
Nafas Kellen tercekat dengan pipi merah memanas kala bibirnya bertaut rapat di atas bibir sensual Axton yang termenung kosong menatap mata ember Kellen yang tengah menindih tubuhnya.
Benda kenyal ini terasa sangat manis dan lembut dengan kehangatan yang menjalar asing di tubuh Axton.
Untuk sesaat keduanya saling tatap tanpa berkedip. Sungguh dari dekat ini Kellen bisa melihat bagaimana sempurna bulu mata lentik Axton dan lekukan netra jantannya yang tajam.
"Tuan!"
"Shittt. Kellen!"
Umpat Kellen tersadar saat suara Castor mengalun. Ia merasakan nafas hangat Axton yang tak bergerak di tempat. Ia sangat menyukai kelembutan dan rasa manis bibir Kellen yang menempel padanya.
"A.. Aax." spontan menarik diri dari atas tubuh kekar Axton yang sudah menunjukan keseksiannya. Semua kancing kemeja itu sudah terlepas hingga Kellen semakin gusar melihat liukan otot kekar ini.
"C..Castor! Ini.. Ini tak se.."
"Aku tahu." jawab Castor seadanya. Kellen mengigit bibir bawahnya seraya meremas jemari pertanda gugup. Wajah malu itu sangat menggemaskan.
"Kell!"
"Aax! Kau.."
"Kell!!" gumam Axton lemah kala cahaya ini kembali menusuk matanya. Tadinya sempat terhalang kepala Kellen tapi sekarang ia mulai kembali gelisah.
Tahu akan semua itu. Kellen segera membantu Axton duduk dengan mata pria itu mengerijab menyesuaikan cahaya yang masuk di netranya.
"Jangan takut. Aku disini, kau tak sendirian."
"Tuan. Cobalah untuk tenang." ucap Castor ingin mendekat tapi Axton menjauh menarik tubuh Kellen menghindari Castor.
Dalam pandangan elang itu. Semuanya kabur karna ia hanya menyipit tak bisa melihat jelas.
"Tak apa. Dia tak jahat, sekarang buka matamu pelan-pelan."
"Kell!"
"Ayo. Kau tak melihatku?" tanya Kellen menggenggam tangan kekar Axton yang berusaha melawan gejolak rasa yang tengah menghantuinya.
"Perlahan, yah.. Seperti itu."
"Kau bisa." lirih Castor sangat berharap menantikan kelopak mata Axton yang perlahan terbuka menatap bingung langit biru diatas sana.
"Bagaimana? Kau suka?"
"Kell!"
"Itu langit, warnanya memang begitu. Dan kau tak perlu cemas, disini semuanya aman. Hm?" gumam Kellen juga mengadah ke atas. Hamparan langit biru yang memaparkan lukisan awan yang cantik.
Tatapan kosong dan penuh tanya Axton terlempar ke semua penjuru menyusuri langit lepas yang sangat asing baginya. tapi, Axton merasa Dejavu.
"Ada apa?"
"I...itu.."
Axton memeggangi kepalanya yang terasa nyeri hingga membuat Castor dan Kellen saling pandang.
"Ada apa?"
"K..Kepala.."
"Apa sakit?"
Axton mengangguk menyeringit. Ia menatap bingung ke semua tempat yang ada di hadapannya. Dinding beton berwarna putih keabuan dengan rerumputan yang tengah ia duduki.
Sesekali Axton terperanjat saat melihat ada air pancur di dekat Taman belakang. Ia berjongkok cepat menatap siaga ke semua tempat.
"K..Kell! Kell!" mencoba menarik Kellen ke arah pintu ruangan gelapnya.
"Hey!!"
"Kell!!"
"Tak ada manusia disini. Semuanya benda, jangan takut." peringat Kellen lembut mengusap kepala Axton hangat.
Ia mengerti akan respon gelisah Axton yang sangat aneh dengan semua ini. Mata yang bisa menatap kegelapan itu, di hadirkan dengan berbagai warna, tentu ia sangat terkejut.
"Sebaiknya cepat bawa dia ke kamarmu."
"Aku tahu. Tapi akan sulit melewati penjaga di depan." gumam Kellen berbicara dengan Castor.
Axton masih belum berani untuk jauh dari Kellen. Pria itu seperti menganggap semuanya musuh hingga membelit pinggang Kellen posesif dan siaga jika ada yang menyerang.
"Masalah itu akan ku urus. Kau hanya perlu berhati-hati pada jengot tua itu."
"Maksudmu?"
Castor diam dengan wajah dinginnya. Tentu tak butuh waktu banyak bagi Kellen untuk menebak maksud Castor bagaimana.
"Ouh.. Dia.."
"Yah. Kau jangan sampai terlihat mudah di akalinya, dia akan melakukan berbagai cara untuk memperpanas keadaan."
Kellen mengangguk. Ia beralih pada Axton yang benar-benar tak memeggang apapun disini, ia sangat waspada bahkan begitu liar.
"Ax! Ayo pergi istirahat."
"Kell!"
"Ayo. Ikut aku." ajak Kellen perlahan berdiri di ikuti Axton yang membelit pinggang ramping seksi miliknya.
Axton tak memberi jarak sedikitpun bahkan menyusahkan Kellen dalam berjalan.
"Bukan kesana!" menahan lengan Axton ingin bersicepat ke arah pintu lorong.
Axton menyipitkan matanya masih belum terbiasa dengan sengatan mentari. matanya berusaha mencari tempat gelap.
"Kell!"
"Ikut aku. Kita punya tempat baru."
Terlihat terpaksa Axton mengangguk mengikuti langkah kecil Kellen. Ia beberapa kali menghindari rerumputan yang ia injak dengan aneh.
"Pelan-pelan. Dia tak akan menyakitimu."
"Kell!!" geram Kellen menendang batu yang ada di depan jempolnya. Ia ingin menginjak marah tapi Kellen sudah menarik lengannya cepat masuk ke arah bangunan Gudang yang sudah Kellen bersihkan kemaren.
"Cepat! Waktumu tak banyak."
"Hm." gumam Kellen setengah berlari menarik Axton yang linglung tapi tetap melangkah lebar. Satu langkahnya bisa mengimbangi lari kecil Kellen.
Setelah beberapa lama Kellen berusaha membawa Axton ke arah bangunan Gudang di samping.
Akhirnya mereka masuk ke Koridor yang biasa di jaga para penjaga tapi sepertinya Castor sudah mengurus segalanya.
"Cepatlah. Kita dalam bahaya jika masih di luar."
"Kell."
"Sutt!!" Kellen membekap mulut Axton seraya menekan gagang pintu minimalis ini.
"Masuk!!"
Mendorong Axton masuk hingga ruangan tak terlaku luas ini menyapu pandangan tajam Axton. Ada satu ranjang kecil yang hanya menampung 1 orang dengan pintu kamar mandi.
"Ax! Kau tunggu sebentar disini."
Axton tak mendengar itu. Ia berdiri tegap dengan tatapan menelisik di setiap lekuk ruangan ini.
Ranjang kayu berukiran hewan-hewan buas seperti singa dan beberapa miniatur anak panah yang di pajang Kellen karna masih bagus.
"*Bagus?"
"Bagus. Aku suka. Tapi bagaimana cara membuatnya?"
"Ini mudah jika kau mau bekerja*."
Suara-suara itu kembali menghantui Axton yang seakan dibekali rasa sesak di dadanya. Sakit, perih dan seperti merindukan sesuatu.
"K..Kell." gumam Axton mencengkram kepalanya.
Ia berputar pelan di tempat ini dengan pandangan kabur berpusing kuat. Suara-suara itu mengelilingi benaknya dengan sangat menyakitkan.
"*Bagus?"
"Bagus. Aku suka."
"Good Boy*!"
"Aaaaxxx!!! Aaaxxx!!!" teriak Axton menggeleng kuat mundur ke belakang mendekati ranjang.
Tiba-tiba saja dalam penglihatannya ada yang berdiri di dekat pintu kamar mandi sana. Hanya seulet bayangan hitam tapi tak jelas tengah berbicara dengan seorang bocah di dekat ranjang.
"J..Jangan.. A..ku.."
Pintu tiba-tiba terbuka. Keringat dingin di kening Axton turun kala melihat suasana di luar berubah di penuhi cahaya yang sangat terang menyilaukan matanya.
"J..Jangan.. " gumam Axton kala ada sesuatu yang ingin muncul dari sana. Semakin lama semakin dekat membuat tubuh Axton mendingin gemetar.
"J..Jangan.. Jangan.. Aku.."
Axton menggeleng merapat ke dekat ranjang. Cahaya itu semakin membesar seakan ingin menelannya dengan momok yang menakutkan.
"Jangaaan!!"
"Aax!"
Axton tersentak saat tangan lentik itu memeggang lengannya.
Nafas Axton memburu dengan wajah memucat dan bersimbah keringat.
"K..Kell!"
"Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Kellen syok saat mendengar gema suara Axton dari luar.
Mata elang Axton kembali melihat di sekelilingnya tapi pria itu terhenyak kala apa yang tadi ada di penglihatannya menghilang.
"D..Disana.."
"Ada apa? Itu kamar mandi. Kau ingin ke sana?"
Axton bingung. Jelas tadi semuanya seakan nyata bahkan terasa menariknya kembali ke suatu tempat yang penuh dengan misteri.
"Hey! Tak ada apapun, hm?"
"K..Kell! Di..disana.. I..it..u.."
"Tak ada apapun disini. Kau tenanglah, sekarang bersihkan dirimu lalu istirahat. Ayo."
Axton menggeleng menatap siaga bagian pintu itu membuat alis Kellen bertaut. Sebenarnya apa yang di alami pria ini?
"Tak ada apapun. Percayalah, aku akan menemanimu."
"K..Kell!"
"Ayo. Aku akan menunggu di depan pintu." ucap Kellen menarik lengan Axton ke depan pintu kamar mandi.
Axton masih melihat-lihat dengan waspada mengikuti Kellen yang masuk menyetel Shower yang memang tersedia.
Hanya saja disini tak ada Wastafel atau Bathtub.
"Ayo! pakai ini untuk membasahi tubuhmu. Kalau sudah selesai panggil aku."
Axton hanya diam. Tentu hal inilah yang Kellen takutkan, Axton tak bisa mandi sendiri.
"Aku harap dia tak akan membuat ulah lagi." gumam Kellen berdo'a saja.
Castor tengah mengurus para penjaga. Pria itu juga menyarankan agar ia mengurus Axton dengan baik tapi nyatanya ada beberapa hal yang membuat Kellen merasa malu dan tak berani melihatnya.
..
"Vote and Like Sayang..