
Sudah dua hari Martinez mengurung dirinya di dalam kamar. Ia tak bicara dengan siapapun termasuk Nyonya Verena yang sangat cemas bahkan, ia begitu takut jika kesehatan putranya terganggu.
Apalagi sesuai data yang di berikan Castor pada Axton kemaren, undangan pernikahan Miss Barbie dan Thomas sudah tersebar di media.
Hal itu tentu semakin memukul batin Martinez yang begitu merasa terpuruk dan tak tahu harus apa.
"Martin! Ayo makan, Nak!" Nyonya Verena mengetuk pintu kamar Martinez yang sudah tak ingin melakukan apapun.
Tindakan yang ia buat tak hanya menyiksa dirinya sendiri. Tetapi, mereka semua ikut merasakan terutama Nyonya Verena yang tak tenang.
"Martin! Makan dulu, urus dirimu sendiri. Jika seperti ini bagaimana kau ingin menemui Miss Barbie, jangan mengurung diri seperti ini. Nak!"
"Nyonya!" gumam Yagatri tengah memeggang nampan berisi makanan yang masih utuh.
Tak ada jawaban dari dalam sana. Nyonya Verena akhirnya tak lagi mengetuk pintu. Ia menatap Yagatri dengan lemah dan sendu.
"Sampai kapan dia akan seperti itu. Aku sangat mencemaskannya."
"Sebaiknya anda istirahat. Nyonya!"
"Hm. Kalau dia keluar, tolong berikan makanan padanya. Ya?"
"Iya. Nyonya!" jawab Yagatri menunduk kala Nyonya Verena melangkah pergi ke arah tangga. Wanita paruh baya itu terlihat memijat pelipis yang berdenyut merasakan pusing mulai melanda.
Di pertengahan anak tangga. Nyonya Verena melihat Axton yang baru pulang bersama Nicky dan Castor. Pria itu seperti biasa mendominasi Kediaman luas ini.
"Ax! Semuanya sudah siap, hanya tinggal memulai saja."
"Hm. Tidak sekarang." gumam Axton memeriksa ponselnya. Ini sudah siang tetapi Kellen belum pulang juga dari luar setelah berpamitan untuk pergi ke Mall membawa Baby San keluar.
"Axton!"
Panggilan Nyonya Verena menarik mata elang Axton menatap wanita itu. Nyonya Verena melangkah turun ke bawah mendekati Axton yang masih di tempat.
Wajah wanita ini tampak pucat dan tak sehat. Memang sedari dulu Nyonya Verena tidak lagi sesegar dulu, kakinya juga sering keram dan mati rasa.
"Axton!"
"Hm. Ada apa?"
"Bisa kau membantu Martinez?" tanya Nyonya Verena penuh harap. Axton hanya diam tak menjawab dengan cepat membuat Nicky dan Castor memilih untuk pergi.
"Dia.. Dia tak mendengarkanku, aku cemas jika dia seperti itu terlalu lama. Maka, dia akan sakit. Aku mohon bicaralah dengannya."
"Apa yang bisa-ku lakukan?" tanya Axton dengan intonasi datar khasnya.
"Kau..kau katakan padanya untuk tidak memikirkan hal itu lagi, lagi pula semuanya juga tak bisa di ulang kembali."
"Kau yakin itu berhasil?"
Pertanyaan itu hanya membungkam suara Nyonya Verena. Yang ia inginkan hanyalah kesehatan dan kebahagiaan putranya, tetapi ia tak tahu harus dengan cara apalagi membuat Martinez mengerti.
"A..aku.."
"Baiklah." sela Axton akhirnya menurunkan egonya. Nyonya Verena berbinar menatap penuh harap pada Axton yang melangkah menaiki tangga menuju lantai kamar Martinez tak jauh dari sini.
Sesampainya diatas. Axton melihat Yagatri yang tengah duduk dikursi tepat didekat pintu. Melihat kedatangannya Yagatri segera berdiri menundukan kepalanya.
"Tuan!"
"Pergilah!" titah Axton mendekat dan tentu tak butuh bantahan lagi Yagatri segera mengangguk melangkah pergi.
Dengan langkah tegasnya Axton mendekat ke pintu. Dari sini saja ia bisa perkirakan jika Martinez mengunci pintu dari dalam dan dia tengah bersandar di balik dinding tebal ini.
Cih. Benar-benar menyusahkan hidupnya.
Tak mau membuang waktu lebih lama disini. Axton segera menekan gagang pintu kuat dengan dorongan kakinya yang kokoh mampu menjebol kuncian benda ini.
Spontan pintu itu rusak membuat pria yang ada di dalam sana terperanjat.
"K..kau.."
Martinez terlihat duduk di atas lantai tak jauh dari tempat Axton berdiri. Mata pria itu sembab dan kondisi tubuh yang acak-acakan.
"Kau tak mau mempercepat pemakaman Ibumu?"
"M..maksudmu apa. Ha?? Jika.. Jika ingin mengajakku keluar. Sebaiknya kau pergi dari sini!!" bentak Martinez memberikan pandangan emosi dan terlihat marah. Ia bangkit dari duduknya lalu pergi ke arah ranjang.
Melihat itu Axton memejamkan matanya untuk sekedar bersabar lebih lama.
"Aku tak berminat."
"Lalu..lalu kenapa kau kesini? Untuk menceramahiku? Agar aku mencari wanita lain, begitu?" sarkas Martinez sudah jengah disuruh melupakan. Padahal, mereka tak mengerti bagaimana perasaanya sekarang.
"Kau..kau mencintai Kellen, bagaimana.. Bagaimana perasaanmu jika disuruh melupakannya? Kau ..kau tak akan bisa. Ax! Tak akan bisa." imbuh Martinez mencengkram selimut di atas ranjang.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Martinez, memang sangat menggelitik perut. Pantaskah seorang pemain wanita sepertinya bisa terpuruk begini.
"Dia.. Dia sudah tak mencintaiku lagi. Dia.. Dia sudah pergi."
"Memangnya kenapa jika dia tak mencintaimu lagi?" tanya Axton berjalan mendekat ke arah Balkon.
Ia terhenti di jendela pembatas seraya memandang keluar dimana mentari sangat cerah siang ini.
"Buat dia kembali mencintaimu." sela Axton datar tanpa menatap Martinez yang terdiam. Pikirannya tiba-tiba membayang jauh oleh Suggar Daddy ini.
"Jika aku jadi kau, Cinta atau tidak aku tak perduli." imbuh Axton memberi seringaian mengingat dulu Kellen sering ingin lari dari hidupnya. Tetapi, karna usaha dan kerja keras Axton, akhirnya mereka bersatu juga.
"Ax! Aku tak bisa jadi kau, aku tak ingin dia menderita bersamaku dan.."
"Cari apa yang membuat dia menderita bersamamu? Bukankah itu mudah?" sela Axton melirik tajam. Ia jijik melihat pria yang hanya bisa menangis dan menyesali semua yang terjadi tanpa ada usaha keluar.
"Kau laki-laki. Dengan menangis dan mengurung diri disini apa dia akan kembali? Cih, pantas kau ditinggalkan olehnya."
"Kauu.. " Martinez yang terasa dibongkem oleh Axton segera terdiam. Ia mulai menatap pantulan wajahnya dari arah Cermin di dekat Balkon.
"Aku tak perduli tentang kau. Tetapi, pikirkan Mommymu. Jika aku jadi kau, sudah dari dulu aku bergerak mengambilnya."
"B..bagaimana caranya?" gumam Martinez mendadak idiot. Seharusnya ia yang paham bukanlah Pria maniak seperti Axton.
"Aku tak tahu. Pikirkan sendiri."
"Ax! Apa aku harus menemuinya? Dia akan segera menikah. Apa dia akan mau padaku?" Martinez tampak gugup dan harap-harap cemas.
"Dia pernah begitu mencintaimu. Temui dia dan lihat apa masih ada kesempatan atau tidak."
"Jika, tidak?" tanya Martinez berharap. Axton tak menjawab langsung, ia menarik sudut bibirnya licik.
"Bunuh lelaki itu."
"AXTOOOON!!!"
Suara pekikan Kellen dari arah pintu mengagetkan keduanya. Axton menelan ludah berat melihat Kellen sudah berdiri menatap tajam dirinya.
"Kau sudah pulang?"
"Apa yang kau katakan padanya. Ha? Jangan mencuci otak orang lain dengan ucapan tak masuk akalmu itu." geram Kellen masuk mendekat ke arah Axton yang tampak bersandar ke Jendela Balkon.
"Aku benar. Lagi pula aku tahu dia menyukaimu."
"Ax! Kau.."
"Perlu aku yang melakukannya?" desis Axton menunjukan wajah tak sukanya. Thomas memang pria yang sangat di uluh-uluhkan Mommy muda ini.
"Sudah. Jangan menanggapi Axton dengan serius, dia tak masuk akal."
"Kau mau aku membuktikannya? Sayang!" jawab Axton serius sampai Kellen menggeleng cepat.
"No! Jangan aneh-aneh."
"Kau terus memujinya."
"Tidak lagi, aku hanya bercanda." jawab Kellen meluruskan niatannya. Tetapi, Axton terlalu pendendam untuk seorang lelaki yang memberi kesan baik di hati istrinya.
"Aku ingin mengeluarkan otaknya dan memotong ingatan di dalam Taksi itu." ketus Axton terlihat sangat panas setiap kali Kellen membahas soal Taksi.
Melihat perdebatan mesra Axton dan Kellen begini, Martinez jadi diam untuk sesaat menormalkan pikirannya.
Axton sangat menjaga Kellen dengan caranya sendiri. Apapun akan dia lakukan agar Kellen tetap bersamanya, lalu kenapa aku masih disini? seharusnya aku memperjuangkan Barbie.
"Kellen! Apa Barbie masih di negara ini?"
Kellen yang tengah mencubit perut keras Axton-pun terhenti segera menoleh.
"Kalau tidak salah dia sudah berangkat kemaren. Tapi, aku rasa dia masih disini. Soalnya pagi tadi dia menelfonku untuk bertemu di Restoran di Spain."
"Benarkah?" tanya Martinez yang diangguki Kellen. Seketika Martinez langsung berlari ke kamar mandi dengan wajah sudah mulai bersemangat.
"Ax!"
"Hm?" gumam Axton mengendus leher jenjang Kellen yang sangat harum. Aroma Vanilla itu begitu hangat.
"Nanti malam kita makan diluar. Ya?"
"Bertemu dengan T.."
"Sayang! Aku ingin melihat Miss Barbie, sudah lama tak keluar. Lagi pula Martinez pasti membutuhkan bantuanku." Sela Kellen mengusap rahang tegas Axton yang akhirnya mengangguk. Mau tak mau jika sudah begini apapun bisa ia berikan.
"Tapi, berikan aku jaminannya."
"Ha?" Kellen menaikan alisnya sinis. Kalimat Ambigu Axton membuat bulu-kuduknya meremang.
"Jaminan, jika kau tak akan memujinya lagi."
"Kau mau apa?" mata Kellen menyipit waspada. Namun, sekilat kemudian Axton sudah menggendongnya ringan keluar kamar.
Martinez hanya mengintip dari arah pintu kamar mandi. Ia menatap wajahnya di cermin di dalam sini dengan optimis.
"Akan ku lakukan apapun agar kau kembali. Suka atau tidak kau akan tetap bersamaku."
........
Vote and Like Sayang..