My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Membunuhnya?



"Kau memang tak berguna."


Umpatan Nyonya Verena menggema di telinga Martinez yang tengah terbaring diatas ranjang king sizenya.


Pria itu harus menahan luka dan sakit di sekujur tubuhnya akibat pukulan Axton tadi dan sekarang ia harus menghadapi makian Momynya.


Groel yang tengah mengompres lebam di rahang Martinez hanya bisa diam tak ingin menyahut apapun.


"Apa dengan berkelahi masalah akan selesai. Ha??"


"Tapi..tapi dia yang dulu me.."


"TUTUP MULUTMU!!" Bentak Nyonya Verena melempar bantalan sofa di sampingnya ke arah Martinez yang akhirnya bungkam dengan kedua tangan terkepal.


Rasa dongkol itu ia tahan karna percuma melemparkan pembelaan terhadap wanita ini.


"Kalau kau memang tak bisa membantu. Maka setidaknya DIAM. Tapi, apa yang kau lakukan. Ha? Kau memancing mereka untuk terus memberontak!!"


"Maafkan aku. Mom."


Gumam Martinez pasrah. Tatapan Nyonya Verena sangat menghakimi seraya duduk di sofa sana bertopang kaki angkuh.


Helaan nafasnya begitu kasar mencoba menahan emosi. Jelas jika masalah ini timbul karna Martinez yang membawa wanita itu kesini.


"Kalau sampai dia bisa melakukannya. Ini sangat tak bisa di biarkan."


"Mom! Wanita itu hanya pecundang, dia tak akan bisa menaklukan Axton yang jelas-jelas akan terus berubah-ubah." bantah Martinez mencoba kembali meyakinkan Momynya.


"Apa kau menjamin itu? Kau menjamin jika dia tak akan sembuh? Iya?"


"Mom. Axton tak lebih sebagai seorang pria tak waras dan penyakitan. Orang-orang di luar sana sudah melupakannya." jawab Martinez adu argumen. Tak ada yang akan memandang Axton di negara ini karna pria itu sempat menjadi momok menakutkan sebelumnya.


"Kita tak bisa lengah sedikit saja."


"Percayalah. Mom! Aku bisa mengurusnya." ucap Martinez serius.


Nyonya Verena hanya diam dengan pikiran yang melayang. Jika di percayakan pada Martinez maka ia tak akan yakin pria ini bisa membereskan segalanya.


"Bagaimana dengan wanita itu?"


"Cih." decah Martinez lagi-lagi merasa malas jika membahas tengang Miss Barbie. Wanita itu terus menghubunginya hingga Martinez mengatakan jika ia akan berkunjung ke Negara Paman Sham itu nanti.


"Aku sudah meyakinkannya."


"Bagus. Bawa dia kemari dan yakinkan jika kita memang serius untuk menjalin hubungan kekeluargaan." jawab Nyonya Verena tersenyum tipis.


Ia tak sabar lagi untuk terus di kenal di penjuru dunia. apalagi keluarga Miss Barbie adalah pebisnis ternama tak kalah popularitasnya.


"Hubungi dia untuk datang ke sini. Lakukan dengan kehati-hatian."


"Baik. Mom."


Nyonya Verena melangkah pergi dengan para pelayan yang sudah menunggu di depan. Saat kepergian wanita itu sudah hilang di ambang pintu, Martinez langsung melempar remote AC di sampingnya ke lantai.


"Siaaal!! Fucking shitt!!"


"Tuan!" gumam Groel diam melihat nafas Martinez memburu panas. Jelas jika pria ini sangat muak dengan Axton yang selalu membuat hidupnya kacau.


"Dia selalu saja membuatku terdesak dan kesusahan. Padahal dia sama sekali tak di perlukan di Keluarga ini."


"Bagaimana kalau anda bunuh saja. Tuan?"


Martinez terdiam melempar pandangan penuh tanya pada Groel yang serius.


"Maksudmu?"


"Tuan racuni dia secara perlahan. Nyonya tak akan tahu karna kita buat dia mati perlahan. bagaimana?"


"Good Idea!" celetuk Martinez saat terpancing dengan Ide busuk Groel yang memang menginginkan itu.Tuannya harus menang dari pria itu.


"Jika dia mati. hanya Tuan yang akan mewarisi Kekayaan Miller, bayangkan jika nanti hanya anda yang akan menjadi penguasa. Apapun akan anda dapatkan."


"Apapun?"


"Yah. Apapun termasuk.."


"Wanita itu." sela Martinez menyeringai. Ia sangat ingin melihat Kellen menyerahkan diri padanya bahkan merendahkan harga dirinya sendiri.


"Dia sangat angkuh. Lihat saja, setelah menyingkirkan Axton aku akan membuatnya menyesal."


"Yah. Tuan! Saya akan mencari racun itu untuk anda."


"Kau memang bisa diandalkan." puji Martinez menepuk lengan Groel yang mengangguk bangga.


"Kalau begitu saya pamit. Tunggu benda itu besok pagi."


"Hm. Pergilah!"


Groel mengangguk lalu membawa nampan air panasnya. Ia akan melakukan apapun untuk membantu Martinez untuk membunuh pria itu.


............


Di dalam kamar sunyi bekas perdebatan tadi itu. Terlihatlah seorang wanita yang tengah sibuk berbicara dengan Castor yang datang karna panggilan Kellen keluar tadi.


Ini sudah tengah malam tapi Kellen tak ada niatan untuk tertidur setelah melelapkan bayi besarnya diatas ranjang sana.


"Ada apa?"


"Apa bisa kau perbaiki ponselku yang ada di lorong bawah tanah?" tanya Kellen duduk di tepi ranjang dengan Castor yang duduk di kursi tak jauh darinya.


"Memangnya kenapa?"


"Aku butuh itu untuk menghubungi Dadyku. Apalagi semua pekerjaan dan Nomor Asistenku disana." jawab Kellen yang gelisah karna ia sudah lama tak menghubungi Tuan Benet dan Agatha.


Castor terdiam sejenak melempar pandangan ke arah ranjang dimana Axton sudah tertidur memeluk perut Kellen yang tak bisa turun dari ranjang itu. Kellen tak membuka kaosnya karna ada Castor disini.


"Akan-ku usahakan."


"Apa kau punya kenalan seorang Psikiater?"


"Kau ingin membawanya?" tanya Castor yang di jawab anggukan Kellen. Ia harus bergerak cepat dan tak bisa menunggu lagi.


"Usahakan yang dekat denganmu. Kita tak bisa memilih orang asing karna bisa saja mereka akan takut ketika mendengar nama Keluarga ini."


"Ada. Dia temanku!"


Jawaban Castor sangat memuaskan untuk Kellen yang bersyukur karna tak perlu mencari keluar lagi.


"Syukurlah. Besok kau temani aku membawa Axton."


"Tapi, dia tak biasa keluar dari zonanya." gumam Castor tak tahu caranya. Apalagi Kediaman ini pasti akan di jaga ketat dan akan sulit membawa Axton keluar.


"Kediaman ini memang luas tapi kita tak akan keluar lewat pintu manapun."


"Lalu?" menautkan alisnya.


"Kau pernah ke sana?"


"Yah. Aku tahu jalannya, kita harus melewati lorong bawah terlebih dahulu dan baru ke atas. Kau tunggu aku di dekat simpang jalan ke arah Gerbang tua itu. Aku akan bersama Axton keluar." jelas Kellen sudah memikirkannya.


Tapi. Ia tak tahu apa nanti akan ada bahaya disana yang jelas Kellen akan membawa Axton besok.


"Apa tak sebaiknya kita pergi pada .."


"Malam hari." sela Kellen serius.


"Malam?"


"Yah. Axton tak akan terlalu gelisah jika di sekelilingnya gelap. Lagi pula kita juga bisa menyembunyikannya dari anggota Nyonya Verena."


Castor mengangguk paham. Ia salut akan semua prediksi Kellen yang selalu tepat dan tak pernah bimbang.


"Baiklah. Ini sudah larut. Kau istirahatlah."


"Terimakasih. Kalau sudah selesai memperbaikinya, tolong segera berikan padaku. Cas!"


"Aku mengerti." jawab Castor lalu membuka pintu kamar. Ia tadi membawakan nampan makanan yang di tinggalkan di atas meja tak jauh dari ranjang.


"Jika ada yang mengganggumu. Kau bisa teriak atau keluar menemiku."


"Terimakasih."


Castor segera melangkah keluar. Ia sangat hati-hati karna bisa saja ada telinga lain yang mendengar obrolannya tadi.


Saat Castor sudah pergi dan pintu tertutup. Kellen segera menghela nafas, ia sudah tak sabar untuk menemui Dadynya.


"Semoga Dady baik- baik saja disana." gumam Kellen berharap.


Tak lama berselang. Tiba-tiba perut Kellen menggelegar lapar, ia lupa untuk makan tadi hinga perih begini.


"Astaga. Axton juga belum makan." gumam Kellen tersadar.


Ia beralih menatap wajah lelap tampan yang terbenam ke bagian pinggulnya ini. Agak tak tega membangunkannya tapi bisa saja nanti Axton sakit perut.


"Hey!"


Kellen mengusap puncak kepala Axton yang tak bergerak. Pria ini tidur tanpa atasan ntah sengaja atau tidak menggoda Kellen si otak kotor.


"Ax!"


"Ehmm." geraman kecil Axton kala jemari Kellen memencet hidungnya. Ia sama sekali tak bangun bahkan terus merapatkan wajahnya kesana.


"Ax! Bangun."


"Hmm."


"Bangun, kau belum makan.bukan?" bisik Kellen kembali memencet hidung mancung Axton yang segera membuka mata elangnya dengan tatapan kesal dan masih mengantuk.


"Hmm."


"Marah?" tanya Kellen menyipitkan matanya seperti mengancam hingga Axton menggeleng kembali memejamkan matanya dengan tangan masih membelit nyaman perut datar Kellen.


Melihat itu. Kellen menghela nafas halus meraih nampan diatas meja yang berpindah ke pahanya.


"Yakin, tak lapar. Hm?" gumam Kellen membuka penutup piring itu.


Makanan beratpun terpampang nyata. Ada potongan daging yang di panggang dengan beberapa roti isi yang penuh. Ini sangat lezat dan beraroma.


"Perutku sangat lapar. Ini porsinya lebih banyak dari yang kemaren, jika di habiskan sendiri aku bisa kekenyangan." ucap Kellen sedikit mengeraskan suaranya.


Tak ada respon apapun dari Axton yang masih menahan diri. Saat Kellen mengambil satu potongan roti dan daging itu mata Axton langsung terbuka karna aromanya cukup membuat ia menelan ludah.


"Benar kau tak mau?"


"Hm."


"Ya sudah. Dengan senang hati ini masuk ke perutku." decah Kellen membuka mulutnya lebar hampir memasukan makanan itu ke mulutnya tapi tangan kekar itu lebih dulu mendorong tangan Kellen ke bawah.


"Aax!!" kesal Kellen kala rotinya berpindah ke mulut pria itu. Axton dengan santai mengunyahnya dengan mulut penuh bahkan, ia masih menjilati sisa bumbu daging di jari Kellen.


"Kau tadi tak mau. Sekarang memakan semuanya."


Axton hanya diam kembali membenamkan wajahnya ke bagian bokong Kellen dengan mulut masih mengunyah.


Sekuat apapun Kellen ingin marah, ia tak bisa menahan kegelian hingga bibirnya menipis dengan wajah kemerahan.


"Cih. Besok awas kalau kau menyusahkanku." Gumam Kellen beralih mengambil segelas susu yang ada diatas meja.


"Duduk! Nanti kau bisa mati tersedak, hukumanku akan bertambah jika begitu."


"Hm."


Axton menurut kembali duduk. Ia menerima sodoran gelas dari Kellen ke bibirnya, hanya dua kali tegukan karna Kellen belum minum.


"Kenapa di sisakan?"


"Kell!"


"Hm? Biasanya kau selalu menghabiskan makananmu tanpa menyisakan untukku." sindir Kellen beralih menegguk sisa susu ini.


Axton hanya diam memandang itu semua dengan sayu antara masih ngantuk dan ingin melihat wajah cantik itu.


"Sisa 3. aku hanya makan 1 itu cukup."


"M..Makan.."


"Aku tak mau gendut. Kau makan 2 dan Aku.."


Kellen berhenti bicara saat Axton sudah menyumpalkan potongan roti itu ke mulutnya. Wajah pria ini masih datar seakan tak merasa apapun.


"Kaummmamm.."


"M..Makan."


Karna kesal. Kellen juga ikut menyumpalkan roti itu hingga mulut keduanya sama-sama penuh. Hanya tersisa satu potong lagi membuat perlombaan exstra.


"Emmm!!"


Kellen membulatkan matanya kala Axton kembali memaksakan roti itu masuk ke mulutnya hingga Kellen terpaksa mengunyah dengan susah payah.


"Kaumm Mmemamm!"


Kesal Kellen berbicara tak jelas berusaha mengunyah. Hal itu untuk pertama kalinya membuat sudut bibir Axton tertarik membentuk garis yang indah memanah mata Kellen yang tertegun.


"Dia inilah yang sebenarnya pemain wanita. Kenapa harus tersenyum begitu. ****!!"


Vote and Like Sayang..