My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kedatangan Isyana!



Pagi ini mereka tiba-tiba saja di desak oleh Nicky untuk segera bersiap. Tak ada angin dan hujan mereka mengatakan jika Pesta Perayaan di Perusahaan akan di mulai malam ini.


Tentu hal itu sangat mendadak walau memang Axton mengatakan kemaren jika Pestanya akan dilaksanakan tiga hari lagi. Tapi, karna mengurus masalah Martinez dan Miss Barbie, mereka jadi lupa untuk membuat persiapan.


"Sayang! Kenapa kau tak bilang dari semalam? Aku bisa memilih Gaun kalau begitu." tanya Kellen dengan wajah masam menatap ke arah Axton yang berbaring diatas ranjang seraya menjaga Baby San yang tampak belum bangun.


Si kecil itu baru tidur karna semalam merengek di dalam Keranjang bayinya. Alhasil Kellen membawa putranya tidur bersama mereka. Hal yang sangat menyebalkan bukan?


"Kalau begini apa yang bisa-ku pakai? Butuh waktu memikirkannya."


"Pesan apapun yang kau mau." jawab Axton enteng. wajah bantalnya tanpa atasan itu terlihat menjengkelkan begitu acuh dan menyebalkan.


"Tapi, acara itu penting. Perusahaan Miller sangat besar, banyak yang akan datang nanti. Aku tak mau mempermalukanmu."


"Jangan dipikirkan. Aku sudah menyiapkan Gaun mu."


Mendengar itu Kellen yang tengah memakai handuk-pun berbinar. Wajah segarnya yang baru mandi semakin terlihat menggemaskan dan sangat fresh dengan handuk kecil menggulung rambutnya.


"Benarkah. Kenapa tak bilang?"


"Hm. Kau sibuk sendiri." jawab Axton mengangkat tangannya agar Kellen naik ke atas ranjang.


Dengan sumringah Kellen melangkah naik tapi saat kedua lututnya sudah terbenam ke atas ranjang ini ia segera sadar jika ini pasti akal-akalan Axton.


"Tidak!" ia kembali turun membuat alis Axton terangkat sinis.


"Kenapa?"


"Tidak mau. kau pasti ingin lagi-kan?" tanya Kellen menyipitkan matanya. Terbukti dengan senyuman licik Axton mencuat tampak sangat seksi dengan tubuh Atletis yang menggempurnya semalaman itu.


"Tidak. Ayo kesini!"


"Ax! Aku takut kebobolan, Baby masih kecil." decah Kellen mengungkapkan kekesalannya. Kenapa Axton terlalu perkasa sampai ia juga tak bisa mengelak terus menerus?!


"Siapa yang mau membobolmu?"


"Cih. Pura-pura amnesia." ketus Kellen memilih untuk mengeringkan rambutnya yang sudah terbungkus handuk.


"Akan ku bantu mengeringkannya."


"No! Aku bisa sendiri." tolak Kellen beralih mengambil Hairdryer yang ada di Laci meja riasnya.


Kellen duduk di kursi di depan cermin mengaplikasikan benda itu ke rambutnya. Tubuh jenjang yang begitu seksi tengah memakai handuk yang hanya menutupi sampai sejengkal atas pahanya. Jika menunduk sedikit saja pangkal paha Kellen akan terlihat mempertontonkan kemulusan dan lebel kepemilikan suaminya.


Belum lagi porsi dada yang begitu semok setelah melahirkan membuat mata Axton tak berkedip menatap ke arah Ratu Vanilla itu.


"Ax! Gaun seperti apa yang kau pesan? Sayang!"


Axton hanya diam tersihir hebat dengan semua ini. Tanpa iblis kecil pengganggu yang tengah menyelam nyenyak meletakan satu kaki mungilnya diatas dada bidang sang ayah.


"Ax!"


"Hm?"


"Gaun seperti apa?" tanya Kellen lagi merapikan rambutnya yang sudah lumayan kering.


"Ntahlah."


"Warnanya apa? Sayang!"


"Black." jawab Axton singkat seraya hati-hati menurunkan kaki Baby San dari dadanya lalu mulai bergerak pelan turun dari ranjang.


Ia hanya memakai Boxser yang membuat tubuh kekarnya begitu terlihat sempurna. Berjalan pelan mendekati Kellen yang masih sibuk menata rambutnya.


"Ax! Aku harus menemani Mommy, kau sibuk tidak hari ini?"


"Tidak." jawab Axton segera memeluk Kellen dari belakang membuat wanita itu terperanjat langsung mencubit lengannya.


"Astaga. Kauu..."


"Aku tidak sibuk." bisik Axton menunduk dengan dagu ada di atas kepala Kellen yang sama-sama melihat ke arah Cermin di depannya.


Tatapan keduanya bertemu lalu sedetik kemudian Kellen tersenyum geli mengadah menatap wajah tampan sang suami.


"Apa. Hm?"


"Kau terlihat semakin seksi." desis Axton melabuhkan kecupan kilas ke bibir merah segar Kellen yang tak bisa menolak pesona dan rayuan maut pria ini.


"Ax! Kau tak lelah. Ha? Kita baru saja melakukannya. Setidaknya biarkan aku bernafas sejenak."


"Dia selalu bangun saat melihatmu." bisik Axton memelankan suaranya.


"Ax! tapi kau pasti lelah, Sayang! Hari ini kita tunda dulu, ya?" bujuk Kellen membelai lembut rahang tegas Axton yang tampak kekeh.


"Satu jam!"


"No! Itu terlalu lama, Sayang!"


"Hanya 3 kali. Ya?" tawar Axton tetapi itu terlalu lama. Sedangkan akan ada banyak kehebohan nantinya.


"30 menit."


"Ax!" lesu Kellen memelas.


"20?"


"5 menit." sela Kellen sudah mutlak tetapi itu tak cukup. Melihat raut wajah tak puas Axton. Kellen hanya bisa menggeleng saja.


"Mau tidak?"


"Hm. Baiklah." jawab Axton segera menautkan ciuman penuh dambanya dengan kedua tangan sudah bergerak nakal kemana-mana.


Ciuman Axton begitu menuntut menarik Kellen untuk berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa melepas tautan panas itu.


Ia benar-benat hanyut perlahan mencari gagang pintu untuk segera menguncinya dan sang istri ke dalam sana.


"Mymymy!!!"


Duaaarr..


Bagai di sengat listrik dengan tegangan tinggi Axton langsung membuka matanya menatap Kellen yang segera melepas ciuman mereka.


"Mymy!"


"A.. Iya.. Iya. Sayang!" jawab Kellen merapikan handuknya lalu melewati Axton yang tersandar lesu ke pintu kamar mandi. Wajahnya yang merah semakin terlihat masam dengan tatapan datar dan dingin ke arah Baby San yang sudah bangun tengkurap di atas ranjang.


Tiba-tiba saja amarahnya begitu meledak-ledak di dalam sana dengan perasaan kesal dan sangat jengkel bukan main.


"Mymy!"


"Sudah bangun. Hm? kau sangat tampan. Sayang!" gemas Kellen mengambil alih tubuh mungil itu seraya menahan senyum geli melihat Axton yang menelan pil pahit dari putranya pagi ini.


"Shitt."


Umpat Axton masuk ke kamar mandi menyetel air dingin untuk meredakan hasratnya. Mandi air dingin adalah solusi terbaik bagi pria sepertinya.


Melihat itu Kellen hanya bisa menghela nafas dalam. Resiko jika sudah punya anak, Axton tak bisa sembarangan meminta jatahnya.


"Kenapa Baby sangat nakal. Hm?"


"Mymy!" Baby San tersenyum menunjukan gusi merahnya. Wajah polos ini begitu menggemaskan bagi Kellen tapi tidak dengan Axton.


Sementara di bawah sana. Tiba-tiba sana Nyonya Verena tengah menatap seorang wanita yang datang kesini bersama Castor. Wajah canggung Castor tampak agak panik kala sosok itu memindai semua lekuk Kediaman.


"Kalau tidak salah kau ini.. "


"Isyana!" jawabnya memotong dengan suara angkuh seperti biasa.


Penampilannya masih sama dan tak berubah sama sekali. Rambut ikal bergelombang dan mata lebar jadi khasnya.


Nyonya Verena terdiam melirik Castor dengan tanda tanya di benaknya.


"Nyonya! Dia ingin bertemu putra Axton."


"Mereka belum turun. Kau tunggu saja disini dulu." tegas Nyonya Verena membawanya masuk.


Dengan bersamaan Tuan Fander juga baru turun dari Lift membuat Isyana terdiam melihat sosok ini. Ia kembali menatap Castor yang sudah menceritakan hal ini padanya sejak kemaren.


"Jadi.."


"Hm. Itu Uncle Fander!"


Tanpa banyak bicara lagi ia langsung berlari ke arah Tuan Fander yang terdiam mematung di tempat melihat wanita ini.


"Uncle! Kau sudah kembali?" mata Isyana berkaca-kaca berhenti tepat di depan Tuan Fander yang diam.


"Hm. Apa kabarmu?"


"Aku..aku sangat baik. Kau..kau terluka atau.."


"Aku baik-baik saja." jawab Tuan Fander seketika memikirkan tentang perjanjian hari itu. Ia tak bisa berbuat apapun sekarang karna Axton memilih jalannya sendiri.


"Uncle! Aku sangat menantimu kembali, aku.."


"Lupakan saja hal itu." tegas Tuan Fander membuat Isyana terdiam lama. Ia tahu apa yang di maksud Tuan Fander tetapi hatinya justru merasa berdenyut sakit.


"Tuan!"


"Kau tumbuh dengan sangat baik. Aku bangga padamu." ucap Tuan Fander mengusap kepala Isyana yang menunduk. nyatanya memang tak ada harapan untuknya.


.....


Vote and Like Sayang..


Hari ini tamat ya say☺