
Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Setelah melewati malam yang begitu panjang dan sangat-sangat melelahkan Axton membiarkan Kellen tidur dengan rasa bangga dan bahagia mengitari hatinya.
Walau mendominasi pertempuran bergairah itu. Ia masih saja bisa membuka mata sembari berbaring memeluk tubuh molek istrinya yang sudah tumbang di ronde terakhir permainan.
Ia dengan pelan menyingkirkan helaian rambut panjang Kellen yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Kau selalu saja membuatku tak mau berhenti." gumam Axton mengusap pipi tirus milik Kellen yang dulu begitu Cubby saat hamil.
Merasa belaian tangan Axton begitu sangat hangat, Kellen menggeliat mengeratkan pelukan ke dada bidang kekar ini sampai pahanya kembali menyentuh bagian yang tadi mulai gelisah. Tentu Axton masih sanggup untuk bermain tetapi Kellen tidak demikian.
"Shitt."
"Ax." gumam Kellen menepis tangan Axton yang mulai turun membelai punggung halus Kellen nakal.
"Apa?"
"Hm. Sudah." tanpa membuka mata sama sekali dan tetap pada posisinya. Tangan lentiknya turun masuk ke dalam selimut mencari perut berkotak keras Axton yang menghela nafas dalam.
Bagaimana bisa ia tahan jika Kellen sendiri juga memancingnya?
Tetapi, walau demikian Axton sama sekali tak menepis tangan Kellen yang bebas berkeliaran di tubuhnya. Ia hanya memejamkan mata sampai ada suara ketukan diluar kamar.
Ketukan pertama Axton malas untuk membuka mata. Ia masih mengabaikan sampai akhirnya tangis si kecil di luar sana membuat nyawa Kellen terkumpul sempurna.
"B.. Baby!"
Kellen tersadar baru ingat jika Baby San masih ada di luar. Tak terbayangkan bagaimana amukan si kecil itu di luar sana.
"Kellen!!! Kau mau membunuhku. Ha???"
Suara putus asa Martinez diringi tangisan Baby San yang membuat Kellen segera menyibak selimut ingin turun tetapi Axton menahan lengannya.
"Ax!!"
"Aku saja." jawab Axton kembali menarik selimut menutupi tubuh polos Kellen. Ia turun dari ranjang seraya mengambil Bathrobe yang di gantung di lemari kaca khusus di dalam kamar Tamu ini.
Kellen tampak cemas menatap ke pintu dimana tangisan putranya terdengar sangat arogan. Ia begitu khawatir karna ini sudah jam 2.
"Aax! Cepatlah."
"Hm."
Axton memakai Bathrobe di tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu. Dengan sekali tarikan ia membuka benda itu hingga pandangannya langsung di hadirkan dengan Martinez yang tampak kusut dengan rambut berantakan di tarik tangan mungil Baby San yang sudah menangis lantang.
"Axton! Ambil iblis kecilmu ini, aku tak sanggup lagi membawanya."
"Mymymy hiks, Mymy!!!" isak Baby San dengan mata merah dan masih menarik-narik rambut Martinez yang segera menyodorkan bayi nakal ini.
Bukannya meredakan tangisan, Baby San semakin menambah volume beralih memberontak membuat Martinez segera meletakan tubuh si kecil itu diatas bahu kekar Axton yang hanya menyeringai licik.
"Ini. Jangan menyiksa ku lagi."
"Hm."
Martinez benar-benar terlihat kusut melangkah pergi meninggalkan lantai kamar Axton yang membawa putranya ke dalam seraya menutup pintu.
Tubuh kekar Axton tampak sangat maskulin menggendong Baby San yang mencakar pipi Daddynya dengan tangisan yang seperti menyalahkan sang ayah.
"Mymymy!!!"
"Kau kalah." bisik Axton memberikan rasa panas pada Baby San yang terlihat sangat-sangat marah dengan isakan dan sesenggukan yang membuat Kellen iba.
"Ax! Jangan di tambah lagi."
"Aku benar, dia hanya memainkan tipu muslihat menggangguku." jawab Axton menepuk bokong mungil putranya yang terlihat geram menarik rambut Axton sekuat tenaga.
Alhasil keduanya saling bertengkar didekat ranjang dengan Axton yang berusaha melepaskan tarikan dua tangan mungil ini dari rambutnya.
"Kau merusak rambutku."
"Mymymy!!!!"
"Lepaaas!!!"
Kellen menepuk dahinya jengah. Ntah kapan anak dan ayah ini bisa akur seperti orang di luaran sana.
Bukannya mengalah, Axton malah semakin membuat Baby San naik darah dengan mengancam ingin membawa Mommynya pergi sejauh-jauhnya.
"Jika kau masih mencengkram rambutku. Aku akan membawa Mommmy jauh darimu."
"Mymymy!!!!!" jeritan kerasnya membuat Kellen segera mengambil tindakan. Jika begini terus sampai pagi-pun tak akan selesai.
"Ax! Berikan Baby padaku."
"Dia yang mulai duluan. Sayang!" geram Axton berusaha menjauhkan kepalanya tapi Baby San seakan kesurupan menarik-narik rambut Daddynya seakan benar-benar meluapkan kekesalannya.
"Dia memang sangat ingin bermusuhan denganku. Dia itu jahat." adu Axton membuat Baby San benar-benar meluap-luap. Axton bahkan menyeringai seakan mengibarkan bendera kemenagan.
"Baby! Ayo lepaskan rambut Daddy!"
"Mymy.." gumam Baby San berkaca-kaca menatap Kellen yang selalu tak tahan dan begitu lemah jika dipandang sendu begitu.
"Ouhhh sini, Sayang!"
"Tidak. Dia disini saja." bantah Axton tak suka. Tetapi, tatapan Kellen membuat Axton menghela nafas dengan kesal menyerahkan iblis kecil ini.
Kedua tangan Baby San terangkat menggapai tangan Kellen yang segera meraih tubuh kecilnya. Isak tangis dramatis itu benar-benar membuat Axton membelo jengah.
"Mymymy."
"Maafkan Mommy sayang." gumam Kellen mengecup pipi gembul putranya yang basah. Baby San langsung mencari dada Kellen segera mengedot dengan tatapan tajam di layangkan ke arah Axton.
Walau sesenggukan tapi ia tampak haus menyesap dengan lapar. Pantas jika dia menangis seperti itu membuat Kellen merasa bersalah.
"Haus. Hm? Maafkan Mommy, ya? Jangan menangis lagi, Sayang!"
"Mymy!"
Kellen mengusap lelehan bening itu membiarkan putranya dengan tenang meminum Asi. Namun, bukan Axton namanya jika tidak mengganggu.
Ia duduk di samping Kellen lalu menaikan tangannya ke bahu wanita itu dengan mesra.
"Kau pasti lelah. Sayang!"
"Tidak, kau tidurlah, sedari tadi berjaga." jawab Kellen menatap Axton yang mengangguk tetapi tangannya di singkirkan oleh jemari lentik Baby San yang mendorong perut Axton dengan kakinya untuk jauh.
"Mymy!"
"Ada apa? Sayang!" tanya Kellen mengusap kepala mungil putranya. Axton tak kehilangan akal untuk menganggu si kecil posesif ini dengan beralih membelai pipi Kellen dengan lembut.
Lagi-lagi tangannya di tarik lepas dengan kasar tetapi Axton punya cara jitu dengan mencium bibir Kellen lama membuat Baby San naik darah.
"Mymyyyyyy!!!!"
"Ax! Sudah." kesal Kellen kala Baby San kembali ingin menangis. Tatapan tajamnya dengan Axton beradu seakan berebut tempat.
"Awas kau!"
"Ax!" panggil Kellen dengan suara menekan. Tak mau membuat Kellen marah akhirnya Axton menurut melabuhkan kecupan terakhir ke pundak polos istrinya lalu kembali berbaring membelit pinggang Kellen erat.
"Mymy!!"
"Daddy hanya tidur. Sayang!" bujuk Kellen memposisikan Baby San dengan baik. Tanpa Kellen sadari tangan kecil mungil tak berdosa itu tengah sembunyi-sembunyi mencengkram lengan kekar Axton yang tak bergeming. Ia bahkan mengigit kaki Baby San remang membuat keduanya adu mekanik dalam diam.
.......
Sementara di luar taman sana. Martinez tengah mengumpat kala semua penampilannya di acak-acak Baby San yang selalu merengek ingin bertemu Mommynya.
Ia ingin mencari Kellen tetapi tak menemukan wanita itu. Untung saja anggota Axton berbaik hati menunjukan markas Axton membelenggu wanita itu.
"Jika itu anakku sudah sedari lama ku berikan ke panti asuhan." gumam Martinez kesal bukan main. Baby San begitu arogan dan tak mau di atur-atur. Sikapnya yang pemalas bertemu banyak orang dan sangat posesif pada Kellen itu begitu menyebalkan.
Lama Martinez duduk di kursi taman menikmati semilir angin malam dan melihat Staf-staf dan para panitia Festival tadi tengah mengurus lapangan yang sudah mulai sepi karna acaranya sudah selesai.
"Sangat membosankan." gumam Martinez mengeratkan Hoodie di tubuhnya lalu berdiri ingin pergi jalan-jalan sebentar.
Namun. Matanya terpaku melihat ada dua orang yang keluar dari Gedung yang tadi ia masuki dan terlihat tak asing.
"I..itu.."
Martinez terperanjat kala melihat Miss Barbie keluar berjalan bersama seorang pria yang tampak bukan dari keluarga yang sederhana.
Keduanya terlihat berbincang kecil bahkan Miss Barbie ikut tersenyum berjalan ke arah Lobby.
"I..itu.. B..Barbie.." ucap Martinez terbata-bata langsung berlari ke arah mereka dengan jantung terasa di pompa keras.
Rasa gugup mulai menjalar tetapi dirinya sudah tak bisa menahan kerinduan.
"Kau kemana saja??"
Miss Barbie terkejut kala tubuhnya langsung di peluk oleh Martinez yang tak lagi perduli dengan kehadiran pria di sampingnya.
Tubuh Miss Barbie meneggang hebat dengan jantung terasa mau lepas. Bahkan, matanya sudah berkaca-kaca menghirup aroma parfum yang ia hafal sejak lama.
"M..Martin.."
...
Vote and Like Sayang..