My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Si polos



Keadaaan masih sama. Tenggelam dalam keheningan dan pikirannya sendiri, ruang kamar mandi yang tak terlalu besar ini membuat Kellen merasa canggung dan tak bebas berekspresi.


Sedangkan Axton. Ia tak tahu apa yang tengah membuat pipi Kellen memerah dengan wajah cantik tak mau memandangnya.


Tentu ia kira Kellen sakit karna tak biasanya wanita ini menyembunyikan wajahnya.


"Kell!"


"A.. Iya.."


Menatap Axton yang segera menempelkan tangannya ke pipi Kellen yang semakin memanas.


"S..Sakit..?"


"T..tidak.. Aku..aku hanya susah..susah bernafas." gumam Kellen menurunkan tangan Axton dari pipinya.


Tak mau tenggelam dalam suasana ini lagi. Kellen memilih keluar tapi lagi-lagi lengannya di tahan pria itu.


"Kell!"


"K..kau mandilah. Aku di depan."


Axton tak bergerak di tempat. tatapan matanya masih kekeh membuat Kellen merasa bingung ingin melakukan apa lagi.


"Ax! Mandilah sendiri, tinggal letakan Shower itu diatas kepala dan basahi tubuhmu. Di situ juga ada Shampo dan.."


"Dan.." Axton mengikuti tapi tak mengerti. Kellen menghela nafas kembali masuk ke dalam kamar mandi lalu mengambil Shower itu stabil.


"Begini. Letakan di atas kepalamu lalu basahi apapun yang kau mau." mencontohkan gerakannya.


Axton memperhatikan dengan baik tapi bukan mendengarkan tapi lebih memperhatikan gerak tubuh Kellen yang sangat lucu di matanya.


"Seperti itu. Kau paham?"


"Ha?"


"Shitt!" umpat Kellen kala Axton juga tak tahu maksudnya. karna tak punya pilihan lain, akhirnya Kellen menarik lengan Axton mendekat lalu meraih kursi plastik yang tak jauh dari belakang pintu.


"Duduk!"


Axton duduk tapi ia beralih membelit pinggang ramping Kellen yang tak tahu lagi harus mengelak bagaimana.


"B..Buka bajumu."


"B..buka?"


"Iya.. Buka, aku...aku akan ajarkan." gumam Kellen memalingkan wajahnya kala Axton mulai melepas kemeja putih itu.


Tatapan Axton begitu datar seakan tak ada masalah sama sekali memperlihatkan lekukan tubuh jantannya di hadapan seorang wanita normal seperti Kellen yang semakin dilanda rasa panas.


"Kell!" panggil Axton dengan lugunya memberikan Kemeja itu ke tangan Kellen yang mengangguk mengambilnya kaku.


"P..peggang ini. Aku..aku ingin letakan ini di keranjang kotor." memberikan Shower ke tangan Axton.


"P..Peggang.."


"Iya." jawab Kellen singkat segera melangkah ke arah bagian keranjang di dekat pintu. Ia masih berusaha tak melihat kebelakang dimana Axton tengah duduk dengan gagahnya tanpa atasan.


"Apa yang harus-ku lakukan lagi." gumam Kellen memejamkan matanya mencoba tenang. Ia mengambil nafas halus memasukan kemeja ini ke dalam keranjang.


"Kell!"


"A.. Itu.. Aku tunggu di luar. Kau bisa mandi, Ax!" jawab Kellen cepat langsung keluar menutup pintu.


"Syukurlah." gumam Kellen lega bersandar ke pintu kamar mandi.


"Kelll!!!"


"A.. Iya. Aku disini, kau mandi saja!!" Kellen mengeraskan suaranya seraya merapat ke pintu.


Suara jipratan air terdengar tumpah ke lantai dengan percikan yang deras. Kellen lega karna Axton ternyata bisa mandi sendiri.


"Setidaknya ini lebih baik."


"Dimana Tuan?"


Castor muncul di depan pintu kamar sana. Memang tadi Castor agak segan untuk masuk tapi karna mendengar suara Kellen ia ingin tahu bagaimana Axton bisa tenang.


"Dia mandi. Apa ada masalah?"


"Mereka mulai curiga."


Kellen terdiam sejenak. Ia melangkah ke arah lemari kayu sederhana yang masih layak untuk di pakai.


"Mereka mencari Axton?"


"Itu akan terjadi. dan kau harus meyakinkan Tuan agar bisa tenang disini. Mereka tak punya alasan untuk mengurung Axton kembali."


Kellen mangut-mangut mengerti. Ia membuka lemari itu mengambil handuk berwarna coklat tua yang Castor carikan untuknya.


"Untung sekarang aku bisa, tapi. Kau tahu sendiri jika Axton itu pecandu."


"Itu masalahnya."


Gumam Castor menghela nafas kasar. Masalah terbesarnya ada di situ, tak mungkin Axton bisa bebas mengonsumsi obat penenang yang sudah lama di berikan.


"Apa tak bisa Axton di Rehabilitasi saja?"


"Akan susah. Apalagi dia masih belum bisa bertemu banyak orang." jawab Castor membuat Kellen berfikir. Ada benarnya juga, untuk sekarang memang susah dalam menentukan rencana kedepan.


"Lalu bagaimana?"


Braaakk...


Kellen dan Castor terkejut saat suara gebrakan pintu kamar mandi terdengar sangat kasar dengan pintu itu jebol menimpa lantai.


Mata keduanya lagi-lagi melebar kala melihat siapa yang tengah berdiri dengan gagahnya. Namun, yang membuat Kellen menutup mulut itu adalah keadaan Shower yang ada di genggaman tangan kekar Axton yang di balut kain tadi.


"Aaax!" gumam Kellen syok melihat Shower di tangan Axton sudah bengkok. Pria itu melempar pandangan tajam dan dinginnya pada Castor seakan tak pernah suka dengan siapapun.


"Aax. Astaga kau.. Apa yang kau lakukan. Ha?"


"Kell!!"


Axton menarik lengan Kellen mendekat ke arahnya. Pria ini mengibarkan aura tak bersahabat mencengkram peggangan Shower itu sampai bengkok.


"Apa yang kau lakukan. Ha? Kenapa menendang pintu. Kau bisa memanggilku. Bukan?"


"Kell!!" geram Axton menghakimi Kellen yang dengan sengaja menutup pintu. Tapi, nyatanya ada Castor di luar sini.


"Bersihkan tubuhmu dulu. Dan.. "


"Ada apa?" tanya Castor kala Kellen menjeda ucapannya melihat ke dalam.


Tatapan mata Ember Kellen terkesan menyimpan rasa kesal bahkan begitu dongkol.


"Lihat!!! Kau menghancurkan tempat mandiku!!"


"Ada apa?"


Castor sedikit mengintip dan ia agak tersentak melihat aliran pipa air dari atas bocor dengan bagian peralatan mandi Kellen berserakan di lantai.


Shampo bercecer habis dengan busa bertebaran. Seakan di landa rasa pusing yang kuat, mendorong Kellen bersandar di daun pintu.


"Kenapa kau menumpahkan semuanya? aku tak punya stok lagi."


"Tuan tak tahu apapun." sambar Castor tapi rasa kesal Kellen terlalu menggunung.


Karna tak mau ikut campur akhirnya Castor melangkah pergi untuk menjaga apa Groel akan semakin menyudutkan posisi Axton.


Sementara Kellen. Ia berusaha sabar menarik Axton yang sudah basah kuyup masuk kembali ke dalam kamar mandi.


"Duduk."


"D..Dia.."


"Sudah pergi. Sekarang duduk dengan benar." titah Kellen merapikan peralatan mandinya. Ia menghela nafas. Kegugupan itu melanda kala ia bisa melihat bagian perut Axton yang termasuk atletis.


"Kell!"


"Aku akan membantu. Kau diamlah."


Axton mengangguk. Ekspresinya masih datar membiarkan Kellen membasahi kepalanya. Air yang agak dingin membuat Axton sedikit tersengat refleks menarik pinggang Kellen hingga tepat berhadapan dengannya.


"Kell!"


"Tenanglah. Ini hanya sebentar."


Axton diam. Ia sangat aneh dengan aroma Lavender sabun ini hingga Axton lebih menyukai aroma tubuh Kellen yang hangat.


"Kenapa dia harus menatapku begini?"


Batin Kellen berusaha berwajah datar kala Axton mengadah menatap wajah semuanya. Aliran air ini membasahi tubuh kekar Axton yang begitu seksi.


"Kell!"


"Hm?"


Axton terdiam tanpa berkedip menatap wajah cantik Kellen. Ia langsung menarik pinggang Kellen merapat hingga wajahnya terbenam ke perut datar ini.


Kellen hanya diam membersihkan sisa Shampo di kepala Axton. Ia membiarkan tubuhnya basah hingga Dress ini melekat membentuk lekukan tubuhnya.


"Bagaimana caraku mengatakan untuk membuka celananya? Dia pasti akan cepat melakukannya."


Batin Kellen merasa ragu. Ia mengusap bahu kekar Axton dengan decah kagum tercipta.


"Emm.. coba kau lakukan itu sendiri. Buka dulu bawahanmu."


"B..Bawahan?"


"Iya.."


Kellen membuang muka kesamping kala Axton melihat celana panjangnya. tentu dengan sekali tarikan Axton membuka Resletingnya dengan suara yang membuat Kellen gelisah.


"Kell!" gumam Axton saat kesusahan. Bagian resletingnya tersangkut karna terlalu kuat menariknya.


"A..Apa?"


Tanpa pikir panjang. Ntah Axton terlampau polos atau memang dia ingin minta bantuan, Axton menarik tangan Kellen dan meletakkannya ke bagian itu membuat mata Kellen terbelalak lebar.


"Kell!"


"A...Aaaxx!!"


....


Vote and Like Sayang..


.