
Ruangan gelap dengan aroma amis menyengat itu membuat mereka tak bisa bertahan lama. Darah yang mengering dan lantai yang dingin tak lagi bisa menghadirkan suasana hangat dan nyaman.
Bagaimana bisa Johar hidup di tempat seperti ini? Tentu saja itu tak penting. Tujuan pria itu di tawan hanya untuk menguras informasi.
"Kau masih tak mau bicara. Ha??" geram Vacto yang sudah memeggang pisau berlumuran darah.
Ia tak segan sama sekali menyayat tubuh Johar yang merintih sakit tetapi belum mau untuk berbicara.
"DIMANA MASIMO ITU???"
Vacto lagi-lagi menyayat lengan Johar yang hanya bisa menahan rasa sakit. Ia masih bisa tertawa walau darah di mulutnya tak lagi bisa di hentikan.
"K..Kalian. Ss..sampahh.."
"Cih! Kau sangat menyedihkan." umpat Vacto masih mengigil menahan amarah di dadanya. Dulu ia menyaksikan sendiri bagaimana Johar mengkhianati mereka hingga membantai habis semua orang di Kediaman.
"V..Vacto uhuuuk! Kau.. Kau itu.. B..bodoh."
Vacto benar-benar mengepal kuat. Tubuh Johar sudah bersimbah darah di rantai kasar ini, tak ada bagian tubuh manapun yang tak kena sayatan pisau tajam Vacto yang sudah kehabisan kesabaran.
"Kau ingin mati."
"Emm.. L..Lakukan!"
Vacto sudah naik pitam. Dengan emosi yang membara mengayunkan pisaunya ke kepala Johar berniat untuk merobek tengkorak pria ini.
"Tungguuu!!!"
Lengan Vacto di tahan dari belakang. Seketika Johar menyeringai melihat Castor yang lega karna ia cepat kesini atau tidak mereka kehilangan ladang rencana.
"DIA MEMANG INGIN MATI!!!"
"Itu hanya akal-akalannya." jawab Castor menatap bengis Johar yang masih santai di tempatnya. Tampaknya pria paruh baya ini memiliki mental baja dan misteri yang lengkap.
Namun. Exspresi Johar berubah kala melihat Axton sudah muncul di depan pintu sana. Raut dendam dan kebencian memenuhi wajahnya tetapi Axton hanya setia dengan respon datar itu.
"Menjauh darinya!"
"Tapi,..."
Vacto terhenti kala tatapan Axton membuatnya tunduk. Mau tak mau ia mundur tetapi sorot mata membunuh itu tak beralih dari Johar.
"K..kau takut? Kenapa.. Tak membunuhku. Hm?"
"Shitt." umpat Vacto melempar pisaunya ke lantai membuktikan ia sedang di landa emosi yang besar.
Axton hanya diam melangkah mendekati Johar dengan mata memindai keadaan pria ini. Sangat mengenaskan.
"B..Bunuh! Bunuh aku, bukankah kau dendam padaku?"
"Jelas aku akan melakukannya." jawab Axton belum mengalihkan pandangan.
"Lakukan! Lakukaaan!!!!"
"Tidak sekarang." ucap Axton melempar sesuatu ke wajah Johar. Foto-foto itu berserakan ke lantai hingga mata Johar melebar melihat apa yang tengah di tunjukan padanya.
"K..Kau..."
"Kau suka?" tanya Axton dengan intonasi sarkas. Foto-foto dimana ia telah berhasil membuat masyarakat di Negara Johar melakukan Demonstrasi besar-besaran atas kecurangan Johar dalam menjadi Mentri.
Axton memasukan orang dalam ke Dapartemen Pemerintahan India untuk menyebar semua hal busuk yang di lakukan Johar termasuk pada penjualan Aset Negara secara ilegal di Delhi.
"K..kau.."
"Anakmu sepertinya sangat suka bermain air. Bukan?"
Johar seketika menatap membunuh Axton yang melempar seringaian. Lengkungan yang begitu mematikan.
"Jangan coba-coba mengusiknya!!"
"Kenapa? Dia suka air dan aku rasa jika melihat dia berenang di tengah lautan dan samudra. Itu sangat menyenangkan."
"BRENGSEEEK!!"
Maki Johar memberontak ingin menyerang Axton yang tahu jika Johar dekat dengan anaknya yang paling kecil. Ia bisa menggunakan ini untuk menyerang balik.
"Pikirkan baik-baik. Aku tak punya rasa iba pada siapapun."
Tekan Axton lalu melangkah pergi di ikuti Castor. Suara bentakan Johar terdengar tapi Axton hanya acuh dan tak perduli. .
"Ax! Apa rencana mu untuk dia?"
"Belum ku pikirkan."
Jawab Axton datar yang di mengerti Castor. Ia hanya bisa membuntuti Axton sampai ke pintu keluar dimana Nicky sudah berjalan kesini.
"Tugasku hari ini selesai, semuanya sudah ku kirim padamu."
"Hm."
Axton melewati Nicky yang langsung merangkul bahu Castor yang hanya diam.
"Hey! Bagaimana menurutmu?"
"Apa?"
"Tentang Axton."
Castor menghela nafas halus. Ia tak perduli apapun yang tengah Nicky dan Axton lakukan karna ia tak mau menjadi nyamuk atau pengawal mereka.
"Sudahlah. Biarkan Axton melakukan apa yang dia mau, dia sudah dewasa."
"Castoor! Axton itu masih anak-anak jika masalahnya tentang wanita. Aku sudah memberinya buku panduan dan.."
"Buku?" tanya Castor tersentak. Ia menatap tajam Nicky karna tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada Axton nantinya.
Paham akan pandangan itu. Nicky segera menggeleng membantah dugaan Castor.
"Bukan. Aku tak memberinya buku yang buruk, hanya saja itu buku panduan yang sangat berbakat."
"Nicky! Jangan turunkan sifat tak senonohmu itu pada Axton, kau.."
"Romance of Love. Bukankah itu menarik?"
Castor memijat pelipisnya. Buku Romansa Cinta itu membuat Castor pusing, ia sama sekali tak mengerti kenapa Nicky tertarik akan hal-hal seperti itu.
................
Suara gemericik air di dalam kamar mandi sana terdengar. Jika di telisik kedalam, maka mata akan tersihir akan penampakan Bidadari cantik yang sekarang tengah menenagkan diri dengan berendam di dalam Bathub yang terisi air dan busa-busa lembut.
Rambut indahnya di urai turun dengan separuh tubuh masuk kedalam air menikmati pijatan halus ini.
Kellen berusaha untuk melupakan kalimat Axton tadi siang. Ini sudah jam 8 malam dan ia yakin Axton tak akan ke kamar secepat itu.
"Aku harap dia lupa dengan rencananya." gumam Kellen harap-harap cemas. Ia sudah lama disini dan kulit itu juga sudah sangat dingin dan wangi.
Tetapi. Kellen tak punya keberanian untuk keluar atau sekedar menunjukan wajahnya di hadapan Axton.
"Shitt! Lama-lama kulitku bisa keriput." gumam Kellen akhirnya menyudahi acara rendaman ini.
Ia mandi dengan bersih menguarkan aroma harum Vanilla yang khas dari tubuhnya. Tak lupa, Kellen meraih Bathrobe yang ada di daun pintu lalu memakainya dengan santai.
Kellen berusaha rileks menggulung rambutnya dengan handuk kecil ke atas kepalanya lalu melangkah keluar.
"Syukurlah. Dia belum ke sini."
Gumam Kellen mengelus dadanya lega. Ia dengan gontai melangkah ke Lemari pakaian. Kellen membuka benda itu namun..
"Kemana semua pakaianku?" gumam Kellen terkejut kala tak menemukan apapun di dalam lemari. Hanya ada satu baju dan itu yang membuat Kellen bertambah meneggang.
Sebuah lingerie merah Apple yang transparan dengan tali kecil di pundak. Bagian dada rendah dan panjangnya hanya sepangkal paha.
"T..tidak.. Kapan.. Kapan Axton menggantinya?" gumam Kellen menatap ngeri pakaian panas ini.
Membayangkannya saja Kellen sudah mau pingsan apalagi ia pakai
"Aku..aku harus membuang ini. Yah.."
Kellen segera berbalik ingin pergi ke kamar mandi tapi. Wajahnya seketika memucat kala melihat siapa yang telah bersandar di ambang pintu sana dengan mata tajam mencegat pergerakannya.
"A...Ax!" gugup Kellen spontan menyembunyikan pakaian itu di balik punggungnya.
Axton melangkah masuk kedalam seraya menutup pintu kamar rapat. Raut wajahnya masih datar dan tenang tetapi Kellen sudah mendingin.
"A..Ax! Kau..kau sudah..sudah makan?"
"Belum."
Jawab Axton kembali mendekati Kellen yang benar-benar mau lari dari sini. Bulu kuduk ya merinding dan sangat gugup.
"A.. Itu.. Kemana pakaianku? Disini dingin, Ax! Aku..aku butuh pakaian hangat."
"Dingin?"
Kellen mengangguk cepat menahan nafas kala Axton sudah ada di hadapannya. Melihat penampilan Kellen yang seperti ini saja sudah mampu memancing Axton yang sangat terpikat akan aroma tubuh Kellen.
"A..aku..aku butuh pakaian hangat. Dan.."
"Cobalah pakaian yang ku siapkan."
Gkekk...
"Pakailah. aku ingin melihatnya."
"Y. Ya, Tuhan!"
Batin Kellen memohon. Ia menatap sendu Axton yang sedia dengan wajah tegasnya, ntah kenapa Axton belum menyentuhnya sama sekali dsn biasanya pria ini langsung meraih pinggangnya.
"Ada masalah?"
"A.. B..baik."
Kellen dengan kaku pergi ke kamar mandi di pantau mata elang Axton sampai pintu itu tertutup.
Axton beralih mendekati ranjang yang terlihat rapi. Ia harus hati-hati melakukan ini karna menurut buku itu, wanita yang pertama kali melakukannya pasti akan terasa sakit.
"Apa aku akan menyakitinya?" gumam Axton tak bisa membayangkan apa yang akan ia temui nanti.
Tak mau gagal atau semberono. Axton benar-benar menyiapkan pengetahuannya, ia tak mau asal-asalan dan berakibat fatal pada Kellen.
Setelah beberapa lama. Akhirnya suara pintu kamar mandi terbuka pelan. Axton masih berdiri di samping ranjang dengan tubuh membelakangi.
"A..Ax!"
Axton segera berbalik ke belakang dengan aroma khas yang sudah menyeruk ke hidungnya.
Degg...
Seketika jantung Axton memberontak kala melihat Kellen yang berdiri kaku dengan kedua paha merapat dengan satu tangan menutupi bagian dadanya yang terbuka lantang dan tangan satunya berusaha untuk menarik ujung Lingerie yang memperlihatkan bagaimana indahnya tubuh jenjang nan pulen ini.
Mata Axton yang tak berkedip memandang, menghadirkan rasa gugup yang teramat pada Kellen. Ia menunduk dengan rona merah di pipi dan sangat tak nyaman dengan pakaian minim ini.
"A..aku..aku akan menggantinya."
Gagap Kellen berbalik ingin pergi ke kamar mandi namun lengannya sudah di tarik tangan kekar Axton cepat.
Tubuh indah Kellen berputar indah masuk kedalam pelukan kokoh itu dengan pandangan keduanya bersitatap dalam. Rambut basah Kellen yang di urai menambah kesan feminim dan hot.
Netra Amber Kellen yang indah dan wajah cantiknya ini membuat Axton sangat hanyut. Ia bisa melihat lekukan seksi Kellen yang tak ia sangka akan sesempurna ini.
"A..Ax!"
Helaan nafas Axton berubah berat. Pandangan pria ini mulai berkabut penuh hasrat dan sangat menginginkan semua ini.
"A..Ax!"
"Kau membuatku menunggu." serak Axton dengan pandangan hanyutnya.
Perlahan. Axton mendekatkan wajah keduanya sampai Kellen mencengkram dada bidang Axton berlapis Kaos lengan pendek ini.
Hembusan nafas hangat Axton bisa Kellen rasakan hingga ia mulai merasa tak mampu menahan diri.
Sangat pelan dan menahan hasrat, Axton memangut bibir Kellen lembut dan sangat halus. Kellen cukup terkejut dan asing akan ciuman berirama yang berbeda dengan Axton biasanya.
"Aku tak mungkin mengecewakannya."
Batin Kellen sadar jika ada yang menekan perutnya. Ia yakin Axton sudah meneggang dan ia tak setega itu membiarkan Axton menahan terus-menerus.
Ntah angin dari mana. Kellen membalas pangutan Axton mengikuti ritme cinta yang tengah berusaha Axton jaga. Pangutan yang sangat lembut seakan Axton menikmati rasa manis dan tekstur bibir Kellen di mulutnya.
"Akhmm!"
Kellen mulai jatuh semakin dalam. Tangannya yang tadi mencengkram dada Axton, perlahan beralih ke leher kokoh itu tanpa memutus tautan.
Keduanya bercumbu dengan penuh kasih menipiskan atmosfer yang tengah memanas. Tangan nakal Axton sudah bergerak menjelajahi punggung indah dan bagian bokong kenyal nan bulat Kellen untuk ia mainkan gemas.
"Enguhh!!" lenguhan Kellen di sela tautan panas mereka.
Axton semakin menggila mendengar suara erangan Kellen yang spontan keluar. Ia tak bisa lagi menahan diri untuk sekedar mengulur waktu.
"Apa boleh?" serak Axton kala sudah melepas tautan. Kening keduanya menyatu dengan benang Saliva masih terhubung di bibir masing-masing.
"Kau yakin?"
"Percayakan saja padaku." lirih Axton menatap Kellen dengan nafas memburu. Wajah merah meradang Axton terlihat sangat seksi dan Kellen juga tak mau separuh jalan.
"Pelan-pelan."
Seakan mendapat air surgawi. Axton tak lagi segan menyambar bibir Kellen dengan cukup kasar dan sangat berhasrat.
Kellen mengerti itu dan ia juga tak mau kalah memberi pelayanan yang luar biasa memuja Axton.
Ia perlahan mengiring Kellen berbaring diatas ranjang tanpa memutus pangutan liar keduanya. Suara decapan erotis dan sangat panas itu mengalun tak di pedulikan.
"Ehmm!!"
Geraman Kellen mengigit kecil bibir Axton kala mereka sudah larut dan semakin memuncak. Darah di tubuh itu tengah mendidih panas dan hasrat yang meledak-ledak.
Aku tak akan melepaskan mu! hanya aku yang boleh melakukannya padamu.
Jeritan Axton memuja Kellen yang juga menyukai semuanya.
Lama keduanya berciuman hingga barulah Axton melepas pangutan. Nafas keduanya semakin tak terkendali dengan pandangan sama-sama berapi-api.
"A..Ax! Aku.. "
Kellen ngos-ngosan dengan dada naik turun terlihat begitu berat menopang dua buah bongkahan daging yang sekarang sudah menyembul berisi dan padat.
"Rasanya sakit."
Gumam Axton meletakan tangan Kellen ke bagian menonjol di bawahnya. Ketika tangan lembut Kellen menyentuhnya, Axton merasa tersengat dan meremang.
"Sakit?"
"Hm."
Kellen mengerti itu. Pasti Axton menahan pembengkakan yang sangat dahysat itu, apalagi, Kellen sudah tahu betapa perkasa dan jantannya benda ini.
"Aku akan membantumu."
"Tapi,. Aku yang.."
Kellen tersenyum kecil. Ia tahu Axton ingin melakukan yang terbaik untuknya tapi, ia juga ingin melayani sepenuh hatinya tanpa ada paksaan.
"Nanti giliranmu. Sekarang, biarkan aku yang bekerja."
Tak bisa menolak itu, akhirnya Axton mengangguk membuka jaket dan baju kaosnya lalu melempar benda itu ke lantai.
"Dia selalu tampil sempurna."
Batin Kellen melihat tubuh tegap gagah Axton yang selalu membuatnya berdenyut. Perlahan Kellen meraba dada bidang itu memuat Axton memejamkan matanya menikmati belaian tangan lembut sang istri.
"Apa menyembunyikan pakaianku itu ide Nicky?"
"Ada di buku." jawab Axton parau tanpa membuka matanya. Jemari lentik ini berkeliaran memuaskan diri meraba setiap tonjolan otot kekar atletis Axton.
Pria ini memang Hobby berolahraga dan tak asing lagi jika tubuh Axton sangat menggoda.
"Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?"
Axton menggeleng jujur ia tak pernah sama sekali. Baru Kellen wanita yang berani menyentuhnya dan bahkan bisa memilikinya.
Melihat itu Kellen bertambah senang. Ntah kenapa ada kepuasan tersendiri kala mendapati ia yang pertama seperti jawaban Axton sebelumnya.
Lama-kelamaan Kellen mulai bergerak erotis. Ia mengiring Axton untuk duduk di atas ranjang sedangkan ia beralih merangkak ingin melakukan sesuatu.
"Aku juga baru pertama kali melakukan ini. Maaf, kalau aku agak sedikit mengigit."
"Hm."
Axton masih menikmati belaian tangan Kellen yang menipiskan bibir. Ia mengumpulkan keberanian untuk menarik celana Axton hingga Boxser pria ini tampak membukit.
"Semoga aku bisa melakukannya."
Batin Kellen mulai memposisikan diri. Ia menarik bagian terakhir itu ke bawah hingga lagi-lagi Kellen lemas melihat benda pusaka Axton sudah tak bisa di anggap remeh lagi.
"Kenapa ini semakin besar?!"
Batin Kellen ngeri tungkainya melemah menatap benda pusaka yang tampak kekar dan sangat seksi.
"Aa..Asss Kell!" desis Axton terperanjat kala Kellen menyentuhnya. Kellen sudah gemetar mencoba tenang untuk melanjutkan ini.
Pantas Axton merasa aneh dengan sensasinya karna ia belum pernah merasakan ini semua. Tubuhnya belum terbiasa dan begitu juga Kellen yang sekuat tenaga tak pingsan.
"K..kau.."
"Jangan buka matamu. Atau, aku tak akan mau melakukan ini."
Ancam Kellen karna ia malu jika Axton melihatnya melakukan hal senakal ini. Lebih baik Axton menikmati sensasinya saja.
Namun. Kala Kellen sudah mulai melakukan servis pertamanya, Axton segera membuka mata karna tak bisa menahan rasa aneh itu.
Ia termenggu kosong melihat Kellen tengah fokus memanjakan si Junior yang tengah tak sabaran itu.
"A..apa Nicky juga memberinya Buku itu?"
........
Vote and Like Sayang..