My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Apa yang kurang?



Ntah apa yang tengah mempengaruhi Axton. Sekarang ia tak bisa memalingkan pandangannya pada gundukan selimut yang masih menutupi seluruh tubuh Kellen yang tak kunjung mau keluar dari persembunyiannya.


Ia sangat malu kala mengingat ucapan lantangnya tadi apalagi belum ada respon banyak dari Axton yang sekarang tengah memuaskan mata menatap aksi malu-malu Kellen.


"A.AX!"


"Hm."


"A..aku mau ke kamar mandi." lirih Kellen menunggu tanggapan Axton yang belum bergerak dari kungkungannya.


Dada bidang itu masih terasa di dada Kellen yang mulai gelisah. Posisi ini sangat tak nyaman baginya.


"Ax! Kau.."


Ucapan Kellen terhenti kala Axton sudah menarik selimut ini menyingkir dari tubuhnya. Seketika mata keduanya saling tatap dan kali ini Kellen di buat mau lari secepat mungkin.


Ia tak bisa berhadapan langsung dengan Axton yang tak bicara apapun tapi raut wajah dan matanya sudah mampu membuat Kellen meluap-luap.


"A.. Aku..aku mau..ke..kamar mandi dulu."


Kellen bersicepat ingin turun tapi tangannya langsung di tarik Axton hingga tubuhnya langsung terhempas masuk ke dalam pelukan hangat kekar Axton.


"A.. Ax!" gugup Kellen berpeggangan ke bahu Axton yang menatapnya datar tapi sangat berarti kasih sayang.


"Aku akan membantumu."


"A.. Apa?" tanya Kellen tergagap dengan mata amber melebar dan bibir tampak gagu ingin berbicara.


"Kakimu tengah terluka. Nyeri di perutmu juga belum sembuh."


"A.. Ouh i..ini, ini sudah..sudah sembuh, s..siapa..siapa bilang ini belum sembuh?!" gagap Kellen tersenyum kaku seakan terlihat baik-baik saja. Padahal sekarang jantungnya tengah tak aman di dalam sana.


"Sembuh?"


"I..iya.."


"Yakin?" tanya Axton dengan tatapan yang sangat misterius. Bulu kuduk Kellen benar-benar merinding melihat guratan wajah Axton.


"Dia..dia ini mau apa sebenarnya?"


Batin Kellen merasa takut. Ia merasa cemas karna baru kali ini memiliki ikatan perasaan yang intens.


"A..Ax! Sebaiknya kau kerjakan dulu pekerjaanmu, kau pasti sibuk. Bukan?"


"Tidak."


Kellen lagi-lagi menelan ludahnya berat. Jawaban Axton sangat yakin dan tak ada keraguan dari wajah tampan ini.


"M..Maksudku aku.."


"Aku tak sibuk. Tidak sama sekali." tegas Axton datar tetapi ia menikmati moment ini. Raut pucat Kellen karna menahan gugup dan malu, sangat membekas di hatinya.


Axton memang menikmati suasana ini tapi tidak dengan Kellen yang merasa terjebak. Ia tak tahan terus bersama Axton yang selalu bergerak ambigu.


"Maksudku itu, kerjakan apa yang tadi tertunda. Jadi, kau ada waktu untuk istirahat."


"Yang tertunda?"


Kellen menggangguk mulai merasa lega karna tampaknya Axton tengah berfikir. Ia bisa mempersiapkan diri untuk ujian jantung berikutnya.


"Kau benar. Ada hal yang harus di selesaikan yang sebelumnya telah tertunda."


"Yah. Begitu maksudku." jawab Kellen mengulas senyuman pelit yang nanar.


"Kau yakin. Siap?"


"Aku siap!" sambar Kellen tanpa berfikiran panjang. Ia tak menduga apa yang tengah Axton bahas itu adalah hal yang sangat mengerikan baginya.


"Benarkah?"


"Iya. Ax! Aku sangat siap, kau bisa melakukannya dan aku mendukungmu!" ucap Kellen sangat bersemangat ingin mengusir Axton dari kamar ini.


Melihat kobaran api kehidupan di mata amber Kellen. Axton tak lagi menunggu atau sekedar berbasa-basi.


"Baik!"


"Yah. Cepatlah!" jawab Kellen lega kala Axton kembali berdiri. Ia harap Axton keluar dan membiarkannya kembali bersemedi untuk sekedar mempersiapkan mental.


Namun. Seketika Kellen menyeringit kala Axton membuka jaketnya lalu melempar ke sembarang arah menyisakan kaos lengan pendek yang membalut tubuh kekarnya dengan celana Jeans yang tampak gagah.


"Mungkin dia merasa panas. Yah, mungkin saja begitu."


Bati Kellen menduga aman. Ia masih santai melihat itu dan tentu Axton menganggapnya sebagai persetujuan.


"Cepatlah. Ax!"


Lambat laun Kellen diam dan memperhatikan Axton yang membuka kaos oblongnya. Ia sempat syok dengan wajah merah melihat tubuh kekar atletis ini tak lagi memakai atasan.


"Bukankah itu terlalu seksi?!" gumam Kellen mulai berfikiran nakal. Ia mencuri-curi pandang pada roti sobek Axton yang ingin sekali ia peggang.


"Kau siap?"


"A.. Apa?" tanya Kellen tersadar dari imajinasi liarnya. Ia mengigit bibir bawahnya menahan kegelian kala otaknya tiba-tiba membayangkan seberapa perkasa benda bertuah sang Pewaris Miller ini.


"Apa aku tak cukup memancingmu?"


"A..Ax! Sebaiknya kau cepat menuntaskan urusanmu. Nanti waktunya akan mendesak." ucap Kellen tanpa sadar membuat Axton berfikiran ke arah lain.


Axton adalah pria yang selalu beependapat sendiri. Ia hanya akan melakukan apa yang menurutnya itu yang harus terjadi.


"Baiklah!"


"Yah! Cepat."


Kellen beralih ingin turun tapi seketika ia terpekik kala melihat Axton membuka resleting celananya dengan gamblang tepat di depan mata Kellen.


"Aaaaxx!!!"


Jerit Kellen yang sangat syok. Ia tak jadi turun dari ranjang dengan wajah bertambah pucat menatap wajah datar Axton yang memperlurus segalanya.


"K..kau..i..itu.."


"Ayo. Lakukan!"


"A..Apanyaaa??" pekik Kellen spontan menyilangkan tangan di kedua dadanya. Ia menatap waspada Axton yang sialnya masih begitu santai kala resleting itu sudah terbuka.


"A..Ax! K..kau ini bercanda. Ha? Aku..aku.."


"Apa yang salah?" tanya Axton melihat dirinya di pantulan kaca meja rias. Tubuhnya sudah begitu sempurna dan sangat atletis, apa ada yang kurang?


Melihat respon Axton yang begitu kaku dan tak tahu maksudnya, Kellen segera mengambil selimut lalu menutupi bagian membunjul itu.


"Pakai ini!"


"Untuk apa?"


"Pakai saja!!" sewot Kellen agak jengkel dan menahan degupan jantungnya yang terkejut.


Tak mau membantah. Axton membelitkan selimut itu ke pinggangnya, tetapi ia menurunkan celananya membuat Kellen segera mengumpat menutup mata.


"Shitt. Aax!"


"Apa?"


"J..jangan dulu! Kau ingin membuatku mati berdiri. Ha??"


Axton hanya diam. Wajahnya masih datar berfikir tenang seraya meneliti apa ada yang Kellen tak suka dari tubuhnya atau ia tak begitu menarik?


"Apa aku tak cukup bisa membuat generasi Miller yang baru?"


"Kau ini apa-apaan. Ha??" geram Kellen merasa ngeri. Axton seakan benar-benar menginginkan ia melahirkan penerus Klan dan Keluarga besar ini.


Melihat respon Kellen yang tampaknya ragu, menghadirkan pertanyaan bagi Axton. Ia ingat makian Kellen tadi yang mengatakan jika ia terlalu kaku, apa benar begitu?


"Aku keturunan terakhir! Kita harus membuat yang banyak agar generasi ini tetap ada. Kell!"


"Jadi. Kau melakukannya hanya demi meneruskan generasi Keluargamu. Begitu?" ketus Kellen mulai naik darah.


Axton dengan tegas menggeleng membantah argumentasi Kellen yang tak sejalan dengannya.


"Tidak! Aku memang ingin melakukannya agar kau tak bisa kemanapun dan tetap disini bersamaku."


Degg..


Kellen lagi-lagi di buat terbang akan ucapan jujur Axton yang selalu terus terang tak mau berbelit-belit jika dengannya.


"A..Ax! k..kau bicara seakan kau ingin membuat kue." lirih Kellen malu. Namun, ia terhenyak kala tangan Axton sudah ada di atas kepalanya.


"Aku bisa! Serahkan saja padaku."


"A.. Itu.. Nanti kita bicarakan. Sekarang, pakai kembali pakaianmu. Lalu turun untuk makan!"


Elak Kellen segera turun dari ranjang meninggalkan Axton dalam duggaannya sendiri. Pria itu beralih ke kaca meja rias melihat bentuk tubuh dan caranya memandang memang terlalu lugas dan maskulin.


"Dia tak berhasrat melihatku. Apa yang kurang?"


.....


Vote and Like Sayang..