
Setelah cukup lama menunggu Axton keluar dari kamarnya. Nicky dan Castor memutuskan untuk ke Atap Markas melihat suasana malam yang semakin membekukan tulang ini.
Langit di atas bangunan seperti Rubik tampak tak terlalu indah karna rona gelap pucat tanpa kerlipan bintang sama sekali.
Badai masih berlangsung. Deru angin yang kuat tak bisa di hindarkan beserta turunnya serbuk putih yang tak kunjung mengurai di permukaan benda disini.
"Jadi begitu?" tanya Castor yang berdiri tepat di samping Nicky yang menceritakan semuanya.
Mereka tengah dibaluti Mantel hangat tebal yang juga dihinggapi serbuk putih itu.
"Yah! Aku juga belum tahu pasti tapi yang jelas data keberadaanya disana."
"Kau yakin?" tanya Castor masih memastikan tapi Nicky memandangnya dengan sangat serius. Helaan nafasnya muncul menandakan itu sangat melelahkan.
"Aku tak tahu apa itu memang dia atau tidak, tapi. Semua data dan penyelidikannya memang tertuju pada orang itu."
"Ini sangat menyusahkan." gumam Castor memejamkan matanya untuk sekedar menikmati dinginnya udara malam ini.
"Apa yang menyusahkan?"
Seketika keduanya menoleh kebelakang. Nyatanya Axton sudah datang dengan pakaian hangat yang sudah membalut tubuh kekarnya.
"Kau sudah selesai?"
"Hm."
Axton melangkah mendekati keduanya. Ia berdiri di tengah-tengah Nicky dan Castor yang berdiri di tepi Atap tertinggi Markas.
Semua pemandangan lampu dan sekitar tempat ini bisa di lihat jelas.
"Katakan!"
"Ax! Aku melakukan penyelidikan pada data seseorang yang ada di Negara Kellen."
"Lalu?" tanya Axton menatap lurus kedepan. Raut wajahnya masih tenang menunggu penjelasan Nicky yang menghela nafas berat.
"Sulit di percayai tapi itu adanya. Dia terlibat dalam masalah ini. Aku mengumpulkan semua datanya dan aku juga berusaha agar tak memfokuskan dia tapi..."
"Jangan berbelit." tegas Axton membuat Nicky tak bisa menahan diri.
"Tapi itu memang mengarah padanya. Dia hanya tinggal disana hanya beberapa tahun ini dan di tahun kejadian itu dia tak tinggal di tempat yang sama."
Axton diam mendengarkan dengan baik. Castor melihat tak ada raut marah atau sekedar kebencian di wajah Axton. Ada apa sebenarnya?
"Ax! Kau harus mengambil tindakan, kita tak bisa hanya diam saja."
"Aku tahu."
Jawab Axton telah memutuskan sendiri. Cepat atau lambat ia juga akan merasakan ini kembali, rasa sakit itu tak akan lari darinya.
"Ax! Aku mengerti perasaanmu, tapi kita tak punya pilihan lain."
"Maafkan aku." timpal Nicky menunduk merasa ini sangat berat bagi Axton. Pastinya pria ini akan menjadi korban kembali.
Axton mengepalkan tangannya kuat. Ia mencoba tetap tenang walau sekarang dirinya ingin meninju wajah seseorang.
"Apa kau akan tetap melanjutkan rencananya?"
"Cas!" sambar Nicky menatap tajam. Ini bukan waktunya menanyakan hal seperti itu di tengah kondisi Axton yang tak memungkinkan.
"Maaf. Tapi kita tak bisa menunggu lagi, Kejayaan Keluarga Miller dan Klan kita harus segera di selamatkan."
"Tapi..."
Kalimat Nicky terhenti kala Axton sudah melangkah pergi kembali ke pintu sana. Jelas pria itu tengah tak baik-baik saja.
"Lihat!! Kau melukai perasaan Axton!!"
"Aku hanya ingin Axton mengambil keputusan tegas. Kau ingin ada di posisi ini terus. Ha??" bantah Castor mencengkram kerah Mantel Nicky yang tak bisa menjawab perkataanya.
Alhasil keduanya kembali menyusul kedalam mencoba untuk tetap menangkan Axton agar tak terlalu tertekan.
Melihat mereka sudah pergi. Seseorang yang sedari tadi mengamati dari balik dinding Atap itu keluar dengan Topeng menutupi wajah misteriusnya.
"Kau tak akan bisa lolos dari lembah gelap yang sama." desisnya lalu meloncat ke bawah sana.
Ia menghubungi seseorang yang sedari tadi menunggu laporan darinya.
"Tuan!"
"Katakan!"
Terdengar tawa lebar di seberang sana membuat ia sangat bahagia. Kejadian masa lalu lambat laun akan terulang kembali dan itu sangat menyenangkan.
"Sudahku duga! Ayah dan anak memang tak jauh berbeda."
"Anda benar! Dia memang mencintainya."
Jawab pria itu lalu menerima perintah lagi. Ia meloncati beberapa bangunan untuk keluar dari wilayah Markas ini.
Para anggota yang tengah berjaga di depan sana tak menyadari keberadaanya. Sangat beruntung para anggota yang di masukan Johar itu begitu lamban.
"Dilihat dari sisi apapun kita akan menang. Tuan! Para anggota baru disini sangat tak berguna."
"Itu yang-ku mau! Buat mereka menjadi sampah dan bidak caturku."
"Baik!"
Pria bertopeng dan berjubah hitam itu menghilang diantara kegelapan dan pohon-pohon lebat yang tertimbun salju di sekitar Markas.
Sementara di dalam sana. Axton tengah ada di ruangan menembak yang nyatanya tak begitu banyak berubah.
Tempat luas dengan berbagai senjata ada disini membuat semuanya menjadi mudah. Tentu, ini sangat mendukung Axton yang tengah dalam suasana tak baik.
Ia mencoba berbagai senjata disini termasuk Pistol Glock-20 yang terus ia bidikan ke sasaran yang jauh dari netra tajamnya.
"Apa Axton di dalam?" tanya Nicky yang tadi menyusul pada Vacto.
Pria itu berdiri di ambang pintu menatap kedalam sana. Dengan begitu saja Nicky sudah tahu jika Axton mengalihkannya kesini.
"Ada apa? aku tahu dia tengah tak baik-baik saja."
"Begitulah." jawab Nicky memandangi Axton yang menembak bertubi-tubi tepat sasaran. Target yang di buat di depan sana sudah hancur akan timah panas yang terus ia hunjamkan.
Wajah Axton mendingin dan mata membara. Ia tak puas dengan satu senjata dan melempar benda itu ke lantai. Alhasil semuanya berantakan ke bawah sana.
Dalam kondisi ini tak ada yang akan mendekat. Nicky juga tahu akibatnya jika ia nekat ke sana.
"Biarkan dulu dia tenang. Setelah itu baru kita bicarakan."
"Baiklah." jawab Vacto mengangguki itu. Ntah apa yang terjadi sampai Axton meluapkan emosinya dengan melatih dirinya sendiri.
Nicky menunggu bersandar ke dinding bersama Vacto yang juga sama. Mereka hanya mendengarkan suara tembakan keras itu dan berlangsung sangat lama.
"Nicky!"
Ia segera menoleh hingga terperanjat kala melihat siapa yang melangkah kesini. Vacto-pun sama, keduanya saling pandang rumit.
"Kau..."
"Siapa yang menembak malam-malam begini?" tanya Kellen yang baru saja bangun karna tak bisa tidur terlalu lama. Ia merasakan dingin dan jelas Axton sudah keluar kamar.
"Sebaiknya kau kembali! Ini sudah larut."
"Dimana Axton?" tanya Kellen merasa aneh. Ia sedari berjalan kesini juga merasa tengah di awasi dan sangat tak nyaman keluar dari kamarnya.
"Kell! Sebaiknya kau ke kamar."
"Kenapa? Aku ingin melihat kedalam." jawab Kellen melangkah mendekat dengan hati-hati karna lukanya masih terasa sakit.
Di sepanjang kaki jenjang itu melangkah maka Kellen beberapa kali melihat kebelakang. Ia merasa jika ada seseorang atau lebih yang tengah mengawasi.
"Kellen! Ayo aku antar ke kamarmu."
"Kenapa?? Apa yang terjadi??" bantah Kellen menepis tangan Nicky yang tampak berat dan tak seceria biasanya.
"Jangan bilang kau menyembunyikan kebohongan lainnya! Kalian memang ingin mempermainkan-ku. Ha??"
"Aku..."
"Biarkan dia masuk!"
Suara dingin itu membuat Nicky tercekat. Ia menahan lengan Kellen tetapi wanita ini kekeh melangkah kedalam sana.
Saat kaki Kellen sudah menginjak lantai di depan. Maka dari situlah suara tembakan dari dalam menggelegar ke luar.
"Aaaaxx!!!"
.....
Vote and Like Sayang..