My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kau?



Mobil hitam pekat dengan laju stabil itu sudah melewati jalan kota yang cukup ramai di lalui banyak pengendara. Malam ini terasa sangat gemerlap karna ada Festival yang di adakan setiap memperingati hari-hati tertentu.


Disneyland versi Spanyol yang heboh dengan berbagai Kartun karna hari ini semuanya bisa berpesta meriah. Namun, bukan hal itu yang memanggil mereka kesini.


Melainkan sesuatu yang tengah tersembunyi yang tak pernah di balik Hotel yang ada di sekitaran wilayah Spain.


"Ax! Kenapa di Hotel ini?" tanya Castor menatap ke arah depan dimana ada banyak pengunjung yang menginap di Hotel utama aset Miller ini.


Namun. Sedetik kemudian lampu mewah yang ada di Gerbang Hotel sana membuat Castor terhenyak beriringan dengan Nicky.


"A..Apa disini??" tanya keduanya serentak.


Axton hanya diam memilih tetap menatap kedepan dimana orang-orang mereka bisa mengenali langsung Mobil khas baja besi ini.


"Ax! Jangan bilang itu disini?"


"Hm."


"Ya Tuhan. Bagaimana bisa Lab sebesar itu ada di Hotel semegah ini?" Nicky syok menatap Castor yang berfikir.


" Aku rasa Tuan Fander punya alasan tersendiri."


"Emm.. Semoga benar begitu." gumam Nicky tak sabar untuk turun. Ia sangat berharap jika Daddynya masih hidup walau harapan itu sangat tipis.


Kala Mobil berhenti di Loby para penjaga di gerbang segera mendekat karna mereka tahu jika ini adalah Mobil Axton yang selama ini sudah di bicarakan para anggota lainnya.


"Tuan!"


Axton keluar dari mobil. Ia hanya mengangguk datar lalu memakai maskernya. Hal itu di turuti oleh Castor dan Nicky yang melangkah ke pintu utama dimana beberapa pengunjung disini memperhatikan mereka.


Dari postur tubuh Axton yang tinggi kekar membuat para wanita yang melihat jadi bersemu. Aroma parfum yang perkasa dengan aura melindungi mempesona.


"Dia siapa?"


"Dari matanya saja sudah sangat tampan."


Bisik-bisik semua orang yang melihatnya. Castor hanya diam berjalan di belakang Axton tetapi Nicky terlihat sangat senang dan mencari perhatian.


"Lihat! walaupun memakai masker, aku tetap menjadi pusat perhatian." bisik Nicky mengusap rambutnya keatas. Castor memberi sikutan kecil.


"Diamlah. Yang mereka maksud itu Axton, bukan kau."


"Cih. Axton sudah beristri! Berikan yang ini padaku."


Castor hanya membelo jengah mengikuti Axton menaiki tangga darurat di Hotel ini. Staf Resepsionis yang ingin mencegah di hentikan oleh penjaga yang bertugas.


"Itu.."


"Dia Tuan Muda!" bisiknya kecil takut di dengar orang lain. Pernyataan itu membuat wanita di sampingnya memucat. Untung saja di peringatkan, jika tidak tak tahu apa yang akan terjadi padanya?


Sementara di tangga darurat sana. Axton terus membawa Castor dan Nicky naik ke beberapa lantai sampai tungkainya mulai pegal tapi Axton tetap berjalan.


"Ax! lebih baik kita menggunakan Lift?"


"Berhentilah protes." geram Castor membuat Nicky cengengesan. Ia akhirnya pasrah mengikuti Axton yang begitu mengherankan.


Berputar-putar di tempat ini saja menyusuri beberapa dinding yang ada di unjung tangga. Axton berusaha mengingat jika ia tak salah ada sesuatu disini.


Setelah beberapa lama menganalisis dan di rasa ada beberapa yang berubah. Akhirnya Axton berhenti di pintu Gudang yang sudah tak bisa dipakai lagi.


"Ax!"


"Aku harap benda itu belum berubah." gumam Axton meraba dinding yang paling sudut lalu menginjakan kakinya tepat ke atas keramik paling bawah.


Nicky yang tadi sibuk melihat ke sekeliling tiba-tiba saja terperanjat kala lantai di bawahnya bergerak.


"Ini..."


"Axton!" gumam Castor juga terhenyak kala keramik ini turun ke bawah membuat mereka oleng tetapi Axton tetap berdiri di tempat dengan kokoh. Pertahannya sangat luar biasa dan patut di kagumi.


Kala benda ini semakin turun tatapan mereka di penuhi dengan pemandangan gelap dan berdebu. Axton bahkan menutup hidungnya menghindari serbuk debu terbang ke hidungnya.


"Ax! aku tak bisa melihat apa-apa."


"Jangan bergerak." titah Axton segera memukulkan ujung tumit sepatunya sebanyak tiga kali ke lantai hingga Lampu itu langsung menyala.


Dinding besi itu mengapit mereka seperti kotak yang mengemas produk. Disini tak di temukan hal apapun.


"Ax! Dimana Labnya? Ini hanya Kotak besi dan jangan-jangan kita di.."


"Tahan nafas kalian!"


Titah Axton menahan nafas membuat mereka juga melakukanya. Sedetik kemudian ada asap yang keluar dari sela dinding dan itu menyebar kemana-mana.


Tak mau membuang waktu lagi. Axton menapakkan tangannya ke dinding hingga mata mereka melebar kala ada semacam Kode disana.


"Apa itu kode masuk ke Lab?"


Batin mereka heran. Axton menekan beberapa angka dan dengan spontan dinding itu bergetar tertarik ke bawah beriringan dengan pemandangan di hadapannya.


Ada dua buah lorong besi yang tak tahu ujungnya dan apa isi didalam sana. Lantai yang begitu dingin dan lembab membuat suasana misterius.


"Ax!"


"Disini banyak jebakan. Asap itu adalah racun, jika sampai kotak besi tak terbuka maka. Siapa saja akan mati di dalam benda itu." jelas Axton memperhatikan setiap sudut tempat ini.


Nicky bergidik ngeri segera waspada. ia yakin tak hanya ini saja jebakan yang terpasang.


"Ax! Aku rasa lorong yang sebelah kanan itu yang asli."


"Aku rasa yg sebelah kiri." timpal Castor yakin. Tetapi, Axton tak memilih keduanya. Ia melangkah ke arah dinding satunya dengan mendorong lampu yang ada di pinggir ruangan ke dalam.


Secara otomatis dinding itu terbuka menjadi dua membuat mereka terperangah hebat. Nicky bertepuk tangan melihat ada lagi lorong besi disini.


"Ax! Dua lorong itu untuk apa?" tanya Castor keheranan.


"Itu hanya untuk pengecoh. Jika sudah menginjak lantai di kedua lorong itu maka semua senjata yang sudah di pasang akan lepas keluar. Pintu lorong di tutup dan akan ada mesin penggilingan dari atas dan bawah." jelas Axton membuat keduanya menelan ludah. Kaki itu jadi ragu untuk menginjak kedepan.


"Kecuali ini."


"Syukurlah." gumam Nicky mengikuti Axton kedalam. ia hati-hati mengusap dinding besi ini terus berjalan kedepan hingga berkelok ke lorong samping.


Ada satu pintu di depan sana dimana cahaya cukup terang redup untuk melihat lebih jauh.


"Ayo kita kesana." ajak Nicky berjalan mendahului Axton tetapi tiba-tiba saja ia melihat peggangan pintu tampak rusak.


"Ax!"


Axton hanya diam melihat keadaan ini lebih jelas. Cahaya yang redup tetapi masih membuat Axton melihat ada rona-rona darah yang mengering di pintu ini.


"Ax! Kenapa bisa ada darah?"


"Jangan-jangan.."


Castor menghentikan kalimatnya karna Axton sudah melesat ke arah pintu. Ia meraba permukaan besi ini dan benar saja jika ada jejak tangan yang berdarah disini.


"Ini tak ada sebelumnya." gumam Axton benar-benar berdebar. Ia segera menekan jempolnya ke arah Kartu pendeteksi dan suara mesin pintu mulai bergerak.


Ketebalan baja ini sangat kuat dan tak bisa di tembus dengan peluruh jenis apapun.


Pintu perlahan terbuka membuat mata mereka melebar melihat sesuatu di dalam sana. Tempat yang begitu luas dengan berbagai peralatan dan Teknologi ada disini.


Tabung-tabung besi besar melilit ke atas sana dengan Mesin-mesin medis yang tak beroperasi. Berbagai warna cairan bahkan teknologi yang langka itupun ada disini.


"L..Luar biasa." decah Castor dan Nicky terkagum-kagum.


Semuanya seperti ruang penelitian besar dan baru kali ini mereka melihat Lab yang sepadat dan sebagus ini.


Namun. Bukan itu yang Axton perhatian, ia menyusuri tetesan darah yang mengering di mar-mar putih ini masuk ke dalam lebih jauh.


"Apa ada orang disini???"


"Daddyy!!!" teriak Nicky berharap jika pria menyebalkan itu ada disini. Mereka berpencar mencari di setiap ruangan luas dan lengkap itu.


Axton mencari ke arah ruangan Observasi tetapi tak ada orang. Tetesan darah yang ia ikuti itu mengarah ke ruangan darurat.


Jantung Axton sudah berdebar kuat tak mengikuti arah petunjuk ini hingga satu langkah lagi ia sampai ke ruangan itu.


Namun. Tiba-tiba saja aroma busuk dari sini tercium, ia terhenti dengan nafas memburu dan pikiran melayang.


Apa pria itu sudah..


Axton menggeleng tak mau membayangkannya. Untuk sejenak Axton mengumpulkan keberanian yang sungguh tak sanggup melihat jika itu memang benar.


Kala sudah siap. Akhirnya Axton perlahan melangkah ke arah sana dengan jantung memberontak keras. Semakin ia mendekat rasanya bau itu semakin tercium dan..


Duaaarr..


Axton berpeggangan ke dinding dengan mata kosong melihat apa yang sekarang sudah terpampang di matanya.


"Aaax! Kau menemukan sesuatu?"


Suara Nicky terdengar dari belakang. Ia berjalan dengan Castor mendekat ke arah Axton yang masih mematung di tempat tampak lemas.


"Ax! Ada ap.."


Axton langsung berbalik dengan mata merah membuat mereka keheranan. Ini sesuatu yang tak baik.


"Ax! Kenapa wajahmu pucat?"


"Kau.."


"Hm." Axton menggeleng melangkah pelan mendekati mereka berdua. Nicky tak mengerti apa yang membuat Axton sampai berkeringat dingin.


"Ax! Kau menemukan sesuatu? Atau.."


"Tidak ada." jawab Axton tak mau kedua temannya melihat itu. Ia saja sudah gemetar dengan tatapan yang keras.


"Ax!"


"Tidak ada. Ayo pergi!" ucap Axton menghalangi tetapi Nicky dan Castor tak puas. Mereka dengan cepat melangkah kedepan sana membuat Axton memejamkan matanya.


"Ax! Sebenarnya ada ap.."


Sebelum kalimat Nicky berakhir. Pria itu segera terkejut bersama Castor yang melebarkan matanya melihat ada dua tengkorak manusia yang tergeletak di atas lantai dengan baju yang mereka kenal.


Nicky terduduk bersama Castor dengan mata mulai menggenang dan semua tulang di persendiannya terasa lemas dan patah.


"I..itu.."


Air mata mereka lolos membayangkan jika pakaian ini adalah milik seseorang yang saat itu pergi berpamitan ingin ke Kediaman Miller.


"T..tidak.. Ini.. A..Axton.. Kau.."


Nicky menggeleng menatap Axton yang mengepalkan tangannya tak mau melihat kebelakang. Ia tahu ini sangat berat dan mengguncang.


"A..Ax! Ini.. I..ini bukan.. Bukan m..mereka.. Ini..A..Ax. Kau..KAU JANGAN DIAM SAJA!!!" teriak Nicky di akhir kalimatnya karna tak kuat melihat ini.


Castor juga tak bisa bertahan langsung merangkak menjauh membuat Nicky syok hebat.


"A..Aax!! Kau..kau katakan sesuatu. Itu.. Itu bukan pria payah itu, kan?? JAWAAB!!"


"Nicky!" panggil Axton tetapi Nicky sudah menangis hebat. anak mana yang tak akan menggila melihat kondisi pria yang terpenting dalam hidupnya bisa sampai begini?


"Kenapa??? Kenapa kau pergi malam itu?? Kenapa kau pergi dengan cara seperti ini. Ha???"


Axton menguatkan dirinya sendiri lalu mendekati Nicky yang tampak sangat terpukul bersama Castor yang menunduk dengan linangan air mata. Bagaimanapun kuatnya, mereka tetaplah seorang manusia.


"Kenapa??? Kenapa kau melakukan ini??"


"Ini bukan kemauan mereka." gumam Axton masih dengan kepalan tangan yang menguat. Disini hanya ada dua tulang-belulang. Dimana Tuan Fander?


"Kenapaa??? Kenapa kalian selalu membuatku tak mau hidup???"


"Ini salahku!"


Deegg..


Axton terdiam kaku kala ada suara di belakang mereka. tiba-tiba saja ia terasa kaku merasakan jika aura ini sangat Familiar.


"K..kau.."


....


Vote and Like Sayang..