My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Aku Pulang!



Langkah kaki lebar wanita itu segera turun dari Mobil Taksi yang tadi mengantarnya ke Rumah sederhana yang tak jauh dari Perkebunan anggur milik Joy yang sangat membantunya.


Pagar kayu Rumah yang yang tampak sudah di ganti ini ia dorong lalu melangkah lebar masuk kedalam menenteng dua paper-bag dan satu Koper yang ia seret ke dalam.


Binaran mata amber itu langsung menatap penuh kerinduan pada bangunan yang tak begitu mewah tapi sangat asri karna Tuan Benet memang suka berkebun.


"Daddyyyy!!!" teriak Kellen sekencang-kencangnya menerbangkan burung-burung dari atas pepohonan di sekitar rumah.


Para tetangga yang ada di sekitar sini langsung keluar dengan pandangan terkejut melihat Kellen.


"Dokter Kell! Kau kemana saja baru pulang?"


"Hay. Aunty Ren!" sapa Kellen pada seorang wanita paruh baya berkacamata yang keluar memakai celemek. Sepertinya dia baru saja memasak.


"Kau semakin cantik saja."


"Aunty selalu pandai memuji. Padahal, Aunty lebih cantik dariku." puji Kellen kembali memberi senyuman hangat.


Ia di kenal sebagai pribadi yang sopan dan elegan disini hingga banyak orang yang ingin menjodohkan anak lelakinya dengan Kellen tapi sayangnya Kellen menolak.


"Nanti jangan lupa berkunjung kesini. Sudah lama tak berbincang denganmu. Nak!"


"Iya. Aunty! Terimakasih." ucap Kellen merasa bahagia bisa seperti ini lagi.


Setelah beberapa lama berbicara. Akhirnya Kellen memilih mendekat ke arah pintu Rumah. Kellen melihat kiri-kanan dan sepertinya Tuan Benet tengah tak ada disini.


"Daddy selalu saja begini. Tak mengunci dengan baik." gumam Kellen kala melihat pintu belum di kunci. Lagi-lagi Tuan Benet pasti lupa dan maklum saja pria itu terlalu terburu-buru.


Dengan semangat yang membara. Kellen mendorong pintu pelan lalu mengulurkan kepalanya melihat bagian dalam tempat itu.


Semuanya masih sama. Ruang tamu yang rapi dan kayu yang semakin bersih saja.


"Aku pulaaang!" teriak Kellen masuk menarik Kopernya.


Ia melangkah ke sofa panjang di depan televisi lalu meletakan Paper-bagnya di sana. Setelah selesai meletakan barang-barang barulah Kellen pergi ke dapur.


"Anggur? Daddy minum Anggur terus?"


Kellen kesal bukan main melihat botol-botol anggur di dalam tempat sampah. Ia segera melangkah ke dapur memeriksa Kulkas dan kali ini Kellen agak terheran-heran melihat isinya sudah sangat membeludak.


"Biasanya Daddy tak pernah mengisi sebanyak ini. Dia juga selalu mengosongkan Kulkas." gumam Kellen heran.


Matanya memperhatikan dapur yang bersih dan sangat rapi. Ada banyak buah yang di tata di atas meja makan dan anehnya, susu dan roti itu terlihat masih baru.


"Sebenarnya ini.."


"Lain kali kau tak perlu repot membantuku. Nak!"


"Tak apa, aku merasa senang melakukannya."


Kalimat Kellen terhenti kala mendengar suara percakapan di depan pintu. Ia yakin itu Tuan Benet dan Joy yang pergi bersama.


"Aku harus bertanya pada. Daddy!"


Ia melangkah kembali ke ruang Tamu melihat ke arah pintu yang juga tengah di buka. Spontan Kellen terdiam kala melihat sosok paruh baya yang tampak terpongoh-pongoh masuk ke dalam seraya di bantu Joy yang tampak siaga.


"Terimakasih. Joy!"


"Tak apa, Uncel! Istirahatlah yang benar, besok pagi aku akan kesini lagi."


Ujar Joy menepuk bahu Tuan Benet yang tampak senang hingga mata pria paruh baya itu terbelalak kala melihat Kellen yang berdiri dengan sangat cantik dibaluti Mantel tipis ringan itu.


"K..Kau..."


Joy tak bersuara melihat Tuan Benet yang tampak tak percaya. Pria paruh baya itu menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan jika ini tidak mimpi.


"J..Joy! Apa..apa dia P...putriku? Dia.."


"Sepertinya memang Kellen. Uncel!"


Daaarr..


Seketika Tuan benet syok bersandar ke pintu menatap Kellen dengan mata berair. Gejolak kerinduan itu terlihat di wajah keduanya sampai pada Kellen tak lagi mampu berdiri disini.


"D..Dad."


"K..kau..kau Kellen? Kau.."


Kellen berlari langsung berhambur memeluk Tuan Benet yang juga sangat bahagia sekaligus haru mendekap tubuh jenjang Kellen yang sangat-sangat ia rindukan.


"Kemana.. Kemana saja? Kau membuatku cemas. Kenapa baru pulang sekarang? Daddy pikir kau telah mempunyai Daddy baru."


"Jangan bicara asal. Kellen tak begitu." gumam Kellen bergetar masih belum melepas pelukannya.


Tuan Benet benar-benar bahagia mengecup pipi mulus Kellen yang semakin hari semakin cantik. Joy merasa begitu terpana sampai tak mau mengalihkan tatapannya.


"Ayo. Masuk.. Masuk, kau pasti lelah baru pulang dari perjalanan sejauh itu." mengiring Kellen ke arah sofa depan TV dengan sangat kegirangan.


"Joyy!!"


"Iya. Uncel!"


"Ambil air di dapur. Jangan lupa makananya!"


Joy mengangguk pergi ke dapur dengan senyuman tak lekas dari wajahnya. Ia melihat susu dan roti ada disini dan tentu ia membawa benda itu.


Namun. Tuan Benet baru ingat jika dia belum belanja apapun karna semenjak kepergian Kellen, ia tak sempat mengurus dirinya sendiri.


"Daddy lupa. Kell!"


"Apa Daddy lupa minum obat?" sangga Kellen kesal tapi Tuan Benet menggeleng duduk di samping Kellen menggenggam tangan wanita itu.


"Bukan itu. Daddy tak sempat berbelanja kebutuhan dapur dan beberapa hari ini Daddy tinggal di Penginapan Kebun. Daddy jarang ke Rumah, Sayang!"


Batin Kellen terkejut. Tadi ia melihat semuanya sudah rapi dan tersedia. Tak mungkin ia salah lihat.


"Makanan datang!!"


Suara Joy mendekat membawa nampan berisi segelas susu dan dua potong roti isi. Tuan Benet menduga jika ini Kellen yang siapkan.


"Keel! Kenapa kau tak bisa istirahat saja dulu baru mengurus rumah. Kau itu baru pulang, jangan bekerja terlalu keras."


"Iya. Kel! Kau pasti sangat sibuk disana. Bukan?" tanya Joy menyodorkan nampan itu pada Tuan Benet yang segera mengambilnya.


"Ayo! Ayo makan Sayang, kau belum cukup berisi."


"D..Dad. Aku.."


"Makan yang banyak."


Roti itu sudah berpindah ke mulut Kellen yang seketika bungkam. Ia tengah berfikir siapa yang melakukan ini? Apa mungkin ..


"Axton!" gumam Kellen spontan dengan wajah mulai bersemu. walau tak mungkin tapi ia hanya ingin memikirkan pria itu.


Melihat raut malu Kellen. Tuan Benet dan Joy saling padang, tetapi. Tuan Benet berfikir jika Axton adalah nama lelaki yang mulai merebut hati putrinya.


"Apa nama itu yang menahanmu terus di sana sampai lupa pulang. Hm?"


"A...aku.. aku hanya .."


Kellen ingin beralasan lain tapi ia tak bisa berbohong jika bersama Tuan Benet yang tahu bagaimana dirinya.


Alhasil Kellen memeluk lengan Tuan Benet menyandarkan kepalanya ke bahu senja ini. Raut wajah merah Kellen dan godaan Tuan Benet tadi membuat Joy terdiam.


"Daddy benar, bukan? Pasti lelaki itu. Katakan apa dia berbuat yang buruk padamu?"


"Dad! Dengarkan aku." gumam Kellen kembali menegakkan tubuhnya.


Namun. Kala melihat Joy yang masih muda ia rasa ini terlalu menggelikan. Tahu akan tatapan Kellen, Tuan benet segera berdiri memeggang bahu Joy hangat.


"Joy! Terimakasih sudah membantu dan kau sangat baik, Daddymu pasti tengah membutuhkan bantuan. Pergilah selagi ini masih sore, Nak!"


"A.. Baiklah." jawab Joy tak rela jika berpaling secepat ini.


"Kell! selamat datang kembali."


"Hm. Terimakasih sudah menjaga Daddyku dengan baik." jawab Kellen sopan.


Joy berbalik melangkah ke arah pintu. Ia menghela nafas sejenak dengan wajah murung meninggalkan Rumah ini.


Ada sepasang mata yang tengah memantaunya dari luar Rumah dan itu sangat mematikan.


"Sepertinya dia punya rasa pada Nona." gumam pria berpakaian seperti orang biasa disini.


Ia memberi laporan pada seseorang yang selalu menanti apa yang terjadi disini.


Sementara di dalam rumah. Kellen sudah sangat bersemangat bercerita dengan Tuan Benet yang mendengarkan baik-baik.


"Dad! Dia itu memang tampak cuek dan dingin tapi dia perhatian, walau sedikit menyebalkan."


"Kau punya fotonya?"


Kellen mengangguk mengeluarkan ponselnya. Ia mencari foto-foto di Bandara itu hingga menunjukannya pada Tuan Benet.


"Ini. Dad! Awalnya dia menolak tapi karna aku tak murung jadinya dia ikut, kalau foto yang ini itu juga sama, dia itu tak peka. Dad! Aku tak suka bagian itu."


Tuan Benet menatap foto-foto ini dengan sangat intens. Ia akui pahatan pria ini sangat gagah dan sangat Tampan, pantas bersanding dengan putrinya tapi ia rasa orang-orang seperti ini terlalu berbahaya.


"Wajahnya seperti seorang yang berkedudukan tinggi."


"Iya. Dia memang orang penting, memangnya kenapa, Dad?" tanya Kellen melihat raut diam Tuan Benet. Dari melihat senyuman Axton dan bagaimana suasana foto ini.


Tuan Benet paham jika Kellen dan pria ini memang saling mencintai. Auranya sangatlah tenang dan bahagia.


"Apapun itu kau harus mengutamakan keselamatanmu."


"Dad, ayolah! Dia.."


"Tak perduli jika dia seorang Presiden atau Kaisar sekalipun, dia tak boleh membawa ancaman bagimu. Kell!"


Kellen terdiam sesaat. Ucapan Tuan Benet seakan hanya menyetujui jika Axton bukanlah seorang yang berbahaya. Tapi, nyatanya Axton itu seorang 'Mafia'.


Melihat raut kacau Kellen. Tuan Benet segera menepuk lengan putrinya.


"Kell!!"


"A.. Iya. Dad?"


"Paham ucapan. Daddy?"


Kellen hanya mengangguk kaku melempar senyuman seakan baik-baik saja. hal inilah yang ia takutkan, Tuan Benet itu sangat mengutamakan keselamatan.


"Kalau begitu pergilah istirahat. Nanti sambung ceritamu."


"Hm. Baik! Daddy juga!"


Tuan Benet mengangguk membantu Kellen membawa Koper menuju kamar. Di sepanjang langkahnya, Kellen diam hanya sesekali menjawab ucapan Tuan Benet.


"Aku harus bicara dengan Axton secepatnya!"


.......


Vote and Like Sayang..