
Kepala wanita itu tertunduk kaku dengan tubuh dan pandangan di alihkan dari sosok gagah yang sekarang tengah berhadapan dengannya.
Ia sangat gugup kala mengingat apa yang harus ia lakukan untuk mencoba memulai pendekatan yang agak canggung ini.
Sementara Axton. Ia tak begitu mempermasalahkan sikap Kellen yang selalu aneh setiap saat. Ia hanya memandang apa yang wanita ini genggam.
"Berikan padaku!"
"A.. Apa?" tanya Kellen kala Axton mendekat berdiri di hadapannya dengan jarak yang bisa di katakan sangat dekat.
"Berikan!"
"A.. Apanya?" untuk sesaat Kellen lupa waktu kala Axton hanya berjarak beberapa senti darinya.
Melihat Kellen yang tak kunjung memberikannya. Axton segera menggenggam tangan Kellen lalu membuka paksa jemari lentik ini.
Seketika ia terpaku melihat sebuah benda seperti Cips yang tampak aneh dan tak berbentuk seperti biasanya.
"Itu ku temukan di atas lantai ini. Bendanya cukup tajam."
Gumam Kellen spontan melihat luka di kakinya. Axton melihat itu dengan pandangan datar.
Ia tampak diam sejenak dengan Kellen yang ingin mengintip ke ruangan penyiksaan di sampingnya.
"Itu..."
Kellen terhenti kala tubuhnya sudah melayang ringan ke gendongan seseorang. Refleks tangannya berpeggangan ke leher kokoh ini dengan mata amber membulat lebar.
"A.. Ax!"
Axton hanya diam membawa Kellen keluar dari ruangan ini. Ia menapaki tangga kearah pintu dimana para anggota hanya terdiam menunduk sudah tahu tadi Kellen mendesak masuk.
"Biarkan mereka di dalam!"
"Baik. Tuan!"
Axton melewatinya pergi ke Koridor yang membawanya menuju pintu masuk Markas. Tempat luas dengan besar tak bisa di perkirakan ini bisa membuat Kellen tersesat karna banyak ruangan di dalamnya. Tapi, tidak dengan Axton yang sepertinya sudah hafal kalan disini.
Kellen memandangi wajah tampan Axton dengan jarak sedekat ini. Pahatan khas orang Spanyol dengan hidung mancung sesuai porsi dan rahang tegas pas mendukung raut wajah datar yang selalu membuatnya terpesona kuat.
Lekukan bibir sensual Axton dengan tatapan tajam ini benar-benar menjadi idaman para wanita.
"Dia selalu membuatku ingin menciumnya."
Batin Kellen berulang-kali hanyut. Tangannya yang tadi berpeggangan ke leher kokoh Axton seketika bergerak pelan menyentuh rahang tegas Axton yang menyeringit.
Sejak kapan Kellen begitu berani melakukan ini? Biasanya Kellen selalu menghindar saat bersamanya.
Tak hanya rahang yang dibelai jemari lentik itu. Jempol Kellen beralih ke bibir Axton yang hanya diam tapi ia tahu tatapan Kellen tampak begitu sayu.
Lama kelamaan Kellen semakin memancing Axton yang berusaha tetap tenang walau sekarang ia ingin sekali memangut bibir merah muda ini.
Namun. Seketika Kellen terpekik saat jempolnya Axton gigit karna terlalu nakal memancingnya.
"Aaaax!!!"
"Hm?"
"Kau..."
Kellen mengibaskan tangannya karna nyeri lalu melihat jempol cantik itu sudah merah tapi tak begitu sakit.
"Kenapa kau gigit? Dulu tanganku, bahuku sekarang ini. Kau memang ingin memakanku. Ha??"
"Yah!"
Degg..
Kellen seketika tak bisa bernafas normal. Ia mengumpati dirinya yang tak bisa menahan diri jika sudah begini.
"A.. Aku.. Kau.."
"Aku sangat ingin memakan-mu." desis Axton tetap melangkah Memasuki Markas melewati para anggota yang hanya menjadi patung.
Rona merah di pipi Kellen-pun tak bisa di tepis. Ia mengigit bibir bawahnya menahan rasa malu dan hati yang ntah kenapa begitu senang.
"Kau mau?"
"A.. Ax! kau jangan bercanda." gumam Kellen menunduk tetapi Axton serius. Ia ingin membuat Kellen menjadi miliknya SEUTUHNYA.
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Jelas tidak. Kau itu bagaikan monster mesum di depanku."
Batin Kellen menjawab resah. Ia gugup dan cemas jika nanti Axton benar-benar berubah melahap segalanya.
Untuk sesaat pertanyaan tadi menjadi penutup percakapan. Keduanya diam hanya bergelut dengan pikiran masing-masing.
Kellen tak menyadari jika mereka sudah masuk ke dalam pintu kamar karna ia tengah melamun.
"Berbaringlah disini!"
"Ha?" Kellen terperanjat. Ia spontan menatap ruangan ini dan ia baru sadar jika sudah di kamar.
"Kenapa aku tak menyadarinya?"
"Ada apa?"
Tanya Axton berjongkok lalu meletakan satu kaki jenjang Kellen yang terluka di atas pahanya. Ia melihat luka di pergelangan Kellen sudah tak lagi berdarah tapi lecet di dekat tumit ini cukup mengkhawatirkan.
"Setelah ini kau di larang keluar kamar."
"Kenapa kau begitu perhatian padaku?" tanya Kellen bersuara begitu saja. itu pertanyaan yang berasal dari hatinya.
"Ax! Kau tahu, dengan begini kita akan.."
"Akan apa?" tanya Axton beralih menatap Kellen yang berhenti bicara. Lidahnya tiba-tiba berat dan susah untuk mengatakan kalimat itu.
Melihat Kellen yang lagi-lagi tak mau berterus terang. Akhirnya Axton kembali menelan kekecewaan, ia kembali melihat luka kecil di tumit Kellen yang tampaknya tak begitu dalam.
"Istirahatlah disini. Aku akan keluar sebentar." Axton berdiri kembali ingin berbalik ke arah pintu.
"Ax!"
"Hm."
Langkah Axton terhenti menatap Kellen yang terlihat sangat gelisah dengan bibir seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak kunjung keluar.
"A.. Aku.. Itu.. Kau.."
"Ada apa?" tanya Axton menunggu dan berharap jika yang akan Kellen ucapkan adalah kalimat yang menjadi jawaban pertanyaannya selama ini.
Lama Axton menunggu dan terus menanti sampai akhirnya Kellen mulai bicara.
"Ax! Kau..."
"Kau?"
"K..Kau... Hati-hati keluar." sambung Kellen spontan tak bisa mengatakannya. Wajah kecewa Axton bisa ia lihat membuat rasa nyeri di dada Kellen yang sungguh ingin berteriak tapi ia tak berani.
"H..hati.. Hati."
"Hm."
Axton berbalik dan segera melangkah pergi ke arah pintu. Kellen mencengkram kuat selimut di bawahnya membayangkan wajah Axton yang pasti berulang kali di sakiti olehnya.
"Aaaaaxxx!!! Aku siaaap memulainya dengaanmuuuu!!!!"
Teriak Kellen sekuat tenaga lalu bersembunyi di balik selimut ini. Jantungnya sudah berdebar kuat dengan kaki tangan mendingin. Ia harap Axton tak mendengarnya.
"Ax!!!! Aku juga ingin bersamamu, tapi aku takut jika kau hanya mempermainkan aku!!"
Ucap Kellen bicara di dalam selimut. Tak ada tanggapan apapun dari luar sana hingga perlahan Kellen membuka selimutnya.
"Dia sudah pergi?!" gumam Kellen kala tak lagi melihat Axton di ambang pintu. Ia tiba-tiba lemas terbaring diatas ranjang agak luas ini.
Mata amber Kellen memandangi langit-langit kamar yang tinggi. Ada satu kalimat lagi yang ingin ia katakan tapi ini yang membuat ia tak tidur semalaman.
"Aax! Aku tak tahu apa perasaanku memang benar. Tapi aku menyayangimu, aku ingin kau terus bersamaku walau terkadang kau itu menjengkelkan." gumam Kellen masih terfokus ke atas langit-langit sana.
Ia tak sadar jika sedari tadi ada sosok yang tengah ia harapkan mendengar semua yang ia keluarkan tadi.
Wajah tampan itu tampak berbinar cerah bersandar di dinding luar. Ia segera melangkah ke ambang pintu menatap Kellen yang masih meracau memaki dirinya.
"Kau mau mengajakku jalan-jalan. Tapi, kau itu Robot hidup. kau selalu berkata 'Jangan kesana! Jangan kesitu! Kau itu jangan memakai ini, jangan memakai itu'. Terkadang, aku berfikir pergi dengan Pria tua yang banyak bi..."
Duarrrr...
Mata Kellen melebar kala ia melihat si empu yang ia bicarakan tengah bersandar di ambang pintu dengan tatapan mata menajam dan wajah antara gemas dan kesal.
"S..Sejak k..kapan kau..."
"Robot hidup?"
Tanya Axton melangkah mendekat membuat Kellen segera menggulung tubuhnya dengan selimut untuk menahan rasa malu, takut dan gugup yang kuat.
"A.. Ax!"
"Robot hidup, Pria tua dan.. "
Axton menghentikan ucapannya seraya berdiri tepat di samping ranjang. Ia membungkukkan tubuhnya perlahan mengungkung Kellen yang sudah jantungan dan pucat pasih.
"Dan apalagi. Hm?"
"A..aku..."
Kellen tergagap berusaha tetap di dalam selimut. Ia tak mau menunjukan wajah merah panasnya yang sekarang tengah tampak jelas di wajah cantiknya.
"Aku? Aku apa?"
"A.. Aku.."
"Ayolah! Dia tak akan memakan-mu secepat ini. Cepat katakan!!"
Batin Kellen menyemangati dirinya sendiri. Alhasil ia dengan perlahan membuka selimutnya hanya menampakan bagian puncak kepala dan matanya saja.
Mata Amber Kellen mengerijab kala melihat wajah Axton tepat di depan matanya. Bahkan, hidung mancung pria ini nyaris bersentuhan dengannya.
Untuk sesaat keduanya saling pandang. Axton menahan gemas kala Kellen enggan menarik selimut untuk menunjukan wajah merahnya lagi.
"A..Aku.."
"Hm?"
"AX! AKU MENCINTAIMU!"
Ucap Kellen berbisik tapi penuh penekanan. Ia langsung merengkuh leher Axton menyembunyikan wajah tomatnya ke dada bidang pria ini.
Wajah Axton benar-benar terkejut antara menahan rasa bahagia yang meledak-ledak di dadanya.
"I Love You. My Husband!"
..........
Vote and Like Sayang..