My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Apa yang terjadi?



Pagi ini terasa benar-benar berbeda dari yang di Kediaman Miller mereka terasa masih menghirup udara bebas dan berjalan kemanapun langkah menyukainya. Tetapi, disini setiap senti langkah kaki itu selalu di awasi oleh mata-mata para pasukan Darkness yang mulai memperketat penjagaannya.


Kellen-pun tak lagi bisa menemui Axton ketika ia telah bangun dari tidurnya. Hal biasa yang ia lihat ketika bangun biasanya wajah tampan dan manik elang yang tengah memandanginya tapi, sekarang hanya sunyi dengan semua persiapan sudah ada di sampingnya.


"Dia kemana?"


Gumam Kellen melihat ke semua sudut kamar. Ruangan ini cukup luas dengan furniture hampir mendominasi bahan kayu. Tirai-tirai berwarna gelap dan satu jendela yang tampaknya sengaja di tutupi dengan sehelai kain karna cahaya dari luar akan mengganggu tidurnya.


"Apa dia sudah pergi? Tapi. Kemana? disini sangat membahayakan."


Kecemasan Kellen kembali kepermukaan. Ia akhirnya ingin turun ke lantai dingin ini tapi rasanya kepala itu masih pusing.


"Kesehatanku memang benar-benar menurun."


"Kau tak di perbolehkan keluar."


Kellen tersentak dengan suara itu hingga ia berbalik. Seketika matanya di hadirkan dengan Castor yang nyatanya sudah lama berdiri di dekat pintu tapi Kellen tak menyadarinya.


"K..kau.."


Castor mengambil nampan diatas meja lalu mendekati Kellen yang terlihat masih memandangnya.


"Makanlah! cuaca di luar masih dingin, kau istirahatlah disini."


"Dimana Axton?"


Tanya Kellen karna jika itu benar maka Axton tak boleh di luar sana. Salju tengah turun deras.


"Dia sudah di bawa anggota Johar."


"Kemana? Apa yang akan mereka lakukan pada Axton?" tanya Kellen kembali membuat Castor menghela nafas.


Axton tadi memerintahkan jangan sampai Kellen keluar dari kamar ini dan melihat apa yang tengah ia lakukan. Axton sudah tahu apa yang terjadi jika Kellen sampai keluar dan melihat latihan fisiknya.


"Dia akan baik-baik saja. Ada Nicky yang akan memantaunya."


"Suhu di luar bisa saja sangat beku. Dia memang selalu saja menurut dan kenapa tak bertahan sampai aku bangun?! Aku bisa menemaninya."


"Cepat makan."


Paksa Castor karna ia tak mau hanya karna ini Axton akan kembali murka padanya.


Akhirnya, Kellen makan di dampingi Castor yang menunggu seraya pergi ke arah jendela. Ia menyibak tirai itu dengan pelan melihat keadaan di luar.


Benar saja. Hamparan lapangan di depan sudah di penuhi serbuk halus itu dengan atap-atap beton yang sudah memutih.


Namun. Para anggota Klan ini tampak masih berdiri tegap di posisi mereka yang sudah di timbun es itu. Pakaian hangat yang tebal dan pastinya ada teknologi mumpuni di dalamnya.


"Cas! Dimana Axton?"


"Habiskan saja makananmu."


"Tapi, dimana dia? Apa sudah berpakaian hangat?"


Castor hanya mengangguki itu tapi Kellen masih belum lega. Ia tak berselera makan hingga hanya mengunyah satu suap lalu meletakan nampan itu diatas ranjang.


Melihat Castor yang tak ada niatan baik memberi tahunya. Kellen tak bisa diam saja. Ia menyibak selimut pelan lalu melangkah turun dengan hati-hati.


"Aku tak bisa percaya pada ucapanmu. Cas!"


Batin Kellen melihat masih ada mangkuk air kompresan kepalanya semalam di atas meja. Ia hanya memakai kaos lengan pendek berwarna putih dengan celana Jeans panjang yang sudah berganti dengan celana Jogger longgar. Ntah siapa yang menggantinya Kellen juga tak tahu.


Castor terlalu hanyut menatap keluar jendela. Ia tak menyadari jika Kellen sudah keluar dari kamar tanpa sepengetahuannya.


Di luar sana. Kellen tampak bingung karna ia tak kenal dengan jalan-jalan disini, pencahayaan yang kurang terang karna notabennya bentuk bangunan yang seperti susunan balok dengan bagian Jendela hanya ada di beberapa tempat.


"Aku tak tahu ini tembus kemana?"


Gumam Kellen menyusuri dinding yang terasa hangat. Sepertinya udara dari luar tak bisa menembus dinding ini tetap serbuk salju yang lolos dari Fentilasi sempit itu masih terasa cukup dingin.


Kaki Kellen yang melangkah tanpa alas terasa agak pegal dengan kepala yang masih berdenyut. Suhu tubuhnya tak begitu normal tapi ia paksakan untuk keluar.


"Aaax!"


Panggil Kellen berbelok ke lorong samping. Tak ada apapun disini dan tampaknya mereka lebih mengutamakan keamanan di Luar Markas besar.


"Aaax! Kau dimana?"


"Kau siapa?"


Kellen segera menoleh ke arah samping dimana ada tangga tepat di dekat lorong ini. Seorang wanita bermata besar dengan rambut keriting dan kulit yang putih sama dengannya. Pipinya agak bulat dan Cubby tetapi tatapan mata itu tergolong mematikan.


"Kau yang siapa?" tanya Kellen lagi.


Wanita bermata besar ini memindai penampilan tubuh jenjang Kellen yang sangat feminim dimana bagian-bagian terpenting itu tampak menonjol.


"Kenapa dia menatapku begini? Dia juga punyakan?"


"Kau datang dengan pria itu?"


"Pria yang.."


Kellen menjeda ucapannya. Apa mungkin yang di maksud wanita ini adalah Axton? Tapi, kalau iya itu bagus.


"Yah. Aku .."


"Kau siapa baginya?" sela wanita itu intens. Tapi, Kellen takut jika mereka tahu jika ia adalah istrinya Axton maka akan mengancam rencana Castor nantinya.


"Aku tak boleh gegabah."


"KATAKAN!!!"


Kellen terperanjat kala wanita itu mengacungkan pistol ke arah wajah Kellen yang spontan mengangkat tangan. Wajah cantiknya yang tadi agak pucat bertambah kala melihat senjata ini.


"K..kau ini sangat tak terduga."


"Kau menyusup kesini?"


Ia terus menyelidik mendekati Kellen yang berusaha mencari jalan keluar untuk menemui Axton.


"Tidak. Aku adalah pengasuhnya Axton."


"Pengasuh?"


Kellen mengangguki itu. Ia berharap jawabannya bisa memuaskan wanita ini. Namun, tak di sangka satu tembakan itu melesat ke arah kaki Kellen yang spontan menghindar mundur.


Wajah Kellen berubah pias tapi terselip amarah yang besar di dalamnya.


"Kau gila. Ha???"


"Apa maksudmu dengan menjadi pengasuhnya? Kau pasti tahu apapun yang tengah dia rencanakan?" sarkas wanita itu benar-benar tak main-main. Ia tahu jika tak mungkin Axton yang memiliki paras setampan dan sekharismatik itu bisa seperti anak-anak yang selalu di tunjukan pada mereka.


Bukan itu saja. Saat perdebatannya dengan kepala pasukan disini. Axton tiba-tiba menghilang dan saat pria itu keluar tadi dia seakan kembali seperti semula.


"Kau tahu apa yang terjadi padanya dan apa benar dia memang hilang ingatan? Kau pasti ikut berkonspirasi."


"Kenapa dia selalu mendesakku?! Siall!"


Batin Kellen merasa jengkel. Ia tak tahu kenapa wanita ini begitu kekeh menuduh jika Axton hanya pura-pura.


"JAWAB!!!"


"Dia memang begitu, Axton masih berfikir seperti anak-anak. Dia menganggapku Mommynya." jawab Kellen apa adanya.


Tatapan tak terbaca wanita ini membuat Kellen merinding. Tetapi, ia juga merasa aneh karna Axton sama sekali tak mengamuk saat di ajak pergi tanpanya.


"Kau jangan sesekali mengkhianati TUANKU." Tekan wanita itu melangkah pergi. Ada inisial nama di dekat bahunya dan itu huruf S.


"Dia terlalu kasar. Seakan-akan ingin memenggalku."


Batin Kellen mengelus dada kala melihat bekas tembakan di lantai ini.


Karna tak mau membuang waktu. Akhirnya Kellen pergi menyusul wanita itu karna ia ingin menemui Axton.


Ia di bawa ke berbagai lorong melalui beberapa anak tangga hingga ia sampai ke lorong belakang dimana ini semakin dingin.


"Aax!" panggil Kelllen kala melihat ada pintu yang tak terlalu besar di depan sana. Ada juga para penjaga yang tampak menatap fokus ke sebuah Lapangan tak jauh darinya.


"Apa kau yakin dia bisa melawannya?"


"Ntahlah. Tapi, menurut rumor para anggota lama. Ayahnya sangat kuat."


Kellen mendengar bisikan-bisikan itu. Ia seakan tertarik mendekat untuk mengintip dari dekat.


"Memangnya siapa?"


Gumam Kellen terus melangkah kedepan. Tumpukan hamparan salju itu terlihat jelas perlahan menghadirkan sebuah Bangkar besi yang di kerumuni para anggota lain.


Suara benturan baja itu beberapa kali terdengar membuat Kellen mencoba mencari cela pandang dari jauh.


Deggg...


Kellen terkejut kala melihat siapa yang tengah di ikat di dalam sana dengan keadaan tanpa atasan di suruh melawan seekor beruang kutub yang berlari ke arahnya.


"Aaaaxtooooonnnn!!!"


Teriak Kellen berlari ke sana tanpa memikirkan jika ia tak memakai pakaian hangat apapun.


.....


Vote and Like Sayang..


Maaf ya say.. Author agak sibuk jadinya up sore🙏🙃