My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Keputusasaan Martinez!



Keadaan masih sama. Martinez enggan melepas pelukannya seakan ia benar-benar sangat merindukan wanita ini. Sosok yang telah lama hilang dan menepis perhatian yang sudah melekat di dalam hidupnya.


Mengabaikan pria yang berdiri mematung terlihat tak mengerti akan keadaan. Dari raut wajah Miss Barbie yang terlihat juga menampung kerinduan ia jadi enggan untuk berbicara.


Namun. Miss Barbie segera sadar segera mendorong bahu Martinez menjauh darinya. Air mata yang tadi ingin keluar dengan cepat ia hapus.


"K..kau.."


"Maaf, ayo pergi!" ujar Miss Barbie mengabaikan Martinez dengan menarik lengan Thomas ke arah Lobby.


Tetapi, Martinez dengan cepat menyela langkahnya menghentikan mereka berdua. Tatapan Martinez begitu hampa dan kebingungan akan hadirnya pria tinggi di samping Miss Barbie.


"B..Barbie! Kau kemana saja? Dan..dan dia.."


"Dia Tunanganku."


Duaarr..


Bagai di sambar petir ditengah malam ini Martinez benar-benar terkejut. Tatapan matanya begitu kosong dan tampak mematung diam.


Dadanya tiba-tiba di tikam perasaan yang begitu sesak dan sulit membuatnya percaya.


"T..tidak kau.. Kau bercandakan?"


"Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" tanya Thomas dengan halus dan baik-baik. Dari interaksi dua manusia ini ia sangat paham jika ada ikatan sebelum kedatangannya.


"K..kalian.. Kalian kenapa bersama? Kau..kau siapa Barbie?"


"Seperti yang dia katakan. Aku Tunangannya." jawab Thomas lugas dan masih memelankan suara karna merasa Martinez begitu kecewa dan tak percaya.


Manik hazel itu mengigil dengan tatapan yang sangat menyakitkan bagi Miss Barbie yang membuang wajah ke arah lain. Sungguh ini hal yang tak bisa ia duga sebelumnya, ia tak siap bertemu secepat ini.


"B..Barbie! A..ada apa?"


"Tidak ada." tegas Miss Barbie ingin melewati Martinez tetapi tangannya langsung di cengkal kuat membuat Thomas memasang badan.


"Jangan menyakitinya."


"Kau.. Aku..aku ingin bicara denganmu. Apa.. Apa ini semua. Ha? Kenapa kau begini?"


Miss Barbie mengigit bibir bawahnya berusaha untuk mengendalikan diri. tak bisa ia jawab atau jelaskan karna semuanya memang sudah berakhir.


"Barbie! Kenapa? Kau..kau tak pernah seperti ini. Katakan padaku, apa yang terjadi padamu. Ha?"


"Lepaskan tangannya." tekan Thomas menyentak tangan Martinez dari lengan Miss Barbie yang mencengkram ujung Mantel Thomas.


Tatapan kedua pria ini beradu dengan sengit. Thomas melihat jika Miss Barbie tak nyaman dengan kehadiran Martinez yang tiba-tiba begini.


"Aku tak tahu apa urusanmu dengan Barbie! Tapi, sekarang dia tanggung jawabku. Dan mohon pengertianmu."


"Tidak! Dia.. Dia tak pernah seperti ini, kenapa? Kau pergi tanpa pamit padaku dan.."


"Thomas!" sela Miss Barbie menarik Thomas segera masuk ke area Lobby. Martinez mengejarnya dengan perasaan berkecamuk dan sangat sakit melihat respon Miss Barbie padanya.


"Barbie!!! Barbie katakan padaku, apa yang terjadi??"


Miss Barbie segera masuk ke Mobil begitu juga dengan Thomas yang menyalakan mesin Mobil untuk keluar dari Lobby.


"Barbie!! Barbie jawab aku!!"


"P..pergilah."


Batin Miss Barbie sangat sakit melihat Martinez memukul kaca jendela di sampingnya seraya terus meminta penjelasan.


Mata pria itu sudah merah berair membuat dirinya sesak dan tak kuat lagi.


Tahu akan suasana ini, Thomas segera melajukan Mobil sedikit cepat meninggalkan Martinez yang tampak masih mengejar mereka keluar dari area Taman.


"Barbie!!!! Kau kenapaa???"


Miss Barbie langsung menoleh kebelakang dengan air mata yang lolos begitu saja. Isakan kecilnya mencuat membuat Thomas segera meraih tisu di dekatnya.


"Ini!"


Thomas menyodorkan tisu di tangannya. Ia tak mau bertanya sebelum Miss Barbie terlihat lebih tenang untuk di ajak berbicara.


Karna tak mampu membendung tangis itu, akhirnya Miss Barbie membekap wajahnya sendiri dengan tisu yang Thomas berikan. Ia benar-benar sangat merindukan pria itu tetapi ada suatu hal yang membuatnya tak bisa kembali.


"K..kenapa.. Kenapa dia harus seperti itu? kenapa baru sekarang?"


"Aku baru sadar jika dia itu Tuan Muda Miller."


Miss Barbie mengangguk dengan nafas tersendat beberapa kali. Ia melirik Thomas dengan tatapan yang bersalah.


"Maaf, aku... Aku membuatmu dalam keadaan seperti ini."


"Tak apa, aku mengerti." jawab Thomas mengusap kepala Miss Barbie lembut. Jujur ia memang menyayangi sosok Barbie yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Mereka sudah menjalani hubungan selama beberapa bulan ini dan ia nyaman tetapi tak ada yang bisa menggantikan Kellen di hatinya.


"Jangan katakan ini pada Daddy, ya?"


"Baiklah. Tapi, dia siapa?"


Miss Barbie menghela nafas halus. Ia menatap keluar jendela Mobil yang cukup ramai malam ini.


"Aku dulu mencintainya."


"Dia terkenal pemain wanita yang handal. Aku rasa dia kurang baik." ujar Thomas tak mau Miss Barbie di sia-siakan. Wanita sebaik ini sangat tak bisa di berikan pada buaya seperti Martinez.


"Yah, dia memang arogan dan egois."


"Tapi, tadi terlihat berbeda. Tak pernah aku melihat dia seperti itu sebelumnya." ucap Thomas membuat Miss Barbie mematung lama. Ia juga heran kenapa Martinez seperti itu? Apa dia hanya memainkan drama atau sandiwara untuk kembali menyakitinya?


"Hm. Sudahlah, aku tak mau bertemu dengannya lagi." gumam Miss Barbie menunduk. Thomas sangat peka dan ia tahu jika Miss Barbie masih memiliki rasa yang sama pada pria buaya itu.


Ntah apa yang telah di lakukan Martinez sampai wanita sekelas Miss Barbie bisa bertahan selama ini.


...........


Sementara Martinez yang masih diam di dekat Gerbang gedung sana tampak masih menatap kosong jalan yang tadi di lalui Mobil Thomas. Ia benar-benar tak percaya jika Miss Barbie sudah bertunangan.


"T..tidak.. dia.. dia tak akan melakukan hal sekejam ini. T..tidak."


Martinez mengusap wajahnya kasar. Ia segera menelfon Nyonya Verena karna ia yakin Mommynya sudah mencari tahu semua ini.


"Kenapa menelfon semalam ini. Ha??"


"M..Mom! Aku..aku yakin kau..kau sudah mencari tentang Barbie, apa..apa dia memang sudah bertunangan?"


Tanya Martinez tetapi tak ada jawaban dari seberang sana. Dada Martinez semakin berkecamuk hebat dengan kegelisahan yang memenuhi batinnya.


"M..Mom! J..jangan bilang kau..kau tahu. Kau.."


"Yah. Dia memang sudah bertunangan."


"Kenapa Mommy tak memberi tahuku?? Dia..dia pergi. Mom!" ucap Martinez dengan suara bergetarnya. Ia merasa tak ada lagi hal yang ia miliki di dunia ini dan semangatnya tak lagi ada.


Tanpa banyak bicara lagi Martinez segera mematikan ponselnya memutus suara Nyonya Verena yang tadi ingin mengatakan sesuatu.


"K..kenapa? Kenapa aku tak pernah mendapatkan apapun??? Kenapaa???" teriak Martinez membuat orang-orang di sekitarnya saling pandang heran. Mungkin mereka menganggap Martinez pria gila yang putus cinta tengah malam begini.


"Kenapaaaa??? Kenapa kau melakukan ini padaku??? Kenapa Barbie???"


Teriaknya menjadi-jadi. Sekarang ia sudah tak punya apapun untuk merebut wanita itu. Kekuasaan, harta dan hal yang selama ini ia banggakan tak lagi ia miliki.


"K..kenapa?"


...


Vote and Like Sayang..