
Warning 21+
.........
Suara decipan kulit itu beradu nyaring dengan hentakan beriring dengan ******* nikmat yang lolos dari dua insan manusia yang tengah menikmati bagaimana suksesnya malam pertama mereka yang penuh gairah.
Jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari dan sampai menit dan detik yang mengalun, maka. Begitu juga keringat yang terus membanjiri tubuh keduanya.
Bagaimana tidak? Setelah memulai penyatuan yang begitu susah dan membutuhkan banyak strategi, akhirnya Axton bisa memompa dengan ritme bermacam.
Dari mulai pelan dikala awal permainan menahan hasrat yang meledak dan brutal kala sudah tak bisa menahan diri.
"A..Aax!!"
"Shittt!!" umpat Axton berusaha pelan padahal ia sangat lepas kendali. Ini sangat luar biasa dan ia begitu candu dan menikmati.
Sementara Kellen. antara sakit, ngilu dan sensasi nikmat bercampur satu membuat ia hanya bisa terpekik-pekik di bawah kungkungan perkasa Axton yang sudah membawanya ke puncak nirwana sana.
Deru nafas keduanya naik turun dengan guncangan hebat menyiksa batin. Kellen mencengkram kuat lengan Axton yang tengah memacu dengan mengatur ritme hentakan.
Wajah merah keduanya sudah membuktikan bahwa, pertempuran ini tak main-main memporak-porandakan jiwa keduanya.
"Akhss.. Kell!"
"Ehmm.."
Axton mengerang nikmat memejamkan matanya seraya beberapa kali menggeleng merasa ini sangat gila. Hal yang sangat-sangat tak bisa ia bayangkan akan senikmat dan seindah ini saat melakukannya.
Melihat raut menahan dan frustasi Axton, timbul seulas senyum Kellen yang menduga jika Axton tengah menahan diri agar tak membuatnya merintih sakit saat pertama kali memulai penyatuan tadi.
"Kenapa kau memejamkan matamu?"
"Wajahmu." serak Axton membuka matanya menatap lemah wajah cantik penuh keringat Kellen yang merasa jika ia sudah memasrahkan dirinya pada seorang Axton.
"Kenapa dengan wajahku?"
"A..aku..tak tahan melihatnya." jujur Axton berhenti bergerak. Matanya sayu-sayu menatap Kellen dengan pandangan tampak sangat mendamba lebih.
Axton melihat ke bawah dan ia merasa cemas karna darah yang tadi keluar juga lengket ke paha Kellen. Pusakanya terlalu keras dan besar sampai menyekang penuh begini.
"Apa masih sakit?"
"Hm. perih."
Jawab Kellen ikut menatap ke bawah. ia ngeri melihat bagaimana panasnya penyatuan itu apalagi ia membayangkan tadi Axton berhasil membawanya mencapai puncak beberapa kali dan hanya membiarkannya istirahat 15 menit, itupun Kellen harus membiarkan Axton memberi bekas menyeluruh ke semua lekuk tubuhnya termasuk bagian dua aset berharga yang sekarang tengah merah karna terus di remas tangan kekar itu.
Melihat senyum tipis Kellen, Axton langsung mendekatkan wajahnya ke wajah cantik itu.
"Kau menertawakan aku?"
"A.. Apanya?" tanya Kellen membelitkan kedua kakinya ke pinggang Axton yang menyipitkan mata elangnya.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Ax!"
"Lalu, kenapa kau senyum sendirian?"
Kellen semakin merasa geli dan gemas. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Axton lalu mengusap keringat di rahang dan kening pria ini.
Rambut Axton juga sudah berantakan terlihat sangat seksi di remas-remas Kellen tadi.
"Aku hanya geli."
"Dengan?"
"Denganmu." jawab Kellen enteng membuat Axton berfikir sejenak lalu menegakkan tubuh duduk di atas ranjang sedangkan Kellen masih bak koala di pinggangnya.
Kellen menepuk bahu kekar Axton karna bergerak mendadak begini. Akibatnya bagian bawah sana semakin rapat masuk tanpa seizinnya.
"Ituku masih sakit. Jangan terburu-buru."
"Apa aku menggelikan?" tanya Axton membuat posisi Kellen senyaman mungkin diatas pahanya.
"Tidak. Aku hanya merasa malu."
"Kenapa? Apa kau salah?"
Kellen menggeleng diam menahan nyeri di bawah sana. Ia tak munafik jika ia juga tak mau menyudahi ini walau tubuhnya sudah remuk-redam.
"Aku hanya merasa kau terlalu tega padaku. Setiap satu jam sekali kau pasti hanya memberiku waktu 15 menit, itu tak adil. Ax!"
"Apa kau sudah tak bisa?"
Tanya Axton tak mau terlalu memaksa Kellen. Yang pasti, ia sudah menyemburkan laharnya kedalam sana dan itu sudah lebih dari cukup untuk hari pertama.
Melihat respon santai dan jujur Axton, Kellen tak bisa begitu. Walau ia lelah dan mengantuk tapi ia ingin dan belum sempat untuk hal hebat berikutnya.
"Apa aku tak begitu menggoda sampai kau bisa menunda begitu?" gumam Kellen menunduk seraya mengusap dada bidang Axton yang sejujurnya juga tak bisa berbohong jika ia belum siap untuk lepas.
"Sedari tadi kau selalu bertanya apa aku bisa melanjutkan apa tidak, apa kau tak begitu menginginkan ak.."
Cup...
Axton menyambar bibir Kellen yang spontan meneggang meremas bahu Axton. Bekas cakaran dari kuku-kukunya itu tampak jelas di sana.
"Axmmm!!"
Pekikan Kellen kala Axton lagi-lagi mengigit bibirnya. Pria ini sangat suka memberi gigitan baik itu di bahu, pipi atau lengan Kellen.
Dirasa cukup membungkam Kellen, barulah Axton melepas hisapannya dengan tatapan mata tajam yang menentang persepsi itu.
"Aku ingin. Bahkan, sangat ingin." serak Axton mengusap bibir bengkak Kellen dengan jempolnya yang basah.
"L..lalu, kenapa kau.."
"Aku tak ingin menyakitimu!"
"A..Ax!"
"Aku sadar jika ukuran ku itu begitu menyiksamu. Dan rasanya pun aku suka tapi, darahnya masih keluar. Aku takut jika ini akan buruk nantinya."
Jelas Axton merasa sedikit cemas. Dari penjelasan buku itu, Kellen memang akan mengeluarkan darah tapi tak ia sangka akan bisa koyak seperti itu.
"Aku...aku bisa menahannya sampai besok."
"Memangnya kau sanggup?" tanya Kellen merasa kasihan. Ini saja Axton sudah terlihat mengigil kala melihat dadanya yang tepat di depan wajah tampan itu.
"Hm."
"Cih. Selalu saja begini, aku tak tega melihatnya."
Batin Kellen tak tega melihat Axton mengesampingkan keinginannya padahal ia bisa merasakan bagaimana kerasnya benda itu.
"Ya sudah. Ini.."
"Kita lanjutkan sebentar lagi."
Axton terhenyak mendengar jawaban Kellen. Ada rasa senang tetapi ia masih belum mau untuk bergerak.
"Tapi, itu mu.."
"Tak apa. Dia masih belum terbiasa, nanti kalau sudah sering kita lakukan. Pasti akan lebih mudah.".
Jawab Kellen malu-malu menutupi wajahnya dengan tangan tetapi Axton sudah lebih dulu menahan kedua lengannya.
Wajah tampan Axton sudah tak bisa menyembunyikan jika ia benar-benar ingin.
"Tapi, jika semakin sakit, kau bisa menjerit untuk berhenti."
Kellen dengan malu mengangguk berpeggangan ke bahu Axton yang sudah tak sabaran ingin melanjutkannya.
Ia kembali membaringkan tubuh polos Kellen dan kali ini dengan pose berbeda dan lebih berbahaya.
"A..Ax kau.."
"Aku mau mencoba ini." bisik Axton dengan pelan menarik diri dengan suara lemah Kellen mengalun seksi.
Pusakanya tampak begitu ingin kembali masuk dalam pijatan dinding liang ketat ini.
"Berbalik!"
"A..Ax!"
Kellen perlahan berbalik memunggungi Axton yang memeriksa apa ini aman atau tidak. Bagian yang sedikit koyak ini tampak masih basah dan berdarah kecil.
"Kalau sakit, katakan padaku."
"I..iya.."
Jawab Kellen mencengkram bantal di bawahnya. jemari Axton yang tengah memastikan itu membuat Kellen gelisah menggeliat tak menentu.
"A..Aax! J..jangan begitu."
"Kau lebih agresif dari yang ku kira." gumam Axton menyeringai melabuhkan kecupan ke bokong Kellen yang sudah membekas tabokan jarinya.
Kellen hanya bisa menggeliat mengigit bibir seraya terus melihat ke bawah dimana Axton masih belum mau memulainya.
"Aaax!"
"Hm."
"Cepatlah. Pinggangku pegal." rengek Kellen mencubit kecil paha Axton yang hanya bisa berpesta di dalam hati.
"Kau sangat tak sabaran."
"Whaat? Aku tak begitu." malu Kellen merasa mau menghilang saja. Sialnya pesona Axton terlalu membuatnya lupa diri.
Melihat raut semu Kellen, Axton merasa semakin tak tahan untuk berlama-lama.
Perlahan. Axton mulai memposisikan pusakanya, ia membuat Kellen serileks mungkin dengan mengusap punggung lentik ini agar tak begitu merasa terkejut.
"A..Aax!!" geraman Kellen mencengkram bantal kala Axton sudah mendorong pelan dan sangat pelan dengan bibir merapat menahan sensasi ini.
"A..Ax! Aku..aku..."
"Ehmm!!"
Axton menghentak kecil membuat Kellen meneggang hebat dengan ******* mautnya keluar kembali kepermukaan.
Axton-pun sudah mengadah merasa penyatuan ini tak akan habis menguras jiwanya.
Tak ia sangka jika hal ini begitu menyenangkan, pantas saja Nicky ketagihan untuk bermain wanita tapi ini pengecualian. Axton hanya mau merasakannya bersama Kellen.
"A..Ax!"
"Hm."
Axton masih belum lepas dari sihir nirwana ini. Untuk kali ini, ia tak memikirkan musuh atau orang lain.
Hanya ada dia dan Kellen yang tengah memenuhi kepalanya.
Sementara itu. Suara ponsel dari arah belakang sana juga tak lagi terdengar tak bisa menembus perhatian kedua manusia itu.
Nama Tuan Benet tertera menelfon beberapa kali. Suaranya tak begitu jelas terdengar karna terhimpit beberapa bantal yang berserakan di bawah sana.
...
Vote and Like sayang..
Maaf ya author nggak up tadi. Soalnya ada acara di sekolah dan baliknya magrib.
Ini bonus malam ini say🥲☺