
Gejolak api yang mengamuk di dalam sana membuat mereka semua benar-benar di landa kecemasan. Keadaan kapal yang sudah tak bisa di katakan baik terombang ambang gelombang dan luapan api yang tak bisa di tenangkan.
Di situasi yang memanas ini membuat rasa takut dan panik di dalam diri Axton meledak-ledak. Ia berusaha mendobrak pintu besi ini sekuat tenaga dengan perasaan tengah melahap batinnya.
"Axton!" gumam Nyonya Verena melihat Axton terus menghantam pintu itu dengan kakinya. Tak perduli jika tulangnya akan patah melakukan semua itu.
Ada kaca berbentuk segi empat yang ada di tengah pintu menunjukan keadaan didalam yang sudah menyala-nyala.
Apalagi, Kellen terlihat ada di tengah-tengah kobaran api dengan keadaan yang bisa membuat Axton mati sekarang juga.
"Kellen!!! Kellen bertahanlah!!!" teriak Axton berusaha sekuat tenaganya. Para anggota yang tengah mencari sesuatu yang bisa membuka benda itu berkecamuk benar-benar merasa khawatir dengan Nona dan Tuannya yang sekarang tengah menggila di bawah sana.
Namun. Berbeda dengan mereka yang cemas, Kellen justru tampak tenang melihat wajah Axton dari kaca itu. Air matanya turun tapi ia masih bisa tersenyum.
"A..Ax!"
Lirih Kellen dengan sayu bertahan untuk tetap sadar. Ia sudah tak bisa bergerak dengan rasa panas membakar di seluruh kulitnya.
Sungguh, Axton tak bisa melihat keadaan Kellen yang seperti ini. Sumpah demi apapun ia tak sanggup.
"K..Kell! Kellen, menjauh dari apinya!" ucap Axton merapat ke pintu dengan wajah tepat di dekat kaca.
"P..Pergilah.."
"KAU BICARA APA. HA??? MENJAUH DARI APINYA!!!"
Bentak Axton memukul kaca di depannya sampai pecah. Hal itu membuat mereka terkejut kala tangan Axton sudah dilumuri darah.
Tuan Benet yang baru sadar setelah di bebaskan anggota Axton tadi-pun terkejut melihat suasana Kapal yang dramatis.
Tetapi, ia sadar kala mengingat Kellen yang tadi meringis kesakitan.
"Kellen!!! Kellen. Dimana putriku?" panik Tuan Benet menerobos kumpulan para anggota yang tampak menemukan sesuatu di belakang Kapal.
Ada peledak di bagian tertentu dan ini akan segera menghancurkan Kapal ini. Castor yang baru saja dari belakang tampak menatap Nyonya Verena yang menggendong si kecil itu.
"Castor!"
"Bawa dia keluar!"
"Tapi..."
"Bawa dia keluar! Kita tak punya waktu banyak." ucap Castor membuat Nyonya Verena segera berlari keluar.
Nicky sudah di amankan para anggota keluar Kapal dan sekarang tinggal Axton yang mengambil balok kayu di sudut Kapal untuk merusak dinding kayu yang ada di sampingnya.
"K..Kellen!!"
"Pergilah keluar!" perintah Castor pada Tuan Benet yang tampak menatap panik Kellen di dalam sana. Ia merasa syok kala melihat api semakin menjadi-jadi.
"K..Kellen!!!"
"Tuan! Sakitmu bisa kambuh." tegur Castor tak mau membuat masalah besar. Dan benar saja, tiba-tiba saja Tuan Benet merasakan dadanya di serang denyutan hebat membuat Kellen yang melihat dari dalam sana tampak berusaha mengisyaratkan Daddynya pergi.
"D..Dad!"
"M..Maaf." gumam Tuan Benet berkaca-kaca dengan penuh rasa bersalah.
Kellen menggeleng mengisyaratkan agar cepat pergi atau Kapal ini benar-benar akan meledak memakan korban yang banyak.
"P..Pergi..."
"T..Tidak.. P..Putriku.. Tolong! Tolong dia!"
"Pergiiiii!!!!" teriak Kellen kala tak lagi bisa bertahan lebih lama. Asap yang kental ini mulai mengaburkan pandangannya membuat Axton histeris hebat.
"Aku..aku akan menyelamatkanmu. Kau akan baik-baik saja!!!"
"Axton! Kapalnya akan meledak." gumam Castor melihat Axton yang menghancurkan dinding kayu ini dengan tinjuan dan terjangan kaki kokohnya.
Para anggota yang melihat itu juga segera bersama-sama membantu Axton merobohkan dinding kayu ini yang nyatanya sudah di makan si jago merah.
Kepulan asap menggumpal tinggi dengan api menari kelaparan ke arah mereka. Castor menarik Tuan Benet agar ke atas karna Kapal ini juga menyimpan pasokan minyak.
"Putriku!!! Kelleenn!!! Tolong!! Tolong dia!!"
"Pergilah keluar."
"Keleeen!!" jerit Tuan Benet ingin menyongsong Axton yang tak perduli jika tubuhnya juga tengah di panggang jilatan api yang membara.
Melihat samar-samar dinding di dekatnya di robohkan. Kellen menggeleng kala Axton memeggang Balok kayu yang terbakar di dekatnya menghalangi jalan.
"P..Pergi.."
Axton hanya membatu. Tubuhnya yang kekar memang sulit menerobos cela kecil membuatnya harus menahan rasa panas yang membakar tubuhnya.
"Pergiii!!! A..Ax. p.pergi. Hiks!"
"Tuan!!! apinya tak bisa di padamkan!!" ucap para anggota yang melihat jika di setiap sudut Kapal sudah di beri minyak. Percuma menyemprotkan air karna ini akan menguras waktu.
Melihat semuanya sudah di luar kendali. Kellen berusaha menyuruh Axton pergi karna Kapal ini akan segera hangus dan hancur.
"Axtoon! Aku..aku mohon, aku mohon pergilah!! Pergi!!!"
"TUTUP MULUTMU!!!" geram Axton sekuat mungkin menendang semua bara kayu di depannya lalu melesat ke arah Kellen yang menggeleng karna melihat Atap Kapal yang terbakar akan menimpanya.
"Pergiiiii!!!!!"
Teriakan Kellen menggeleng sampai akhirnya reruntuhan diatas sana benar-benar jatuh ke bawah sampai para anggota menyingkir.
Castor memucat bersamaan dengan Tuan Benet yang melihat langsung jika Atap itu menimpa tubuh putrinya.
"K..Kellen.."
Gumam Tuan Benet lemas tetapi seketika mereka di buat terguncang akan ledakan di belakang Kapal membuat kobaran api menggulung ke atas menuju langit yang menghitam.
Castor menarik Tuan Benet lari dari Kapal bersama para Anggota yang mencebur ke dalam lautan seiring dengan Kapal yang sudah meledak tepat di depan mata mereka.
Api yang menyembur gila dengan puing-puing Kapal hancur berterbangan ke semua arah. Ledakan itu bak kembang api yang tengah menerangi lautan gelap malam ini.
Semuanya terdiam. Mata mereka menatap kosong ke arah gulungan panas itu dengan mata Nyonya Verena berkaca-kaca.
"M..Mereka.." gumamnya tak menyangka. Nicky tampak tak bersuara. Air mata yang menggenang di pelupuk netranya sudah jatuh menggeleng pelan masih tak percaya.
"C..Cas..A..Axton.."
Castor tak menjawab. Kedua tangannya terkepal menyaksikan itu dengan mata mengigil berharap jika Axton selamat dalam kejadian ini.
"C..Cas! m..mereka.. tolong.. Tomong mereka!!! Jangan diam saja!!!" teriak Nicky uang memberontak dari kelumpuhan ini.
Ia tak terima jika kehilangan dua teman bahkan melebihi saudara baginya saat ini. Ia tak bisa menerima itu.
Ia beralih menatap Tuan Benet yang tampak menahan sakit di dadanya dengan mata kosong melihat kepulan asap hitam itu.
"Puaaas!! Kau puaas sekarang. Ha???"
"Nicky!" tegur Castor kala Nicky terlihat mengigil menahan rasa sesak dan amarahnya pada Tuan Benet yang diam.
"Kau masih meragukan dia!!! Kau yang membuat mereka dalam bahaya!!! Kau!!! Bajingan!!!"
"Nicky." gumam Castor tahu bagaimana perasaan Nicky sebenarnya. Ia juga tak bisa menahan gejolak yang tengah berkecamuk di dalam dirinya sekarang.
"C..Cas! a..aku..aku salah, aku..aku tak berguna.."
"Tidak. Axton memilih jalannya sendiri." ucap Castor membuat mereka semua menunduk. Mereka dalam suasana yang gelap dam sendu dengan isakan Nicky yang memang tak bisa menahan perasaanya.
Ia membayangkan jika Axton adalah seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Ia tak bisa mengabaikan setiap kebaikan pria itu.
"D..Dia.. Dia itu saudaraku. Dia.. Dia itu temanku!! Aku..aku tak berguna. Aku.."
Tangisan si kecil yang di gendong Nyonya Verena seketika memekik keras membuat langit yang tadi tengah di tutupi awan gelap perlahan menunjukan cahaya rembulan yang terang.
"L..Lihat! Dia..dia bahkan belum melihat anaknya. Dia.."
"Lihat di sana!!!!"
Teriak para anggota yang ada di dalam air melihat ada seseorang yang berenang ke arah sini. perlahan mendekat dan samar-samar terlihat semakin jelas.
Ayuhan lengan kokoh yang membelah gelombang dengan sangat gagah di bawah sinar rembulan yang menerpa tubuhnya.
Mata mereka melebar dengan para anggota yang tak lagi menahan diri langsung berterjunan ke dalam laut menyongsong sosok itu.
Nicky juga syok. Ia mencengkram lengan Castor yang terlihat diam dengan sudut bibir terangkat pelan.
"Aku sudah bilang. Dia memilih jalannya sendiri."
Vote and Like Sayang..