My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Hari ini aku milikmu!



Pagi ini semuanya tengah sibuk dan benar-benar sangat sibuk. Para anggota di Markas besar tengah di latih langsung oleh Castor yang menjadi pemantau kegiatan penting ini.


Tepat di sebuah lapangan luas yang penuh dengan salju. Mereka tak di perbolehkan memakai pakaian hangat sama sekali hingga disini daya tahan tubuh itu benar-benar diuji.


Belum lagi dengan suasana mendung diatas sana. Suhu yang dingin dan keadaan medan tempur yang kurang mumpuni membuat mereka semua kerap kali terjatuh karna menghindari tembakan yang di lepaskan oleh Castor.


"Selamatkan nyawa kalian sendiri!!!!"


"Baiiiik!"


Mereka terlihat memaksakan diri dengan berusaha mengelak dari tembakan yang Castor lancarkan. Banyak yang terluka tetapi pelatihan ini tak main-main sama sekali.


"Lebih lincah!! Atau nyawa kalian hilang!!"


"Shittt."


Mereka mengumpat kala peluru itu sudah bersarang di paha dan perutnya. Salju yang semula putih berubah menjadi merah karna tetesan darah yang tak kunjung usai.


Jeritan sakit itu terdengar sampai ke dalam Markas membuat Kellen yang tadi turun dari kamarnya membeku di dekat tangga ini.


"Mereka kenapa?" gumam Kellen mengernyitkan dahinya.


Ia melihat raut wajah beberapa anggota yang tengah berjaga di pintu sana. Terlihat pucat ntah apa yang di takutkan Kellen pun tak tahu.


"Hey, kalian!!"


"N..Nona!!"


Mereka membungkuk kala Kellen melangkah turun mendekat. Sungguh Kellen tak nyaman dengan sapaan ini dan terkesan sangat berlebihan.


"Jangan begitu, kalian ini kenapa?"


"Kami siap melayani anda."


"Ha?" gumam Kellen semakin di buat tak mengerti. Tak biasanya para anggota disini memperlakukannya sangat spesial, di hari pertama saja ia datang mereka sudah berlaku kasar.


"Nona! Anda sebaiknya istirahat, ini perintah Tuan!"


"Sudahlah. Aku mau ke luar."


Kellen ingin melangkah ke arah pintu keluar yang ada di samping tapi dua penjaga ini langsung menghadangnya.


"Kauu..."


"Nona! Ini perintah, Tuan!"


"Yang benar saja, aku hanya ingin melihat cuaca di luar. Kenapa jadi begini?" tanya Kellen tak suka.


Dua pria berbadan kekar itu saling melempar pandangan. terlihat jelas mereka tengah kebingungan harus melakukan apa.


"Kalian berjaga di tempat lain saja. bisa saja musuh itu datang pagi ini."


"Maaf, tapi kami harus tetap disini."


Shitt. Kenapa bisa begini? Ia hanya ingin bernafas tenang di mata langkah mengarah.


"Terserah! temani aku keluar."


"Tapi.."


"Pilih. Aku keluar atau aku akan menyuruh Tuan-mu itu menghukum kalian."


Tanpa berfikir lagi mereka segera membuka jalan untuk Kellen. Tentu senyum puas wanita cantik ini memikat mereka untuk sekejab.


"Bagus! Lain kali tetap begini."


"B..Baik."


Kellen melangkah keluar. Ia lagi-lagi lupa memakai Mantel hingga hanya melenggang ke arah pintu samping dimana sudah terhembus udara beku dari luar.


"Apa yang terjadi di belakang?"


"Itu..."


"Aaaaaa!!!!"


Suara teriakan itu mengejutkan Kellen. Ia segera berlari pelan ke sana menyusuri Koridor samping dimana tumpukan salju ini sudah di karuk ke tepi oleh para pembersih.


"Nona!! Jangan kesana!!"


"Ada apa sebenarnya?" gumam Kellen bergegas kesana. Bentuk bangunan seperti susunan Rubik ini begitu sulit Kellen lalui apalagi lukanya masih belum begitu sehat.


Suara tembakan dan geraman sakit itu semakin jelas terdengar membuat Kellen berusaha cepat mencapai belokan lorong terakhir dan..


"Lebih cepat dan fokuuuuss!!!"


"K..kami s..sudah.."


Mereka semua tumbang diantara tumpukan salju yang beku. Tak ada yang mampu berdiri kecuali beberapa anggota lama yang tampak berdiri tegap dengan nafas memburu pertanda sudah di bantai habis-habisan.


Tentu Kellen yang melihat itu sangat syok. Ia tak percaya kalau Axton akan sekejam ini memperlakukan mereka.


"Bangkiiiit! Ini bukan waktunya tiduuur!!"


"K..Kami..."


Mereka terlihat tak lagi bisa bergerak. Wajah itu sudah memucat karna kehilangan banyak darah. Apalagi suhu salju yang begitu dingin membuat seluruh tulangnya membeku.


Namun. Tak ada raut kasihan sama sekali dari Castor maupun Vacto yang sudah biasa melihat ini. Bersama kepemimpinan Tuan Fander dulu mereka sangat dilatih ketat


"Banguuuun!!! Jangan ada yang menolongnya!!!"


"T..Tuan! K..kami tak bisa." mereka sudah sangat lemah.


Axton yang melihat dari atas Atap sana benar-benar merasa jijik dengan kemampuan kecil para anggota Johar yang sepertinya sengaja tak di perkuat.


Nicky-pun sama. Johar pasti sengaja melakukan ini agar bisa mengendalikan Klan dengan semena-mena. .


"Axton! Apa tak sebaiknya saja lepaskan mereka?!"


"Hm."


Axton hanya bergumam. Ia tak ada niatan untuk melepas para anggota Johar karna masih bisa di tempa walau menguras tenaga.


"Walau mereka tak begitu kuat. Tapi, aku yakin mereka akan berguna nantinya."


"Tapi..."


"Cukuuuuupp!!!"


Kalimat Nicky terhenti kala suara wanita di bawah sana mengejutkan keduanya. Kellen tampak berlari pelan ke arah Castor yang ingin menembakan senjatanya.


"Kellen?"


"Shittt!" umpat Axton segera meloncat ke bawah menapaki beberapa beton dan sampai ke bawah sana.


"Hentikan!! Ini tak manusiawi lagi."


"Kau jangan ikut campur." sarkas Castor jengah. Bisa-bisanya Kellen datang padahal sudah di kurung di dalam Markas mereka.


"Apa-apaan kau. Ha? Mereka juga manusia dan tergolong masih muda. Tak semua kekuatan kalian bisa dapatkan dari kekerasan."


Namun. Kellen sangat keras kepala dan ia tak akan membiarkan hal ini terjadi begitu saja.


"Bawa mereka dan obatiiii!!"


"Kellen!" geram Castor tatapi Kellen kekeh untuk bicara lantang disini.


Tak ada yang bergeming atau sekedar mengangkat pandangan karna sosok gagah nan beraura kelam itu sudah berdiri tak jauh di belakang Kellen yang belum menyadarinya.


"Cepat bawa mereka!!! Disini sangat dingin dan jangan mematung diam begitu saja!!"


"N..Nona.."


Gumam Mereka takut-takut melihat Kellen yang tengah cemas melihat darah dimana-mana. Ia mual melihat pemandangan ini di setiap pagi.


"Apalagi yang kalian tunggu?!!! Cepat bawa mereka!!"


Semua anggota beralih pada Axton yang menganggukinya hingga barulah para Team medis bergerak mendekati para anggota yang terluka. Hampir semuanya tapi anggota lama juga ikut membantu membawa ke ruangan medis.


Melihat itu Castor membuang pistolnya Ia beralih mengambil minum yang di bawa para penjaga lelaki disini.


"Memang tak termaafkan! Ini sudah kelewat batas."


"Batasan apa?"


Seketika Kellen langsung berbalik. Mata Ambernya berubah menajam dengan wajah keras dan terlihat marah.


"Kau tahu. Ha??"


"Tidak." jawab Axton santai mendekati Kellen. Ia melepas mantelnya dengan niatan membalutkan benda itu ke pundak Kellen yang mengelak tak mau.


"Ini sudah tak normal. Ax! Kau bisa membunuh mereka semua. Ini tak bisa di biarkan saja."


"Pakai ini!"


"Dengarkan aku!" bantah Kellen serius dan kali ini tampaknya Kellen tak akan bisa diam saja. Sudah terlanjur banyak hal yang menurutnya sudah tak masuk akal.


"Hentikan semua ini dan cari cara lain."


"Hm?"


"Cari cara lain! Kau ingin menjadikan mereka sepertimu, tapi apa mereka sekuat itu?"


Axton hanya memandang datar Kellen yang sudah memburu. Tetapi, tetap saja reaksi Axton tetap sedingin itu membuatnya frustasi.


"Ax! Kau mendengarku-kan?"


"Hm."


"Lalu apa? Kau mengerti maksudku, bukan?"


Tanya Kellen sangat menunggu. Axton tak menjawab sama sekali, ia membalutkan mantelnya ke tubuh Kellen kala suhu semakin menusuk.


Pandangan Axton bergulir pada Castor yang sudah tahu apa perintah darinya.


"Baiklah! Kau bisa bebas bicara dengannya."


"Aku akan ikut membantu." sambar Vacto tak mau membantah apapun.


Akhirnya mereka semua pergi dan meninggalkan Kellen dan Axton yang masih diam membisu di tengah kedinginan ini.


"Kau tak merencanakan untuk membunuhku-kan?" tanya Kellen menatap hamparan salju yang berubah merah.


Kejadian semalam itu mengganggu pikirannya. Ada hal yang terkadang membuatnya cemas di kala sendiri.


"Kau berfikir begitu?"


"Karna.. " Kellen menjeda ucapannya. Ia sulit memahami bagaimana Axton terhadapnya. Itu sangat sulit ia terka.


"Karna?"


"Karna kau itu aneh! Kau selalu melakukan sesuatu di luar perkiraan-ku dan aku tak tahu apa yang sekarang kau pikirkan dan pendapatmu tentang aku." ucap Kellen kebingungan.


Axton sadar itu dan ia juga ingin mengatakannya. Mau atau tidak maka itu harus terwujud.


"Apa kau bisa melakukan sesuatu?"


"Apa?" tanya Kellen menautkan alisnya. Ia masih belum bisa menyeimbangkan kehidupannya dengan Axton yang sekarang.


"Teruslah memperhatikanku!"


Degg...


Kellen terperanjat akan ucapan Axton barusan. Ia menatap tak percaya manik elang ini dengan nafas tersendat.


"K..kau.."


"Kau suka aku yang bagaimana?"


"K..Kenapa dia begitu terus terang?"


Batin Kellen merasa gugup. Ia merasa semakin dingin kala Mantel ini menghangatkannya.


"Katakan!"


"Ax! Aku bosan." gumam Kellen tak mau membahas ini. Ia belum siap untuk membahas pertanyaan yang belum diketahui jawabannya.


"Kapan kita bisa seperti dulu?"


"Aku ingin berkeliling." jawab Kellen tetap tak mau menjawabnya. Ia melihat jelas raut kecewa Axton yang membuat dadanya terasa nyeri.


Axton diam. Walau rasanya sakit tapi ia akan menerima dan terus menunggu jawaban Kellen.


"Mau ku temani ke Kota?"


"A.. Ha?" tanya Kellen tersentak. Pasalnya tak mungkin Axton membebaskannya keluar dari tempat ini setelah kejadian beberapa waktu lalu.


"Hari ini aku ingin keluar. Kau ikut?"


"Sepertinya dia ingin merencanakan sesuatu. Aku bisa mengikuti kemauannya untuk sementara waktu."


Batin Kellen sangat ingin memata-natai Axton yang memang ada urusan di luar. Tapi, ia tak akan tenang meninggalkan Kellen sendirian disini.


"Kau tak mau?"


"Emm.. Boleh. Kau begitu memaksa jadi mau tak mau aku harus ikut." jawab Kellen meninggikan egonya.


Axton menarik senyum samar mengangkat tangannya dan mengusap kepala Kellen yang melebarkan matanya.


"Hari ini aku milikmu!"


"Aaaaa!!!"


Batin Kellen berteriak keras karna kalimat Axton barusan membuatnya berkelana ke berbagai menara di dunia ini.


....


Vote and Like Sayang..