
Nyonya Verena telah kembali ke Kediaman. Wanita itu pulang membawa Martinez yang sudah di perbolehkan pulang.
Namun. Mereka di buat syok kala menemukan Tuan Redomir tengah terbaring tak berdaya diatas sofa ruang tamu.
Pria itu di bawa oleh para penjaga dan telah di periksa Dokter. Keadaanya termasuk parah karna luka tusukan itu mengoyak bagian kulit terdalam.
"Kenapa kau bisa begini. Ha??" tanya Nyonya Verena dengan nada agak ketus. Ia juga tak suka akan keberadaan Tuan Redomir yang selalu memerasnya.
Pria paruh baya dengan jambang agak lebat itu meringis kala rasa sakit di perutnya kembali hadir. Untung saja ada penjaga yang bersedia membantunya, jika tidak maka sudah di pastikan Tuan Redomir tak akan bisa selamat.
"Kau bukannya melayaniku tapi berceramah."
"Cih. Datang-datang kau sudah begini." decih Nyonya Verena angkuh. Tuan Redomir tak membalas umpatan itu karna ia juga tengah membutuhkan wanita ini.
"Siapa wanita yang cantik itu?"
"Sudahi bualanmu. Aku jijik mendengarnya." maki Nyonya Verena duduk di sofa singel tepat di hadapan Tuan Redomir yang susah bergerak.
Pria itu sepertinya punya maksud tersendiri sampai menanyakan hal ini.
"Aku serius! Wanita cantik yang ada di bangunan belakang."
"Ada apa kau dengannya?" tanya Nyonya Verena bukan karna cemburu. Ia tak ambil pusing soal pria ini tapi Kellen itu sangat berbahaya.
Saat melihat raut benci Tuan Redomir. Seketika Nyonya Verena paham akan luka yang tengah di derita suami tak tahu dirinya ini.
"Jadi kau..." ia menahan kekehan yang sangat miris.
"Tutup mulutmu."
"Kenapa? Dugaanku tak meleset. Redomir! Kau pasti di tusuk olehnya, bukan?" sinis Nyonya Verena berkata angkuh. Jelas Kellen tak akan sungkan melakukan itu, pada Martinez dan ia saja Kellen berani apalagi hanya Redomir si pria tua bangka ini.
"Dia ancaman bagimu. Bukan?"
"Yah. Tapi jika dia melakukan ini, aku sangat senang." jawab Nyonya Verena bertopang kaki elegan.
Tuan Redomir menggeram hebat. Urusannya dengan wanita ini cukup rumit tapi untuk membalaskan sakit hati dan fisiknya, ia tak boleh gegabah begitu saja.
"Tujuan kita sama!"
"Maksudmu?" Nyonya Verena menarik alisnya naik tanda tak mengerti.
"Aku akan membantumu menghancurkannya."
"Ouhh Redomir! Kau sangat licik rupanya."
Desisan Nyonya Verena menggeleng sangat paham itu. Ia tahu Redomir hanya akan memanfaatkannya untuk menghancurkan Kellen lalu kembali menikamnya seperti dulu.
"Kau pikir aku percaya pada lintah tua busuk sepertimu?!"
"Kau jangan terlalu percaya diri. Verena!"
Geram Tuan Redomir seraya terus menahan sakit. Sialnya ia tak bisa banyak bergerak apalagi duduk beralih tempat.
"Aku sudah tak mau bekerja sama dengan pria sepertimu. Urus dirimu sendiri." beralih berdiri ingin meninggalkan ruangan ini.
"Rahasiamu aku memeggangnya!"
Seketika langkah Nyonya Verena terhenti. Wajah wanita itu mengeras dengan kepalan yang menguat. Ia menyumpah sial karna melibatkan Redomir dalam rencana besarnya dulu.
"Aku akan mengatakan pada seluruh musuhmu bahwa.."
"DIAM KAU!!!" bentak Nyonya Verena berbalik memandang murka Tuan Redomir yang terkekeh pelan melihat respon ini.
"Verena! Kau itu sudah dalam zona jangkauanku. Sayang!"
"Jaga bicaramu. Dan aku tak akan mengampunimu, sialan!!" umpat Nyonya Verena menggertakan giginya pertanda marah besar.
"Ada apa? Kau takut, kenapa harus takut. Hm? Lepaskan saja semuanya dan kau akan hidup bebas. Tak perlu kau mem.."
"Apa maumu?"
Seketika senyum puas Tuan Redomir mekar. Ia benar suka akan wanita satu ini.
"Bantu aku mengurusi wanita itu dan buat dia menyerahkan diri padaku."
"Baik! Tapi TUTUP mulutmu."
"Tentu Sayangku!"
Nyonya Verena langsung melangkah pergi. Tawa Tuan Redomir pecah seakan tak waras mengingat wajah kesal wanita paruh baya ini.
"Verena.. Verena! Kau mencoba menipu tapi tak bisa denganku. Cihh, sangat malang."
Gumamnya bangga. Ia kembali menikmati Bir segar di botol itu seraya menghidupkan televisi.
Siulan yang berkumandang tak bisa lepas dari Tuan Redomir yang menikmati hari-harinya.
............
Sedari tadi. Kellen berusaha untuk tak membawa emosinya pada Axton yang tiba-tiba saja menghilang kembali.
Pria itu pergi ntah kemana dan ia sudah mencari ke semua sudut Kediaman luar tapi tak juga di temukan.
Castor yang ikut berpencar-pun juga heran kemana pria itu.
"Lihat! Di hutan kemaren dia juga begini, tiba-tiba menghilang dan muncul begitu saja."
"Di hutan?"
Tanya Castor berdiri di samping Kellen yang mengangguk. mereka tengah ada di perkebunan jeruk ini tetapi tak menemukan Mahluk tampan misterius itu.
"Apa kau serius?"
Tanya Castor dengan intonasi sangat cepat dan berharap. Dahi Kellen menyeringit melihat respon Castor yang berlebihan.
"Yah. Dan aku tak mau mengambil resiko lagi, sudah cukup kejadian waktu itu."
Castor diam seribu bahasa. Matanya masih kosong membuat Kellen menaikan bahunya acuh lalu melanjutkan pencariannya.
"D..Dia.."
Antara percaya atau tidak Castor merasakan keanehannya. Selama ini Axton tak pernah mau berjarak satu sentipun dari Kellen dan akhir-akhir ini Axton sering melakukan hal kecil yang tak terduga.
"Mau berdiri sampai kapan. Ha???"
"A.. Aku akan mencarinya." jawab Castor tergagap segera menyusul Kellen yang melangkah kembali ke area Taman samping.
Ia pergi ke lapangan hijau tepat di sebelah selatan Kediaman dimana rerumputan terurus bak karpet ini membentang indah.
"Aaaaxx!! Kau dimana???"
Teriak Kellen berjalan ke tengah-tengah padang Golf ini. Ada beberapa pohon rindang yang di gunakan untuk berteduh dan sangat sejuk.
"Dimana dia? Tak biasanya begini."
"Aku akan ke luar gerbang!!" teriak Castor melangkah ke arah depan Kediaman Utama. Tempat ini sangat luas hingga jika dua orang yang bekerja akan kesulitan menemukan pria itu.
Tapi, mau bagaimana lagi. Melibatkan satu Kediaman hanya akan mempersulit keadaan.
"Aaax! Kakiku pegaal!" desah Kellen lelah berjalan sedari tadi.
Ia memutuskan untuk duduk di atas rerumputan yang sangat terurus ini. Tak ada bagian yang tajam sama sekali dan persis seperti karpet dengan kolam air di depan Kellen.
"Aaax! Aku seriusss, jangan bermain lagi!!!"
Kesal Kellen sudah pegal dan letih. Akhirnya ia memutuskan berbaring diatas rerumputan tak perduli lagi jika tubuhnya itu memiliki lekukan yang indah di pandang mata.
Desiran angin sepoy dan halus ini membuat Kellen hanyut. rerumputan yang empuk serta mata yang ngantuk menghantarkan Kellen dalam mimpi di pagi menjelang siang ini.
"Dad! Semalam aku tak bisa tidur nyenyak memikirkanmu ehmm.."
Gumam Kellen pasrah tidur terlentang begini. Ia nyaman dan tak terganggu karna suasananya juga hening dan jauh dari Kediaman utama.
Setelah beberapa lama. Tanpa Kellen sadari. Ada langkah lebar yang menuju kearahnya. Tapakan kaki kokoh yang tak bersuara menginjak rerumputan seakan enggan membangunkan wanita itu.
"Ceroboh."
Satu kata keluar kala melihat keadaan Kellen yang lancang berbaring dengan Dress sependek ini. Kaki jenjang pulen dan lengan pas ini di perlihatkan dengan bonus dada sekangnya yang membusung seksi.
Tak mau objek indah ini di pandang mata pria lain. Ia segera berjongkok ingin memapah Kellen agar kembali ke kamar.
"Daddy." gumaman Kellen dengan bibir agak merekah dan raut yang lemah pasrah.
Pria mana yang akan tahan dengan wajah lemah wanita ini. Jantungnya saja sudah memberontak di dalam sana.
Ntah bisikan darimana. Tangan kekarnya beralih merapikan rambut Kellen yang di sanggul agak berantakan.
Ia ingin bebas melihat visual indah ini tanpa gangguan apapun. Kala semuanya sudah terlihat jelas, pesona Kellen pun berhasil menyihir mata elangnya.
"Cantik."
Satu kata keluar dengan spontan. Ia tak bisa menahan untuk tak melabuhkan ciuman ke bibir manis itu apalagi mengalihkan pandangan.
"Hanya aku yang bisa melihatmu seperti ini." gumamnya posesif.
Ntah angin dari mana. Tubuh kekar itu perlahan membungkuk mengungkung separuh tubuh Kellen dalam kurungan lengan kekarnya.
Perlahan tapi sangat pasti Wajah tampan penuh misteri itu mendekatkan diri pada sang kekasih hati yang ntah ia sadari atau tidak sudah membelenggu Cinta dan jiwanya.
"Ehmm."
Kellen agak mengerang kecil kala bibir itu sudah terasa hangat menyentuhnya. Aroma mind yang ia kenal membuat Kellen bertambah jatuh dalam mimpi yang dalam.
"Aax ehmm."
Suara lemah itu membumbui rasa senang di hati sosok yang tengah menguasai bibirnya. Ia suka kala nama itu keluar dan hanya nama itu.
"Kapan kau sembuh. Hm? Aku mau pulang!!" gumam Kellen kala bibir masih menyatu renggang.
Mendengar ucapan Kellen barusan. Ada rasa tak terima yang menyeruk di dadanya. Sorot mata kembali menajam dan rahang yang mengetat.
"Jangan berharap kau bisa pergi dariku."
"Ehmm!!!!" pekikan Kellen tertahan kala ciuman ini terasa sangat kasar.
Bibirnya di hisap kuat tapi ia kenal yang melakukan ini siapa. Bahkan, di alam bawah sadarnya Kellen masih memikirkan Axton yang ia kira kembali kambuh.
"Pelamm.."
Ciuman yang tak seimbang. bibirnya terasa di gigit tapi ntah kenapa ini sangat mengasikan. Walaupun sedikit kasar, tapi ia merasa di spesialkan dan sangat istimewa.
Tak bisa di tepis jika pria ini memang sangat pandai memancingnya. Mau tak mau dan suka tak suka, Kellen juga wanita normal yang secara angkuh tak mau mengakui ia suka dengan ciuman yang Axton berikan.
"Aaaxmm!"
Ia mau gila akan semua ini. Agak aneh memang ketika bagian dadanya di remas tapi ia sudah pasrah sekarang. Jika Axton mau, dia akan menyerahkan segalanya dalam hipnotis belaian pria ini.
.....
Vote and Like Sayang..