya memasuki Gerbang besar nan megah Kediaman Miller yang tampak begitu sunyi dan sepi seperti biasanya.
Bangunan dengan desain Roma klasik bak Kerajaan ini tampak seperti sebuah Labirin mistis yang begitu suram.
"Itu..itu bukannya.."
"Diam."
Desas-desus para pengawal yang ada di depan Kediaman merasa tak asing dengan Mobil ini. Aura yang ada di dalamnya juga sudah di pastikan menyimpan sesuatu.
"Tuan!!"
Castor menghentikan Mobil di halaman depan lalu keluar menerima sapaan para Pengawal yang tampak saling pandang kala Castor membukakan pintu di belakangnya.
Namun. Seketika mata mereka melebar melihat siapa yang sudah keluar dengan wajah sudah berubah tak sepolos biasanya.
"I..itu.."
Mereka memucat dengan tubuh membeku. Sudah lama mereka tak melihat pria ini dan nyatanya sekarang sudah begitu gagah tanpa raut kelainan.
"Apa Nyonya Verena ada?"
"N..Nyonya di..di dalam." jawab salah satunya langsung menunduk kala Castor bertanya.
Axton hanya memandangnya datar lalu melangkah lebar masuk ke pintu Utama yang begitu megah bak sebuah Kerajaan Romawi.
Disini semua pelayan terkejut akan kedatangan Axton apalagi Yagatri yang tak percaya jika Tuan Mudanya akan segagah ini.
"T..Tuan!" Yagatri yang tengah mematung di dekat tangga segera menghampiri Axton dan Castor yang memang menggemparkan Kediaman.
"Tuan! Anda.."
"Panggil Nyonya Verena kemari!"
Yagatri agak terdiam sejenak beralih menatap Axton yang hanya memandang lurus kedepan. Ia terlihat berbeda dan semakin membuat semua orang menjaga-jarak.
"Kau mendengarku? Yagatri!"
"A.. Maaf, Tuan!"
Yagatri tersadar dan segera pergi ke arah Lift menuju lantai kamar Nyonya Verena yang belum bisa bangkit dari tempat tidur. Wanita itu selalu memakai kursi roda untuk keluar.
Sekarang. tinggallah Axton yang merasa risih dengan tatapan ratusan mata para pelayan yang tiba-tiba saja berkerumun di samping tampak berbisik.
"Itu Axton yang dulu di ruang bawah tanah. Bukan?"
"Dia semakin tampan!"
"Tapi, dia tambah mengerikan. Aku takut melihatnya."
Bisik-bisik pelayan wanita sana sampai akhirnya mereka bubar kala pandangan dingin Axton sudah menembus jantung mereka.
"Ax! wajar respon mereka seperti itu."
"Hm."
Axton memilih acuh melangkah gontai ke arah Sofa dekat ruang santai dimana tempat elegan yang selalu menjadi fokus saat tiba di lantai utama yang luas.
Kediaman ini mempunyai Ballroom untuk sekedar menikmati bagaimana kemewahan dari Mashion Miller.
Kala Axton duduk di sofa singel itu dengan kaki bertopang tindih dan kedua tangan ada di atas peggangan megahnya, maka disitulah aura kekuasaan dari tubuhnya bisa membisu siapapun termasuk seorang pria yang tadi menerima laporan dari salah satu pengawal di depan.
Ia turun dari tangga ingin melihat langsung apa benar yang dia katakan.
"Woww!!!"
Castor melihat ke arah tangga. Seketika kepalannya menguat melihat Tuan Redomir turun dengan wajah bahagia dan sangat terkejut menatap Axton yang tak memandangnya.
"Benarkah ini AXTON DEZEE MILLER? Pria kelainan itu?"
"Jaga bicaramu!!" geram Castor spontan menodongkan pistol ke arah Tuan Redomir yang segera mengangkat kedua tangannya. Wajah tanpa dosa menjijikan ini seperti mempermainkan suasana.
"Kenapa sangat terburu-buru? Aku hanya bertanya. Pengawal!"
"Kau tak ada hak menanyakan itu." tekan Castor terlihat emosi. Axton mengisyaratkan agar menurunkan pistolnya dan tentu Castor menuruti itu.
"Kenapa kalian datang ke Kediamanku? Apa ada masalah?"
"Bajingan."
Batin Castor jijik melihat ucapan Tuan Redomir yang belagak seperti Majikan padahal dia hanya sampah yang menumpang disini.
"Kenapa malu? Ayo katakan, mau apa. Hm?"
"Kauuu!!!"
"Castor!!"
Suara Axton membuat Castor mengumpat tak lagi menanggapi Tuan Redomir yang terlihat puas. Ia masih belum tahu apa tujuan Axton sendiri tapi dari raut wajahnya ia bisa yakin Axton sudah tahu siapa dirinya
"Kenapa kau kesini??"
Suara seseorang dari arah Lift menyita perhatian mereka. Terlihatlah Nyonya Verena yang tengah duduk di kursi roda dengan Yagatri yang mendorong dari belakang.
Wajah paruh baya ini masih tampak pucat tetapi sudah lebih baik dari saat Axton pergi dari Kediaman ini.
"Sayangku!! Kau kesusahan turun hanya untuk dua manusia ini?"
"Aku tak berbicara denganmu." tegas Nyonya Verena membuat Tuan Redomir berdecih membiarkan Yagatri mendorong kursi roda Nyonya Verena mendekat ke arah Axton.
"Kau sudah puas. Bukan?" desis Nyonya Verena menatap benci Axton dengan mata yang mengigil.
Ia melihat jika Axton yang sekarang berdiri di hadapannya bukanlah Axton yang bisa ia anggap anak kecil lagi. Bahkan, tatapannya sudah begitu mematikan.
"Kau puas melihatku begini??"
"Belum." jawab Axton mendinginkan suasana. Nyonya Verena menahan amarah dengan luapan perasaan sampai matanya berair ntah apa yang terjadi Castor belum pernah melihat hal ini sebelumnya.
"Kau sudah sehat. Bukan?"
"Apa terlihat begitu?" tanya Axton masih tenang melihat keadaan Nyonya Verena yang sekarat. Sayangnya ia berniat untuk menghabisi wanita ini tapi harus mendapat informasi yang akurat.
"Apa yang kau inginkan? Bukankah, kau sudah mengambil alih Perusahaan?"
"Apalagi yang kau mau? Kau bisa menguasai semuanya sekarang."
"Tidak juga."
"Kau.."
Kalimat Nyonya Verena terjeda kala melihat Axton mengeluarkan sesuatu dari balik Mantelnya. Itu adalah sebuah Kartu sebagai Simbol tengkorak merah dari Klan Dark.
"Kau tahu ini bukan? Aku rasa aku tak perlu menjelaskannya."
"Kau mau apa?" tanya Nyonya Verena merasa Axton punya niatan yang lebih kuat kesini.
"Siapa yang memulai ledakan itu?"
"Aku.."
Axton melempar satu foto ke pangkuan Nyonya Verena yang melebarkan matanya melihat siapa yang sekarang tengah tertidur dengan bahu di perban di atas Sofa itu.
"Shitt. Anak bodoh ini." batin Nyonya Verena melihat Martinez yang begitu ceroboh.
"Sekali tembakan di kepala. Aku rasa cukup."
"Kau apakan dia?" geram Nyonya Verena menatap tajam Axton yang hanya memberikan wajah tak bisa di tebak akan melakukan apa.
"Menurutmu?!"
"Dia tak ada hubungannya dengan semua ini!!" desis Nyonya Verena ingin bangkit tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
Axton terdiam dengan helaan nafas santai. Ia harus menekan wanita ini agar bicara yang serius.
"Katakan. Siapa yang memulai ledakan itu?"
"Kauu.."
Satu tembakan langsung melesat kearah Tuan Redomir yang syok kala perutnya terkena timah panas dari Pistol yang berasal dari tangan Axton.
Tatapan mata Axton begitu serius dan tak main-main akan ancamannya.
"K..Kenapa aku? Sialll!" umpat Tuan Redomir meringis hebat dengan para pengawal masuk karna mendengar suara tembakan tadi.
"Tuan!"
"Bunuh pria itu!!" geraman Tuan Redomir menahan sakit tetapi Axton sama sekali tak gentar. Ia dengan mudah membidik kepala-kepala para pengawal ini tanpa bangkit dari tempat duduknya.
"Cukuuup!!!"
"N..Nyonya!"
"Bawa sialan itu pergi!" titah Nyonya Verena membuat para pengawal menurut tetapi lega nyawa masih aman. Tuan Redomir berteriak memaki Axton tetapi makian itu sama sekali tak berguna sekarang.
"Katakan!"
"Aku tak tahu banyak."
"Hm."
Nyonya Verena mengambil nafas dalam. Ia mulai membayang ke masa lalu dengan wajah tampak lebih murung.
"Aku tak tahu tentang ledakan yang kau maksud, tetapi. Aku hanya tahu jika Johar memang menjadi kaki tangan utama Masimo, aku hanya bekerja untuk Johar tetapi Masimo belum menunjukan siapa dan dimana dia?"
"Kau masih menutupi rupanya?" desis Axton tak percaya itu. Tentu hal itu membuat Nyonya Verena bungkam memandang Axton dengan tatapan sulit diartikan.
"Aku tak.."
"Axtoon!!" sangga Castor segera menahan lengan Axton yang ingin menembak Nyonya Verena dari jarak sedekat ini.
Mata Axton mengigil menahan sebuah rasa marah yang selama ini ia tahan hanya untuk menyembunyikan luka sebenarnya.
"Jika kau tak bicara. Aku benar-benar akan melenyapkan PUTRAMU!!"
"Apa masa lalumu begitu menyakitkan?" tanya Nyonya Verena melihat mata elang ini memendam sebuah api yang tengah bergejolak.
"Aku tahu jika kau adalah Putra Fander yang begitu mencintai istrinya. Dia bahkan, membangun sebuah Hotel megah hanya untuk hadiah ulang tahun NYONYA BESAR MILLER. bukankah begitu?"
Axton diam dengan urat kemarahan dan kebencian melingkar di lengannya. Gertakan gigi itu menandakan jika sekarang perasaanya tengah tak menentu.
"Jangan terlalu mencintai Istrimu. Karna dia akan membunuhmu."
"Kau jangan omong kosong. KATAKAN SAJA KEBENARANNYA!!" tekan Castor tak mau mengungkit luka itu lagi. Ia tak tahu apa yang terjadi sampai membuat Axton Trauma saat itu tetapi, ia tak mau melihat sahabatnya kembali di landa rasa takut.
Apalagi, sekarang tangan Axton mulai bergetar dengan keringat dingin muncul di keningnya.
"Ingat teriakan saat itu? Dia menjerit dan apa yang terjadi selanjutnya. Ax?"
"Axton!" gumma Castor melihat Axton tampak gemetar dengan wajah pucatnya. Ia sungguh cemas akan hal ini.
"Jeritan, tangisan hingga tiba saatnya dia memberi senyuman padamu. Tetapi, senyuman itu nyatanya yang terakhir dan.."
"C..Cukup." gumam Axton tak mampu lagi menahan respon di tubuhnya. Spontan ia mulai merasakan kembali kejadian itu dan berputar di kepalanya.
"Dia berteriak 'Jangan Keluar' kau masih mengingat suaranya?"
"CUKUUUP!!" geram Axton dengan jantung berpacu cepat. Ia berdiri tetapi tak begitu tegap karna tubuhnya tiba-tiba lemah dan gemetar.
Tanpa sadar air mata Nyonya Verena lolos menatap Axton dengan pandangannya sendiri. Sudut bibirnya tertarik seperti menerima sesuatu yang lebih hebat dari ini.
"Tiga orang keluar dari kabut, yang satunya berjalan pincang dan yang satunya di papah keluar."
"M..Mommy." gumam Axton merasa kepalanya begitu pusing dan sangat sakit. Kilasan kejadian dimana ia ada di kamar bersama seorang wanita namun tiba-tiba ada peluru yang menerobos masuk tepat di tepi matanya membuat Axton semakin meledak-ledak akan ketakutan kala itu.
"Kau kenapa? Bukankah saat itu kau melihatnya?"
"DIAAAM!!!" Bentak Axton keras hingga Nyonya Verena terbahak melihat bagaimana Axton masih mencoba melawan rasa takut di masa lalu. Ini sangat menyedihkan. Bukan?
"Kenapa?? Kau tak perlu keluar. Tetaplah di dalam kegelapan karna cahayamu sudah lama pergi, Ax!"
"DIAAM!! k..kau Diaam!!"
Nyonya Verena terus terbahak seperti orang tak waras membuat Castor mengambil tindakan. Ia menjaga Axton yang ingin jatuh tetapi segera ia bopong berjalan keluar.
Tawa Nyonya Verena lambat laun berubah menjadi tangisan yang meraung diantara terowongan dan gema Kediaman. Tangisan yang benar-benar misterius dan menyakitkan.
"Aku mendengarnya!!! Aku melihatnya!! Aku merasakan segalanya!!"
....
Vote and Like Sayang..