My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Sudah gila!



Langkahnya semakin melebar kala membayangkan apa yang tengah terjadi pada wanita itu. Ia memilih jalan yang sunyi karna setidaknya jalan di lorong-lorong sini tak jauh berubah dari dulu.


Hanya saja beton dan bangunannya yang sudah di perbaiki dan di tambah bagian atap tetapi tak menyulitkan Axton untuk pergi ke tempat penangkaran.


Cahaya dari luar tak bisa masuk secara bebas di dalam sini. Alhasil Axton lebih mudah bersembunyi jika ada beberapa anggota yang tengah berjaga di lantai bawah.


"Mereka benar-benar memperketat keamanan." gumam Axton kala melihat sinar ultra yang di pasang di setiap dinding bagian belakang.


Jika ia kesana maka kemungkinan besar para pasukan di luar akan tahu keberadaanya. Setelah melihat-lihat di sekitar tempat ini.


Akhirnya Axton memutuskan untuk naik ke atas atap dengan menjadikan palang kayu di sepanjang dinding sebagai pijakan kaki kokohnya.


Pergerakan Axton sangat terlatih dan tampak ringan dan lincah. Tak butuh waktu lama untuknya sampai ke seberang belokan Koridor yang tampak sudah di batasi dengan kawat-kawat rapat dan rawa-rawa di bagian dalamnya yang tampak di timbun salju.


"Axton!"


Castor yang keluar dari ruangan yang tak jauh dari sini. Ia melihat Axton yang tampak memindai penangkaran Buaya yang tampak ramai dengan hewan-hewan buas reptilia beku itu.


"Disini aman. Hanya saja, Kellen sudah dua kali pingsan, tadi dia syok melihat buaya-buaya disini."


Tanpa banyak bicara. Axton segera melangkah ke pintu sana membukanya kasar dan menerobos begitu saja.


Saat ia sudah masuk kedalam ruangan ini pemandangan mata Axton di hadapkan dengan deretan alat yang hampir merusak pemandangan.


Ada jaring dan sebuah rantai yang tergeletak di lantai beserta gulungan kawat yang tampaknya di simpan dengan sengaja.


"Ini bukan kamar. Tapi, ruangan perawatan Penangkaran." ucap Castor yang tahu perasaan Axton bagaimana.


Manik elang itu menangkap tubuh jenjang seorang wanita yang tampak terbaring lemas diatas lantai dengan alas hanya sehelai kain dan itupun sangat tipis tak bisa di jadikan penghangat.


"Kenapa kau bawa dia kesini??"


"Mereka yang memilihnya. Jika menolak pasti akan di curigai." jawab Castor masih melihat Axton yang mendekati Kellen.


Pria itu meletakan punggung tangannya ke kening Kellen dan benar saja tubuh wanita ini panas. Tangan Kellen tak memakai sarung hingga hawa dingin di luar bisa di serap begitu saja.


"Aaxm." gumam Kellen kala merasakan tangan besar Axton memeggang pipinya. disini terasa begitu beku membuat tubuh Kellen tak bisa menahan suhu yang sekaligus menekan tubuhnya.


"Bangunlah!"


"Ax!"


"Aku disini. Kau mendengarku?" tanya Axton memperbaiki Kupluk di kepala Kellen.


Ia segera membuka Mantelnya seraya beberapa kali menepis serbuk salju yang menempel di dekat punggung benda itu dan barulah ia balutkan ke tubuh Kellen yang memang panas dingin.


"Aku akan berusaha untuk mencari tempat. Kalian tunggu disini."


"Aku butuh air hangat."


Castor mengangguk segera melangkah keluar. Ia harus mencari salah satu anggota Nicky tadi untuk meminta agar mencarikan kamar yang lebih memadai.


Sementara Axton. Ia sudah tak bisa berfikir tenang, pikirannya hanya terus melayang kemana-mana mencoba membangunkan Kellen agar tak mengalami Hipotermia.


"Bangun! Sudah cukup tidurmu."


Menepuk pipi pucat Kellen yang terusik dengan perlakuannya. Mata ember itu sayu-sayu terbuka dengan kabur melihat wajah tampan Axton yang tampak semakin dingin menggosok tangannya.


"A..Ax."


"Bangun." tegas Axton menggenggam kedua tangan Kellen seraya meniupnya hangat agar lebih baik.


Kellen tak sadar. Ia seakan menatap Axton sebagai seorang pria dan bukan seorang Axton yang ia kenal sangat manja.


"A..Ax! Kau..."


Axton tak menjawab apapun. Ia membuka sepatu Kellen yang sudah lembab karna salju lalu memeriksa apa kaos kaki Kellen juga lembab dan nyatanya iya.


"Kenapa kau tak bilang sebelumnya? Ini bisa saja membuatmu demam."


Kellen belum sadar. Ia hanya menatap Axton yang sibuk melepas kaos kakinya hingga hawa dingin itu langsung menerpa.


Namun. Axton tak membiarkan telapak kaki jenjang putih mulus ini membeku terlalu lama. Ia kembali menggosoknya seraya memberikan pijatan agar kaki Kellen tak keram.


Batin Kellen mulai di ambang-ambang. ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang karna tubuhnya memang mulai membeku tadi.


"A..Ax!"


"Keram?" tanya Axton membantu Kellen duduk dengan benar seraya mengurung tubuh wanita ini kedalam pelukan hangatnya.


Kedua tangan Kellen menelusup ke dalam kaos hitam Axton sampai membelit punggung kekar itu mencari kehangatan.


Axton tak menolaknya, ia bahkan merapatkan tubuh keduanya dengan usapan hangat tangan kekar itu mengelus pipi putih Kellen yang memang dingin.


"A..Ax."


"Hm."


"K..kau..."


Kellen masih tergagap. Pasalnya raut wajah Axton ini sangat tak ia kenal, kenapa Axton bisa sepaham ini dan kenapa Axton begitu sangat berbeda?


Seakan ini mimpi dan hanyut didalamnya fokus mata Kellen beralih ke bibir Axton yang tampak masih fokus mengusap pipinya.


"Wajahnya begitu jantan."


Batin Kellen perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Axton. Sangat dekat sampai Axton menghentikan usapannya dengan mata beralih memandang wajah cantik Kellen yang selalu mengujinya.


Cup..


Satu kecupan di ujung bibir itu membuat nafas Axton tercekat. Bulu kuduknya meremang tetapi juga tak bisa membohongi diri sendiri jika ia suka itu.


Tatapan lemah sayu Kellen pada bibirnya masih setia memancing Axton yang sungguh tak tahan dengan rayuan abstrak ini.


"A..Ax!"


Lirih Kellen ingin menyatukan bibir kembali tapi Axton lebih dulu melakukannya. Ia menautkan ciuman yang sangat labil tapi Kellen sudah biasa menerima ini.


Hisapan dan gigitan yang seakan mempermainkan jiwa keduanya. kedua tangan Kellen yang tadi ada di dalam kaos Axton beralih ke leher pria itu.


Begitu juga Axton yang menekan tengkuk Kellen memperdalam hisapan lidah yang sekarang mereka lakukan tak kalah erotis dari sebelumnya.


"Ehmm!!" erangan Kellen tertahan kala ia terasa di bawa ke awang.


Axton benar-benar mulai menguasai cara panas ini untuk mengiring keduanya jatuh dalam imajinasi masing-masing.


Suara decapan bibir itu membuat suhu dingin ini terasa hangat dan lebih intens. Rasa beku yang tadi Kellen rasakan perlahan di gantikan sebuah panorama baru dari tautan saliva ini.


"Axmm!!"


Kellen agak menggelinjang kala sentuhan tangan Axton terlalu memikat di seluruh kulitnya. Ia tiba-tiba saja sulit keluar dari sihir ajaib ini dengan pasrah di kungkung tubuh kekar Axton yang juga lupa akan situasi.


Seiring dengan pergelutan lidah dan eforia Fulgar itu Castor datang dengan raut wajah kosong di depan pintu.


Gelas air hangat yanga tadi di minta Axton terasa semakin panas kala mendengar suara sensual ini dan kelakuan dua mahluk tak berperasaan itu.


"Ada apa. Tuan?" tanya anggota suruhan Nicky tadi yang ingin melihat juga tapi Castor segera mendorongnya keluar lalu menutup pintu.


Castor mengusap wajahnya dengan satu tangan terlihat sangat frustasi.


"Tuan! Ada apa?"


"K..kau pergilah. Siapkan saja kamarnya nanti aku menyusul."


"Baik." jawab pria itu menurut saja. Ia masih merasa aneh tapi ya sudahlah itu di liar kendalinya.


Sementara Castor. Ia masih terngiang-ngiang akan suara decapan itu membuat suhu salju di bawah kakinya terasa meleleh.


"Shittt. Mereka sudah gilaa!!"


....


Vote and Like Sayang..