
Jamuan makan itu di adakan dengan sangat meriah dan hangat. Kediaman Miller seketika berubah menjadi surga makanan dan keramahan yang tak pernah di bayangkan sebelumnya.
Miss Barbie di layani dengan sangat-sangat baik. Bahkan, raut wajah mereka saat berhadapan dengan wanita itu sudah di atur sebelumnya.
JANGAN ADA YANG BERANI MENGUSIK SASARAN BARUKU. Begitulah kiranya papan peringatan yang telah di tanamkan di benak mereka semua.
"Silahkan di nikmati. Miss!"
"Ouh. Thank's." jawab Miss Barbie ramah. Wanita dengan rambut ikal cantik itu tampak bersemangat memandangi semua tatanan makanan khas Spanyol seperti Stik Qrol dan Bubble Meet yang sangat khas.
Miss Barbie beralih menatap Martinez yang sedari tadi hanya diam. Sedari pagi ia menemani wanita ini rasanya tak ada yang menarik sama sekali.
"Martin! Dimana Momymu?"
"Dia akan turun sebentar lagi." jawab Martinez menyimpan rasa malas. Ia memilih untuk bermain ponsel membuat Miss Barbie merasa kaku.
Para pelayan yang melihat di belakang sana tampak saling pandang hanya bisa membisu.
"Martinez!"
"Aa.. Iya. Mom?"
Martinez segera menyimpan ponselnya. Bisa jadi masalah besar jika Nyonya Verena sampai melihat sikap buruknya pada Miss Barbie yang tampak tersenyum berdiri.
"Nyonya!"
"Ouhh. Barbie! Kau selalu cantik, Sayang!" puji Nyonya Verena mendekat dengan tatapan hangat keibuan. Wanita yang memakai celana kulot Brand itu tampak turun dengan glamornya dibaluti atasan bermerek.
Miss Barbie memilih mendekat menyongsong calon Ibu Mertuanya. Ia sebenarnya gugup karna Nyonya Verena terkenal dengan ketegasan dan kekejamannya dalam dunia bisnis.
"Nyonya! Kau juga selalu mempesona."
"No. Don't call me madam. Ok?"
Miss Barbie agak kikuk melempar pandangan pada Martinez yang hanya diam menaikan bahunya. Ia memaksakan senyuman mendukung calon istrinya ini.
"Kalau begitu aku harus memanggilmu apa. Nyo.."
"MOMY!" Sela Nyonya Verena membuat wajah Miss Barbie memerah. Rasanya begitu bahagia tapi ia masih bisa untuk mengendalikan diri.
"B..Baiklah. Mom!"
"Yes. Like That, Pretty!"
Miss Barbie mengangguk menurut kala Nyonya Verena mengiringnya kembali ke meja makan.
Ia duduk di kursi samping Martinez yang di tatap tajam Nyonya Verena kala ia terlihat sangat monoton.
"A.. Itu.. Barbie!"
"Iya. Kau butuh sesuatu?" tanya Miss Barbie kala Martinez memanggilnya.
"Aku tahu kau suka Bubble Smet. Jadi aku minta mereka membuatkannya."
"Really?" gumam Miss Barbie berbinar. Martinez mengangguk menarik semangkuk Pasta yang di masak dengan porses yang rumit. Pasta di campur dengan Saos udang dan perpaduan citarasa Tiongkok dari daun mindnya.
"Cobalah! Masakan di Kediaman sangat enak, kau akan menyukainya."
"Terimakasih. Aku juga tak meragukan itu, Sayang." jawab Miss Barbie manis membiarkan Martinez menghidangkan itu ke piringnya.
Senyuman penuh arti Nyonya Verena muncul. Ia dengan elegan menegguk Jus Orange di gelasnya menatap Martinez yang akhirnya tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Nyonya!" Groel tiba-tiba masuk berdiri di belakang Nyonya Verena yang masih elegan duduk dengan anggun.
"Ada apa?"
"Apa kami harus terus mengawasi Bangunan di samping?"
Nyonya Verena terdiam kala Groel membungkuk berbisik di belakangnya. Pria paruh baya itu tampak menyimpan suatu rencana besar.
"Hari ini tak ada laporan dari penjaga disana. Mungkin dia sudah kembali tenang. Nyonya!"
"Tunggu tanggal mainnya." gumam Nyonya Verena belum sempat mengurusi Axton. Saat ia sudah bergerak maka Kellen akan bisa berkutik lagi.
"Wanita itu hanya akan membuang-buang tenaga dan waktu. Usahanya sangat sia-sia."
"Yah. anda benar, Nyonya!" jawab Groel kembali menegakkan diri. Ia menatap kilas Miss Barbie yang di ajak mengobrol oleh Martinez tentang makanan ini.
"Dia memang sangat polos."
Batin Groel menyeringai licik melihat Miss Barbie dengan mudah terperdaya oleh Iblis di Kediaman Miller ini. Tentu ia sangat suka itu.
Sementara di luar sana. Kellen tengah mengendap masuk ke dalam Kediaman karna Castor mengatakan jika Miss Barbie datang kesini.
"Itu memang suaranya." gumam Kellen bersembunyi di balik dinding.
Ia tengah menggenggam tangan kekar Axton yang sedari tadi memeluknya dari belakang. Pria ini sama sekali tak mau lepas setelah tadi di ajak menikmati permainan baru yang Axton ingin sampai saat ini.
"Kell!"
"Sutt! Jangan banyak bicara." bisik Kellen pelan mengintip dengan sangat hati-hati.
Seketika ia tertegun kala itu memang Miss Barbie. Wanita baik hati yang dimanfaatkan Martinez hanya untuk memperluas jangkauan kekuasaan.
"Merek memang bajingan." umpat Kellen muak dan jijik.
Axton hanya diam. Wajah datarnya tak lagi terlalu pucat hanya saja ia memang lemah karna mau bagaimanapun cara Kellen hanya membantu mengalihkan sakaunya.
"Kell!"
"Hm?"
"Lagi!"
Tanpa malu mengatakan hal itu berulang kali. Tentu Kellen yang memerah karna tahu makna ucapan Axton bagaimana.
"Diamlah! Kau bersiaplah sebentar lagi."
"K..Kemana?" gumam Axton tak mengerti.
Kellen menghela nafas menegakkan tubuhnya lagi. Ia menarik Axton kembali ke arah pintu keluar dimana tadi Castor mengalihkan para penjaga.
"Kita akan pergi jalan-jalan!"
"J..Jalan?"
"Kau sudah siap?"
Castor datang dengan Hoodie yang juga ia bawa untuk Axton agar bisa tersamarkan nanti.
"Kau sudah mengurus mereka-kan?"
"Yah. Waktu kita tak banyak, mereka akan asik dengan persiapan hangat Miss Barbie."
Kellen mengangguk memakaikan Hoodie tebal ini ke tubuh Axton yang hanya diam. Ia tak tahu apa yang di bicarakan dua manusia ini tapi yang jelas Axton membelit pinggang Kellen dengan lengannya posesif.
"Dingin?"
"Hm." menggeleng pertanda tidak.
"Genggam tanganku dan jangan di lepas! Kau ingin jalan-jalan. Bukan?"
Axton tetap mengangguk. Ia menurut kala Kellen menariknya ke arah koridor samping menuju bangunan penyiksaan gelap Axton dulu.
"Tak ada orang di belakang. Kau bisa tetap berjalan."
"Aku mengerti." jawab Kellen memasang Topi Sweaternya. Malam ini cukup dingin hingga memaksa mereka untuk mengeratkan pakaian.
Tak lama berselang. Ketiganya sampai ke dalam lorong. Suasana gelap disini tak di rasakan aneh lagi oleh mereka apalagi Axton yang terbiasa.
"Hidupkan lampunya!"
"Ini sudah kering Aku menyalurkan airnya." jawab Castor menghidupkan lampu.
Respon Axton tak begitu serius saat sengatan lampu itu menyala. Ia sudah mulai terbiasa karna setiap pagi Kellen selalu mengajaknya berjemur mentari.
"Kell!"
"Ayo jalan." ajak Kellen menarik tangan Axton. Untung saja Kellen tahu disini sangat dingin hingga memakaikan sepatu pada Axton yang tadi kebingungan.
"Apa ponselku sudah kau perbaiki? Cas!"
"Sudah. Coba periksa ini!" memberikan benda pipih itu ke tangan Kellen yang berbinar bahagia.
Castor memimpin jalan memberikan waktu untuk Kellen memeriksa ponselnya. Alangkah senangnya Kellen kala ponselnya menyala dimana Wallpaper fotonya dan Tuan Benet terlihat lagi.
"Terimakasih!!! Ini.. ini memang sudah kembali."
"Jangan lupa tugasmu."
Kellen mengangguki itu. Ia beralih ingin memberi tepukan ke bahu Castor tapi Axton menariknya hingga ia tak bisa mengimbangi langkah Castor.
"Apa?" tanya Kellen seraya berjalan memandangi wajah dingin Axton yang menatap Castor dengan aura tak bersahabat.
"P..Pulang!"
"Apanya? Kita akan jalan-jalan."
"Pulang!" geram Axton tapi Kellen membuang nafas halus mengecup rahang tegas itu membuat Axton terdiam dengan langkah berhenti.
Wajahnya kaku dengan tatapan membatu pada Kellen yang mengulum senyum. Ia suka Axton yang sadar seperti ini.
"Apa?" menaikan alisnya dengan kepala mendongak.
"Hm."
"Hm. Apa? Kau marah? Tak suka atau.."
Kalimat Kellen tak berlanjut kala tangannya sudah di tarik Axton menyusul Castor. Tiba-tiba saja senyum keduanya terukir tapi Axton tak tahu cara mengekspresikan rasa itu bagaimana.
"Cepatlah! waktu kita tak banyak!!"
"B.Baik." jawab Kellen berlari kecil hingga keduanya berjalan beriringan menuju pintu batu di depan sana.
Kellen menghidupkan cahaya ponselnya kala lampu di lorong tadi hanya sampai batasan di tengah. Selebihnya gelap dengan suasana dan keadaan yang masih sama seperti dulu.
"Kau sudah membukanya?"
Tanya Kellen agak terhenyak kala pintu itu sudah terbuka. Ia menatap salut Castor yang sangat cepat beraksi padahal ia tak terfikir akan hal ini.
"Yah. Jika dari dalam itu susah di buka, itu karnanya ku lakukan dari luar."
"Kau benar. Aku bahkan membuat kepalaku berdarah membuka itu."
Castor membisu melangkah ke atas. Penampakan pertama itu reruntuhan bangunan yang sudah berlumut dan tua di makan waktu.
"Cas! Ini tempat apa?"
"Senjata!"
"Ha?" tanya Kellen tak mengerti. Castor hanya diam tak ingin melanjutkan perkataanya, tentu hal itu memberi tanda tanya besar di benak Kellen.
Pertama Ayah Axton? Kedua siapa sebenarnya orang tua pria ini. Kalau memang Nyonya Verena lalu kenapa dia tega melakukan itu pada Axton? Atau..
"Kau akan tahu jika dia sudah ingat segalanya."
"M..Maksudmu Axton.."
Castor memberi tatapan yang tegas agar tak membahas itu sekarang. Kellen mengerti menyimpan rasa bingungnya seraya tetap melangkah keluar Gerbang tua ini.
Dari kegelapan malam dengan kedipan lampu Neon yang kabur itu bisa Axton lihat samar bagian tiang Gerbang yang tak asing baginya.
"Ax!"
"Hm."
"Ada apa?" tanya Kellen kala Axton menatap lama tiang Gerbang tua itu.
"T..Takut.."
"Kenapa?"
Axton menggeleng. Dari genggaman tangannya Kellen bisa merasakan jika Axton menyampaikan rasa takut, dendam, amarah bahkan kebencian yang nyata.
.....
Vote and Like Sayang..