
Sudah lama mereka berlari dengan jalan yang begitu termasuk gila di lalui. Bagaimana tidak? Martinez membawa Kellen ke sebuah lorong berbelit yang lembab dan dingin.
Ada beberapa jalan buntu yang mereka lalui dan tentu saja tanpa rasa bersalah. Martinez kembali memutar arah hingga sekarang langit mulai gelap tapi mereka masih ada di dalam hutan dengan Salju yang terus turun. Bahkan, angin disini cukup kencang dan pasti akan datang badai.
"B..Berhenti!!"
Ujar Kellen tak lagi bisa berjalan. Ia jatuh terduduk diatas tumpukan salju di dekat pepohonan yang begitu menyeramkan.
Disini terasa sangat dingin dan kondisi batang-batang hanya menyisakan ranting tanpa daun di beberapa tempat. Suasana gelap dan mencekam itu cukup membuat Kellen ngeri.
"Kell! Sebentar lagi, kita akan keluar dari.."
"Kapaan??" sambar Kellen terengah dengan nafas memburu. Ia sangat kesal dan ada rasa menyesal terselip di batinnya.
"Kau sedari tadi bicara seakan kita akan keluar sebentar lagi. Tapi, sekarang lihat langit dan di sekitarmu. Jangan hanya membuaal!!" imbuh Kellen sangat kesal.
Martinez hanya bisa mengusap tengkuknya kaku dengan wajah tak bersalah.
"Ya. Aku pikir disini jalannya, tapi kau tenang saja. Kita.."
"Diam!!"
Kellen melempar serbuk salju di genggamannya ke wajah Martinez yang seketika berubah masam. Ia sudah tak lagi menyembunyikan raut cemas dan frustasinya.
"Aku yakin pesan surat itu tak berbohong. Jelas dia bilang jalan keluar ada di lorong sunyi terbengkalai di belakang. Ya, aku turuti itu."
"Surat?"
Batin Kellen bertanya-tanya. Surat apa dan siapa yang mengirimnya pada Martinez si otak udang ini?!
Tak ingin sia-sia disini. Kellen mengisyaratkan Martinez untuk duduk di sampingnya. Alhasil Martinez menurut duduk di samping Kellen seraya menatap ke sekitar yang sangat menyeramkan.
"Jangan disini, kita tak akan bisa melakukannya dengan ba.."
Bughh..
"Kellen!!" pekik Martinez kala Kellen menunju dadanya dengan kasar. Sialnya kekuatan Kellen terasa lebih meningkat, ntah apa yang Axton lakukan ia juga tak tahu.
"Hilangkan pikiran kotormu."
"Cih. Lama-lama kau memang setara dengan Axton." gumam Martinez mengusap dadanya lalu kembali duduk dengan benar. Disini sangat dingin membuatnya harus menyelipkan tangan ke dalam baju kaos dan Mantelnya dulu.
"Siapa yang mengirimkan mu surat?"
"Aku tak tahu."
"Kauu.."
Geram Kellen membuat Martinez menggeleng benar-benar tak tahu.
"Aku bersumpah. Demi Mommyku aku memang tak tahu siapa yang mengirimiku surat semacam itu."
"Kelihatannya dia tak berbohong."
Batin Kellen menatap intens Martinez yang serius. Ia juga kebingungan.
"Saat itu, tiba-tiba ada yang menyelipkan surat dari bawah pintu. Dan pintu itu tiba-tiba tak di kunci, otomatis aku tak memikirkan siapa pengirimnya tapi, bagaimana bisa aku lolos dari Neraka itu?!"
"Kau yakin?" tanya Kellen penuh selidik dan Martinez mengangguk.
"Yah. Tapi, aku senang masih ada orang baik yang melakukan itu. Kalau tidak, tak mungkin kita bisa keluar, bukan?"
Kellen hanya diam menatap ke arah hamparan salju di depan nya. Siapa yang melakukan itu? Jika ini memang benar berarti ada anggota musuh di dalam Markas.
Melihat Kellen yang diam seribu bahasa setelah kecerewetannya tadi. Martinez langsung menyikut lengannya.
"Kau kenapa?"
"Tidak ada."
"Kau memikirkan Axton?" sinis Martinez membelo jengah tapi ia cemburu. ia menyukai Kellen tetapi Kellen selalu menolaknya, padahal selama ini belum ada satu wanita-pun yang melakukan itu.
"Kellen!"
"Hm."
"Kapan kau akan pulang ke Negaramu?"
Tanya Martinez tetapi Kellen hanya bisa menghela nafas. Hal inilah yang membuat ia dan Axton bertengkar dan ia sangat pusing memikirkannya.
"Ntahlah. Aku tak tahu."
"Apa kau mencintai Axton?" tanya Martinez lugas karna ia penasaran. Apa kedekatan Kellen dan Axton hanya sekedar paksaan atau memang ada cinta disana?!
"Bagaimana denganmu dan Miss Barbie?"
"Aku bertanya tentang kau." kesal Martinez tapi Kellen menaikan bahu acuh.
"Aku juga bertanya tentang kau."
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Memangnya kau siapa ingin tahu semua itu?!"
Ucapan Kellen spontan membuat Martinez tertelak. Ia kembali diam dengan wajah yang cukup menyedihkan.
"Kau tahu?"
"Tidak."
"Anggap saja tahu."
"Hm." jawab Kellen jengah. Ia hanya mendengarkan dan tak berniat menjawab atau menyangga.
"Hm."
"Mommy selalu mengancam jika aku melakukan sesuatu yang merusak nama keluarga Miller maka, aku akan di keluarkan dari Keluarga. Dia memaksaku menikah dengan wanita yang sama sekali tak membuatku tertarik dan seakan hanya mementingkan nama Keluarga saja."
Kellen hanya diam tapi ia cukup tertarik akan cerita Martinez. Ia mengeratkan Mantel kala suhu semakin naik.
"Aku tahu Miss Barbie tidaklah buruk, tapi dia terlalu baik dan membosankan. Sangat patuh aturan dan terlalu menurut.,
" Bagus bukan jika dia menurut?" tanya Kellen ikut tertarik.
"Yah. Tapi, dia itu membosankan. Aku suka wanita sepertimu."
Ucap Martinez menyelipkan nada candaan tapi wajahnya serius. Kellen hanya acuh tak lagi mau membahas bagian itu.
"Tapi, Miss Barbie itu wanita yang nyaris sempurna. Dia cantik, bijaksana, pekerja keras bahkan, aku mengaguminya."
"Yah. Semua penerus Keluarga besar harus di didik seperti itu di hadapan orang lain."
"Dia tak begitu." sangkal Kellen tak setuju. Miss Barbie adalah wujud kesabaran dan Cinta seorang wanita.
"Dia memang sangat lembut dan baik. Tak di buat-buat sama sekali."
"Terserah. Tapi, dia itu membosankan dan tak menarik."
Kellen membuang nafas kasar. Sialnya Miss Barbie masih begitu mencintai pria bodoh seperti Martinez ini.
"Aku mau kembali."
"Apa??" pekik Martinez bangkit menatap syok Kellen yang juga berdiri.
"Yah. Percuma berjalan asal membuatku makin tersesat."
"Tapi, tapi disana kau akan bertemu musuh.. Mereka akan menyiksa kita dan.."
"Itu hanya berlaku untukmu."
Jawab Kellen tapi Martinez tak mengerti. Ia menghalangi langkah Kellen membuat wanita itu geram.
"Menyingkir!!"
"Kellen! Aku serius, mereka itu jahat dan.."
Kalimat Martinez terhenti dengan mata mulai melebar dan wajah pucat menatap kebelakang Kellen.
"Ada apa?"
"I..itu.."
Martinez menunjuk kebelakang. Kellen segera berbalik dengan heran namun..
"M..Macaan!!"
Martinez berlindung di belakang Kellen yang tercekat kuat. Tubuhnya meneggang melihat Macan Hitam besar yang sepertinya tengah marah dengan suara mengerikan lapar itu keluar.
"K..Kell!! Mati.. Kita akan mati disini."
"Lepass!!" umpat Kellen menepis tangan Martinez yang berpeggangan ke lengannya. Mata Amber Kellen tak berpaling pada hewan buas satu dan cukup lama Kellen diam.
"Tapi.. Bukankah ini hewan yang di.."
Kellen seketika sadar. Ia yakin ini adalah hewan yang di temui Axton di hutan dulu dan kenapa bisa disini?
"A..apa dia disini?" gumam Kellen melihat sekitar tempat ini.
Martinez sudah jantungan dengan tubuh mendingin melihat pandangan tajam dan agresif Macan itu langsung tertuju padanya.
"K..Kell! K..kau jangan bergerak-gerak."
"Aaax!!" panggil Kellen dengan suara lantang mengejutkan Martinez yang sudah mau pingsan.
"Apa yang kau lakukan? Monster satu itu tak ada disini. Kau jangan membuat umurku semakin pendek, Kellen."
"Aaax!! Kau disini??"
"Kellen! Jangan mempercepat malaikat kesini."
Kellen berdecih akan ucapan idiot Martinez yang sangat berlebihan.
"Aaax!! Kau.."
Tiba-tiba saja kepala Kellen pusing dengan tubuh yang keram karna terlalu la di luar dengan pakaian tak cukup tebal ini.
"K..Kepalaku.."
"Kau.."
Macan itu segera meloncat ke arah mereka membuat Martinez jantungan akhirnya tumbang di antara tumpukan salju ini.
Kellen dengan kepala berputarnya juga tak sanggup dan akhirnya ikut pingsan tetapi hewan buas yang cukup besar itu langsung menjadikan punggungnya penyambut kepala Kellen takut terbentur ke kayu.
"A..Ax!" gumam Kellen sayu-sayu membuka mata melihat ada sepasang sepatu yang tengah melangkah kesini. Tetapi, pandangan itu semakin gelap dan..
"I..itu kau.."
Gumam Kellen dan tak lagi bisa membuka mata.
.....
Vote and Like Sayang..