My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Luka masa lalu!



Spanyol 00:00 PM..


Suara riuh dan ramai di dalam Kediaman besar itu tak bisa dielakkan. Canda renyah yang tak pernah terdengar sebelumnya sekarang tiba-tiba hadir menggema seketika menyingkirkan kemalut kelam yang dulu menjadi sejarah.


Terlihat jelas tatapan penuh cinta itu di hadirkan untuk sesosok wanita yang tengah menghidangkan Teh hijau hangat kesukaan suaminya. Menenteng nampan dengan elegan bercengkrama bersama para pelayan lainnya.


"Jangan lupa untuk menghangatkan dirimu." gumam Nyonya Dezee tersenyum hangat membuat mereka semua saling pandang.


Ada 5 pria disini dan yang jadi objek utama adalah sesosok perkasa yang tampak tengah mabuk asmara malam ini.


"Pergilah ke kamarmu. Aku akan menyusul nanti."


"Kenapa tak sekarang?" sela seorang pria dengan wajah yang begitu bersahabat di banding dengan 4 yang lainnya. Masing-masing mereka tengah duduk diatas sofa singel ruang tamu membicarakan soal pelatihan anak-anak mereka.


"Yah. Bukankah saat ini waktunya cukup menyenangkan." timpal Caseno menyambung godaan rekannya Julius.


Raut wajah Tuan Fander yang semula tampak bosan sekarang terlihat sangat enggan untuk ada disini.


"Cepat pergi dari Kediamanku!"


"Tuanku, kami sangat betah disini." pancing Julius membuat Tuan Fander berdiri dari duduknya menganggap ini serius.


Mereka semua berubah tegang termasuk dua Johar dan Vacto yang juga ada disini. Mereka hanya bisa menunduk merasakan jika Tuan Fander ingin menyerang.


Melihat itu mereka memucat. Hal biasa yang terjadi jika memberikan sesuatu yang tak di sukai sosok ini.


"Jaga bicaramu!"


"Fan! Sudahlah, temani saja mereka. Aku akan ke atas melihat Putra kita." jawab Nyonya Dezee memberi sapuan halus dari tangannya ke rahang tegas itu barulah ia melangkah pergi.


Julius mengusap dada lega. Setidaknya mereka bisa bermain-main lebih lama. Tetapi, Caseno sudah tak mau membuat suasana malam ini bertambah kelam.


"Tuan! Aku sudah mengancam Pemerintahan beberapa negara untuk tunduk di bawah kekuasan kita. Hanya perlu menunjukan kekuatan seperti biasa."


"Iya. Tuan! Kita akan bisa membuat negara-negara besar di sekeliling kita tunduk dan memperluas kekuasaan." timpal Johar mengangguki itu bersama Caseno dan yang lainnya.


Tuan Fander terdiam. Memang ia ingin menundukan semua Negara besar yang menghalangi langkahnya tetapi Istrinya Dezee tahu akan pekerjaan kotor ini.


"Kita harus membunuh petinggi mereka dan barulah kepercayaan itu tumbu." sambar Vacto terlihat sangat senang.


Tuan Fander hanya membisu di tempat. Ia kembali duduk seraya mengambil cangkir Teh yang si suguhkan istrinya tadi.


Seruputan pertama rasanya begitu hangat dan menenagkan. Ia sudah berjanji untuk menghentikan semua pasar Ilegal ini dan pemaksaan Kudeta.


"Tuan! Bagaimana menurutmu?"


"Aku tak bisa."


Degg..


Jawaban Tuan Fander mengejutkan mereka. Tak biasanya seperti ini dan berbelok arah.


Dengan cepat ke 4 pria itu menundukan kepala dalam bentuk permintaan rasa hormat.


"Tuan! Bukankah ini tujuan utama Klan?" tanya Caseno merasa heran.


"Yah. Tetapi, aku rasa kekuasaan kita sudah sangat cukup dan bisa melawan siapapun."


"Tapi.."


Bantahan yang ingin Johar ajukan seketika terpotong kala melihat tatapan Tuan Fander tak lagi mendukung argumen mereka.


"Kalian sudah menikah. Punya anak dan istri, aku tak ingin hal ini mempengaruhi masa depan mereka kelak."


"Masa depan?"


Batin Johar mengepal. Sudah jelas selama wanita itu ada Tuan Fander selalu mengabaikan Misi mereka dan lebih memilih menempa putranya sepanjang waktu lalu memanjakan wanita itu.


"Keberatan?"


Tanya Tuan Fander kala melihat raut tak setuju dari semua rekannya. Caseno menggeleng akan tetap mendukung. Ia memahami perasan Tuan Fander karna ia juga punya seorang putra dan anak istri yang tengah menunggu di Kediaman masing-masing.


"Aku setuju. Lagi pula anakku juga perlu kejelasan identitasnya."


"Yang lain?" tanya Tuan Fander pada Johar, Vacto dan Julius yang terlihat terdiam sesaat.


"Emm.. Aku juga punya putra. Walau tak sehebat Axton! Tapi, dia cukup membuatku betah di rumah."


"Kau yakin?" tanya Tuan Fander pada Julius yang mengangguk yakin. Ia juga lelah menjadi seorang yang selalu berkesinambungan dengan darah.


Sekarang. Jawaban dari Vacto dan Johar-lah yang di tunggu. Melihat tak ada cela untuk membantah, mereka kahirnya setuju.


"Baiklah. Terserah pada Tuan yang memerintahkan kami." ucap keduanya memberi salam hormat kesetiaan.


Tuan Fander lega karna ia kira akan sulit untuk meyakinkan para anggotanya.


"Aku harap kalian bisa mengerti."


"Aku paham. Tuan! Yang penting semuanya baik-baik saja." ucap Caseno memberikan pandangannya. Ia dan Julius hanya tersenyum karna mereka juga lelah untuk mendengar omelan istri masing-masing.


Karna tak ada yang ingin di bicarakan lagi. Akhirnya mereka pamit untuk pulang. Caseno dan Julius tetap disini karna ada hal pribadi yang belum mereka bahas.


"Kalau begitu kami pergi. Tuan!"


"Hm."


Tuan Fander memandangi Johar dan Vacto yang sudah pergi ke arah pintu utama sana. Ia menghela nafas merasa belum juga lega.


"Tuan! Apa rencanamu kedepannya?"


"Aku akan berhenti memimpin jika Putraku sudah siap melakukannya." jawab Tuan Fander menatap Caseno yang diam.


"Tuan muda masih sangat belia. Umurnya baru 7 Tahun tapi kau selalu memberinya pelatihan yang mengerikan, apa itu tak masalah? Tuan!" Julius merasa iba.


"Tidak! Dia siap dan ingin, tapi istriku tak mengetahuinya, jika dia tahu luka di tubuh Axton itu dariku. Mungkin dia akan marah besar."


"Kau bahkan mengukir nama Axton di punggungnya. Itu sangat kejam. Tuan!"


"Itu hanya untuk ketahanannya. Mau bagaimanapun caranya dia harus menjadi kuat." jawab Tuan Fander mengepalkan tangannya.


Caseno dan Julius saling pandang lalu menghela nafas. Mereka tahu jika Tuan Fander pasti akan sudah mewariskan semuanya pada Axton nantinya.


.........


Sementara di dalam kamar luas dengan kemegahan yang nyata itu tampaklah seorang wanita cantik dengan tatapan lembut pada sesosok yang sekarang meletakan kepalanya di paha lembut sang ibu.


Belian tangan hangat itu membuat dirinya hanyut sampai ketenagan terdalam.


"Mom!"


"Iya. sayang?"


Axton kecil membelit pinggang ramping Mommynya. Aroma harum dan hangat di tubuh wanita ini membuatnya selalu ingin memeluk dan mencintainya.


Pandangan nan teduh ia tatap dengan memuja. Mommynya memang cantik dan beraura.


"Mommy!"


"Yah? Ada apa?"


"Ax sekarang tak cukup kuat."


Nyonya Dezee terdiam mendengar jawaban Axton kecil yang seperti tengah kecewa pada dirinya sendiri.


"Kenapa bicara seperti itu. Hm?"


"Mom! Ax tak bisa mengalahkan Daddy, Ax tak mau Daddy mengambil Mommy. Dia mengatakan jika Ax tak bisa mengalahkannya maka Mommy akan dia rebut dari Ax. Mommy.."


Senyuman Nyonya Dezee mekar melihat sikap polos ini masih saja di manfaatkan Suaminya. Axton kecil hanya perduli tentang kedekatan mereka dan bermusuhan dengan Daddynya jika berebut tempat.


"Mommy kenapa diam? Apa.. "


"Jangan di pikirkan. Daddymu hanya membohongimu."


"Tapi, itu benar Mom! Buktinya setiap malam dia mencuri Mommy. Ax tak mau tidur dan harus berjaga." kekeh Axton kecil yang sedari tadi menahan kantuknya. Ini sudah tengah malam dan ia enggan melepas Nyonya Dezee.


"Hey! Mommy disini, ayo tidur!"


"Tapi.."


Dengan titahan mutlak itu. Mau tak mau Axton memejamkan matanya menikmati belaian lembut tangan lentik itu.


Karena kantuk yang sangat kuat membuat Axton kecil larut dengan helaan nafas stabilnya.


"Fander memang menyebalkan. sudah jelas Axton sangat serius menanggapi apapun." gumam Nyonya Dezee melabuhkan kecupan ke kening mulus Putranya.


Namun, saat ia ingin menarik selimut si kecil ini tiba-tiba saja suara ledakan di luar muncul menggetarkan Kediaman.


Hal itu spontan membuat Axton kecil terbangun langsung memeluk tubuh Mommynya waspada.


"Mom!"


"A..Ax! Axton tunggu disini dulu, ya sayang!" bujuk Nyonya Dezee merasa cemas dengan keadaan di luar.


Axton kecil menggeleng tetap membelit pinggang Nyonya Dezee.


"Tidak. Itu pasti musuh Daddy, Mommy tetap disini. Ax akan keluar."


"Sayang! kau disini saja, Mommy akan segera kembali."


"Mommy!! Momyy .."


Nyonya Dezee melepas paksa belitan Axton lalu segera menutup pintu rapat dari luar. Panggilan Axton tertahan oleh ruangan kamarnya.


Nyonya Dezee berlari ke bawah melihat apa yang terjadi. Diatas tangga ini Nyonya Dezee terdiam melihat bagian dengan Kediaman sudah roboh dan hancur.


Pandangannya tertuju pada Johar dan Vacto yang tampak mengepung suaminya.


"M..Mereka.."


Tuan Fander yang melihat kedatangan istrinya segera mengambil tindakan. Ia tak menyangka jika Vacto dan Johar sudah membuat peledak itu menempel di masing-masing sudut rumah.


"Kau pikir rencana ini baru kami buat. Hm?" desis Johar mengeluarkan pistolnya.


"Ini sudah kami buat jauh sebelum kau bertemu dengan wanita sialan itu." timpal Vacto bersikap waspada.


Merasa sangat marah dan dikhinati Tuan Fander langsung menyerang mereka yang saling memberi isyarat.


Caseno dan Julius sudah menghadang separuh anggota yang mereka pengaruhi menyerang Kediaman.


"Brengsek kalian semua!!!"


Johar menyeringai. Di sela perkelahian 1 lawan dua ini sangatlah susah mereka imbangi. Beberapa kali pukulan telak itu membuat keduanya batuk berdarah tak bisa menangkis serangan Tuan Fander.


Di rasa semua ini sia-sia. Johar segers melepaskan tembakan ke arah Nyonya Dezee sebanyak dua kali.


"Mati kau!!!"


"Deeee!!!" teriak Tuan Fander melihat istrinya tertembak di bagian dada dengan dua kali lesagan dan terguling ke bawah.


Kelengahan Tuan Fander di manfaatkan Johar untuk menembak ke bagian dada pria itu. Tak ada yang bisa membantu karna sebagian anggota besar telah dipengaruhi oleh mereka semua.


"Cih. Kau layak untuk menyusulnya." geram Johar ingin menembak kepala Tuan Fander tetapi tiba-tiba saja Tuan Fander bangkit mengambil alih senjata di tangannya lalu menembak dengan brutal.


Vacto terkejut kala luka itu tak berpengaruh pada Tuan Fander yang dengan amarah yang meledak-ledak mematahkan kaki Johar. Suara jeritannya bisa di dengar tetapi tak akan bisa tertolong.


"Cepat kau suruh mereka kemari!!!!" teriak Johar pada Vacto yang kelimpungan berlari keluar meminta bala bantuan.


Keadaan semakin rumit dan tak bisa diatasi dengan muda. Tuan Fander melihat jika anggota musuh berdatangan memanfaatkan keadaan ini.


"Bagaimana? I..ini sudah cukup?" desis Johar menahan sakit di seluruh tubuhnya.


"Kau.. Kau tak akan lolos." geram Tuan Fander lalu berlari ke arah tubuh Nyonya Dezee yang sudah berlumuran darah di dekat tangga.


Tangannya bergetar hebat melihat wajah pucat dan keadaan mengenaskan ini. Nyonya Dezee tampak sulit bernafas mencengkram lengan Tuan Fander yang tengah di pukul hebat oleh rasa sakit di hatinya.


"D...Dee!"


"F..Fan! B..bawa A..Ax p..pergi.." gumam Nyonya Dezee langsung memuntahkan darah ke dada Tuan Fander yang sudah menjatuhkan cairan bening itu.


Cengkraman Nyonya Dezee perlahan mengendur hingga akhirnya tangan wanita itu jatuh tanpa tenaga.


"DEEEEE!!!! DEEE jangan lakukan ini padaku!!! DEEE!!!" Jerit Tuan Fander mengguncang tubuh istrinya.


Tak ada lagi nafas hangat itu atau sekedar tatapan teduh yang ia puja. Mata Tuan Fander merah mengigil hebat memeluk erat dengan sangat sakit.


Tatapannya bergulir ke arah atas tangga dimana ada sosok kecil yang terdiam dengan tatapan mata kosong melihat Wanita yang baru beberapa menit tadi meninggalkannya, sekarang sudah berlumuran darah tanpa nyawa.


"M..Momyy!"


Tuan Fander dengan pelan meletakan Tubuh Nyonya Dezee lalu berlari mengejar Axton yang ingin turun ke bawah.


"MOMMYY!!! MOMYYY!!!!"


Tuan Fander menahan bahu Axton kecil lalu mengangkat tubuh kecil itu ke arah kamar. Axton kecil memberontak keras dengan tangisan melengking sekuat-kuatnya.


"Ax! Ax dengarkan aku!"


"Mommy!!! Mommy!!!"


Tuan Fander memejamkan matanya menahan pergerakan Axton kecil yang memukul lengannya untuk keluar. Ia juga tak bisa menahan air mata tetapi ia tak mau Axton terluka.


"Mommyy hiks. Mommy!!"


"DENGARKAN AKU!!!" tekan Tuan Fander menangkup wajah kecil Axton yang sudah bergetar dengan mata merah mengigil.


"D..Dad.."


"Tunggu disini. Aku akan segera kembali."


"Tidak!!! Kau..kau tetap disini, tetap disini." pinta Axton kecil menggeleng. Tadi Mommynya juga berkata seperti itu dan jelas ia melihat hal mengerikan yang mengguncang batinnya.


Tuan Fander menarik sudut bibirnya kecil. Ia mengusap kepala Axton untuk pertama kalinya menunjukan kasih sayang tanpa batas.


"Tunggu disini. Hanya sebentar, aku akan segera kembali."


"K..kau mau kemana?"


Tuan Fander tak menjawab. Ia melepas Axton kecil yang memandanginya ke arah pintu kamar.


"Aku akan segera kembali!"


Suara Tuan Fander lengan dengan kilatan cahaya dari luar. Ledakan itu kembali terjadi bahkan sangat dahsyat membuat Axton membekap telinganya lalu berteriak memanggil Mommy dan Daddynya.


.Flashback Of..


Tanpa sadar air mata Kellen mengalir mendengar cerita Nyonya Verena yang ikut menahan isakan. Ia datang kesana tetapi sudah terlambat, semuanya tak ada lagi yang tersisa.


"S..saat itu Axton kecil berlari keluar karna tak mendapati Daddynya kembali. Kau tahu apa yang dia lihat?"


Kellen menggeleng menggenggam tangan Nyonya Verena yang menunduk.


"Jasad Mommynya di timpa reruntuhan dan semua kediaman sudah hancur kecuali bagian kamarnya. Kakakku melindungi tempat putranya berada sampai menghabisi mereka semua."


"L..lalu?"


"Saat aku tiba. Axton sudah tak sadarkan diri, Kakakku juga menghilang tak ku temukan. Hanya ada Johar yang mengalami luka berat di bagian Kakinya dan Vacto mengalami luka di wajahnya. Mereka di selamatkan oleh orang luar dan aku terpaksa bergabung karena mereka menangkap Axton."


Kellen langsung memeluk Nyonya Verena dengan isakan darinya. Ia tak menyangka jika selama ini Axton menyembunyikan rasa sakitnya.


"M..Mom. Hari.. Hari itu aku bertanya lada Axton, tanpa memikirkan luka itu."


"Aku mengerti, semenjak hal itu terjadi. Axton mulai mengalami Trouma berat, dia takut keluar dan hanya terkurung dalam dunianya sendiri. Aku terpaksa bersikap seperti itu karna mereka memantau-ku."


Kellen mengangguk mengerti. Ia beralih menatap Baby San yang tampak diam juga mendengarkan.


"Dia akan pulang besok. Aku tak tahu apa yang dia temukan di sana."


"Semoga saja bukan yang lebih buruk." gumam Kellen tak sabar untuk menunggu Axton kembali. Ia ingin pria itu mengatakan semuanya tetang hal apapun.


.....


Vote and Like Sayang..