
Pagi ini tiba-tiba saja para pelayan di Kediaman di kejutkan oleh kepulangan seorang pria paruh baya yang sudah lama tak menunjukan batang hidungnya.
Pria yang sangat hobby menenggak alkohol itu telah berjalan arogan dari arah pintu menggenggam botol yang menyerukan bau Bir menyengat.
"Heyyyy!!!"
Suara kerasnya menggema dikala melihat para pelayan wanita yang melihat dari arah Tangga berlarian kala ia datang kemari.
"T..Tuan!"
"Kenapa lari. Hm?" tanyanya dengan seringai misterius. Jambang di pipinya agak panjang dengan rambut coklat berantakan, kantung mata tua itu sangat menunjukan keadaan fisiknya yang tak stabil.
Yagatri yang merupakan kepala pelayan disini terlihat kebingungan. Pasalnya pria ini selalu melakukan hal bejat pada para pelayan disini.
"Tuan! Nyonya tengah tak ada di Kediaman, anda bisa langsung istirahat."
"Ouhh.. Begitu rupanya. Nyonya besar tak ada. Hm?"
Yagatri mengangguk meremas pinggiran Seragam pelayan yang ia pakai kala pria itu mendekat dengan berjalan agak sempoyongan.
"Nyonya besar tak ada. Apa dia sesibuk itu? Atau dia punya rencana yang baru?" bicara melantur dengan mata bergerak mesum memindai wajah-wajah muda pada pelayan yang ada di belakang.
"Tuan! Apa saya perlu menghubungi Nyonya?"
"Tidak perlu. Untuk apa Nyonya Besar itu di panggil kesini, Tidak perlu." jawabnya menggeleng kembali menegguk botol Bir itu.
Pandangannya begitu sangat memiliki gairah yang tinggi. hasrat tua yang terkobar di matanya menandakan niatan busuknya datang kesini.
"Pelayan-pelayan Miller ini sungguh tak mengecewakan!"
"Ampun!!!"
Mereka spontan membungkuk mendengar kalimat itu. Yagatri tahu maksud Tuan Redomir yang merupakan suami dari Nyonya Verena ini bagaimana.
"Tuan! Kami mohon jangan lakukan hal itu pada kami, anda bisa memerintahkan apapun tapi jangan membuat hal yang sama."
"Berani kalian memerintahku??" bentaknya keras tak menerima penolakan.
Botol kaca itu ia lempar ke lantai menyerukan suara keras sampai akhirnya para penjaga di luar masuk.
Mereka tak bisa bergerak karna Nyonya Verena belum memberi aturan jelas tentang pria ini.
"Tuan! Mohon jaga sikap anda."
"Woww!!" pekiknya bertepuk tangan menatap mereka dengan sangat santai dan terkesan mengolok.
"Budak- budak Nyonya besarku itu sangat penurut rupanya."
Imbuh Tuan Redomir berdecih merotasikan matanya memindai semua lekuk bangunan mewah dan megah ini.
Jika wanita itu tak ada maka ia semakin bebas untuk berkeliaran di manapun.
"Berikan aku Wine yang sama!!!"
"Baiiik!!"
Para pelayan sana berlarian ke arah tempat minum khusus Alkohol yang ada di ruangan khusus di dekat meja Ruang Tamu.
Mereka memucat kala siulan Tuan Redomir menandakan waktu berjalan dan jika tidak mereka akan kena imbasnya.
"Cepatlah!!! Jangan terlalu lama, Sayangku!!!"
Teriak Tuan Redomir menghempaskan tubuhnya keatas Sofa panjang empuk di sudut ruangan. Jaket yang ia pakai sudah kusut dengan Topi terjatuh di pinggirkan.
"Kau menemukannya?" tanya Yagatri yang sudah membuka lemari besar kaca yang menampung tatanan botol Alkohol koleksi Tuan Martinez.
"Tidak ada. Sepertinya Tuan sudah menghabiskannya."
"Siall!! Kau dengarkan siulannya yang semakin cepat!!" panik Yagatri mencoba untuk mengakalinya.
Tak ada Bir dengan rasa yang sama. Fragmentasi anggur itu sangat memusingkan kepala mereka.
"Dia tak akan mau Vodka atau Wine! apa yang harus kita lakukan?"
Mereka saling berkecamuk dengan degupan jantung memberontak lepas. Ntah apa yang akan terjadi jika keinginanya sampai tak terpenuhi nantinya.
........
Karna Nyonya Verena dan Martinez tak ada di Kediaman, akhirnya Castor memutuskan untuk membawa Axton kembali ke tempat Nicky.
Kebetulan Groel juga tak ada. Ntah pria itu mengerjakan tugas lain atau ikut mengurus Martinez yang tengah di larikan ke rumah sakit.
Mereka memiliki janji temu di Pantai tak jauh dari pusat kota Barcelona. Cuaca yang agak mendung mendukung untuk keluar tapi tidak dengan Axton yang untuk pertama kalinya melihat mentari dan keramaian secara jelas.
"Disini!!!!"
Suara Nicky menyita perhatian Castor yang baru turun dari Mobilnya. Ia masih memakai jaket dan Masker penutup wajah sama seperti yang dikenakan Axton dan Kellen.
"Ayo! Pastikan kalian tak mengundang perhatian masyarakat disini."
"Apa kau bawa dasi atau semacamnya?" tanya Kellen yang masih belum mengeluarkan Axton yang tak ingi keluar.
"Aku rasa ada."
"Berikan! Disini sangat rawan." gumam Kellen memperbaiki letak kacamatanya. Ia tengah memakai Hotpants hitam dengan Sweater biru yang menutupi tubuh bagian atasnya. Kaki jenjang bening itu ia perlihatkan dengan rambut lurus di urai ke sela leher Sweater yang bertopi ini, sangat mempesona dan tak bisa di ragukan.
"Kell!"
"Sebentar."
Jawab Kellen mengusap lengan Axton yang memeluk pinggangnya. Pria itu masih mempesona dengan tampilan santai celana pendek selutut dengan kaos hitam senada dengan masker yang ia kenakan.
Setelah menunggu Castor mengais di dalam Mobil. Barulah pria itu keluar menyerahkan Dasi hitam ke tangan Kellen yang mengambilnya.
"Ini!"
"Pergilah duluan. Aku akan mengurus Axton sebentar."
"Ada masalah?" tanya Castor mendekat ke pintu mobil.
"Ini untuk mengantisipasi karna malam itu cukup berbahaya jika Axton di lepaskan begitu saja."
"Aku mengerti. Cepatlah menyusul."
"Pergilah!"
Castor melangkah pergi melewati beberapa Wisatawan yang berkunjung ke Pantai ini. Suara berisik dan tangisan anak-anak itu benar-benar menganggu Axton.
"DIAAAAAM!!! Diammm!!" geram Axton memukul bagian kursi mobil di depan. Ia tak suka berisik dan hal seperti ini.
"Ax! Tenanglah."
"Kell!!" Axton menggeleng membekap satu telinganya.
Kellen berjongkok di dekat Mobil mengusap punggung tangan Axton yang menggenggam tangannya.
"It's ok. Ada aku disini."
"Kell!"
"Tak apa. Kau mau main air?"
Axton diam tak menjawab apapun. Ia terlihat menimbang-nimbang keputusan bahkan sesekali menatap ke arah jendela pintu Mobil di samping kanannya.
"Ayo! Setelah ini baru kita jalan-jalan."
"Jalan-jalan."
"Iya. Kita berkeliling, ayo keluar!"
Setelah beberapa lama Kellen merayunya dengan bujukan dan belaian tangan itu, akhirnya Axton keluar dengan mata waspada melihat sekeliling tempat ini.
Ada Resort yang tengah ramai di masuki beberapa orang.
"Ayo! Kita ke sana!"
Kellen mengiring Axton ke arah pasir putih pantai yang banyak di datangi anak-anak. Suasana sejuk dari langit mendung sana membuat Kellen senang.
"Disini itu sangat indah. Jarang-jarang kau keluar melihat ini. Bukan?"
Axton hanya diam menatap datar segalanya. Ia tetap mengikuti langkah Kellen yang mengiringnya ke sebuah pohon kelapa yang agak rendah dimana Castor dan Nicky tengah duduk bersantai di bawahnya.
"Maaf, agak lama!" mendekat dengan senyuman.
"Aku mengerti kenapa kau lama. Kell!"
"Kau sangat cepat akrab rupanya." sambar Castoe menyikut perut Nicky untuk jangan memancing Axton.
Sudah jelas pria itu sekarang sangat tak bisa di tebak. Kepalan panas itu bisa berpindah ke wajah siapa saja jika menyangkut Kellen.
"Aku bercanda. Lagi pula apa salahnya bicara begitu, Kellen juga tak risih."
"Bukan itu yang-ku maksud." bantah Castor jengah melihat Nicky lagi-lagi bertindak sesuka hati.
Kellen yang mendengar perdebatan itu hanya diam mendudukan diri ke kursi yang berhadapan dengan Castor dan Nicky.
"Ax!"
"Hm."
"Duduk!"
Titahan itu Axton patuhi. Ia duduk di samping Kellen tak melepas pandangan dinginnya pada Nicky yang tengah menahan tawa melihat sikap Axton begitu menggelikan.
"Jaga sikapmu. Nick!" geram Castor jengah.
"Lucu sekali melihat Generasi Miller yang ini."
"Dia hanya tak ingat." ketus Castor tak suka ledekan lama Nicky yang masih berusaha mengendalikan diri.
Kellen juga merasa aneh. Sebenarnya seberapa Idiot sikap Axton di banding yang dulu?
"Bisa kau berhenti mengulum bibirmu?" ketus Kellen membuat Nicky mengangkat kedua tangan pertanda ia sudah pasrah.
"Ok Ok.. Aku sudah selesai."
"Cepat lakukan apa yang perlu kau lakukan." tegas Kellen tak mau membuang waktu.
Nicky menghela nafas halus. Terlalu buru-buru tapi memang adanya begitu.
"Kita akan bernostalgia!"
"Maksudmu?" tanya Kellen belum mengerti.
"Kau harus mendampingi Axton untuk kembali merasakan masa kecilnya dulu. Buat itu seakan nyata dan bawa dia kembali ke dunia yang berbeda."
Jelas Nicky serius. Ia sudah memikirkan ini agar Axton bisa cepat mengingat segalanya.
"Tempat apa saja?"
"Banyak! Tapi hanya ku pilih beberapa yang paling berkesan. Aku harap kau tak akan ciut jika melihatnya."
Dahi Kellen menyeringit. Ucapan Nicky seakan menakut-nakutinya, memangnya apa yang di lakukan anak seusia 7 Tahunan? Axton pasti hanya berlarian bersama dua Ubur-ubur ini.
"Baiklah. Itu mudah, kau bisa arahkan apapun karna aku ingin PULANG cepat." tekan Kellen sudah optimis.
"Baik! jika kau bisa melakukannya kau akan pulang lebih cepat, jika tidak maka teruskan."
"Bicaramu berbelit." ketus Kellen tapi Nicky menaikan bahu acuh.
Ia memandang Axton yang terlihat masih terkurung dalam rasa waspadanya. Ia beberapa kali merapatkan tubuh Kellen dengan tubuh kekarnya kala ada beberapa orang yang lewat di sekitar mereka.
"Cih! Kau pikir itu mudah."
Vote and Like Sayang..