
Pandangan terkejut Miss Barbie melayang ke arah Kellen yang terdiam sejenak saling pandang dengan wanita berambut pendek yang sudah lama mengenalnya itu.
Sungguh ia tak menyangka akan ucapan Martinez barusan. Jelas Dokter Kellen selama ini tak seperti itu.
"S..Sayang! Apa yang kau bicarakan?"
"Aku benar. Dia berusaha menggodaku."
Jawab Martinez melempar tatapan penuh kemenagan pada Kellen yang tak mengalihkan pandangannya pada Miss Barbie yang kebingungan.
"Dok! Kenapa kau bisa disini? Dan itu.."
"Itu Kakakku!"
"Jadi?"
Miss Barbie masih belum mengerti. yang ia tahu Keluarga Miller hanya punya satu anak dan kenapa sekarang ada lagi, memang ada rumor yang mengatakan jika ada keturunan Miller yang mempunyai kelainan tapi ia tak menyangka jika itu benar.
"Dia datang untuk menyerahkan diri padaku. Alhasil dia di bawa kesini karna memaksaku menikahinya."
"Kau sangat pandai bercerita rupanya." jawab Kellen tak gentar sama sekali. Ia ingin Miss Barbie tahu kebusukan pria ini walau ntah akan percaya atau tidak.
"Lihat! Dia sama sekali tak ada sopan santun."
"Apa aku harus sopan dengan pria sepertimu?" sarkas Kellen masih dengan intonasi datarnya.
Miss Barbie di buat kebingungan bahkan ia menatap Martinez dan Kellen yang saling berbantahan.
"Jelas! kau jangan bermimpi untuk mencoba menduduki status Menantu Keluarga Miller, tak akan pernah terjadi."
"Aku tak pernah berharap. Tuan! Kau terlalu percaya diri."
"Cukuppp!!!" sambar Miss Barbie menenagkan semuanya.
Ia tak akan menyalahkan Kellen sebelum wanita ini bicara yang sejujurnya.
"Dokter Kell! Kenapa kau bisa ada disini?"
"Aku ingin kau tahu kebejatan tunaganmu ini!"
"Jaga bicaramu!!" geram Nyonya Verena naik pitam kala suasana di luar rencana mereka. Kellen merusak semua yang sudah di perhitungkan jauh-jauh hari dan wanita ini benar-benar ingin mati.
Melihat kepanikan Nyonya Verena sungguh menggelitik hati Kellen yang merasa wanita ini tak secerdik yang ia kira.
"Kenapa? Takut atau.."
"Putraku benar. Dia datang hanya untuk menggoda Martinez dan gagal itu karnanya dia datang kesini mencoba mendekati Putra pertamaku yang sakit."
Sela Nyonya Verena agar Kellen tak bisa bicara. Ia mendekati Miss Barbie yang masih belum mengerti akan semua ini.
"Barbie! Maafkan Momy karna tak memberi tahumu soal ini."
"Mom! Kau.."
"Miss Barbie! Apa kau percaya aku menggoda calon tunangan-mu itu?" tanya Kellen masih belum mau diam.
Miss Barbie tak tahu harus menjawab apa. Di suatu sisi ia tak percaya tapi tak mungkin Nyonya Verena dan Martinez berbohong.
"A..aku.."
"Kau percaya?" tanya Kellen lagi penuh tekanan. Ia yakin Miss Barbie tak percaya tapi wanita ini takut menyinggung perasaan Nyonya Verena dan Martinez.
"Dokter Kell! Aku memberikan kartu itu padamu dan apakah kau memanfaatkannya untuk datang kesini?"
"Tidak. Aku datang hanya untuk memastikan sesuatu."
"Tapi malam itu kau menelfonku!!" sambar Martinez menggelegar menganggu Axton yang tengah menikmati kehangatan pelukan Kellen pagi ini.
Pria itu mengepal tak suka dengan suasana berisik ini apalagi sedari tadi ia merasakan Kellen di desak terus.
"Kau menelfonku!! dan tiba-tiba datang memakai nama Agensi Barbie, apa itu bukan penipuan?".
Hardik Martinez memojokkan Kellen yang memang tak bisa membantah itu. Ini kesalahan Tuan Benet yang bertindak tanpa memberi tahunya.
"Yang menelfon-mu itu Dadyku. Dia terlalu cemas sampai bertindak ceroboh. Aku tak berniat menghubungi atau datang ke Perusahaan-mu."
"Cihh. Bulshit!" maki Martinez berdecih jijik. Miss Barbie memang tahu jika Tuan Benet itu sakit dan ada benarnya juga Kellen di paksa untung datang kesini.
"Memangnya kenapa Tuan Benet menelfon Martin?"
"Sayang! Dia itu pandai membuat cerita." sambar Martinez kala Miss Barbie tak ada raut amarah sama sekali. Wanita ini lebih ingin mendengar Kellen yang memang ia kenal sangat bijaksana dan anggun.
"Lalu kau pikir aku berbohong. Ha???" bentak Martinez membuat Miss Barbie terperanjat. ia terlihat pucat karna kembali memancing amarah Martinez yang selalu angkuh dan egois.
"S..Sayang! Bukan..bukan itu yang ku maksud. Aku.."
"Sama saja kau menyalahkan aku!! Kau tak percaya padaku!!"
Miss Barbie menggeleng. Ia tak berniat berkata seperti itu tapi Martinez-lah yang terlalu memperbesar masalah ini.
"Jelas-jelas dia mencoba mencampuri hubungan kita!! Dia ingin menggantikan-mu. Dan kau... Kau bahkan menyalahkan aku." imbuhnya tak menyangka.
"Martin! Bukan begitu, mungkin Dokter Kellen punya alasan lain yang memaksanya untuk.."
"Kita sudahi semua ini."
Degg..
Miss Barbie terkejut mendengar ucapan Martinez. Nyonya Verena menyeringai karna Martinez pandai mempermainkan perasaan wanita ini.
"T...Tidak.. Jangan bicara begitu. Aku hanya.."
"Hanya apa? Kau lebih memilih percaya padanya di banding aku calon suamimu. Bukan?" tanya Martinez masih mendramatisir suasana.
Kellen menggeleng jijik merasa Miss Barbie terlalu baik untuk pria seburuk Martinez yang menjijikan.
"Dia hanya bersandiwara. Miss!"
"DIAM KAU!!! KAU TAHU APA SELAIN MENGURUSI AYAH PENYAKITANMU ITU!!"
Bentak Martinez pada Kellen yang agak terperanjat dengan suara keras ini. Ucapan Martinez barusan benar-benar menusuk jantung Kellen yang merasa teriris karna ia sudah lama tak bertemu Ayahnya.
"Diam? Aku benar bukan, kau hanya tahu cara mengurus orang tua yang sebentar lagi juga akan mati!!"
"Jaga bicaramu. Brengsek!!" maki Kellen cepat karna tak bisa menerima itu. Ia sangat tak bisa membayangkan jika sampai Tuan Benet meninggalkannya.
"Apa? Kau marah?"
Nafas Kellen memburu. rasa rindunya pada pria itu masih tertahan tapi Martinez sangat tega mengatakan hal itu padanya.
Pada seorang anak yang hanya ingin membahagiakan Ayahnya. bahkan ia rela menanggung resiko ini.
"Kau tahu apa? Kau tahu apa dengan seorang Ayah. Ha?" dengan suara bergetarnya menahan kesesakan.
"Kau sakit hati. Itu sangat pantas! Karna hanya orang kelas bawah yang tak berdaya sepertimu."
Merasakan respon tubuh Kellen yang terganggu tentu Axton sudah tak bisa menahan amarahnya.
"Ax!" gumam Kellen kala Axton melepas pelukannya.
Tatapan netra elang ini tampak dingin tapi seakan melindunginya dari apapun.
"Sakit?"
"Apanya?"
"Ini!" memeggang dada Kellen yang terdiam. Apa mungkin Axton merasakan apa yang ia rasakan? Tapi memang benar, ia tak pernah bisa tahan jika menyangkut ayahnya.
Mata Kellen berkaca-kaca tak mau terlihat lemah disini. Kellen langsung pergi melewati mereka yang diam, Martinez benar-benar merasa puas.
"Lihat! Dia itu hanya sampah." umpat Martinez enteng padahal ia tak tahu betapa sakit hati Kellen akan ucapannya tadi.
Miss Barbie merasa cemas. Ia tahu Kellen sangat menyayangi Tuan Benet.
"Seharusnya kau jangan berkata seperti itu. Martin!"
"Kenapa? Kau membelanya?" tanya Martinez menantang lagi dan lagi.
Tatapan manik ember Kellen penuh kesakitan tadi masih membekas di benak Axton yang mulai mendidih mendengar suara Martinez berkumandang di telinganya.
Setiap sanggahan pedas Martinez pada Miss Barbie menimbulkan percikan bara api yang tadi sudah meledak ketika rasa sesak Kellen menjalar ke dadanya.
"Biarkan wanita itu mati sekalian mengikuti ayahnya yang.."
Kalimat Martinez terhenti kala tinjuan panas itu melayang ke wajahnya membuat Miss Barbie terpekik hebat dan Nyonya Verena terkejut.
"Martin!!!"
........
Vote and Like Sayang..