My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Pertarungan sebenarnya!



Beton-beton baja yang tadi berdiri kokoh dengan penampilan suram itu sekarang sudah roboh akibat serangan beruntun dari kepungan musuh yang membuat kembang api malam ini.


Pasukan musuh benar-benar di kerahkan sampai mengepung Rumah Sakit yang sekarang hanya berdiri dengan beton seadanya. Itu-pun setengah dari lantai atas sudah roboh akibat ledakan yang selalu di jatuhkan dari atas sana.


Melihat kondisi yang begitu parah ini. Tak bisa di pungkiri jika Anggota Axton sudah kalah telak membuat seorang pria yang tengah memakai Jubah yang sama di waktu itu kembali terlihat berdiri diantara tumpukan beton yang sudah tak berbentuk.


Wajah yang separuh di tutupi topeng dengan jambang yang hampir memutih membuat tampilannya tak lagi bisa di katakan muda.


"Axtooooonn!!!"


Suaranya menggelegar hebat sampai tanah yang di pijaki para anggota yang tampak tertimbun reruntuhan itu bergetar karnanya.


"Berapa lama lagi kau akan bersembunyi??? Hm?"


"Dia tak ada di dalam Rumah Sakit." jawab Vacto yang keluar menarik jaket Castor untuk di kumpulkan bersama para anggota Axton yang sudah tak lagi bisa menyerang.


Castor memeggangi luka di dadanya seraya menatap bengis Vacto yang begitu menjijikan. Nyatanya selama ini Vacto-lah yang mendukung aksi pengkhianatan Johar diantara persahabatan ketat Ayahnya.


"Singkirkan tatapanmu itu. Bocah!"


"Cih." decih Castor meludahi kaki Vacto. Ia menunjukan wajah remeh seperti tak pernah menyimpan rasa takut.


"Kau bahkan lebih menjijikan dari segumpal Kotoran."


"Suttt! Jangan bicara terlalu kasar, ponakan tercinta." desis Vacto menodongkan pistolnya ke arah kening Castor yang hanya menunjukan aksi berontak.


"Keluaaar kauu!! Atau ku habisi Teman kecilmu iniii!!!"


"Dia akan membunuhmu!!" desis Castor membuat Vacto meradang segera mengayun kakinya menendang kaki kiri Castor yang menggeram menahan sakit.


"Perluku jahit mulutmu?"


"Aku yang akan menguliti-mu hidup-hidup." balas Castor memancing bongkahan api emosi yang sudah meledak-ledak di dalam tubuh Vacto.


"Kauuuu!!!"


"Kau mencari-ku?"


Seketika angin terasa lebih dingin dari biasanya. Pergerakan udara mulai tertuju ke arah sumber suara berat arogan yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.


Tubuh kekar yang berbalut Mantel hangat masih belum cacat dan sehat. Tatapan mata penuh dendam dan kebencian itu membawa mereka bernostalgia ke masa lalu.


"Woww!! Bersembunyi dimana? Ponakan kecil!" tanya Vacto tak lagi menyembunyikan wajah rusak itu lagi.


Axton menatapnya dalam dan disekitar ia berdiri ada senjata yang mengacu siap siaga mengambil nyawanya.


"Sudah-ku duga!!"


"Kau tertarik pada bocah satu ini?!" tanya Vacto menatap ke arah pria berjubah hitam yang tampak masih menatap Axton.


"Dia sangat mirip dengan ayahnya. Tapi, sangat di sayangkan kau menuruni sifat keras kepala dan haus kasih sayang sepertinya."


"Sepertinya kau sangat kenal. Ayahku!" jawab Axton melangkah mendekat membuat para anggota yang tengah mengepungnya dengan senjata menjadi bergetar.


Ntah kenapa saat kaki kokoh itu menapak ke lantai dingin ini maka, sejak itulah kekuatan dan keberanian mereka terasa tunduk.


"Bertarung jarak dekat dengannya ini sangat percuma."


Batin pria berjubah itu merasakan sendiri berhadapan seperti ini. Aura yang di keluarkan Axton benar-benar menunjukan jika dirinya bukanlah seekor lalat.


"Bergabunglah denganku. Maka, akan-ku ampuni semua rekanmu."


Mendengar kalimat itu Castor terbahak hebat sampai matanya mengeluarkan air akan kegelian.


"Diam kau!!!"


"Kalian ini tak lebih dari segerombolan badut." kelakar Castor membuat Vacto tak lagi menahan diri ingin melepaskan tembakan.


"Kau memang ingin mati!!!"


"Vactooo!!!" sangga suara Pria berjubah itu menghentikan Vacto yang tampak tak sabaran. Ini bukanlah rencana mereka untuk menghabisi Castor yang menjadi umpan memancing Axton keluar.


"Lihat di sekitarmu dan pikirkan apa kau akan selamat dari sini atau tidak?!"


Axton hanya diam melempar pandangan dinginnya pada semua anggota Vacto yang terasa tak berani berdiri disini lebih lama.


"Tentukan keputusanmu!"


"Aku begitu penasaran hewan apa yang ada di balik topeng itu?!"


"Kau mengatainya hewan??" bentak Vacto menyala-nyala. Axton beralih memandangnya dengan sangat misterius.


"Bukan dia? Tapi, KALIAN!" tekannya datar.


"Cih! Yang hewan sebenarnya itu kau dan semua rekan-rekanmu. Bukankah mereka tak bisa membantumu? Putra Fander!"


Axton menghela nafas halus. Tak ada yang mengira apa pria itu benar-benar punya rencana atau memang semuanya akan usai disini?


"Nyalimu sangat besar."


"Ingin bertarung denganku?!" tawar Axton membuat pria berjubah itu menyeringai. Ia tahu jika Axton memang Petarung jarak dekat dan ia harus melihat ini secara langsung tanpa ada laporan.


"Vacto!"


"Aku?" tanya Vacto pada dirinya sendiri. Guratan wajahnya tampak pucat menatap Axton yang hanya diam berdiri di tempat.


Ada rasa enggan di dalam diri Vacto tetapi egonya begitu kuat. Dengan kaki yang melangkah mendekat ke sana begitu juga tungkainya terasa bergetar.


"Aku bisa mengalahkan Ayahmu. Dan itu juga berlaku padamu. Putra Fander!"


"Benarkah?" tanya Axton dengan tatapan santai tetapi sungguh. Darah didalam tubuhnya sudah bergejolak ingin mengoyak semua manusia sampah ini.


"Yah. Kau hanya menang dalam parasmu yang menggoda kaum wanita itu, tapi. Sayangnya kau terlalu setia. Itu merugikan."


Pancing Vacto memanas-manasi Axton. Kala semuanya hening dalam sekejap, Vacto segera menyongsong Axton dengan membawa tinjuan panasnya.


"Pergilah ke Neraka!!!"


Geraman Vacto menghantamkan tinjuannya ke arah dada Axton dengan kecepatan yang cukup memuaskan. Namun, hanya sela beberapa detik saja Axton menangkap tinjuan panas itu dengan jemari kekarnya yang kasar.


Angin terasa kembali bersorak membuat mereka kesulitan mencari cela dimana titik lemah pria ini.


"Lamban!"


Krekk..


"Sialan!!!" maki Vacto kala pergelangan tangannya di pelintir Axton yang dengan cepat melayangkan satu bongkeman keras yang sangat mengejutkan.


Tubuh Vacto terpental jauh beberapa meter dari Axton yang sedikit-pun belum merubah posisi tubuhnya. Hal itu tentu membuat mereka menelan ludah dengan berat.


"Dia sangat unggul."


Batin pria berjubah itu melihat kondisi Vacto yang muntah darah. Titik pukulan Axton bukan sembarangan, dia membidik titik vital Vacto yang sangat lemah dalam pertahanan.


"Hanya itu?" tanya Axton sama sekali tak berkeringat.


"K...kau j..jangan besar k..kepala."


"Hm." gumam Axton melihat Vacto yang kesusahan berdiri.


"Aku belum selesai!!!" teriak Vacto kembali berlari ke arah Axton yang melihat jika kali ini Vacto mengerahkan tenaga di bagian kakinya.


Benar saja, dalam beberapa helaan nafas saja Vacto melesat mengayunkan kaki yang terlihat lincah dan bertenaga. Baru kali ini Axton melihat keseriusan dan kemampuan sebenarnya Vacto.


"Axtooon!!" pekik Castor kala melihat Vacto mengeluarkan pisau dari balik jaketnya tetapi serangan beruntun itu masih ia kerahkan.


"Kau tetaplah bocah."


"Apa yang kau lakukan pada Ayahku?" tanya Axton menangkis semua pukulan Vacto yang menari di sekelilingnya.


"Aku merobek jantungnya."


"Lalu?" tanya Axton mendengarkan dengan baik.


"Mematahkan tulangnya."


Jawaban Vacto sudah cukup bagi Axton untuk menentukan hal apa yang akan ia lakukan sekarang.


"Kau.."


"Kau harus merasakannya juga." bisik Axton kala posisi Vacto ada di belakangnya. Dengan sekali hentakan Axton mendorong sikunya ke belakang mengenai perut Vacto yang terkejut kala pisau di tangannya sudah hilang dan..


"K..Kau.."


Tak sempat bicara lagi tiba-tiba saja sabetan benda tajam itu sudah mengoyak dada Vacto yang tak di biarkan bernafas sejenak saja.


Dengan tatapan benci dan amarah yang berkobar Axton menyabet sesuka hatinya sampai suara ceceran darah dan pergerakan Axton yang begitu cepat tak sempat mereka lihat karna tiba-tiba saja tubuh Vacto sudah tergorok ke serpihan beton di bawah kaki Axton.


"I.itu.."


Senjata yang tadi mereka arahkan pada Axton spontan terlepas melihat darah Vacto bercecer dimana-mana dan hal yang paling mengerikan adalah. Jantung Vacto sudah tertancap di ujung pisau yang sekarang Axton genggam.


"Secepat ini?"


Batin Pria berjubah itu merasa takjub. Vacto termasuk petarung yang handal menggunakan senjata itu tapi, dengan mudahnya di habisi.


"Kau ingin bergabung?"


Tanya Axton berbalik ke belakang. Ia menghunus ancaman pada Pria berjubah itu dengan melempar pisaunya ke arah Vacto kembali.


"Kau sangat mengesankan."


"Berhenti menjadi pengaman dan turun ke lapangan lebih baik." jawab Axton mendekat ke arahnya.


Castor masih mematung melihat kondisi mayat Vacto dan ia yakin Axton tengah menahan dendamnya selama ini.


"Kau tak akan menang. Kawan! Lihat berapa orang yang mengepung mu!"


"Apa aku terlihat perduli?" tanya Axton memberikan seringaian iblisnya. Ia kali ini tak bisa menunggu dan menahan lebih lama lagi.


"Jangan terburu-buru mengambil keputusan!"


"Aku tak butuh saran mu." desis Axton menyerang dengan emosi yang membabi-buta.


Pria berjubah hitam itu bisa mengimbangi Axton yang membuat Castor terkejut. Nyatanya pria itu punya tenaga yang tak bisa di ragukan.


"Kekuatannya sebanding dengan Tuan Fander."


Batin Castor merasa cemas. Pergerakan Pria berjubah hitam itu sangatlah cepat dan teliti, ia menangkis semua pukulan Axton yang memang begitu kuat membuat denyutan di ototnya.


"Jika seperti ini terus dia akan mendesakku."


Batin pria itu terus menghindar dari Axton yang bernafsu untuk menghabisinya. di tengah tubuh yang menari tetapi menyimpan kekuatan penuh.


Disitulah Axton melihat jika ada luka di leher Pria berjubah ini dan luka itu adalah bekas cakaran Emon dulu.


"Ini.."


Tak sempat Axton menelisiknya karna pria ini sudah melayangkan tinju panasnya ke dada Axton begitu juga pukulan Axton menusuk ulu hati Pria itu.


"Axtooon!!" sangga Castor melihat kedua manusia itu saling mengena.


Pria berjubah itu memberi senyuman puas. Nyatanya Axton memang lebih kuat dari Ayahnya dan ia sangat kagum.


"Hanya kau dan ayahmu saja yang bisa menyentuhku. Aku sangat terkesan."


"Siapa dia? Kenapa dia bisa mengimbangi Axton?"


Batin Castor masih belum bisa untuk menyerang.


Sementara Axton. Ia mengamati jelas bagaimana cara berkelahi pria ini, dari ketenagan dan emosi saat melancarkan serangan, dia masuk salam Tipe petarung dekat dan jauh.


"Kenapa? Kau ingin mundur, maka lakukan dari sekarang."


"Dia masih berdiri."


Batin Axton melihat Pria itu belum terkena luka apapun.


"Kau mundur atau mati?"


"Tak keduanya." desis Axton kembali menyongsong ke depan. Kali ini ia memfokuskan serangan pada bagian kaki pria itu dan setiap kibasan jubah yang mengelak terkuar aroma obat-obatan kala itu.


"Jelas yang menyerang Nicky hari itu adalah Vacto tetapi aroma ini tak-ku temukan di tubuhnya.".


"Kau sangat lincah." puji Pria itu meladeni semua serangan yang Axton berikan. Ia sangat percaya diri dan tak akan memberikan cela apapun.


Menyerang sambil berfikir itulah yang Axton lakukan. Ia mencari dimana saja titik lemah pria ini dan selalu memutar rencana.


"Di belakangmu!!!" jerit Castor hingga membuat Pria berjubah itu menyeringai dengan cepat melayangkan pukulan ke arah tengkuk Axton namun..


"Lamban."


Bughhh..


Castor syok melihat Axton berhasil membalik serangan. Kali ini Pria berjubah itu terpojok dan mulai kewalahan.


"Axton!! Habisi dia!!"


Sorak Castor benar-benar geram. Sesuai dugaan Axton, pria ini melindungi bagian lehernya.


Dengan hal itu Axton bisa mengambil kesimpulan jika leher adalah bagian yang rawan. Sekarang, ia bisa melakukan apapun yang ia mau.


"Siall!! Secepat ini dia mengetahuinya."


Batin yang tengah cemas tak lagi bisa menahan serangan dan pukulan kuat Axton terus-menerus. Ia tak punya cara lain selain kembali bermain senjata.


"Bunuh mereka semua!!!!"


"Baaaik!!"


Para anggotanya mulai kembali membuat ulah tetapi alangkah syoknya pria berjubah itu melihat Castor bisa berdiri dan tiba-tiba saja ada banyak anggota yang muncul dari berbagai arah tak bisa ia hitung dan menduga.


"K..Kau.."


"Orang licik sepertimu. Perlu di ajari membuat rencana." geram Axton yang mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. Ia memanfaatkan keterkejutan pria ini untuk melayangkan dua tembakan ke arah dada dan perut secara bersamaan.


"Tuaaaan!!!"


Para anggotanya syok melihat Tuannya tertembak dan Topo Jubah itu lepas dengan topeng yang sudah retak jatuh ke tanah.


Axton terdiam melihat wajah pria ini dam begitu juga Castor yang mengerutkan dahinya.


"D..Dia.."


....


Vote and Like Sayang..