
Sebuah Lorong gelap itu terasa sangat dingin. Detakan sepatu menyisakan serbuk salju dari luar yang tertinggal akibat getaran yang ada.
Cahaya dari luar hanya bisa menyalip di sela Fentilasi yang sempit. Remangan disini serasa begitu kental dengan aroma belerang dan alkohol.
Pasukan yang beranggota 5 orang itu memboyong sosok yang sedari tadi diam seakan bisu dan menuli berjalan ke depan.
Mereka beberapa kali menelan ludah berat karna aura tubuh kekar ini sama persisnya seperti aura kelam dari sosok Fander pimpinan terdahulu.
"Kenapa lamban sekali. Ha??" suara seorang wanita yang tampak berdiri di depan sebuah ruangan yang masih di tutup rapat.
Wajahnya tak begitu jelas di netra tajam Axton yang hanya diam melangkah mendekat. Ia tak mengenal wanita ini dan tak perduli sama sekali.
"Tuan masih ada?"
"Hm. Bawa dia kedalam."
Wanita itu juga tak terlalu memandang Axton di tengah remangan gelap ini. Ia lebih dulu membuka pintu hingga cahaya lampu dari dalam sedikit menusuk mata.
"Tuan! Dia sudah datang."
Suara tegas wanita ini berkumandang. langkah Axton berhenti tepat di depan pintu dengan cahaya lampu yang perlahan mampu menangkap visual khasnya.
Mata para anggota di dalam melebar kala netra tajam elang Axton sangat membekas di pasukan lama. Mereka kenal ini dan sampai sekarang kekuasaan Tuan Fander masih di idamkan.
Johar yang tengah duduk di kursi kekuasaannya itu berbalik segera melempar pandangan ke arah Axton yang tak bergeming sama sekali.
"Sudah datang. Rupanya?!"
"Dia tak membawa senjata apapun. Tuan!"
Jawab pria itu membuat Johar tersenyum kecil. Ia mengisyaratkan agar mendekat dan tentu Axton menurutinya.
Pandangan di buat kosong seakan tak mengerti. Namun, itu saja sudah cukup membuat mereka berfikir dua kali untuk menyerang atau menyentuh tubuhnya.
"Kenapa berdiri? Ayo duduk!"
"Turuti. Tuan!" sambar wanita berambut keriting ini menekan bahu Axton dengan senjata Pistol di tangannya.
Axton tak melawan. Ia melangkah ke arah kursi tepat di depan meja yang menjadi pembatas antara ia dan Johar.
"Duduklah. Kau pasti merasa tak asing dengan tempat ini bukan?"
"T..Tempat?" tanya Axton seakan baru pandai bicara. Ia mulai menunjukan kegelisahan duduk di kursi itu dengan mata bergerak mencari kenyamanan.
Padahal. Mata tajam Axton merekam semua sudut ruangan ini termasuk ada berapa jumlah penjaga dan ponsel yang ada di meja tepat di depannya.
Melihat tingkah Axton yang kebingungan, Johar sangat puas. Ia akan jadi lebih mudah menanamkan jati diri ke jiwa jantan pria ini.
"Yah. Disini rumah barumu, kau suka?"
"R..Rumah?" tanya Axton termenggu kosong. Kedua tangannya saling bertaut tetapi alat pendengar di telinganya tengah berfungsi menyalurkan informasi pada Nicky.
"Rumah. Ini adalah tempat barumu, kau akan hidup disini dengan kami semua."
"S..Semuanya."
"Benar! Semuanya, ada aku temanmu." Johar mengulurkan tangannya ke hadapan Axton yang tengah menahan luapan emosi. Ia sangat jijik untuk berhadapan dengan sampah ini tapi rencana mereka harus tetap terlaksana.
"Ayo! Kita teman sekarang."
Pancing Johar mengambil perhatian Axton yang mengetatkan rahangnya. Tatapan Axton berubah dingin tetapi mereka tak sadar itu.
"Ayo! kau tak perlu ra..."
"Teman!!"
Axton menjabat tangan Johar dengan kasar bahkan ia meremasnya kuat membuat Johar terperanjat berpeggangan ke ujung meja.
Tatapan keduanya bertaut. Johar tiba-tiba merasakan jika jabatan tangan ini sangat kuat bahkan terkesan ingin mematahkan jarinya.
"K..kau terlalu berlebihan." desis Johar memaksakan senyuman kala tulang jarinya di remas kuat oleh tangan kekar Axton yang masih diam.
"Jangan terlalu kuat. Kau bisa mematahkan tanganku."
"Apa boleh?" tanya Axton dengan kepala agak di miringkan ingin melihat exspresi pucat Johar si mata satu ini.
Namun. Setelah semuanya menjadi serius dan bahkan wanita di belakang Axton sudah ingin memberi pukulan barulah Axton melepasnya.
"Jangan ada yang bergerak." pinta Johar seraya melenturkan jemarinya yang sakit.
"Sakit?"
"Tidak. Kau memang sangat kuat." jawab Johar menganggap ini sebagai salah satu sikap aneh Axton yang memang dilaporkan oleh Nyonya Verena.
"Yah. Kau ingin menjadi kuat?" tanya Johar seraya menghela nafas berat. Ia rasa jarinya sudah terkilir tapi apa boleh buat.
"Kuat."
"Aku bisa menjadikanmu Kuat."
"Kuat." gumam Axton memaknai itu sebagai sesuatu yang mengerikan. Maksudnya dan maksud Johar saling bertolak belakang tapi ia pandai bermain taktik di kandang lawan yang sejatinya adalah tempat ia berlatih berjalan.
Melihat obsesi di mata Axton yang begitu besar dan menyala-nyala. Johar semakin terpancing untuk menjadikan Axton pimpinan muda walau sejatinya memang harus pria ini.
"Kau tenang saja. Saat itu terjadi maka semua yang ada di atas dunia ini akan jadi milikmu. Milik kita semua."
"Milikku."
"Yah. Ini semua Milikmu, kau penguasa yang akan memimpin mereka tapi kau harus patuh pada Pimpinan tertinggi." jelas Johar ingin menanamkan moto ini ke kepala Axton yang sudah mengepalkan tangannya.
"Pimpinan."
"Yah. Dia yang akan memberimu perintah dan dia yang akan memberikan apapun yang kau mau."
"Aku tak perlu dia."
Batin Axton tengah mengingat wajah tua Johar yang masih tercetak jelas di ingatannya. Pria inilah yang menjadi awal kehancuran Keluarganya dan jangan harap ia akan melepaskannya dengan begitu mudah.
"MASIMO. Dia Pimpinan terkuat kita."
"Dimana?" tanya Axton masih mencoba menggali informasi. Ia hanya kenal Masimo dari namanya karna orang yang asli Axton belum pernah melihatnya.
Menunggu jawaban dari Johar tapi sepertinya pria ini tak mau menjawabnya.
"Dia ada dimana-mana. Kau tak perlu tahu dia siapa tapi yang jelas dia itu orang yang kuat."
Nicky yang mendengar percakapan ini terus mencoba melacak dimana keberadaan Masimo itu. Ia sudah mencari di Portugis tapi ia tak menemukan data asli Masimo yang selalu berpindah-pindah.
"Axton! Jangan dulu memaksanya, aku akan mencari data aslinya."
Axton mendengarkan ucapan Nicky yang pasti juga tengah berusaha. Ia juga tak mungkin terlihat sangat ingin tahu karna Johar juga termasuk pria licik.
"Sekarang. Kau pahamkan, maksudku?"
"Kuat."
"Yah. Itu! Kau akan menjadi lebih kuat dengan masuk sebagai kaki tangan Masimo."
Axton mengangguk datar. Ia meletakan sesuatu di bawah daun meja ini tanpa di ketahui siapapun. Bahkan, wanita yang tadi menodongkan pistol ke bahunya tampak lebih penasaran melihat wajah tampan Axton yang tak bisa ia tatap jelas.
"Bawa dia ke ruangan khusus."
"Bersedia. Tuan!"
Wanita itu ingin memeggang bahu Axton tapi sayangnya Axton sudah lebih dulu berdiri tak ingin di sentuh tangan siapapun.
"Ingat. Beri dia makanan yang sehat dan jangan lupa Vitamin yang ku berikan."
Ucap Johar terkekeh kecil mengibaskan tangannya pertanda ini sudah cukup.
Axton kembali digiring keluar dengan pria paruh baya yang tadi menemani Axton tampak masih diam membisu.
"Aku akan mengantarnya!"
"Aku yang akan ikut." kekeh Wanita itu sepertinya tak begitu percaya pada pria ini.
Axton hanya diam setia dengan raut datarnya sampai ia ingat Kellen yang tadi ada di luar.
"Kellen."
"Kau mencarinya?"
Tanya Nicky yang mendengar gumaman Axton barusan.
"Hm."
"Dia di bawa ke bangunan petak di area penangkaran. Tadi dia pingsan."
Mendengar itu jantung Axton terasa berpacu. Ia sadar jika tempat ini sangat tak manusiawi bagi Kellen yang baru pertama kali kesini.
Tanpa pikir panjang atau berbelok kemana lagi. Axton keluar sendiri karna dua manusia itu masih tampak berdebat untuk mengantarnya.
.......
Vote and Like Sayang..