
Dalam beberapa menit sebelum pesawat terbang menuju Bandara lain. Axton benar-benar memanfaatkan momen singkat ini untuk menuruti apa saja kemauan Kellen yang tengah memintanya untuk mencoba berbagai makanan yang di jual di dalam gedung Airport ini.
Ada sejumlah Toko di dalam Gedung yang menyediakan bingkisan dan beberapa penjual pernik yang cantik.
"Ini bagus!"
"Yang mana?" tanya Axton berdiri di samping Kellen seraya memeggang Ice Cream coklat hampir meleleh di tangannya.
Begitu juga Kellen. satu tangannya di genggam Axton dan satunya lagi memeggang hal yang sama. Bahkan, beberapa penjual dan pengunjung disini memperhatikan mereka tapi keduanya sudah acuh dan lebih fokus pada urusan masing-masing.
Deretan pernik cantik dan imut di jejerkan. Mulai dari Syal khas Barcelona yang mengusung Tema sepak bola dan ada juga Mame-mame lucu dan boneka hewan yang cantik.
"Bisa mengambilkan Topi Bando itu?" pinta Kellen pada salah satu Staf wanita yang mengangguk dengan sigap mengambilkan sebuah Topi Bando kelinci dengan dua tali yang panjang yang imut.
"Ini. Nona?"
"Iya. ini bisa menyala-ya?" tanya Kellen dengan cepat menghabiskan Ice Creamnya lalu mengambil benda itu dari tangan Staf wanita yang tampak malu karna kehadiran Axton.
"Ax! Ini cantik, tidak?"
"Cantik."
Jawab Axton singkat. Ia tak begitu suka Ice Cream hingga ia membuang makanan manis ini ke dalam Tong sampah di sudut sana.
Ada banyak wanita yang nyatanya sedari tadi memperhatikan Axton. Tatapan penuh damba dan kagum akan pesona sang penerus Miller itu tak bisa di tepis.
"Ax! sini!!"
"Sebentar."
Axton mendekati Kellen yang memakai Topi kelinci itu seraya tersenyum padanya. bibir wanita itu masih belepotan terlihat sangat imut dan menggemaskan.
"Bagaimana?"
"Hm. Ambilah, cari lagi yang kau suka." jawab Axton mengusap bibir Kellen.
"Tapi, tak adil jika aku saja yang pakai."
Axton terdiam sesaat. Namun, saat Staf wanita itu mengambil satu lagi Topi Bando macan kumbang yang terlihat sangat imut membuatnya sadar.
"Kauu..."
"Pakai!"
"Tidak." tolak Axton tegas. Yang benar saja ia memakai benda seperti ini, apalagi tatapan para wanita di samping sana seakan melahapnya hidup-hidup.
"Ax! Kau pakai. Ya?"
"Kau saja, aku tak cocok memakai yang seperti ini." tolak Axton halus tapi Kellen diam sejenak menghela nafas berat.
"Ayo. Kau mau yang mana lagi?"
"Em.. Sudah."
Axton terdiam kala Kellen melepas Bando yang ada di atas kepalanya. Wajah cantik itu redup mencari seseorang yang bisa memakai ini.
"Ada apa? Apa kau.."
"Eh.. Sini!"
Kellen menyapa seorang anak kecil perempuan yang tengah memperhatikan mereka dengan sang ibu yang malu-malu mendekat.
"N..Nona!"
"Apa putrimu mau ini?"
Spontan itu mengejutkan Axton. Jelas-jelas tadi Kellen sangat menginginkannya tapi kenapa di berikan pada orang lain?!
"Ini punyamu. Mereka bisa ambil yang lain."
"Aku tak ingin lagi."
Jawab Kellen segera membungkuk memakaikan benda itu ke kepala bocah 7 tahunan berambut pirang yang kegirangan.
"Thank's you. Madam!"
"Ouhh.. Sweety !" gemas Kellen mencubit halus pipi gembulnya.
Ia tersenyum pada wanita paruh baya itu yang juga ikut berterimakasih barulah mereka pergi.
"Itu barangmu."
"Tidak, aku rasa itu tak cocok untukku." gumam Kellen melempar senyum simpul.
Lama Axton terdiam mencerna semua ini. Ia tak begitu pandai menebak apa keinginan Kellen tapi, tadi Kellen memintanya memakainya.
"Bayar! Aku tak ada uang."
"Ambilkan dua yang tadi!"
"A..apa?" gumam Kellen kala Axton memintanya pada Staf wanita itu. Alhasil satu pasang Topi Macan hitam dan Kelinci yang sama di ambilkan kembali.
"Ini. Tuan!"
"Hm." Axton mengambilnya membuat Kellen bingung.
"Ax! Bukankah kau tak suka, jangan di paksakan."
"Aku berubah pikiran." jawab Axton ringan dengan berat hati memasangkan benda itu ke kepalanya.
Alhasil wajah dingin arogan tadi seketika membuat para wanita disini memerah malu dan sangat gemas.
Kellen-pun sama. Baru kali ini ia melihat wajah tampan suaminya yang berwibawah bisa seiumut dan menggemaskan ini.
"Cepat pergi dari sini!"
"Tapi. Bayar du.."
"Anggotaku akan mengurusnya." jawab Axton segera menarik Kellen keluar dari pusat perbelanjaan.
Ia menebalkan muka dengan pujian-pujian para wanita yang menjadikannya sebuah mading impian.
"Sayangnya tak di perbolehkan mengambil gambar."
Kellen menahan kegelian melihat raut dingin Axton sudah membeku disini. Ia hanya santai memakai Topi Bandonya lalu menggandeng lengan kekar sang suami.
"Mereka menyukaimu. Ax!"
"Diamlah."
Gumam Axton menghindar dari keramaian. Ia kembali membawa Kellen ke tempat dimana tadi mereka akan segera pergi ke Pesawat.
"Itu Castor! Dia tampak sibuk."
"Hm."
Mereka mendekat ke arah Castor yang berbicara dengan para Staf disini. Tampaknya ada sedikit masalah dan terlihat dari raut beberapa penumpang Maskapai yang lesu.
"Bagaimana bisa? Kalian bilang baik-baik saja."
"Maaf, Tuan! Sekarang akan memasuki Musim dingin, deru angin juga belum stabil. Apalagi malam ini tiba-tiba diperkirakan akan ada Badai angin kencang. Kami terpaksa harus membatalkan penerbangan sampai besok pagi."
Seketika Castor menghela nafas berat mengangguki itu. Resikonya juga besar jika di paksakan.
"Baiklah. Aku mengerti."
"Terimakasih. Tuan!"
Para Staf itu pergi mengurus penumpang yang lain. Jika memakai Pesawat pribadi mereka, maka itu akan lebih mudah tapi sayangnya keadaan tak mendukung.
"Ada apa? Cas!"
"Itu, akan ada badai angin malam ini dan..."
Castor berbalik dan seketika ia tersedak air liurnya sendiri melihat penampilan Axton yang tampak begitu menggelikan.
"I..ini kau.."
"Memangnya kenapa?" tanya Kellen menatap Axton yang hanya menunjukan wajah kesalnya.
Castor hampir saja menyemburkan tawa tapi ia tak mau mempermalukan Axton. Namun, berbeda jika Nicky ada disini.
"Aku..aku mengerti penderitaan mu. Ax! Santai saja."
"Penerbangan di batalkan."
"Iya. Sampai besok pagi, kalian harus bersyukur karna masih ada waktu untuk bermesraan." kelakar Castor tampak santai tapi serius.
"Cari penginapan dekat sini."
"Aku sudah mengurusnya. Kalian tinggal pergi."
"Dimana?" tanya Kellen heran.
"Ada Hotel di Garden Park samping Gedung. Aku memesan kamar untuk kalian."
Ia menyodorkan kartu pada Axton yang sudah menduga akan kesana.
"Ayo!"
"Barang-barang kita?"
"Sudah di urus."
Kellen lega dan tenang. Ia melangkah menurut kemana kaki Axton pergi mengantarkan mereka menuju Gedung besar dan mewah yang Kellen kagumi.
Axton merasakan ada ancaman disini dan kemungkinan itu adalah anggota Nyonya Verena yang sepertinya mengawasi.
"Kell! Kau duluan ke Lift, saja."
"Kau mau kemana?" tanya Kellen pada Axton yang mengusap pipinya lembut.
"Aku ingin ke Toilet. Bisa sendirikan?"
"Baiklah. Cepat ke atas, ya?"
"Hm."
Kellen melanjutkan langkahnya meninggalkan Axton di belakang. Seketika wajah Axton berubah begitu mengintimidasi.
Pistol yang tersembunyi di balik jaketnya sudah bersedia melesatkan peluru.
"Tuan!"
Ada dua anggota yang mendekat tanpa mengundang keramaian.
"Cari dan jangan sampai dia menyampaikan informasi baru."
"Sudah di mulai."
Axton mengisyaratkan agar mereka pergi. dan ia kembali melangkah membuntuti Kellen dari belakang.
Di saat kakinya sudah menginjak teras Hotel. Tiba-tiba saja ada suara tembakan ke arah Axton yang menajamkan mata elangnya.
Semua orang terkejut dan berlarian dengan para pengaman berdombong mendekat. Kellen yang ada di seberang sana sudah dikerumuni para anggota yang berjaga ketat.
"Ada apa?"
"Tetap di belakang kami. Nona!"
Kellen diam melihat di sekelilingnya. Ia mencemaskan Axton yang tadi ke Toilet.
Namun. Axton yang tadi nyaris tertembak tengah meliarkan matanya menatap ke sekeliling keramaian ini.
"Kau merindukan aku?"
Suara wanita dari arah belakang membuat Axton berbalik.
"Tuan Muda arogan."
Vote and Like Sayang..