
Tatapan tak percaya Kellen seketika meruak kala melihat Axton lebih memilih makan di atas lantai ini di banding saat memakai tempat makan.
"Kau..."
Axton menatap datar Kellen dengan pandangan seperti tak tahu dan seakan mengatakan 'Ada apa?'
"Itu kotor. Makan pakai tanganmu, bukan dari lantai."
"K..Kel."
Kellen membuang nafas kasar. Ia memilih diam karna juga sangat lapar dan haus, Axton sudah menghabiskan roti itu tanpa sisa.
Tanpa rasa bersalahpun Axton mengunyah potongan roti terakhir tepat di depan wajah Kellen yang hanya membuang pandangan.
Krrr..
"Shitt! Perutku."
Batin Kellen kala suara kelenyer cacing di dalam sana terdengar sangat mematikan. Axton menatapnya datar dan seperti penasaran akan bunyi perutnya.
Namun. Sedetik kemudian mata Kellen melebar kala dengan polosnya Axton mencengkram perut datar Kellen kuat.
"A..X!!!" pekik Kellen memukul lengan kekar Axton yang segera melepasnya. Tatapan dingin tak berdosa ini terlempar ke mata ember kesal Kellen yang sungguh ingin lari dari sini.
"Kau ingin membunuhku. Ha?" geram Kellen memplototi dengan kesal. Tetapi, Axton seakan menganggap hal itu serius sampai wajahnya kembali memucat.
"B..Bunuh. A.. X.. " Axton menggeleng kembali bersikap linglung membuat Kellen terdiam. Sialnya ucapannya memang tak terkontrol.
"Aku bercanda. Aku masih hidup."
"K..Kel."
"Hm? Kau masih lapar?" tanya Kellen mengusap sisa remahan roti di pinggir bibir Axton yang terdiam cukup lama melihat perlakuan Kellen padanya.
Darah di jempol Kellen yang terluka sudah membeku tapi wanita ini masih tak bersikap kasar bahkan sangat spesial.
"Kau mengerti ucapanku?"
"K...kau..."
Axton berusaha mengikuti gerakan bibir Kellen yang sepertinya mulai mengerti. Axton tak bisa bicara fasih dan ia penasaran seberapa lama Axton di kurung di lorong ini.
"Lukamu sangat parah. Untuk sekarang jangan dulu menyentuh air."
"A.. i..r.."
Kellen mengangguk ingin turun dari paha kekar ini tapi perutnya di tahan lengan Axton yang masih ingin melihat bibirnya.
"Aku ingin turun. Perutku sakit."
"A..i..r.." gumam Axton beralih mencengkram rahang Kellen kuat membuat wanita itu meringis.
"Apa??"
"A..i..r.."
Paksa Axton agar Kellen melanjutkan ucapannya. Ia tertarik akan gerakan bibir sensual Kellen yang seakan jadi penarik perhatiannya.
"Air?"
"A..I..R.." agak keras dan tak waras. ia menunggu dan terlihat tak mengalihkan pandangannya dari bibir Kellen yang memang sangat sempurna dengan lekuk panahnya.
"Aku haus dan harus mencari AIR. You Know?"
"A.. I..R.."
Kellen segera membuang nafas kasar ingin bangkit tapi Axton tampak marah karna Kellen tak melanjutkan ucapannya.
"K..Kell!!! Kelll!!!"
"Apa??? Tak mungkin aku mengucapkan KATA air.. air terus. Mulutku kebas." sembur Kellen kehilangan kesabaran. Axton diam membisu dengan mata masih tak berpaling membuat Kellen merasa jadi orang bodoh.
"Ax!"
"A...Ax." diikuti dengan baik.
"Tunggu disini. Ya?"
"Y..ya."
Kellen menipiskan bibirnya. Ia mengusap kepala Axton lembut membuat pria itu memejamkan matanya menikmati kelembutan belaian tangan lentik Kellen.
"Jadilah penurut. Jangan marah-marah terus."
"Kell!!!"
Axton mencengkram pinggang Kellen yang ingin bangkit. Ia beralih membenamkan wajahnya ke belahan dada sekang Kellen yang agak menyembul karna kainnya sudah terlepas.
Cih. Kenapa jadi begini? Pria kasar tapi aku tak bisa lepas dari sini.
Umpatan Kellen kala Axton sangat nyaman membenamkan wajahnya di sana. Aroma Vanilla hangat ini membuat Axton terasa damai dan sangat lembut.
"A..X.."
"Hanya sebentar." gumam Kellen membiarkannya. Ia tetap mengusap kepala Axton yang terlihat menyukai ini hingga tak memberontak kembali.
Mata ember Kellen menatap penasaran sabetan luka dan bekas angka di pundak bawah Axton. Sebenarnya apa yang terjadi pada pria ini?
"Ax!"
"Kakiku sakit. Bisa lepas?"
Axton hanya diam. Ia bahkan mengeratkan pelukannya hingga Kellen terasa sesak untuk bernafas. Untuk kali ini saja ia membiarkan tubuhnya di sentuh seorang pria tak normal ini.
"Ax! Kakiku."
"K..Kel."
"*** sakitt!!" pekik Kellen kala pergelangannya di cengkram Axton yang dengan wajah datar tak berdosa itu menatapnya kosong.
"Kau..kau lepas!!!"
Axton hanya diam menguatkan cengkramannya hingga Kellen memberontak keras karna itu sangat sakit.
"Aaaaxxx!!!!" teriak Kellen mendorong tubuh Axton hingga ia jatuh ke lantai dingin ini. Nafas Kellen memburu dengan mata berair menahan sakit yang sungguh mengoyak batinnya.
Axton ingin mendekat tapi Kellen segera bringsut menjauh.
"T..Tetap disana."
"K..Kel.."
Kellen memejamkan matanya mencoba untuk mengatur nafas dan meredam rasa sakit. Ia sungguh tak kuat lagi disini.
"K..Kel.."
"Kau..kau diam. Diam disini." tekan Kellen lalu berusaha berdiri dengan satu kaki berpeggangan ke dinding di sampingnya.
Kellen mengigit bibir bawahnya dikala persendian di tubuhnya seakan mau terlepas sekarang juga.
"A..aku tak bisa disini terus."
Batin Kellen lalu tertatih-tatih melangkah ke arah lorong menuju pintu batu di ujung sana. Ia tak menghiraukan panggilan Axton yang menatapnya.
"K..Kel!"
"I don't cere." gumam Kellen menekankan ia tak perduli. Rasa sakit akibat sikap kasar itu membuatnya jengah dan tak bisa terus diam di sana.
"Kel!!" suara berat dingin Axton menggelegar tapi Kellen tetap membisu. Ia tak mau mengurus pria itu lagi.
"Kelll!!!"
Kellen segera menoleh kebelakang. Ia melihat Axton berdiri membuat tungkainya lemas.
"D..Dia.."
"Kell!!" geram Axton marah membuat Kellen merinding segera mempercepat langkahnya dengan tertatih-tatih.
"Dadyyy!!"
Axton melangkah lebar mengikuti Kellen yang sungguh gemetar terus mencoba untuk lari tapi ia tak punya tenaga sekuat itu.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh Kellen sudah di angkat ringan membuat wanita itu menjerit hebat.
"Aaax!!!"
Axton hanya diam dengan wajah keras dan sorot mata membunuhnya. Ia mengangkat Kellen bak karung beras lalu melempar tubuh wanita itu kembali ketempat semula.
Brakk...
Kellen terhantam kasar sampai wanita itu dilanda kematian yang nyata. tatapan sayu Kellen memandang takut Axton yang seperti iblis berdiri dengan jantannya.
"L..lepas. Aku...aku tak akan menganggumu." gumam Kellen dengan bibir bergetar. Tangannya sudah terkilir hebat hingga tak bisa lagi menahan penyiksaan ini.
"Kell!" geraman Axton mendidih melihat Kellen menangis menghindarinya. ntah apa yang terjadi sampai Axton seperti ini.
"A..aku..aku mohon. Hiks. S..sakit.. " lirih Kellen tak sanggup lagi.
Axton tak perduli. Ia menarik kaki Kellen yang lagi-lagi terasa ingin mati di tempat.
"K..kau mau apa?" gugup Kellen melihat Axton mengambil rantai yang tadi ia lepaskan. Dengan wajah keras penuh amarahnya Axton benar-benar menuli.
"K..kau mau apa?? Kau.."
"Kell!!" geraman Axton dengan cepat membelit kaki Kellen dengan benda itu lalu beralih pada kedua pergelangan tangan Kellen yang ia ikat dengan benda keras itu.
"Lepas!!!! Kau..kau mau apa. Ha???"
Axton hanya diam mengunci pergerakan Kellen yang sungguh menahan sakit dan rasa takut, ia tak tahu kenapa Axton tiba-tiba melakukan ini padanya.
"Kell!!! Kell!!!" bentak Axton memukul dinding tepat di samping wajah Kellen yang hanya diam menahan isakan. Ia menunduk tak berani melihat amukan pria ini.
"D..Dady. Hiks!"
Axton semakin memburu mendengar isakan Kellen yang hanya bisa menangis tertahan membiarkan Axton meninju sekuat tenaga dengan penuh emosi.
Tangisan Kellen sampai terdengar beriringan dengan pukulan Axton yang memancing keriuhan di luar sana.
Pintu lorong terbuka hingga membuat satu kegaduhan besar.
.......
Vote And Like Sayang..