My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Obat apa?



Untuk sesaat keberanian itu telah lenyap di telan rasa takut saat suara riak air yang memberontak di bawahnya.


Sepertinya sosok itu berusaha kembali untuk lepas dari jeratan rantai yang tak kunjung terlepas.


Kellen sungguh bingung. ia takut melihat pria ini tapi ada rasa kasihan di hatinya kala membayangkan betapa tersiksanya di tempat ini.


"Tidak! Momy kalau di posisi ini pasti akan membantunya. aku tak boleh membiarkannya begitu saja."


Batin Kellen lalu memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Setelah dirasa cukup, barulah Kellen membuka mata melihat dalam gelap mencari saklar lampu.


"Aku harap dia tak merasakan keberadaanku."


Kellen berdoa agar pria ini hanya sibuk dengan pemberontakannya sementara Kellen, kaki jenjang dinginnya perlahan bergerak membelah air menuju ke arah dinding di hadapannya.


Sangat pelan dan begitu berhati-hati Kellen mengulur tangannya meraba dinding baja ini hingga ia berbinar merasakan Saklar lampu itu disini.


Taak...


"Emm!!!" geraman berat itu mengejutkan Kellen yang segera melangkah mundur. Lampu sudah menyala menerangi bagian lorong ini hingga mata ember Kellen menatap waspada pria itu.


"A...aku..aku tak akan mengusikmu." lirih Kellen menjaga jarak.


Tubuh kekar itu bertekuk menutupi wajahnya dari sinaran tajam ini. gesturnya sangat lemah bahkan terkesan tak mampu bergerak.


"Kenapa? apa..apa dia takut Cahaya?"


Batin Kellen mencoba menerka. jelas ia melihat jika pria ini berusaha mencari tempat gelap tapi ia di kekang rantai kokoh itu.


Dada bidang yang penuh luka naik turun dengan helaan nafas berat dan sangat gusar.


"Ehm..!!"


"M..maaf, tapi...tapi kau kenapa?"


Kellen memberanikan diri mendekat. walau tubuhnya sudah remuk redam tapi ia tak tega melihat sosok ini terlihat takut dan tak bisa bernafas normal.


"Kenapa? aku..aku tak akan menyakitimu."


"Emm!!"


Geraman yang keluar seakan mengusir Kellen agar tak mendekat. pria ini tetap menyembunyikan wajahnya dengan mata tertutup menggeleng terus.


Kellen berjongkok tepat di samping tubuh kekar itu. ia sangat prihatin melihat luka di sekujur tubuh berotot terutama bagian lengan dan dadanya.


"K..kau tak.."


Bugh...


"***!!"


Kellen meringis dikala kakinya yang terkilir di injak kaki kokoh itu kuat. rantai yang membelit pergelangannya termasuk panjang hingga bisa bergerak menerjang tubuhnya.


Pria itu memberontak keras sampai benar-benar ingin menyerang Kellen tapi ia tersangkut oleh belitan rantai.


"K..kau.."


Kellen meringsek mundur dengan wajah pucatnya. Ia benar-benar gugup melihat bagaimana ganas dan brutalnya sosok ini ingin lepas bahkan terlihat sangat tersiksa dengan lampu yang menyala.


"Aaarrgg!!"


Erangnya penuh kekerasan. mata itu tetap tak di buka dengan wajah terus tertunduk seakan sangat tak nyaman.


"Kenapa? aku..aku hanya.."


Kalimat Kellen lagi-lagi tercekat di kerongkongannya saat pria itu membenturkan tubuhnya ke dinding baja di belakang.


"Y..ya tuhan." gumam Kellen syok menutup mulutnya. hantaman keras itu menimbulkan suara yang sangat kasar bahkan Kellen bisa melihat tubuh kekar ini lebam bahkan kembali terluka.


Geraman seperti binatang liar itu meruak menyakiti diri sendiri. ia persis seperti seorang kelainan yang sangat labil.


"Jangan.. jangan lakukan itu."


"Argggg!!!" jeritnya kuat terus menghantamkan tubuhnya berkali-kali seakan tak merasakan sakit padahal jelas itu tak main-main.


Kellen merasa sangat buntu. ia takut mendekat tapi juga tak tega membiarkannya terus menyakiti diri sendiri.


"Hey!! baik.. aku..aku akan matikan lampunya!"


Ucapan Kellen seakan tak di mengerti. pria itu semakin terlihat brutal bahkan sangat sulit di kendalikan alam bawah sadarnya.


Tingkah laku tempramen ini Kellen angap sebuah sinyal jika pria yang tengah ada di hadapannya ini tak baik-baik saja secara mental.


"K..kau marah? apa ..apa aku menganggumu?"


Lagi-lagi Kellen berusaha mendekat walau tubuhnya sudah beku antara kedinginan dan takut bercampur aduk.


"S..Sudah. kau..kau bisa terluka parah." gumam Kellen iba. tangannya gemetar perlahan menyentuh bahu kokoh ini dan spontan hal itu bagai sengatan yang kuat.


"Ehm." helaan nafas yang begitu serak terdengar sangatlah sendat. Pemberontakan pria ini perlahan mereda ntah karna lelah atau memang ada sesuatu yang terjadi.


"Aku tak akan menyakitimu. jangan marah."


Suara Kellen yang bergetar karna ia sendiri juga merasa takut. tangan yang tadi memeggang bahu dingin ini bergerak pelan ke arah belakang tengkuk yang begutu kokoh dan keras.


Kellen ingin melihat wajah pria ini dengan jelas agar ia tak semakin dilanda penasaran.


"A..aku tak akan melukaimu. kau.."


Kalimat Kellen terhenti kala perlahan ia memiringkan wajah cantiknya menatap rahang tegas dan polos itu, dagu yang begitu kokoh dengan tetesan air masih menyusuri luka-luka di sekitar pipinya.


Ntah kekuatan dari mana Kellen berani memeggang rahang tegas lebam itu dan mengangkatnya pelan agar bisa melihat pahatan misterius ini.


Aroma Vanilla dari kulit Kellen begitu terasa hangat dan sangat nyaman. pria itu mulai bergerak mengangkat kepalanya hingga Kellen di buat terdiam kaku.


Wajahnya begitu tegas dan sangat kaku. tapi.. TAMPAN.


Satu kata yang sulit Kellen ucapkan hingga menjadi hayalan dalam batinnya. Karna terbuai dengan visual pria Kellen sampai tak sadar jika jarinya menekan luka yang ada di sudut bibir pucat sosok aneh yang langsung mengigit tangannya.


"Kauu!!"


Kellen tersadar dengan geraman tertahannya yang refleks menampar pipi sang lelaki yang terlihat kembali terpancing hawa panas.


"S..Siall. kau..kau mengigitnya lagi." gumam Kellen dengan mata berair menahan sakit. bagian pangkal jempolnya berdarah bahkan kali ini lebih parah.


"Emmm!!"


"Pria aneh!! kenapa kau begitu mengerikan??"


Brakk...


Ia kembali menggila menghantam dinding, ia seperti ingin memukul dan terus memukul.


"Beri dia obat!!!"


Suara itu lagi membuat Kellen tersentak. Ia segera bangkit dengan cepat menyeok kakinya ke arah lampu yang segera ia matikan.


"Mereka datang."


Batin Kellen bersembunyi kembali. pemberontakan pria tadi masih berlanjut bahkan semakin kuat memancing keriuhan di depan pintu lorong.


"Sepertinya dia kembali kambuh."


"Biarkan aku yang masuk."


Suara pembicaraan yang segera membuka pintu lorong. keadaan kembali seperti semula dimana ada satu orang yang masuk tapi ini agak berbeda dari yang tadi.


"Tuan!"


Kellen masih diam tak berkutik di balik pipa besar itu. Ia melihat seorang pria dengan tubuh tinggi agak kurus dengan perawakan memang seperti orang Spanyol pada umumnya.


"Apa yang dia bawa?"


Batin Kellen melihat pria dengan mata besar dan kulit kuning langsat itu membawa satu bungkusan kecil di tangannya.


Mata ember Kellen terus mengamati itu bahkan ia dengan jelas melihat jika pria ini tanpa takut mendekat lalu melakukan sesuatu di bagian gelap sana.


Ajib sudah. pemberontakan yang di lakukan sosok mengerikan ini perlahan mereda dengan suara isapan nafas yang sangat sengal.


"Dia memberikan apa?"


Kellen di buat bertanya-tanya. obat apa maksudnya? tak mungkin dalam satu pemberian akan mendapat hasil semaksimal ini.


"Tidurlah. anggap saja ini mimpi."


Dan benar. pria itu tak lagi bersuara atau-pun bergerak kasar seakan telah termakan sihir kalimat sang tuan.


Setelah beberapa lama disana. Kellen masih menahan diri sampai pria itu keluar memberinya peluang untuk melihat kembali apa yang terjadi.


Saat pintu kembali tertutup. Kellen segera menghidupkan lampu lagi dan..


Duarr...


....


Vote and like Sayang..


Untuk Visual.. udah di IG ya say.. cek aja🥰


@Noveltoon.. atau Toonovel yg pp bermasker