My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Penyerangan kembali!



Deru salju terasa semakin berat terjun dari langit hitam pekat yang kali ini hadir dengan keadaan rembulan di tutupi awan yang menghalangi cahaya abunya, alhasil keadaan Hutan dan Markas besar Darkness sekarang benar-benar terasa cukup mistis dan lebih mengerikan.


Lulungan anjing yang meraung di sekitar hutan terus bergema tak pernah tenang. Para anggota yang tengah berjaga-pun merasa gelisah.


"Kenapa malam ini Markas terasa aneh?"


"Ntahlah. Kita tetap fokus dan waspada."


Desas-desus para anggota yang mengeratkan mantel tebal hangat yang sekarang membalut tubuhnya. Deru angin yang kuat menandakan badai akan segera tiba.


Seiring dengan mereka berpatroli. Maka, begitu pula suara deru mobil datang masuk ke dalam gerbang Markas. Para anggota di dekat Gerbang tampak sudah tahu jika Mobil itu adalah milik Vacto.


"Siapkan penjagaan! Kita akan keluar beberapa menit lagi." ucap Vacto yang keluar dari mobil dengan menerobos salju yang menghadang.


Ia masuk ke dalam pintu utama Markas dimana anggota lain termasuk Hugo tampak sudah berpakaian lengkap.


"Hugo!"


"Vacto! Bagaimana?" tanya Hugo yang memutus pembicaraan dengan asistennya. Vacto mengusap wajahnya yang mendingin mencoba untuk tetap tenang.


"Kita tak bisa menunda. Tiba-tiba saja ada yang menyerang di perbatasan Hutan."


"Apa? Tapi, aku akan melakukan tindakan pada Johar malam ini juga." jawab Hugo terkejut.


"Ntahlah. Kita harus beritahu Tuan agar segera memindahkan Johar atau mereka akan mempersulit kita lagi."


"Aku..aku akan mempersiapkannya." ujar Hugo segera berbalik pergi ke arah ruang medis bawah tanah.


Vacto bertolak ke arah tangga menuju ruangan balok atas. Ia harus bicara pada Axton sebelum musuh menyerang kesini karna keadaan di Perbatasan hutan tak sedang baik-baik saja.


"Tuaaan!!!"


Panggil Vacto mendekat ke arah pintu kamar Axton dimana Castor berjaga di depannya. Dari sini Vacto bisa menebak jika keadaan Axton tengah tak baik.


"Ada apa?"


"Cas! apa Tuan Muda di dalam?"


"Yah. Memangnya kenapa?" tanya Castor melihat raut cemas Vacto yang tampak benar-benar bermasalah.


"Aku baru saja memantau daerah Hutan dan aku menemukan ada bekas penyerangan dan beberapa anggota kita sudah di serang oleh musuh dan semua cara dia menyerang sama dengan yang menyerang Nicky hari itu. Pasukannya banyak dan mengerikan."


"Musuh?" gumam Castor terkejut. Keadaan mereka sekarang tak siap untuk menerima serangan dari manapun.


"Kau yakin jika itu Masimo? Bisa saja itu musuh lain yang memanfaatkan keadaan."


"Aku yakin itu Masimo. mereka bertarung sangat licik dan dia pasti ingin mengincar Johar disini."


Castor terdiam sejenak. Kalau begitu ia tak punya cara lain dan Axton-pun harus segera memberikan keputusan.


"Aku akan memanggil Axton! Kau tunggu disini."


"Baik."


Castor menekan gagang pintu masuk ke dalam kamar. Ia melihat Axton tampak masih berbaring diatas ranjang karna menuruti omelan Kellen yang sudah membuatnya berjanji.


"Ax!"


"Hm."


Axton tak benar-benar istirahat, ia mendengar pembicaraan Castor dan Vacto barusan dan itu sangat menganggu pikirannya.


"Ax! Maaf, tapi aku tak tahu harus bagaimana?!" ucap Castor tampak lesu. Axton bangun dari baringannya seraya melihat ke arah jam tangan Roleks yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ax!"


"Pindahkan Johar ke Lab yang utama."


"Kau yakin?" tanya Castor mencoba meyakinkan diri. Axton mengangguk segera turun dari tempat tidur lalu menyambar Mantelnya di dekat Sofa.


Ia membuka laci di dekat sofa mengambil Pistol yang biasa ia gunakan.


"Kita punya waktu 30 menit."


"Tapi, tak ada yang tahu dimana Laboratorium yang kau maksud."


Axton diam memasang sarung tangan dan Mantel yang ia ambil tadi. Raut wajahnya terlihat tak bisa Castor tebak apa yang akan Axton lakukan.


"Istriku akan melahirkan beberapa minggu lagi. Jika tak-ku selesaikan sekarang. Dia akan mengomeliku seumur hidup." gumam Axton melangkah melewati Castor yang hanya membisu sampai pintu di buka memperlihatkan Vacto yang tampak serius.


"Tuan!"


"Hadang jalan mereka menuju Markas sampai persiapan pengangkutan Johar selesai."


"Baik."


Vacto dengan cepat pergi dimana pandangan Axton bergulir ke arah jendela yang tengah di hantam deru angin di samping sana.


"Siapkan Mobil! Aku yang akan memimpin pemindahan."


"Aku mengerti."


Castor berlari cepat ke arah tangga untuk menyiapkan semua yang Axton minta. Sekarang tak ada waktu untuk sekedar memikirkan hal lain yang tak penting.


Tetapi, bagi Axton keselamatan Kellen-lah yang ia utamakan. Nicky tengah ada di sana dan ia membutuhkan monitoring.


"Dia sudah keluar secepat ini." gumam Axton menghela nafas menghubungi Nicky. Tak berselang lama, akhirnya sambungan aktif.


"Ada apa? Ax! Kau menelfonku seakan.."


"Bukan waktunya bercanda." tekan Axton saat mendengar suara serak khas bangun tidur Nicky yang pasti tengah memanfaatkan waktu senggangnya.


"Ada apa?"


"Apa Masimo.."


"Mereka sudah menuju kesini. Kau-ku perintahkan menjaga ISTRIKU dan jangan sampai lengah." titah Axton begitu tak bisa di bantah. Nicky menyanggupi itu dan terdengar segera bekerja.


"Jika dia bertanya apa yang terjadi disini. Kau katakan jika aku tengah sibuk mengurus urusan keluargaku, aku tak bisa menerima telfon darinya."


"Aku akan melakukannya."


"Hm."


Axton mematikan sambungan lalu dengan cepat melangkah turun dari tangga. Di bawah sana sudah tampak anggota yang berkumpul dan Castor tengah berbicara.


"Semuanya berkumpul di lapangan!!!!"


"Ada apa?"


"Ntahlah."


Para anggota kebingungan. Pasalnya mereka belum tahu persoalan mendadak ini tetapi kesiapan itu selalu Axton tekankan.


Para manusia berpakaian lengkap itu memenuhi lapangan hingga mereka saling pandang kala melihat Mobil tenaga Medis juga datang satu Unit.


"Ada apa Tuan?"


"Musuh sudah membantai anggota di perbatasan Hutan!!"


Suara riuh itu mulai menyapu salju yang terkikis karna injakan sepatu mereka. Tampak jelas jika Anggota sudah benar-benar siap menghadapi ini.


"Kali ini kita tak punya rencana!!"


"A..apa? Tapi Tuan.."


"Kalian hanya perlu membantai siapapun yang menjadi musuh. Hidup mati itu resiko."


"Kami mengerti!!"


Jawab mereka tegas mengangkat Senapan laras panjang dan beberapa senjata penyerangan.


"Malam ini kemungkinan Masimo akan membantai Klan kita, Hutan ini jauh dari pusat kota dan kalian bisa menggunakan senjata apapun."


"Kami siap!!"


Castor menghela nafas dalam. Ia menatap ke arah belakang dimana Axton hanya memandang separuh anggota yang ada di markas.


"Bisa kami bertanya?" suara salah satu anggota maju ke depan. Castor heran ingin mencegah tapi Axton sudah mendekat kesini.


"Maaf, atas kelancanganku. Tuan!"


"Hm."


"Apa benar kita tak punya rencana?" tanyanya dengan ketidak percayaan yang terlihat jelas. Mustahil rasanya menang bertarung tanpa sebuah rencana.


Mereka menunggu jawaban Axton seraya melihat Team Medis yang keluar membawa sebuah bangkar. Diatasnya sudah ada tubuh Johar yang tampak sudah tak bisa di katakan baik tapi masih hidup.


"Rencana tak bisa di buat sekarang."


"Jadi, kami akan bertarung tanpa re.."


"Kau ragu?" tanya Axton dengan tatapan mata dingin melebihi deraian salju yang berjatuhan.


"Jika ragu, mundurlah!" imbuh Axton membuat mereka semua saling pandang lalu terdiam. Hanya ada beberapa yang ragu dan tampak tak berani dan di pastikan dia adalah anggota baru yang dulu masih dalam tahap latihan.


"Sedari awal aku sudah menekankan kalian. PENGKHIANAT BUKAN DARI ANGGOTAKU DAN TAKUT MATI ITU MENJIJIKAN."


"A..aku hanya.."


"Aku bertarung demi Orang yang ku sayangi dan matipun aku akan melakukannya." sambung Axton menunjukan jika apapun hasil dari penyerangan ini baik ia hidup atau tidak yang jelas tujuan utamanya tercapai.


Tentu hal itu sudah tak asing bagi para anggota lama yang sudah terlalu berkobar. Mereka ingat dulu bagaimana Tuan Fander mati hanya untuk melindungi seseorang dalam hidupnya dan akhirnya mereka mati bersama menjaga Generasi Miller.


"Kami siap Matii!!!"


"Yahhh!!!"


Mereka tampak bersemangat membuat Castor lega. Setidaknya para petarung baru memiliki rasa percaya diri dan dorongan semangat.


Tak berselang beberapa lama. Tiba-tiba saja ada kilauan luas dari arah selatan Hutan, dan itu menjadi pertanda jika ranjau yang dipasang disana sudah meledak.


"Mereka datang!!!"


"Bersiap di tempat kalian dan setengah kawal Unit Medis!!" perintah Castor memecah kawanan.


Vacto sudah membantu memasukan Johar ke dalam Mobil Medis lalu menghadap Axton yang melihat bagaimana suara keras itu mendengungkan telinga.


"Tuan!"


"Kau yang bawa Mobil itu!" titah Axton pada Vacto yang mengangguk segera masuk ke Mobil dimana Hugo tengah bekerja sama dengan rekannya memastikan nyawa Johar.


"Ax! Sepertinya mereka tak akan mundur kali ini." gumam Castor melihat suara tembakan dari hutan.


Axton tak menjawab. Ia segera masuk ke dalam mobil seraya memasang alat komunikasi dengan Nicky yang tampak kerepotan.


"Ax! Mereka tampaknya sudah tahu dimana letak jebakan dan ranjau markas. Apa yang harus aku lakukan?"


Axton memejamkan matanya sejenak. Suara tembakan ledakan di sekitarnya membuktikan jika musuh benar-benar kuat.


"Semoga aku datang tepat waktu. Sayang!"


Vote and Like Sayangku.