
Tak selang beberapa jam saja. 3 pria yang membuat Kellen hampir mati di dalam air itu segera di bekuk para anggota Darkness yang sangat kasar menyeret mereka ke Markas besar.
Salju yang terus turun menutupi jalan dan tanah lapang ini di buat terhempas akibat seretan tubuh-tubuh manusia yang di tarik dengan tali berjalan masuk kedalam Gerbang besar Markas yang sudah di jaga ketat oleh anggota lain.
Disini. Mereka melewati Gerbang utama, para pasukan yang tampak berwajah kejam karna sangat muak dengan kaki-tangan musuh.
"Bawa mereka ke ruang bawah tanah!!"
"Baik!"
Castor memimpin penangkapan. Ia melihat jelas para pria bertubuh tegap yang di seret ke dalam sana tampak tak gentar sama sekali.
Jelas ini pasti ada sesuatu yang tengah mereka rencanakan sampai tak ada rasa takut menginjak kesini.
"Apa ini juga ulah Johar?"
"Ntahlah." jawab Vacto yang melangkah mendekati Castor. Ia sudah mengantar Kellen dan Axton ke dalam, sekarang pria itu tengah mengawasi Dokter yang memeriksa istrinya.
Castor-pun merasa keadaan semakin terasa ambigu. Hanya Axton yang bisa tahu maksud dari semua ini karna insting tajam Axton tak lagi perlu di ragukan.
"Kalau memang dia. Berarti nantinya Johar pasti akan melanjutkan penyerangan lebih dalam. Dia akan datang ke Markas seakan tak tahu jika Axton telah mempengaruhi anggota disini, benar-benar bajingan."
"Jangan terpancing dulu. Kita tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini." jawab Vacto menepuk bahu Castor yang tampak menahan emosi.
Melihat wajah Castor yang tak begitu berbeda dengan temannya dulu. Vacto merasa bertemu dengan saudara lama yang sekarang tengah berbeda alam.
"Daddymu selalu bertindak ceroboh."
"Apa?" tanya Castor menatap Vacto yang menatap ke arah hamparan salju ini. Nyatanya ia akan selalu di timpa rasa bersalah akan teman-teman sejawatnya itu.
"Kau dekat dengan Daddyku?"
"Apa aku tak terlihat begitu?!" tanya Vacto membuat Castor terdiam melihat wajahnya yang cacat. Apa karna kejadian itu para anggota lama benar-benar di siksa.
"Tidak juga."
"Apa aku terlihat seperti pengkhianat?!"
Castor tak menjawab. Jujur ia tak ada rasa muak akan Vacto yang mengikuti Johar setelah Tuan Fander dan Ayahnya tiada. Ia paham situasi Vacto bagaimana?
"Yah. Aku memang pecundang, aku tak bisa menyelamatkan rekan-rekanku."
"Aku tak mau membahasnya." gumam Castor mengusap wajahnya kasar. Ia melangkah pergi ke arah para anggota yang tampaknya sudah lebih dulu ke arah ruang bawah tanah sana.
Helaan nafas Vacto terhempas ringan mengikuti Castor untuk mengurus para anggota gelap musuh itu. Ia pergi ke arah belakang masuk kedalam sebuah pintu yang membawa mereka ke lorong bawah tanah yang sudah terang dengan lampu di sisi kanan dinding.
"Mereka sudah di rantai. Tuan!" para anggota yang menghadap setelah merantai 3 pria itu di sebuah ruangan dingin yang disengaja.
"Buat mereka tetap terjaga."
"Mereka setengah sadar. Tuan! Kami akan selalu memantaunya."
Jawab mereka tapi segera menunduk mundur kala suara detakan sepatu di tangga sana sudah terdengar mendekat.
Terlihat Axton yang turun dengan raut wajah yang benar-benar tak bisa mereka tatap leluasa.
"Tuan!!"
Mereka menunduk berserta Vacto yang mundur membiarkan Axton melangkah mendekati Castor yang mengerti.
"Mereka sudah ada di dalam. Lakukan apa yang mau kau lakukan."
"Hm."
Axton melangkah maju menyusuri lorong berdinding besi ini. Ia melewati beberapa jeruji Sel tetapi langkahnya terhenti tepat di depan Pagar besi yang langsung di buka oleh penjaga disana.
"Silahkan. Tuan!"
"Pergilah!"
Mereka semua mengangguk pamit pergi bersama Vacto yang tak mau membantah. Hanya Castor yang tinggal di belakang Axton.
"Ax! Kau..."
"Kau juga."
"Apaa?"
Batin Castor terkejut mendengar perintah Axton. Kenapa? Tak biasanya Axton menyuruhnya pergi di setiap apa yang ingin di lakukan.
"Kau mendengarku?"
"B..Baik." jawab Castor mau tak mau berbalik pergi dengan pertanyaan yang besar di benaknya. Tak ia sangka Axton ingin melakukannya sendiri.
Sementara Axton. Ia melangkah masuk kedalam dengan suhu dingin semakin menusuk. Detakan sepatunya membuat 3 pria itu diam dengan tatapan mata yang pasti dan sangat yakin.
"Kau putra Fander. Bukan?"
Salah satunya menatap Axton dengan lantang. Lampu di dinding ini bisa memperjelas bagaimana sosok tinggi kekar dengan pahatan nyaris sempurna itu tengah mengintimidasi.
"Kau pikir kau pantas menduduki kursi kekuasaan itu. Ha?"
"Cihh."
Mereka mengolok-ngolok Axton yang hanya diam dengan mata tajam tak beralih pandang. Sebenarnya kaki mereka sudah gemetar dan tiba-tiba saja rasa takut itu datang. Tapi, mereka tak boleh gentar sama sekali.
"Kau diam? Apa kau takut, atau kau tengah memikirkan cara bersembunyi?"
Tak bicara atau bergerak seperti itu saja sudah mampu membuat mereka menahan ketakutan. Apalagi jika Axton benar-benar bertindak.
"Kenapa dia diam? Seharusnya dia membunuh kami?"
"Kau!" Axton beralih ke salah satu pria yang memiliki kulit hitam dan perawakan persis seperti orang Afrika asli.
"Yah! Kau ingin apa?" menantang dengan suara yang meremehkan.
"Kau yang mengikat kaki Istriku?"
Pria itu terdiam saling pandang dengan rekan yang lain. Ia mengangguk mengakui itu bahkan di selingi seringaian tanpa rasa bersalah.
"Yah. Bahkan aku yang memukul betisnya. Lalu, kau mau apa?"
"Aku juga ingin menenggelamkannya." timpal yang lain dengan suara tak stabil. Terlihat jelas mereka tengah menahan rasa takut.
Seketika kepalan tangan Axton menguat. Ia masih mengumpulkan amarah itu menjadi satu sebelum ia mengakhiri manusia-manusia sampah ini.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Kalau kami tak mau memberi tahu?"
Tanya pria berkulit hitam itu yang tampaknya sudah siap tiada. Axton adalah pengamat yang baik dan ia cukup bisa menebak setiap apa yang di rencanakan tiga manusia ini.
"Tak perlu kau bicara. Aku-pun juga tahu."
Desis Axton mengeluarkan pistol di balik jaketnya. Dengan raut wajah datar mendingin itu ia mengacungkan pistol ke arah satu pria yang ada di tengah-tengah di jerat rantai.
"Tembak!! Bunuh kami sekarang!!!"
"Yah!! Bukankah kami sudah melukai istrimu?"
Mereka terlihat semakin memancing Axton. Namun, setelah beberapa lama menunggu Axton belum juga menembak kepalanya.
"Kau takut!! Kau takut dan.."
Dorrrr....
Satu tembakan itu melesat ke arah dada sebelah kanan pria yang di rantai di sebelah kiri. Mata mereka mulai mengigil kala melihat darah itu keluar muncrat ke lantai.
Sayangnya Axton tak menembak ke bagian jantung. Ia memilih tempat yang bisa memberi kehidupan dalam beberapa waktu.
"Bunuh!!! Kau harus membunuh kami!!!"
"Jangan memerintahku." tekan Axton lagi-lagi menembakan dua peluru ketempat yang sama pada dua pria berbeda perawatan itu.
Suara rintihan mereka seketika terdengar menjadi gema di dalam lorong bawah tanah tetapi Axton belum bisa di perkirakan akan berhenti kapan.
"Kaki!"
Axton kembali melepas tembakan ke arah pergelangan kaki mereka semua dengan bidikan sangat tepat tak meleset
"B..Bunuh. K..kamii!!!"
Desisan sakit itu sama sekali tak berarti bagi Axton yang tak akan pernah melepas sesuatu yang ia inginkan.
Bahkan. Tak hanya menembak di satu bagian saja, Axton dengan wajah datar kelap itu beralih ke bagian paha, betis bahkan ke lengan mereka yang tak menuju Vital.
"B..Bunuhhhh!! Bunuh kami!!!"
"Bunuh?" tanya Axton kembali mengisi peluru di pistolnya. Selagi ia belum puas maka tak akan ada yang bisa menyelamatkan para sampah ini.
"K..kau..kau tak a..akan bisa me..melawan mereka!!! Kau tak akan tahu siapa dia???"
"Dia ada di tempat yang sama denganmu, dia seperti apa yang kau inginkan!!!"
Axton hanya diam. Lagi- lagi teka-teki yang sama dan ini sudah sering ia dengar, Johar dulu juga mengatakan ini.
"D..dia.. Dia tahu apa yang kau lakukan.. Dia..."
"Tak ada yang bisa mengaturku." geram Axton menembak ke arah kerongkongan mereka.
Alhasil ruangan ini penuh dengan bercak darah sampai menjiprat ke sepatu Axton yang terlihat memikirkan ucapan mereka tadi.
"Akan ku cari sampai ke ujung dunia sekalipun." geram Axton melempar pistolnya asal. Ia tak benar-benar membunuh orang-orang ini karna akan sangat berguna nantinya.
Tanpa Axton duga. Ternyata Kellen tengah berdiri di luar sana dengan wajah masih pucat tetapi ia ingin tahu apa yang Axton lakukan.
"Aku yakin bukan Daddy. Axton juga percaya itu." gumam Kellen merasa agak lega karna Axton tak menentang jawabannya.
Lama berdiri disini membuat Kellen ingin melangkah masuk menemui Axton. Tetapi, tiba-tiba saja kakinya menginjak benda yang cukup tajam melukai bagian kakinya yang tak ada alas.
"Shitt! kenapa tadi aku tak memakai alas kaki?!" umpat Kellen berjongkok pelan memeriksa kakinya yang sedikit berdarah.
"Semenjak kesini. Aku selalu mendapat hadiah luar biasa, luka di perut dan.."
Kalimat Kellen terhenti kala melihat ada satu benda mengkilap yang cukup kecil. Ia mengambil benda itu dengan dahi menyeringit dan mata menyipit.
"Ini..."
"Kau memang ingin di RANTAI. Ha?"
Degg...
Vote and Like Sayang..