
Tatanan makanan dan satu tablet obat pusing itu sudah Kellen dapatkan dari kepala pelayan yang tadi membantunya mencari obat ini. Maklum saja, Kellen tak tahu betul bagaimana kondisi Kediaman dan seluk beluk bangunan besar itu.
"Terimakasih sudah membantuku."
"Tak apa, Nona!" jawab Yagatri seorang Maid yang bekerja sudah lama disini.
"Aku pergi dulu. Sekali lagi terimakasih."
"Iya. Nona!"
Yagatri memandangi Kellen yang melangkah ke arah pintu samping Kediaman. Untung saja pagi ini Nyonya Verena tak ada di Kediaman termasuk Martinez yang tengah ada di Perusahaan atau ntah di tempat yang lainnya.
"Semoga Axton tak marah padaku." gumam Kellen melangkah cepat ke arah taman.
Ada beberapa penjaga di samping koridor yang menatap Kellen dengan pandangan yang rumit membuat Kellen heran tapi ia berusaha tetap acuh melangkah maju.
Saat sudah sampai ke area taman. Kellen menautkan alisnya saat tak ada melihat Axton yang tadi ia tinggalkan di tepi kolam ikan itu.
"Aaax!"
Panggil Kellen melihat ke sekelilingnya. Ia menatap kearah pancuran Singa sana dan tak ada sosok kekar itu untuk di lihatnya dalam.
"Aax! Kau dimana?"
Kellen memilih pergi ke arah bangunan kecil kamarnya tak jauh dari sini. Ia berfikir jika Axton pasti ada di dalam sana.
Namun, saat tiba di depan pintu kamar Kellen terhenti karna pintu ini masih tertutup rapi dan tak ada bekas atau tanda Axton yang masuk secara kasar seperti biasa.
"Aax! Apa kau di dalam?"
Tanya Kellen mendorong pintu itu dengan kakinya seraya menekan gagang dengan satu tangan masih menahan nampan.
Ia meloloskan kepalanya di sela pintu melihat ke dalam kamar yang masih rapi dan tak ada sosok tampan itu. Perasaan Kellen mulai berkecamuk tak menemukan Axton.
"Kemana dia? Tak mungkin di tinggal sebentar saja sudah pergi kemana tempat." gumam Kellen masuk ke kamar lalu meletakan Nampannya diatas ranjang.
Ia beralih keluar ingin menemui Castor yang tadi tak ada di Kediaman.
"Aax!! Kau dimana??"
Panggil Kellen lagi dengan suara agak keras menyusuri area taman sampai akhirnya ia bertemu Castor yang mendengar suaranya.
"Ada apa?"
"Axton! Tadi aku meninggalkannya disini karna ingin mencari obat pusing untuknya, tapi dia sudah tak ada."
"A..Apa?" gumam Castor terperanjat. Guratan wajahnya mulai cemas karna di setiap sudut Kediaman Miller ini adalah maut bagi Axton.
"Aku sudah mencarinya ke sekeliling tempat ini, tapi tak ada. Cas!"
"Aku akan mencarinya."
Kellen mengangguk membiarkan Castor melangkah kembali ke Kediaman. sedangkan Kellen pergi ke area belakang karna tak mungkin Axton pergi jauh dari sini.
"Aaax! kau dimana??"
Suara Kellen mengalun tapi tak ada jawaban. Langkah kaki Kellen sudah membujur di mana sudut hingga raut wajah cantik wanita ini benar-benar khawatir.
"Aax! Maafkan aku, aku terlalu lama." gumam Kellen terhenti di dinding belakang.
Namun. Matanya terpaku kala melihat Tangki air yang pecah ke bawah dengan patahan pipa di belakang cukup besar.
"K..Kenapa ini?" gumam Kellen mendekat ke arah Tangki sana. Ini seperti di tendang dan di dorong kuat hingga jatuh ke bawah.
Tiba-tiba saja perasaan Kellen jadi gusar tak menentu. Ia yakin ini ulah Axton tapi dimana pria itu?
"Aax!!! Ax, kau disini?"
Panggil Kellen menatap kesemua tempat. Dengan panik ia mencoba mencari ke area belakang dekat perkebunan yang tak jauh dari sini.
"Aaax!!! Kau dimana??"
Teriak Kellen memanggil. saat sudah sampai dekat pohon perkebunan, Kellen tersigap saat melihat seseorang yang tengah bersandar di ujung sana dekat pemberhentian Kebun.
"I..itu.."
Kellen yakin itu Axton. Dengan berlari kecil Kellen mendekat ke sana berpacu dengan degupan jantungnya merasa cemas dengan pria ini.
"Aax!! Itu.. Itu kau?"
"Ax! Kau..."
Kalimat Kellen terhenti kala merasakan leher Axton panas dan berkeringat. Alangkah terkejutnya wanita itu kala melihat wajah pucat Axton yang tampak memejamkan matanya dengan guratan lemah.
"A..Ax! Kau..kau kenapa?"
Axton hanya diam dengan keringat dingin merembes ke bagian lehernya. Pandangan netra elang itu sayu menatap kabur Kellen yang begitu cemas.
"Ax! Kau..kau kenapa?"
"K..Kell." gumam Axton refleks menyandarkan kepalanya ke perut Kellen yang sungguh di landa kekhawatiran yang membuncah.
"Ax! Kau..kau jangan menakuti-ku!!"
"K..Kell."
Lirih Axton mengendus aroma Vanilla di perut Kellen yang terkejut kala melihat telapak tangan Axton penuh darah.
"Aaax! Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?" syok Kellen memeggang telapak tangan kekar ini. Wajah Axton semakin pucat dengan deru nafas yang sendat ntah menahan sesuatu yang merasuki sukmanya.
"K..Kell!!"
"Castoor!!! Castooor!!!" teriak Kellen memanggil Castor seraya menyangga tubuh Axton yang terasa panas dingin.
Bibir pria ini memucat bergetar kala rasa pusing di kepalanya kembali melanda.
"Bertahanlah. Aku..aku akan membawamu ke Dokter."
"I..itu.. K..Kell." racau Axton mencari sesuatu di tubuh Kellen. Ia terlihat gusar dan sangat tak tenang membuat Kellen tak bisa diam saja.
"Ada apa? kau..kau kenapa?"
"Kell!!!"
Axton mendorong Kellen menjauh darinya membuat tubuh wanita itu terhuyung ke belakang dengan kasar.
"A..Ax! Kau..kau kenapa?" gumam Kellen tak tahan dengan ini semua. Wajah Axton semakin linglung mencengkram rambutnya sendiri.
"Aax!!"
"P..Pergi!! Pe..pergi!!!"
Gumam Axton tak mau Kellen mendekatinya. rasa marah, emosi bahkan ia ingin menghancurkan apapun di hadapannya itu berputar di kepala Axton.
"A..Ax! Dengarkan aku, kau..kau akan baik-baik saja."
"Pergi!!!!!" bentak Axton tak mau. Ia ingin memukul Kellen agar memberinya sesuatu yang bisa meredakan rasa sakit di kepala dan seluruh tubuhnya ini tapi ia masih setengah sadar untuk melakukan itu.
"Ax! Jangan begini, kau perlu di obati."
"Pergi!!! Pergi!!!"
Kellen mematung diam. Ia tak tahu harus berbuat apa melihat Axton yang merapat ke dekat tiang tempat duduk ini. Wajah frustasi dan menahan itu terlihat begitu menyiksa.
"Ax! Tenanglah kau.."
"Kellen!!"
Tiba-tiba Castor datang menahan bahu Kellen untuk mendekati Axton yang terlihat memukul kepalanya.
"Cas! Apa..apa yang terjadi pada Axton? Kenapa tangannya berdarah dan kenapa
Kenapa dia menjauhiku?"
"Dia.."
Castor menjeda ucapannya kala melihat Axton menahan diri untuk tak menyakiti Kellen yang tak tahu akan hal ini.
"Dia dalam pengaruh obat itu."
"A..apa?" gumam Kellen terhenyak kala mendengar jawaban Castor. Jika memang begitu, lalu kenapa ada darah di tangan Axton? Darah itu jelas bukan dari luka di bagian apapun dari dirinya.
.....
Vote and Like Sayang..