
Suara tetesan air dari kebocoran pipa besar itu terdengar rintik menggempur genagan air yang mulai surut merendam tubuh Kellen yang terlihat masih tak berubah.
Kegelapan ini masih terasa pekat dengan rasa dingin yang semakin menusuk dari dinding besi tebal ini dan suhu air yang bertambah membeku.
Tentu semua itu mengusik Kellen yang mulai tersadar dari pingsannya yang berjam-jam.
"D..Dad." gumam Kellen kembali meringis. riak air yang bergelombang karna gerakan kakinya seakan menyangga Kellen untuk segera sadar dari tempat pekat ini.
Lagi-lagi Kellen menatap kegelapan yang menelan netra embernya. tak ada yang bisa ia lihat kecuali sentakan kejadian saat itu.
"D..Disini... disini.."
Kellen memucat membayangkan jika ada seorang pembunuh berantai yang di kurung disini, atau mungkin ada yang tengah di jadikan objek penelitian.
"A..aku...aku harus kembali."
Paksaan ketakutan itu mendorong Kellen untuk berdiri kembali. walau seluruh tubuhnya seakan mau patah tapi Kellen tetap berdiri menahan rasa sakit.
Krek..
"Aaa!!"
Pekikan Kellen merapat ke dinding dikala mendengar kembali seretan rantai dan gemuruh riak air yang bergelombang tinggi.
Kakinya menggigil dikala merasakan ada yang tengah memberontak di hadapannya. bahkan, suara tarikan rantai ini semakin kuat membuat Kellen mau mati di tempat.
"K..kau siapa? aku..aku tak mau mengusikmu."
Ucap Kellen dengan suara serak terendahnya. ia perlahan mendekat, mata terpejam dan tangan terulur meraba di depannya.
"K..kau manusia-kan?"
Kaki Kellen membelah air yang hanya tinggal semata kaki itu. dengan perlahan Kellen terus melangkah kedepan seakan mengira jika yang ada di hadapannya ini adalah dinding.
"K..kau manu..manusia dan.."
Dahi Kellen menyeringit dikala kakinya kembali merasakan jari dingin seseorang. ia berusaha menekan kakinya sampai menginjak betis yang begitu keras yang langsung menyentak kasar.
Tubuh Kellen yang tak seimbang segera terjatuh menimpa air yang segera terpecah akibat hantaman bokong bulat itu.
"Dady!!!!"
Pekik Kellen keras dengan gema meraung begitu saja. Namun, bukan rasa sakit yang ia dapatkan. sekali lagi Kellen merasa aneh karna lantai ini tiba-tiba terasa kenyal dan tak begitu keras.
"A..apa yang terjadi?"
Ia meraba sesuatu yang tengah ia duduki. tegukan luda Kellen seketika mengalir dikala merasakan perut berkotak seseorang yang dengan suhu dingin yang sangat membeku.
"A.. apa ini.. ini manusia?"
Batin Kellen terus meraba naik keatas hanya mengandalkan indra kulitnya. dada bidang yang tak berpakaian sampai pada leher kokoh yang Kellen peggang dengan penasaran.
Jemari lentiknya meraba tonjolan bahu kekar itu terus keatas dan..
"Dady!!"
Teriakan Kellen keras dikala jempolnya di gigit begitu kuat sampai Kellen segera berdiri langsung menarik tangannya cepat.
"Kau monster!!!"
Bentak Kellen merasa jempolnya mau putus. ia menatap kegelapan itu dengan penuh rasa takut dan tak berdaya.
Suaranya yang keras seakan menjadi sinyal bahaya bagi sosok itu hingga suara rantai yang memberontak kembali membuat Kellen ketakutan.
"D..Dadyy!!" pekik Kellen sudah tak berani mendekat. ia bersembunyi di bagian tergelap lorong ini tepatnya di dekat pipa besi yang besar di dinding sana.
Sosok itu semakin memberontak seakan ingin lepas dari jeratan belenggunya. Arah suara geburan air membuat riak hebat hingga tak bisa di tepis jika Kellen ingin segera lari.
Namun. saat kakinya ingin pergi tiba-tiba saja cahaya dari arah ujung masuk begitu lebar bahkan membawa mentari bagi Kellen yang mematung.
"I..itu.."
Nafas Kellen terengah dikala melihat pintu di ujung sana terbuka lebar. cahaya yang berasal dari luar mulai menjalar kedalam hingga mata ember Kellen bisa melihat bagaimana bentuk lorong ini sebenarnya.
"Pasti..pasti itu orang yang ingin .."
"Periksa dia!!!"
Kellen tersentak dikala melihat dua pria berbadan kekar masuk membawa besi dan sarung tangan.
Ia segera bersembunyi di balik pipa besar di belakangnya seraya memperhatikan kemana dua pria itu melangkah. cahaya dari pintu itu tak bisa menerangi sampai ke dekat Kellen dan bagian sosok tadi.
"Dia sudah bangun?"
"Sepertinya. iya!"
Kellen terus mengamatinya. Dua lelaki berpakaian hitam ini sepertinya mencoba memeriksa sesuatu.
"Hey! Monster!" memukul bagian air dengan besi di tangannya.
"Kau ingin makan atau tidak?"
Sosok itu tetap diam membuat kesabaran keduanya habis segera melempar besi itu ke arah dinding hingga bersuara sangat berisik.
"Bangun!!!"
"Astaga!"
Kellen terperanjat dikala sosok itu kembali memberontak bahkan lebih keras dari yang di tunjukan padanya tadi.
Seringaian dua pria itu tercipta merasa menang dikala rantai itu tak bisa melepaskan jeratan mautnya.
"Kau bersyukurlah masih di beri kesempatan untuk hidup."
"Cihh!"
Salah satunya melangkah kearah dinding tak jauh dari Kellen yang memperhatikan semua gerak-gerik dua pria ini.
"Hidupkan lampunya! dia perlu energi untuk menggila lagi."
"Dasar menyusahkan!"
Ia menghidupkan lampu lorong ini hingga satu persatu lampu di lorong ini menyala menyengat mata Kellen yang segera tertutup rapat.
"K..kepalaku pusing."
Batin Kellen kala merasa mual dan pusing bersamaan. Ia berusaha membuka mata indah itu hingga perlahan tapi pasti penglihatan kabur Kellen mulai jelas.
Tapi...
Degg...
Mata Kellen melebar seakan keluar dari arena. mulutnya terperangah dengan tubuh mematung di tempat.
A.. apa ini?
Kellen membekap mulutnya sendiri agar tak menjerit. ia dengan lemas merapat ke dinding seraya terus memandangi sosok yang sudah terlihat jelas itu.
Kedua tangan dan kaki kekarnya di rantai ke dinding baja di belakang. tubuh berotot yang basah kuyup dengan kepala tertunduk meneteskan sisa air yang terus membasahi kepalanya dari bocor pipa di atas sana.
Yang membuat Kellen syok adalah kondisi lebam, luka bahkan bagian lengan serta perut pria itu di penuhi luka sayatan dan juga memar bengkak.
"A.. apa yang terjadi padanya?"
Batin Kellen merinding. rantai yang membelit pergelangan kaki dan tangannya begitu kuat sampai melukai kulit pria itu. wajahnya tak begitu jelas terlihat karna masih di tekuk ke bawah.
Bahkan. Kellen sampai mematung melihat air yang tengah merendam kakinya sudah bercampur dengan darah yang bersimbah di tubuh pria ini.
"Keadaanmu sudah sangat mengerikan tapi masih berusaha melawan. hm?"
Mereka menyeringai jengah seraya mengeluarkan satu bungkus kotak makanan yang segera di lempar ke arah wajah tertunduk itu.
"Makan!! jangan hanya menggila, dasar tak waras!" ucap salah satunya lalu melenggang pergi.
Hanya tinggal satu pria lagi masih tak melepas tatapannya pada sosok yang tampak begitu lemah dan tak kuat menarik rantai.
"Aku sarankan. kau mati secepatnya."
"Bajingan."
Batin Kellen kala pria itu meludahi tubuh sosok yang masih tampak diam dengan kegelisahan dari gestur tubuhnya.
"Cepatlah!! matikan lampu itu agar dia bisa makan!"
"Tuan sangat kejam. rantainya tak dilepas, bagaimana bisa dia makan?"
Keduanya malah mengolok-ngolok dengan sangat menyakitkan. tak ada rasa iba atau kasihan melenggang ke arah pintu keluar membuat Kellen merasa jijik.
"Manusia sampah." umpat Kellen muak. Lampu itu kembali dimatikan dari ujung sana hingga keadaan kembali gelap.
Seiring dengan suasana pekat ini maka terdengarlah gemericik air yang seperti di seok oleh pergerakan seseorang.
"Apa dia sadar? tapi kenapa tadi tak mampu bergerak?"
...
Vote and Like Sayang..