
Deru kendaraan yang berlalu lalang di jalanan Barcelona terdengar sangat padat namun tidak memusingkan. Kendaraan roda empat tersusun dalam lintasan lebar yang luar biasa dengan penerangan yang mumpuni.
Kota yang berkilauan dengan berbagai jenis lampu dipamerkan termasuk Fireworks Festival yang di adakan diatas Gedung-Gedung pencakar langit sana.
Namun. Tentu suara berisik dari luar membuat Axton gelisah di dalam mobilnya. Ia terus memeluk Kellen yang tahu akan hal itu.
"Hey. Kenapa?"
"T..Tak suka." jawab Axton menggeleng seraya menyembunyikan wajahnya di balik kepala Kellen yang ada di sampingnya.
"Tak apa. Coba lihat keluar!"
"T..tidak.."
"Ayolah. Kau tak mau menurutiku?"
Pertanyaan itu seketika membuat Axton terdiam. Ia mengeratkan pelukannya lalu memberanikan diri melihat keluar jendela Mobil yang sengaja Castor buka.
"Kell!"
Gumam Axton menggenggam tangan Kellen seraya menatap keluar jendela. Ia melihat letusan Kembang Api meriah yang ada di langit begitu indah malam ini.
"Lihatlah! Bukankah itu sangat luar biasa?"
"I..itu.."
"Yah, Pesta kembang api selalu di rayakan di Negaraku. Tapi, ini juga tak kalah menakjubkan. Semua gedung jadi warna-warni."
Jelas Kellen bersemangat. Suara sorakan para pengendara di jalanan ini juga gak menganggu tapi terkesan hangat melempar dukungan.
Melihat senyum Kellen yang mekar. Axton jadi ikut merasa tenang, rasa cemas itu berkurang ikut menyaksikan ledakan meriah ini di sepanjang jalan.
"Sebentar lagi akan sampai. Kalian bersiaplah!" Castor yang tengah membelokan stir Mobil.
"Apa kita langsung ke Kediamannya atau.."
"Tidak! Kita ke Apartemennya." jawab Castor membuat Kellen manggut-manggut mengerti. Tentu sangat berbahaya untuk datang ke Kediaman pria itu apalagi jika sampai Nyonya Verena tahu maka semuanya akan habis.
Setelah beberapa lama berkendara dan Axton-pun sudah santai. Barulah mereka sampai di sebuah kawasan Apartemen yang tampak masih banyak kendaraan yang hilir-mudik di Gerbangnya.
Castor menyerahkan kartunya ke penjaga dan tentu mereka baru di bolehkan masuk.
"Kell!" gumam Axton kala disini sangat ramai dan sibuk.
Beberapa orang dan staf Apartemen masih bertugas membersihkan lantai yang terlihat sudah mengkilap.
"Tak apa. Ada aku bersamamu."
"Hm."
Castor memasukan Mobil ke dalam Loby. Ia turun lebih dulu karna memastikan disini memang aman.
"Turunlah!"
"Aku mengerti."
Jawab Kellen memasang Topi Sweaternya bersama Axton yang juga menyembunyikan wajahnya di balik Topi Hoodie itu.
Mereka keluar bersama dengan Axton yang merapat ke arah Kellen menjauhi beberapa Mobil yang mengepung mereka.
"Kell!"
"It's ok! Disini aman."
Bisik Kellen menarik genggaman mereka mengikuti Castor melangkah menuju pintu masuk Apartemen.
"Lantai berapa?"
"69!"
Kellen mengangguk hanya tetap berjalan mengikuti Castor yang sudah tahu tempat ini. Beberapa orang yang menatap mereka hanya di acuhkan tapi banyak para wanita yang turun dari Lift terfokus pada Axton yang lebih mendominasi.
"Dari dagunya saja sudah setampan itu! Aku rasa dia sudah punya kekasih."
"Tubuhnya bagus!"
Kellen hanya menepis itu walau rasanya kesal jika Axton si manis ini di jadikan visual kebanggaan wanita lain. Memang tampan Kellen akui itu, tubuhnya juga bagus tapi hanya Kellen yang pernah menyentuh dan melihatnya.
"Kell!"
"Masuk saja. Ini namanya Lift!" jawab Kellen menarik Axton masuk ke Lift.
Ia sengaja menunjukan genggaman mereka dengan pura-pura memperbaiki Topinya membuat para wanita yang ada di depan Lift saling pandang dengan muka masam.
"Cih. Aku benarkan?! Dia itu sudah punya kekasih."
"Biarkan saja. Toh Kekasihnya juga malu menampakan wajahnya."
"Malu kepalamu! Bersaing aku tak takut denganmu."
Batin Kellen muak. Seorang Kellen Lutz DeBerry di ragukan kecantikannya? Cih. Dia adalah Dokter dan tentu tak akan sia-sia dalam hal itu.
"Apa dia tahu tentang Axton?" beralih pada Castor seiring dengan pintu Lift tertutup.
"Yah. Dia bukan orang jauh."
"Maksudnya?"
"Itu urusannya."
Jawab Castor membuat Kellen berfikir. Apa Psikiater ini juga memiliki hubungan dengan masa lalu Axton atau mungkin ini salah satu teman atau bagaimana?
Semua pertanyaan itu Kellen simpan. Ia harus tahu nanti saat sudah melihatnya.
"Kell!"
"P..Pusing!"
"Lagi?" gumam Kellen agak ngeri. Ia masih membawa permen itu sebagai cadangan tapi tak mungkin Axton kambuh secepat ini.
"Kau kurang istirahat. Pulang dari sini kita langsung tidur." imbuh Kellen mencari aman.
"Kell!"
"Ax! Kau jangan aneh-aneh." gumam Kellen menepis halus tangan Axton yang memegang dagunya.
Castor hanya diam. Ia tak tahu apa yang di lakukan Kellen sampai Axton membahas itu terus sedari tadi.
"Kell!"
"Nanti. Sekarang kita lakukan yang lain."
"Y..Yang mana?"
Kellen hanya diam tak mau melanjutkan pembahasan ini. Kala pintu Lift terbuka helaan nafas lega Kellen tercipta seakan menjadi penyelamat.
"Cepat! Dia tak bisa berlama-lama disini."
"Baik."
Kellen menarik Axton keluar lalu menatap pintu-pintu ruangan mencari nomor ruangan itu.
Tentu Castor sudah tahu hingga dengan sekali menggunakan Kartu itu. Pintu langsung terbuka memperlihatkan ruangan Casual dengan warna hangat dan nyaman.
"Kalian sudah sampai?"
"Apa kabarmu?"
Tanya Castor masuk duluan. Kellen masih diam di depan pintu mendengar suara seorang pria dari dalam.
"Apa dia.."
"Dia di depan."
Kellen mempertajam pendengarannya. Belitan Axton mengerat kala merasa asing dengan ruangan ini.
"P..Pulang!"
"Tidak apa. Ax! Ayo masuk." ajak Kellen menarik lengan Axton ke dalam ruangan.
Saat sudah menapaki lantai ini seketika Kellen di hadirkan dengan penampilan seorang pria berkemeja rapi dan rambut Klimis tampak Maskulin dan bersih.
Pria dengan alis tipis dan bibir mungil itu menatap kosong Axton dengan guratannya sendiri.
"Selamat malam. Tuan!"
Tak ada jawaban dari pria bermata agak sipit ini. Ia melangkah mendekat dengan tatapan sendu melihat wajah tegas dingin Axton yang mengeratkan belitannya ke pinggang Kellen.
"Kau tak banyak berubah!"
"Yah. Hanya saja dia tak mengingat kita." jawab Castor menimpali. Axton menganggap mereka semua ancaman apalagi pria ini seperti ingin sekali memeluknya.
"Kell!"
"Sutt. Dia tak akan menyakiti kita." ucap Kellen menahan lengan Axton yang ingin menariknya keluar pintu.
Sadar akan reaksinya memancing Axton. Pria itu segera melempar pandangan kembali pada Castor yang menggeleng.
"Dia tak akan tahu apapun."
"Ini sangat buruk." gumamnya dengan helaan nafas kasar.
Ia mengiring Castor ke Sofa panjang di sudut ruangan yang santai.
"Duduk disini!"
"Kau sudah menyiapkan-nya?"
"Yah. Tapi tak ku sangka dia akan separah itu." jawabnya duduk seraya menatap Axton yang masih enggan bergerak dari tempatnya.
Raut wajah Arogan dan penuh intimidasi itu masih ia lihat sampai sekarang. Nyatanya walau tahu berubah tapi sisi gelapnya masih tampak mengerikan.
"Jika sampai musuhnya tahu dia seperti ini. Aku tak menjamin akan selamat."
"Nicky! Kau bisa membantunya, bukan?" tanya Castor berharap. Selama ini mereka ingin melakukan uji Mentalis Axton tapi kesempatan seperti ini tak ada.
Pria bernama Nicky itu terlihat bimbang tapi melihat Axton yang memeluk wanita cantik itu ada sedikit ejekan di batinnya melihat Axton yang sekarang.
"Apa perlu ku abadikan. Ini sangat langka."
"Jangan main-main. Selesaikan ini cepat atau kau akan menyesal nantinya." tegas Castor menekan Nicky yang menghela nafas halus.
"Akan sulit. Apalagi dia seorang pecandu, tak hanya banyak pintu yang akan terbuka untuknya."
"Lakukan apapun. Kau bisakan?"
Kellen beralih serius. Nicky sungguh heran kenapa ada wanita yang tahan dengan pria seperti ini, walau tampan tapi sifat asli Axton itu sangat kasar.
"Kau yakin tak jatuh cinta pada Axton?"
Degg..
...
Vote and Like Sayang..