My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Dia akan baik-baik saja!



Semuanya tengah menunggu di luar ruang Operasi. Dokter mengatakan jika tubuh Kellen mengalami beberapa luka serius terutama di bagian perutnya. Apalagi terjadi pendarahan besar jadi, Hugo menegaskan untuk segera mengambil tindakan apapun yang di perlukan.


Dan sekarang sudah 1 jam mereka menunggu tetapi belum ada Team medis yang keluar dari ruangan Operasi. Tentu rasa cemas itu terus menghantui mereka terutama Tuan Benet yang tadi mendonorkan darahnya untuk keselamatan Kellen tetapi ia tampak masih menyalahkan semuanya pada dirinya.


"Kalau aku tak membawanya ke sana. Dia tak akan dalam bahaya." gumam Tuan Benet dengan mata berkaca-kaca melihat ke arah pintu ruangan itu.


Castor hanya bisa diam. ia disini untuk menunggu karna Axton baru saja pergi setelah di paksa untuk mengobati luka-lukanya. dan sampai sekarang Axton belum menemui Putranya di ruang rawat sana.


"Aku yang membuatnya dalam bahaya. Aku yang melakukan semua ini dan.."


"Jangan menyesali hal yang sudah terjadi." sela Castor dengan intonasi suara yang tenang. Ia mengerti perasaan Tuan Benet bagaimana dan ia tak mau menyalahkan semuanya pada pria tua ini.


"Tapi, aku.. aku yang memaksanya. Jika saja hari itu aku percaya padanya maka semua ini tak akan terjadi."


"Apa kau bisa mengubahnya?" tanya Castor menoleh ke samping dimana Tuan Benet duduk diatas kursi tunggu di dekatnya.


Wajah Tuan Benet berkecamuk. Kepalanya tertunduk diiringi helaan nafas panjangnya.


"Penyesalan akan berguna jika kau bisa mengubah itu kembali. Apa bisa?" imbuh Castor tetapi Tuan Benet membisu. Hanya sebuah rasa malu dan kebencian pada dirinya sendiri.


"Aku memang tak termaafkan."


"Yah! Bahkan, Axton tak akan bisa bersikap seperti biasa padamu. kau tak tahu betapa dia mencintai Putrimu, dan sekarang aku yakin kau sudah memahami hubungan diantara keduanya." jelas Castor dengan kalimat terdengar membungkam batin Tuan Benet.


Ia sudah melihat bagaimana kesungguhan dan keseriusan Axton pada Kellen yang tak main-main. Pria itu bahkan rela bertaruh nyawa hanya demi menyelamatkan Putrinya.


Tetapi, Tuan Benet masih belum mengerti siapa yang sebenarnya yang jahat dan membuat rencana sepicik ini?!


"Aku tahu. Tetapi, siapa yang ingin melukai Putriku dan kenapa dia melakukannya?"


"Pertanyaan-mu cukup mengesankan." jawab Castor menyilangkan kakinya pertanda pembicaraan ini akan serius.


"Siapa sebenarnya Axton dan apa benar dia seorang Mafia?"


"Bukan hanya seorang Mafia." sambar Castor menegakkan wajahnya. Ia menunjukan jika mereka bukanlah orang-orang sembarangan.


"Maksudmu?"


"Axton adalah Putra seorang yang menguasai Tanah Spanyol! Dia penerus utama Keluarga Miller yang menentukan nasibmu jika berhadapan dengan mereka." ucap Castor membuat Tuan Benet terkejut. Yang ia tahu hanya Martinez-lah pewaris utama Keluarga besar Miller dan tak ia sanga Axton juga.


"Bukankah Martinez itu.."


"Dia hanyalah pengganti sementara karna ada kejadian masa lalu dimana Keluarga Miller di bantai oleh pengkhianat dari Klannya sendiri. Dan kejadian tadi itu karna orang-orang di masa lalu yang ingin membunuh Axton." jawab Castor menatap Tuan Benet yang terlihat mencerna setiap apa yang Castor katakan.


"Membunuh Axton?"


"Hm. mereka telah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang bersangkutan dengan Keluarga Miller, menguasai harta dsn kekuasaan yang luas itu dan hanya karna Axton hidup mereka tak akan berkuasa lagi."


"Tapi, ..tapi kenapa putriku yang.."


"Karna hanya Putrimu yang bisa mengendalikan Axton." sambar Castor menatap tegas dan sangat beriwabah. Ia menghormati Tuan Benet dan ingin pria ini paham akan keadaan yang terjadi.


Mendengar semua itu. Tuan Benet jadi bungkam, sebesar itukah pengaruh Kellen pada sosok pria yang menurutnya sangat sulit di kendalikan dan atur? Kellen memang luar biasa.


"Dengan mencelakai Kellen dia bisa membuat Axton tiada detik itu juga. Dan kau tahu siapa orang-orang yang melakukan ini?"


"Siapa? Mereka tak bisa hidup setelah melukai semua orang." geram Tuan Benet mengepal dengan rahang mengetat.


Sudut bibir Castor terangkat akan kejutan yang di terima pria ini nanti.


"Salah satunya adalah PEINT!"


Degghh..


Tuan Benet terperanjat langsung berdiri melempar pandangan tak percaya. Jelas tak ada yang bisa masuk akal akan pernyataan ini.


"Peint? Dia.. Dia itu temanku. Dia.."


"Kau ingat saat dia menceritakan identitas Axton yang tak semua benar itu?" sela Castor membungkam Tuan Benet. Pikirannya kembali melayang ke peristiwa beberapa saat yang lalu dimana Peint menceritakan sesuatu yang mengejutkannya.


"Logikanya. Dari mana dia tahu jika Axton adalah seorang Mafia dan pernah melakukan pembunuhan? Jika dia hanya orang biasa, kenapa dia begitu paham padahal tak pernah melihat Axton secara langsung."


"PEINT!" Geram Tuan Benet benar-benar emosi. Gak ia sangka seseorang yang begitu berkesan baik di matanya tiba-tiba ingin mencelakai putrinya.


Tak mau diam saja. Tuan Benet segera melangkah pergi membawa amarah yang menggebu di dadanya.


"Kau mau kemana?"


"DIA HARUS BERTANGGUNG JAWAB!! DIA BAJINGAN!!" geram Tuan Benet tak akan bisa melepaskan seseorang yang sudah menyakiti Putrinya.


Castor menghela nafas dalam melipat kedua tangannya di depan dada seraya bersandar di kursi tunggu.


"Percuma?"


"Apa maksudmu? Ha!!"


"Menantumu sudah menghabisinya." jawab Castor memberi senyum licik yang menyeramkan.


Pikir saja. Apa Axton akan diam saja ketika ada yang melakukan hal seperti ini? Tentu pria itu akan mengejar sampai ke ujung dunia manapun.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Tuan Benet terlihat cemas jika ada yang masih hidup.


"Kau tenang saja. Mereka sudah tak ada lagi di dunia ini."


"A..apa Axton.."


"Apa sudah selesai?"


Suara seseorang yang memotong pembicaraan mereka. Terlihatlah Axton yang datang dengan perban di lengan dan pakaiannya sudah berganti dengan Kaos santai.


Wajah datar menyimpan kecemasan itu terlihat kecewa menatap nanar pintu ruang Operasi yang masih belum terbuka.


Hugo yang tadi menangani Axton tampak terdiam paham akan suasana perasaan Tuannya.


"Tuan tenang saja. Di dalam sana ada Dokter-Dokter Profesional dan mereka bisa di andalkan."


"Hm."


Axton bergumam berat menghela nafas dalam. Ia melirik sekilas pada Tuan Benet yang terlihat menunduk merasa canggung dan berat hati menegur Axton.


"Bagaimana dengan lukamu?"


Pertanyaan Tuan Benet hanya di jawab kebisuan. Axton tampaknya belum memulihkan suasana hati yang masih geram karna Tuan Benet terlalu kasar pada istrinya.


"Jika kau bukan Ayah dari istriku. Mungkin , kau akan bernasib sama dengan mereka."


"Axton!" gumam Castor membuat Axton acuh mendekat ke arah pintu ruang Operasi. Ia takn akan tenang sebelum mata amber indah itu terbuka dan bibir melengkung seperti biasa, ia akan menanti dan terus menanti itu.


Tuan Benet paham dan tak mau mendekat. Ia lebih memilih duduk kembali ke tempatnya menenggelamkan diri dalam perasan bersalah.


"Ax! Bagaimana lukamu?"


"Apa selama ini? Mereka melakukan apa hingga begitu lamban?" umpat Axton menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Tak lama berselang akhirnya lampu ruang operasi berubah seiring dengan pintu yang terbuka mengeluarkan Dokter Terry yang terlihat di hadang Axton.


"Apa yang terjadi? Dia baik-baik saja-kan?" sambar Axton ingin masuk tapi Dokter Terry menghalang langkahnya


"Kauuu!!"


"Maaf, Tuan! Operasinya berjalan lancar tetapi Nona belum bisa di temui, kami akan membawanya ke ruang rawat dan barulah anda bisa melihatnya." jelas Dokter Terry seraya memperbaiki kacamatanya. Ia berkeringat dingin melihat Axton belum mundur sama sekali.


"Dia baik-baik saja-kan?"


"Untuk saat ini seperti itu, hanya saja kami harus melanjutkan pemeriksaan saat ia sudah sadar. Anda tenang saja kami akan melakukan yang terbaik."


Srett..


Tarikan kuat Axton membuat wanita paruh baya itu syok kala kerah bajunya di tarik Axton sampai tubuhnya berjinjit.


"Axtoon!!" Castor bangkit menahan bahu Axton agar tetap tenang.


"Jika sampai dia tak sadarkan diri setelah Operasi ini, kau manusia PERTAMA yang-ku cari." desis Axton mendorong tubuh Dokter Terry menjauh.


Para rekannya yang ada di dalam sana tampak memucat. Mereka tak pernah menduga akan berhadapan dengan pria searogan Axton dan begitu menyusahkan.


"S..Saya paham."


"Pergilah! Maaf sudah mengganggumu." segan Castor menarik lengan Axton agar menjauh dari pintu tetapi Axton masih berdiri di luar melihat ke dalam. Ia tak bisa menatap Kellen atau memindai kaki wanita itu saja sulit.


"Dia tak memperbolehkan aku masuk. Setidaknya aku bisa melihat dari sini."


"Kau ini keras kepala!! Biarkan mereka bekerja, tak akan ada yang mengusik Kellen disini." sangga Castor bersikeras tapi pandangan membunuh Axton membuatnya segera melepas cengkalan ke lengan kekar itu.


Suasana juga berubah membuat bulu kuduknya meremang. Begitu besar dampak kejadian itu bagi mental Axton yang tampak sudah tak percaya lagi.


"Aku tak akan MEMPERCAYAI siapapun." geram Axton meningkatkan kewaspadaannya. Ia sudah tak mau kejadian itu terulang lagi karna hal ini mimpi buruk baginya.


"Aku mengerti. Kau tetap disini dan aku akan mengurus hal lain di luar."


"Pastikan BABI panggang-ku masih segar." ucap Axton membuat Tuan Benet berfikir. Tapi, Castor mengangguk tampak bersemangat.


"Kau berniat menjamu sekarang?"


"Tidak! Tunggu istriku sadar dan pulih, dia harus menyaksikan itu." jawab Axton tanpa jijik atau terlihat ngeri.


Tuan Benet hanya mengira jika yang di maksud Axton memang Babi asli untuk merayakan kelahiran putranya.


"Setidaknya dia masih manusiawi."


....


Vote and Like Sayang..


Maaf ya Upnnya lama. Author ada urusan tadi say😍🥰