
Keadaan masih saja sama. Bahkan, ini lebih intens dimana kamar yang cukup luas ini menjadi saksi bisu antara kebungkaman dua manusia yang tak ada melakukan percakapan selain bungkam setelah sekian lama berbicara.
Kellen hanya diam dan tak mau menyangga apapun yang Axton lakukan padanya. Ia hanya pura-pura tidur walau sekarang jantung dan tubuhnya tengah mendingin.
Axton-pun sama. ia tak lagi mau menganggu Kellen yang ia tahu tengah menghindarinya. Jika ia tekankan terus Kellen akan semakin memberontak.
"Kenapa dia tak pergi-pergi dari sini?"
Batin Kellen merasa gugup yang teramat. Jujur saja ia tak biasa dalam kondisi dimana pikirannya tengah berkelana jauh begini.
Ntah apa yang Axton perbuat. Kellen merasakan jika pria ini merapikan perban di perutnya, sangat hati-hati seakan tak mau melukai kulit mulus ini.
Namun. Tiba-tiba saja perut Kellen berbunyi pertanda ia cacing di dalam sana tengah kelaparan.
"Siall!!! Kenapa harus sekarang?!"
Batin Kellen mengumpat menyembunyikan wajah merah merona malu itu ke sela bantal. Sungguh rasanya ingin sekali pergi sejauh-jauhnya.
Sudut bibir Axton terangkat pelit. Senyuman samar yang tertutup raut datarnya itu menatap Kellen yang tampak sangat malu.
"Kau lapar?"
"T..tidak."
Jawaban itu sangatlah menggelitik perut Axton yang tahu Kellen hanya meninggikan egonya, terbukti jika perut Kellen kembali berbunyi dan lebih nyaring dari sebelumnya.
"A.. Aku.. Aku ingin ke kamar mandi." gugup Kellen perlahan bangkit dengan perasaan campur aduk.
Tatapan netra elang Axton yang tak lekang dari wajah tomatnya membuat Kellen semakin memanas.
"A.. Kau.. Kau disini saja."
"Akan-ku bantu."
Axton berdiri membuat Kellen mulai merasa jantungan. Ia tak mau Axton mendengar suara jantungnya yang sekarang tengah memberontak keluar.
"A.. Itu.. Aku bisa. Aku.."
"Lukamu masih basah."
"T..tidak. Ini..ini tak apa." Kellen berusaha mengelak. Ia sekuat tenaga seakan tak apa-apa dengan berdiri pelan tapi ini sangat sakit.
Melihat wajah Kellen yang tampak menahan sakit membuat Axton tak bisa diam saja.
"Aku akan mengantarmu."
"T..tidak aku.."
Tanpa bicara lagi. Axton segera mengangkat ringan tubuh jenjang Kellen dalam gendongannya. Seketika wajah Kellen semakin tegang dengan dada berdebar.
"Aku..."
"Diamlah."
Axton membawa Kellen masuk kedalam pintu kamar mandi. Ruangan ini cukup besar dimana ada Bathtub dan lantai kamar mandi yang memang agak licin.
"K..kau.."
"Lakukan disini!" titah Axton menurunkan Kellen yang canggung. Ia sangat malu jika sampai Axton melihatnya polos atau membuka bawahan.
Melihat Kellen yang tak bergeming menarik pertanyaan Axton yang tenang.
"Kau ingin buang air besar?"
"A.. Ha?"
Dahi Axton menyeringit tapi Kellen segera menggeleng spontan ingin membuka celananya tapi ia sadar jika Axton masih disini.
"A.. Itu. Kau..kau keluarlah. Aku bisa sendiri."
"Hm."
Axton tak mau mengganggu hingga ia berbalik melangkah ke dekat pintu. Sayangnya Axton tak keluar sepenuhnya, pria itu berdiri membelakangi Kellen yang belum cukup berani.
"B..bisa kau keluar? Dan tolong tutup pintunya!"
"Hm."
Axton akhirnya mengalah menutup pintu kamar mandi lalu ia berdiri merapat ke benda itu. Pendengarannya yang tajam bisa menduga Kellen tengah kesusahan membuka helaian bawahannya.
"Shitt. Aku tak tahan lagi." gumam Kellen merapatkan pahanya menahan air seni yang akan lepas sebentar lagi.
Ia berusaha bergerak menurunkan celananya dengan pelan karna perban itu masih baru dan lukanya tak boleh kena air.
Setelah cukup la berjuang. Akhirnya Kellen bisa menurunkan celana dan **********. Ia perlahan berjongkok menahan sakit karna luka itu tengah di tekan.
"S..Sebentar." gumam Kellen sungguh frustasi. Ia mengeluarkan semua yang tadi mengganjal di bagian bawahnya hingga barulah Kellen lega.
"Syukurlah! Ini sangat bebas." gumam Kellen merasa plong. Ia berdiri perlahan meraih Shower di atas peggangan sana lalu membersihkan lantai kamar mandi ini.
Suara gemericik itu terdengar oleh Axton yang berjaga-jaga jika Kellen membutuhkan bantuannya.
"Kau sudah selesai??"
Suara berat datar Axton mengejutkan Kellen yang kembali panik.
"A.. Belum. Aku.. Sebentar lagi."
"Hm."
Kellen bersigegas menaikan celananya. Namun, sangat di sayangkan kala kaki indahnya tak sengaja menginjak bagian yang licin membuat Kellen tergelincir hebat.
"Aaaaxx!!!"
Pintu terbuka kasar dengan Axton yang bak kilat menyambut tubuh Kellen yang hampir membentur lantai keras kamar mandi.
Seketika wajah Axton mengeras. Ia mengantisipasi hal ini terjadi lagi tapi Kellen seakan menghiraukan keselamatannya sendiri.
"Kauuu..."
"M..maaf, l..lantainya licin." gugup Kellen tak mau menatap wajah keras Axton yang selalu membuatnya jantungan.
Mendapati alasan itu. Lirikan netra elangnya menghunus lantai yang memang licin, ntah bagaimana cara mereka mengkondisikan Ubin disini.
"A..aku.."
"Kau bisa memanggilku-kan?"
Kellen tercekat. Pertanyaan Axton barusan memang terdengar mengintimidasi dirinya apalagi Kellen tak lagi punya keberanian memperlakukan Axton seperti anak-anak seperti dulu.
"A.. Iya. Aku.."
"Kau belum selesai?" tanya Axton kala mendapati celana Kellen basah karna jipratan Shower yang tadi ikut jatuh.
"Sudah. Tapi aku harus membersihkan ini."
"Hm."
Axton kembali menggendong Kellen yang pasrah di bawa keluar. Ia juga tak mungkin memancing amarah Axton yang tampak berusaha bersabar.
Pria itu membaringkan Kellen keatas ranjang lalu pergi ke Lemari pakaian mencari pakaian hangat dan kering.
"Aku..aku bisa. Kau kerjakan saja yang lain."
Axton tak menjawab sama sekali. Ia membawa celana Jogger longgar, Kaos kaki dan yang paling membuat wajah Kellen merona adalah Daleman maron itu.
"Ini memalukan. Aku..aku sangat menjijikan."
Batin Kellen kala merasa gugup. Raut wajah Axton yang tampak membawa benda itu kemari hanya datar seakan tak berfikiran apapun. Tetapi, tak sejalan dengan Kellen yang tengah menahan malu.
"Berbaring yang benar!"
"A..aku bisa."
Gumam Kellen ciut tapi Axton sudah menatapnya membunuh dan tak bisa di bantah untuk yang kedua kalinya.
Tak mau membuang waktu. Axton berjongkok di dekat ranjang menaruh pakaian Kellen ke samping tempat tidur.
Kedua kaki Kellen menjuntai ke samping ranjang membuat lekukan tubuh wanita ini bisa Axton pindai.
"A..aku bisa."
"Diamlah."
Axton dengan hati-hati menarik celana Kellen turun menyusuri lekukan pinggang seksi ini. bentuk paha dan pinggul yang pas membuat tubuh Kellen memanggil-manggil jiwa kelelakian Axton yang tengah berusaha mengendalikan dirinya.
"K..kau..."
Ia menepis halus tangan Kellen yang ingin menahan tangannya. Sekuat tenaga Axton menahan hasrat birahi yang selalu membara kala melihat pemandangan indah ini.
Hanya tersisa daleman saja membuat Kellen merapatkan pahanya agar Axton tak melihat, padahal mata elang tajam itu tengah tak mengalihkan pandangan dari objek nikmat yang sekarang sudah ada di hadapannya.
"Shittt!"
Batin Axton kala merasa denyutan di bawah sana. Ia merasa pusing menahan gebuan hasrat ini tetapi ia akan terus mencoba menahan diri.
"B..bisa di percepat. Ini dingin."
"Hm."
Kellen mencengkram selimut kala jemari Axton menyentuh kulitnya. Kala benda itu di turunkan jantung Kellen semakin menggila beriring dengan darah Axton yang mendidih panas.
Deru nafas Axton semakin terasa berat kala perlahan tapi pasti ia akan melihat bentuk surga dunia yang selama ini menyiksanya.
"Axton!!!"
Seketika keduanya sadar kala suara Castor di luar berkumandang.
Axton memejamkan matanya dengan sekali tarikan cepat melepas Daleman Kellen. Ia menarik selimut di samping menutupi bagian bawah wanita ini dan barulah mata itu ia buka.
Semua itu ternyata di tatap mata Amber Kellen yang terdiam melihat Axton tak memanfaatkan momen ini. Wajah datarnya seakan tak terpengaruh atau terpancing pada tubuhnya.
"Axtoon! Ada masalah di luaar!!"
"M..Masalah?" gumam Kellen agak tersentak. Suara tembakan di luar juga terdengar membuat Kellen terperanjat hebat.
"Jangan keluar! Dan tetap disini."
"K..kau.. Kau mau kemana?" tanya Kellen kala melihat Axton bersicepat memasangkan pakaian itu ke tubuhnya.
Axton hanya diam. Suara tembak menembak itu sudah di pastikan tengah ada kekacauan di bawah sana.
"Tunggu disini! Makan-makananmu dan jangan membuat ulah"
"Kau.. Aax!!"
Panggil Kellen tapi Axton tak menjawab. Ia menutup pintu kamar rapat dan menguncinya dari luar.
Kellen beralih memandang jendela dan ia cukup terkejut kala Jendela itu sudah di paku dengan kayu ntah kapan Axton melakukannya Kellen tak tahu.
"Ada apa ini sebenarnya?!"
Vote and Like Sayang..