
Langit yang tadinya hitam pekat sekarang sudah di penuhi dengan gemercik silau cahaya yang lepas membusung ke awan karna desakan udara yang membengkak di antara deretan tanah seiring dengan ledakan membuat suara dentuman hebat.
Beriring dengan suara dahyat itu. Vacto memacu mobil cepat mencoba untuk tetap stabil mengikuti Mobil Axton di depan sana. Ia mengamati jalan yang keluar dari dalam hutan dan ia belum pernah melewati jalur ini dan tampaknya Axton benar-benar pergi ke Lab itu.
"Vacto! Sepertinya mereka mengikuti kita."
"Kau tenang saja. Axton sudah membuat pengalihan." jawab Vacto memacu stabil. Kondisi jalanan yang sunyi dan sepertinya bukan fasilitas umum membuat mereka bisa menginjak pedal gas dengan penuh.
Setelah beberapa lama. Akhirnya mereka mulai sampai ke sebuah tempat yang termasuk aneh sekaligus menyeramkan.
"Ini bukannya area Kota mati?"
"Tuan Fander sangat Genius membuat tempat disini." jawab Vacto salut. Ia tak menduga jika Lab besar Keluarga Miller itu akan ada disini.
Tepat masuk ke dalam Gerbang kawat sana. Vacto memelankan laju Mobil karna Mobil Castor tampak juga tak melaju sekencang tadi.
Suasana tempat yang seperti sebuah kota yang sudah tak lagi di huni karna disini terdapat gas berbahaya dari perut bumi. Kota ini sudah lama di tinggalkan dan menjadi area bahaya bagi Spanyol.
"Apa mereka akan mengejar kesini?"
"Tentu. Tapi, jika kita menemukan Lab itu maka kita akan bisa bersembunyi."
"Aku harap begitu." jawab Hugo yang masih memantau kondisi Johar di atas Bangkar tepat di sampingnya. Ia dan rekannya Robert hanya bisa tetap percaya pada tugas masing-masing.
Setelah beberapa lama. Akhirnya Mobil yang Castor kendarai berhenti di sebuah Gedung tinggi dan tampak terbengkalai. Apa tempat itu disini?"
"Apa ini Lab-nya?"
"Tapi, Mobil Tuan berhenti di depan sini." gumam Vacto melihat Castor keluar dari Mobil membuatnya juga menghentikan Mobil.
"Keluaar!!"
"Baik!!"
Mereka mulai membuka pintu menarik bangkar Johar keluar dengan Vacto yang mematung melihat tempat ini. Suasana yang aneh dan terasa begitu dingin.
"Vacto!! Bantu aku!!"
"Baiklah."
Vacto menepis pertanyaan di benaknya lalu membantu Hugo untuk mendorong bangkar milik Johar untuk mendekat kearah Mobil Axton.
Pria itu tampak berdiri di dekat lampu Mobil melihat Bangunan yang sudah tertinggal beberapa tahun ini.
"Tuan! Mereka akan mengejar kita, dimana Lab-nya?"
"Di dalam!"
Jawab Axton memandangi lampu yang ada di depan pintu bangunan Rumah Sakit. Lampu menyala redup dan berkedip lemah seperti tak terawat.
"Tuan! Bagaimana para Team medis bekerja jika Labnya ada di tempat ini."
"Bawalah dia ke dalam!" titah Axton mau tak mau Hugo lakukan. Ia tak mau protes karna kali ini keadaan tak mendukung.
Mereka mendorong bangkar Johar masuk ke dalam pintu kaca Rumah sakit yang ada bekas jepretan darah yang mengering. Suasana lampu remang dan kedipan dari kabel yang tampak masih teraliri listrik ini menandakan jika Gedung ini tak benar-benar mati.
"Tuan! Ada di lantai berapa?"
"Di Lab rumah sakit ini." jawab Axton lugas memimpin jalan ke dalam. Di setiap detakan sepatu Axton yang mengenai lantai dingin remang ini maka lampu akan menyala lebih terang membuat mata mereka bisa menyapu apa saja yang tengah di pamerkan.
Axton berjalan masuk semakin dalam hingga berhenti di sebuah Ruangan yang tampaknya ini tempat operasi.
"Apa ini? Tuan!"
Tak ada jawaban dari Axton yang mendorong pintu ruangan itu hingga membuat tirai di depannya terbuka memperlihatkan peralatan operasi dan banyak alat lainnya.
Tentu mereka kebingungan termasuk Castor yang tak tahu dimana Lab yang sebenarnya atau memang ini.
"Ax! Apa benar ini Lab-nya?"
"Hm. Johar akan di rawat disini."
Vacto terperanjat. Ia mengerutkan dahinya menatap Hugo yang menaikan bahu tak mengerti.
"Tuan! Peralatan ini sama sekali tak cocok."
"Lab yang aku maksud itu ini." jawab Axton berbalik menatap Vacto yang terdiam masih terlihat belum puas.
"Tapi.."
"Apa yang kau pikirkan?"
Tanya Axton masih setia dengan wajah biasa yang menyimpan banyak makna. Tatapan datar dan begitu tegas masih bertahan di tempat.
"Tidak ada. Tuan! Aku hanya sedikit terkejut."
"Hm. tangani dia di dalam karna mereka akan datang kesini." titah Axton melangkah pergi dituruti Castor yang juga ikut.
Sekarang tinggallah Hugo dan Robert yang mendorong Bangkar Johar masuk ke dalam ruangan operasi yang sebenarnya sudah rusak dan tak layak pakai.
"Aku rasa ini bukan tempatnya?"
"Tuan mengatakan ini. Dan aku percaya apapun yang dia perbuat." tegas Hugo tak mau membantah Axton.
Vacto menghela nafas halus ikut membantu mengamankan Bangkar Johar. Ia memasang semua yang di katakan Hugo pada tubuh Johar yang sudah mulai berbau.
"Aku akan meminta Tuan untuk memberi perintah selanjutnya. Kau jaga disini!"
"Aku mengerti." jawab Vacto pada Hugo yang melangkah pergi keluar ruangan.
Sekarang, tinggallah Robert dan dirinya yang masih memastikan Johar dalam keadaan baik-baik saja.
Dalam situasi seperti ini. Robert melihat Vacto diam terlalu lama meneliti ruangan ini.
"Ada apa?"
"Menurutmu apa tak ada ruangan rahasia disini?"
Robert terdiam sejenak. Pria paruh baya itu juga ikut melirik ke semua sudut ruangan tapi ia tak terpikir kesana.
"Ntahlah. Aku rasa tidak."
Robert tak mengerti akan ucapan Vacto tapi ia ingat akan ucapan Hugo saat itu.
"Aku ingat. Dokter Hugo mengatakan jika Tuan pernah berbicara soal Lab di rumah sakit. Dan aku rasa ini."
"Kau mendengarnya?" tanya Vacto serius. Robert mengangguk seperti tak terlalu tertarik tapi tidak dengan Vacto.
"Yah. Tapi, aku juga tak tahu."
"Apalagi yang Hugo katakan?"
Robert mencoba mengingat tetapi ia benar tak tahu itu dan akhirnya membuat raut wajah Vacto berubah.
"Kau yakin?"
"Yah. Hanya itu." jawab Robert singkat seraya memeriksa layar Monitor Johar melewati Vacto yang diam di tempat memperhatikan tempat di sekelilingnya.
"Sepertinya tubuh Johar ini sudah me.."
Bughh..
Tengkuk Robert di pukul dari belakang membuat pria itu tumbang di atas lantai. seketika suasana berubah dan kali ini Vacto memperlihatkan wajah yang berbeda.
"Tak berguna."
Desisnya menendang punggung Robert untuk menyingkir dari jalannya. Tak mau membuang waktu lagi, Vacto dengan cepat mencari tempat tersembunyi di ruangan ini.
"Pasti disini. Dia tak mungkin bisa mengelak."
Setelah beberapa lama akhirnya Vacto melihat ada sebuah pintu dimana sudah di lapisi dengan besi. Dari ucapan Robert barusan ia yakin jika Lab itu ada disini.
"Aku harus menghubunginya." gumam Vacto segera membuka ponsel lalu menghubungi seseorang yang sekarang hanya menunggu panggilan darinya.
"Hm?"
"Aku menemukannya! Kau bawa kesini dan kali ini tak ada anggota yang berjaga hanya sedikit." jawab Vacto buru-buru dan sangat ingin cepat.
"Kau tak perlu menunggu. Aku sudah mengepung di luar."
Vacto langsung memberi seringaian yang baru kali ini terlihat dipermukaan. Bahkan, serangga liar yang ada di sudut-sudut ruangan ini berlarian karnanya.
"Kau sangat cepat."
"Tak akan ku sia-siakan lagi."
Jawaban itu membuat Vacto memutus sambungan. Kali ini ia tak perlu bersembunyi di balik topeng menjijikan ini.
"Vacto! Tuan menyuruh kita untuk segera menangani Johar!!"
Hugo yang masuk dengan cepat ke arah Bangkar. Namun, ia terkejut melihat Robert sudah tergeletak di lantai dan..
"Selamat tinggal!"
"Kauu.."
Hugo melebarkan matanya kala Vacto sudah menembak ke arah dadanya. Hal itu memicu deru langkah kaki ke sini dan suara penyerangan dari luar.
Tembakan Vacto tadi sebagai isyarat jika gema suara itu adalah sebuah akhir dari rencana mereka.
"V..Vacto.." lirih Hugo yang sudah bersimbah darah di lantai sana. Vacto hanya memberikan wajah yang sama saat Johar dulu mengkhianati mereka dan ini sangatlah menjijikan.
"K..kau.. B..brengsek!!"
"Sutt! Kita akan lihat kehancuran penerus yang kau banggakan itu." desis Johar segera menembak brutal kearah luar dimana anggota Axton sudah ke sini.
Ia sangat bersemangat dan begitu mulai menunjukan sisi gila yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.
"V..Vactoo!!"
"Say Hello!!" desis Vacto melihat para anggota tercengang melihatnya. Mereka tak bisa menghadang pasukan sebanyak itu di luar sana dan apalagi Vacto tiba-tiba berbalik arah.
"Axtoooon!!! Kemana kau akan lari. Ha???" gema suara Vacto mengalahkan baku tembak di halaman luar.
Ia akan melakukan apa yang selama ini ingin ia lakukan. Dengan sangat bertenaga dan berani Vacto keluar mencari Axton di tengah kekacauan yang ada.
Dari ujung dekat pintu keluar Vacto melihat Castor tampak ikut dalam baku tembak ini sendirian.
"Kau mengorbankan temanmu. Hm?" gumam Vacto membidik ke arah Castor yang tak menyadari itu. Dengan satu tarikan pelatuk pistol sudah menembakan satu timah panas ke arah Castor yang tengah di desak anggota lawan yang membeludak.
Namun. Kala peluru itu ingin mengenai Castor tetapi tiba-tiba saja Castor merasakan bahaya dan mengelak cepat.
Tatapan matanya terkejut melihat Vacto yang sudah menunjukan wajah mengerikan dan aneh itu.
"K..kau.."
"Dimana Tuanmu itu. Ha??"
"Ada apa denganmu?" tanya Castor keheranan masih bersembunyi di balik dinding rumah sakit menghindari tembakan dari luar.
Vacto mendekat seakan ingin mengatakan jika sekarang semuanya sia-sia dan lebih baik menyerah.
"Katakan dimana pria itu?"
"Kau kenapa??" tanya Castor masih tak percaya ini. Vacto terkekeh geli menodongkan pistolnya membuat Castor mematung diam.
"Kau sudah tak berguna bagiku."
"Kau berkhianat!!!" bentak Castor menembak ke arah Vacto yang juga melepaskan satu tembakan yang sama ke arah Castor. Kondisi yang mendesak membuat Castor tak bisa mengelak hingga terkena dua kali tembakan dari samping dan di hadapannya. Sedangkan Vacto masih sempat menghindar.
"Payah!"
Hal itu membuat Vacto puas karna keinginan mereka lagi-lagi bisa di capai walau dengan susah payah.
"Keluar kau Axtooon!!!"
.....
Vote and Like Sayang..