
Masih di tempat yang sama. Baja-baja besi yang menjadi penyusun utama ruangan ini terasa sunyi mengikuti alunan kekosongan dari mata para pria muda yang melihat ke arah suara. Alunan yang benar-benar terasa familiar dan masih membuat mereka membisu.
Axton diam. Dengan mata tak berkedip sama sekali seakan jika ia melakukan itu maka sosok ini akan hilang dari hadapannya.
Pria paruh baya yang berjambang tebal dengan rambut panjang sebahu. Pakaian yang begitu lusuh dan nyaris tak bisa mereka kenali.
"K..Kau.."
Axton tergagap mendekat seraya memindai penampilan sosok ini. Ia tak percaya jika ini adalah seseorang yang selama ini ia cari.
Kantung mata dan tatapan yang sama datarnya tapi tak ada gairah hidup.
Ada genangan air di pelupuk netra tua itu. Ia melihat siapa yang sekarang sudah ada di hadapannya. Bibir yang mirip dengan seseorang yang sudah membawa separuh jiwanya pergi.
"K..kau.."
"Kenapa kau kesini?"
Pertanyaan itu membuat kedua tangan Axton terkepal dengan mata mengigil hebat. Ia melihat tangan kiri pria ini sudah tak ada dan apa yang terjadi sebenarnya.
"Kau masih berani bertanya.."
"Apa yang-ku takutkan?!"
Lagi-lagi Axton diam merasa tertusuk. rasa sesak itu memenuhi dadanya dan amarah yang tiba-tiba menggebu hebat.
"Pergilah dari sini!"
"Kauuu!!!" Axton mengangkat tinjuannya ke arah wajah tua ini membuat Nicky dan Castor syok.
"Axtooon!!!"
Kepalan tangan Axton yang kasar terhenti tepat berjarak sehelai kertas menubruk wajah pria ini. Dorongan angin yang ia bawa membuat tekanan yang cukup membuat nyali ciut.
"Axton! Jangan lakukan itu." cegah Castor berdiri di belakang Axton yang bersitatap membunuh dengan pria ini.
Manik elang pria tua itu bergetar dengan bibir menipis samar. Perasaannya tengah di hangatkan bisa melihat bagian dari dirinya itu sudah sebesar ini.
"Kau tumbuh dengan baik." Batinnya langsung berbalik kala cairan bening itu hampir jatuh. Axton juga sama. Ia berbalik mengepalkan tangannya menahan sebuah rasa yang tak terjabarkan.
"K..kau masih hidup. Tetapi bersembunyi disini." geram Axton benar-benar benci dan muak. Ia melewati hal yang sangat mengerikan dalam hidupnya dsn ia butuh sosok ini tetapi dengan teganya melakukan hal sekejam itu.
"Jika kau masih hidup, kenapa kau tak menemuimu???? Kau bahkan pergi tanpa memberi kabar apapun!!!"
"Ax!" lirih Castor memeggang bahu Axton yang meninju dinding besi ini sampai berdengung.
Perkataan Axton bagaikan pisau yang menusuk jantung pria itu. Matanya yang berkaca-kaca melirik ke arah tangan kirinya, ada seulas senyuman yang nanar tertera bebas.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Kauu.. Kau setidaknya menunjukan wajahmu. Pria payaah!!!" bentak Axton menyala-nyala membuat sosok itu menundukan kepala keangkuhannya. Ia sudah tak lagi bisa keluar menatap dunia ini.
Hidupnya sudah tak ada arti dan ia hanya bertahan demi permintaan terakhir istrinya.
"K..kenapa?" lirih Axton berbalik dengan mata sudah merah mengigil. Rasanya sakit, saat orang yang ia harapkan akan datang padanya malah menghindar seakan tak ada hubungan apapun.
"Apa aku penting hidup atau tidak?"
"Kauuu.."
"Kau tahu sendiri siapa yang telah membawa hasrat hidupku."
Axton terdiam membisu. Pria itu berbalik dengan tatapan datar namun ia sangat mengagumi pertumbuhan Putranya.
Ia melihat ada sosok wanita yang begitu berarti baginya di belakang Axton yang tampak berusaha menahan diri.
"Saat dia pergi duniaku sudah tiada, aku tak bisa melakukan apapun selain menunggu saat bersamanya. hanya itu." imbuh Tuan Fander menipiskan senyuman.
Ia selalu melihat perkembangan Axton tetapi enggan untuk mendekat. Ada batasan besar yang membuatnya tak ingin lagi berurusan dengan hal seperti itu karna ia tahu.
Ada seseorang yang bisa melakukan pembalasan itu lebih baik darinya. Dan itu adalah AXTON.
"U..Uncle! I...itu.."
Nicky berdiri dengan gemetar menunjuk ke arah ruangan di belakang. Tuan Fander memandangnya penuh penghormatan dan rasa bangga.
"M..mereka.. Mereka itu.."
"Saudaraku!"
"T..tapi.. Kau..kau masih hidup dan.. Dan mereka.."
Tuan Fander menghela nafas dalam. Ia melihat Castor dan Nicky bergantian hingga pikirannya terbayang pada Julius dan Caseno. Masing-masing dari anak Sahabat sejatinya itu telah menurunkan kemiripan kecil.
"K..kenapa p..pria payah itu? Dan.."
"Mereka meninggal karna menjagaku!" jawab Tuan Fander membuat keduanya kembali diam. Rasa kelut dan kesedihan itu tak bisa di jabarkan sama sekali bahkan keduanya tampak terpukul hebat.
"Mereka yang membawaku kesini dalam keadaan yang kritis. Keduanya adalah Sahabat terbaikku dan sampai akhir mereka tetap memikirkan kalian."
"D..Daddy." gumam keduanya merasa sangat merindukan sosok keras itu. Nicky membayangkan sikap konyol Ayahnya dan Castor terfikir akan aturan keras dari pria itu.
"Aku tak berharap kalian kesini."
"U..Uncle!" gumam Castor kala Tuan Fander bertolak pergi.
Ia beralih memandang Axton yang diam terlihat menormalkan deru nafasnya dan gejolak batin yang membeludak.
"A..Ax!"
"Kalian ingin menguburnya dimana?" tanya Axton mengusap matanya dan terlihat kembali bersikap tegas.
Walau ia paham perasan Nicky dan Castor bagaimana? Tetapi, ia tetap harus mengambil keputusan cepat.
"A..Ax! B..bisakah m..mereka di kuburkan di dekat Makan Mommyku?" tanya Nicky bergetar tetapi diangguki Castor. Mereka tahu, para pria payah ini tak akan bisa jauh dari istrinya.
Melihat itu tanpa ada jawaban lain Axton segera mengangguk menepuk bahu kedua rekannya.
"Kalian bebas menentukan!"
"Terimakasih." gumam Nicky mengambil nafas dalam untuk menormalkan dirinya. Ia memang seorang Psikolog hingga dalam beberapa saat ia bisa tenang.
Axton memilih pergi untuk menyusul Tuan Fander yang nyatanya berdiri di dekat sebuah Tabung besi tebal membelakanginya.
"Terserah apa itu alasanmu. Aku juga tak perduli."
"Hm. Pergilah!"
Perintah itu sama arogannya seperti dulu. Sumpah demi apapun Axton sangat merindukannya tetapi ego yang besar diantara keduanya tak lagi ada yang menetralkan.
"Aku tak perduli kau pergi kemanapun itu tetapi, temui Makam Mommyku."
Sudut bibir Tuan Fander terangkat. Sepertinya Axton terlalu sibuk sampai tak melihat Makam yang selama ini selalu ia jaga.
"Jangan memerintahku! Sempatkan waktumu untuk mengunjunginya."
"Kauuu.."
Axton menahan kegeramannya. Ia berbalik ingin pergi tapi, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Kala melihat nama yang tertera di sana. Axton memejamkan matanya sejenak untuk menormalkan suara dan keadaanya.
"Yah?"
"Ax! Apa kau baik-baik saja? Sayang!"
Suara lembut penuh guratan kecemasan dari wanita itu membuat Tuan Fander membisu. Ia tahu Axton sudah mencintai sosok wanita yang membuat dirinya bisa memberantas pengkhianat sialan itu. Dan ia sangat penasaran bagaimana sosoknya?
"Aku baik-baik saja."
"Kau marah? Kenapa bicara seperti itu?"
Axton menghela nafas dalam. Ia terlalu terbawa suasana sampai tak bisa bersikap biasa saja.
"Aku baik-baik saja. Besok aku pulang, jaga dirimu baik-baik."
"Hm. Aku dan Baby menunggumu."
"Hm. Aku mengerti."
Jawab Axton mematikan sambungan. Tuan Fanser terdiam lama. Apa wanita itu sudah melahirkan? Ia sudah punya cucu?
"Urus dirimu dengan baik. Mommyku akan datang menarik jenggotmu." ketus Axton melangkah pergi.
Tuan Fander tak bicara apapun. Ia mengusap dua cincin pernikahan di jarinya membayangkan bagaimana senangnya Nyonya Dezee mendapat kabar ini.
"Kau percaya Sayang? Putra kesayanganmu itu sudah jadi ayah." gumamnya mengusap tetesan bening yang keluar bebas.
...
Vote and Like Sayangku..