
Malam ini semakin mendaki rembulan yang tengah menanti kemeriahan yang akan mengguncang Kota Barcelona ini. Terdengar sorak riang kala dihadirkan penampilan terbaik dari Musisi kenamaan Negara sampai pementasan beberapa tarian khas Spanyol yang masih di gemari sampai saat ini.
Suara-suara merdu dan meriahnya di luar sana terdengar sampai ke telinga seorang wanita yang sudah di ikat kurung tepat di dalam kamar yang ada di lantai teratas.
Pemandangan di luar sana tampak begitu indah dari sini. Hanya berlapis kaca tebal yang tembus pandang dari dalam tetapi akan gelap kita dilihat dari luar. Benar-benar menakjubkan.
Namun. Bukan karna tak mau menikmati kesan gemilang itu tetapi dirinya terjebak di atas ranjang yang sudah di taburi kelopak bunga mawar yang sudah berantakan akibat pemberontakan Kellen.
"Aax. Sudah!" rengek Kellen meminta ampun. Kedua tangannya diikat dengan tali pinggang milik seorang pria yang sekarang tengah membuat bekas di seluruh tubuhnya.
Celana Jeans Kellen sudah tergorok koyak di lantai sana dengan Blouse abu yang juga bernasib sama. Kellen benar-benar hanya mengenakan ********** dengan Bera yang masih rapi belum di eksekusi Axton yang tengah sibuk dengan bagian paha dan kaki jenjang ini.
"Aax. jangan di gigit lagi, kau ini mau membuatku malu. Ha??"
"Siapa yang mengizinkanmu keluar?" tanya Axton menekan kalimatnya. Ia menyeringai puas melihat bekas kismark yang dibuat sebanyak mungkin sampai kulit putih Kellen seperti bentol Macan.
Dari pangkal paha pergi ke pinggang dan tak ada yang ia lewatkan. ini semua adalah karya seni Axton yang berharga.
"Ax! Sampai ke betisku kau buat merah seperti itu, nanti mereka akan menduga kau memukulku."
"Biarkan saja." acuh Axton lagi-lagi menghisap paha Kellen dengan menyertakan gigitan kecil membuat Kellen merengek manja di telinganya.
"Ax! Sudah."
"Belum."
"Belum apanya? Bokongku juga sudah nyeri karnamu." ketus Kellen mendorong lengan Axton pelan dengan lututnya.
Melihat tubuh istrinya yang sudah belang-belang. ada kepuasaan tersendiri bagi Axton melakukan semua ini. Apalagi sudah berbulan-bulan ia puasa dan rasanya begitu menyiksa batin kelelakiannya.
Melihat tatapan Axton yang begitu membara padanya. Kellen paham apa yang tengah Axton inginkan.
"Ax!"
"Hm?" gumam Axton membenamkan wajahnya ke perut Kellen yang tersenyum mengusap kepala keangkuhan ini dengan kedua tangan masih terikat.
"Kau bilang belum bisa pulang, kenapa kembali secepat ini?"
"Kau tak suka?" tanya Axton melirik tajam sangat mematikan. Ia masih kesal dengan kejadian tadi sampai wajah datar tampan ini berulang kali bertekuk masam.
Melihat itu Kellen tak akan pernah bisa bersikap santai. Ia akan memanfaatkan peluang.
"Kau tahu pria yang di bawah tadi?"
"Tidak." acuh Axton dengan suara jutek. Ia menggambarkan jelas jika tak menyukai hal itu. tangannya mengusap paha Kellen tak mau meladeni.
"Aku mengenalnya."
"Hm."
"Namanya Thomas." pancing Kellen menyeringai nakal ingin melanjutkan ucapannya tentang Thomas yang semakin membakar jiwa Axton. Darahnya terasa mendidih dengan rasa tak terima yang tinggi.
"Dia pria yang baik, orangnya lumay...Aaaxx!!" pekik Kellen diakhir kalimatnya kala Axton mengigit perutnya. Wajah pria itu mengeras dengan pandangan tak bisa di bantah.
"Kau berani memuji pria lain di hadapanku??"
"Memang benar, dia itu orangnya ba.."
"Ya sudah."
Axton bangkit dari atas tubuh Kellen lalu turun dari ranjang. Wajahnya berubah dingin segera menyambar jaketnya yang tadi ada di atas sofa.
Melihat itu Kellen menipiskan bibir. wajah dingin cemburuan Axton ini begitu menggemaskan baginya.
"Mau kemana?" tanya Kellen kala Axton ingin menekan gagang pintu. Tanpa berbalik Axton tak mau menjawab pertanyaan Kellen.
"Mau kemana?"
"Keluar!" jawaban singkat menyimpan amarah. Hasrat membunuhnya begitu besar ingin segera mengakhiri Dewa kebaikan yang di uluh-uluhkan Kellen tadi, rasanya sangat ingin meniadakan mahluk itu.
"Keluar kemana?"
"Hm."
Gumam Axton segera menarik gagang pintu sampai kalimat Kellen keluar menjadi Ultimatum mutlak.
"Kau yakin ingin meninggalkan aku dengan keadaan seperti ini. Hm?"
Axton masih diam enggan berbalik. Rasa cemburu dan panas itu belum hilang dari pikirannya. Bahkan, bayangkan dimana Kellen begitu akrab dengan pria itu terngiang-ngiang di kepala Axton bagai ingatan yang mengalir halus.
"Aku akan membunuhnya." batin Axton serius langsung melangkah pergi.
"Ax! Jika ada yang melihatku dalam keadaan tak berdaya seperti ini, kau rugi besar. Sayang!"
"Kauu!!"
Axton berbalik menatap tajam Kellen yang menyeringai. Ia sangat kenal Axton dan bagaimana level cemburu pria ini begitu tinggi.
"Apa? Kalau mau pergi, silahkan!"
"Kenapa kau selalu mempersulitku. Ha?" tanya Axton kembali menutup pintu. Rasanya ia ingin menyampaikan semua rasa kesal dan jengkelnya pada Kellen yang sekarang mengulum senyum dengan menaikan satu alisnya sinis.
"Maksudmu?"
"Sainganku sangat berat. Jangan menambah bebanku lagi." jawab Axton serius dan terlihat sangat memikirkan ini.
Kellen berfikir jauh. Saingan, siapa yang dimaksud Axton saingan? Apa jangan-jangan..
Seketika Kellen sadar jika yang di maksud Axton adalah buah hati mereka yang sekarang ntah kemana.
"Baby?"
"Hm." gumam Axton bersandar ke pintu. Ia sangat jengkel jika Baby San selalu memanfaatkan posisinya yang menggemaskan itu untuk merampok Kellen dari Kapal induk miliknya.
Bukannya kasihan atau iba, Kellen malah menertawakan Axton yang semakin mengepalkan tangannya.
"Kenapa tertawa? Ini tidak lucu."
"Kau..kau marah pada putramu sendiri?? Ax!" kekehan Kellen cekikikan dengan dada sekangnya naik turun tak bisa menahan kegelian. Ia pikir Axton hanya menganggap ini sebagai hiburan tapi nyatanya dia sangat serius.
"Kau juga salah, kenapa selalu menuruti dia? Ketika dia menangis kau langsung meninggalkan aku. Seakan-akan hanya dia yang kau butuhkan." ucap Axto tampak sangat kesal persis seperti seorang anak yang merajuk pada ibunya.
Tak hayal jika Axton seperti ini karna dia juga terbiasa dengan Mommynya. Apalagi Kellen sudah mencakup dua harta berharga itu di hatinya.
"Kenapa bicara begitu. Hm?"
"Memang benar." gumam Axton mempertahankan wajah datarnya. Alis itu menekuk dengan raut kusut yang menggemaskan.
"Ayo kesini!".
" Hm." enggan bergerak.
"Sinii!" ajak Kellen mengangkat kedua tangannya yang terikat hingga dengan wajah datar yang sama Axton mendekat ke arah ranjang.
Ia duduk di samping Kellen tanpa mau bicara lagi.
"Ax!"
"Hm."
"Kenapa bicara seperti itu? aku masih mencintaimu."
Mendengar itu, hati Axton yang tadi tengah memanas dan mendidih seketika terasa lega. Tatapannya juga berubah lebih lembut dan penuh kasih.
"Kau tak memperhatikanku lagi. Kau sibuk dengan Putra kita."
"Hey, siapa bilang aku begitu?" sela Kellen menarik lengan Axton hingga mengungkung perutnya.
Kellen memasukan kepala Axton diantara sela kedua lengannya sampai ia berkalung ke leher kokoh ini.
"Kalian tetap prioritasku. Baby itu masih kecil, dia sama sepertimu ketika bersama Mommy dulu. dan aku harus membagi waktu, supaya kalian tetap damai."
"Setiap hari kau dengannya. Saat aku membawamu dia langsung menangis, Baby benar-benar ingin berperang denganku."
"Hey, dia itu juga anakmu. Sayang! Sifat Daddynya akan menurun. dimaklumi saja." jawab Kellen mengecup kilas bibir Axton yang menghela nafas dalam. Tak juga sepenuhnya salah Baby San.
Akhirnya karna bujuk-rayu maut Kellen amarah Axton seketika lenyap. ia berubah menjadi kucing jantan yang sangat mendambakan kucing betinanya.
"Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga." jawab Kellen mengusap kepala Axton yang terbenam di dadanya. Kekenyalan dan kepadatan dua aset berharga ini begitu menggairahkan apalagi Kellen tengah menyusui. Pastinya akan sangat memanjakan dirinya.
Tanpa Kellen sadari. Tangan nakal Axton sudah menelusup ke balik punggungnya melepas kaitan Bera yang ia tarik untuk lepas.
"Ax!"
"Hm?"
Tatapan Axton sungguh berapi-api melihat bebas bagaimana indahnya perbukitan yang sangat makmur ini.
"Kau berbulan-bulan menyiksaku. Rasanya begitu sakit, Sayang!" serak Axton mengecup setiap senti bagian sekang ini.
Kellen hanya bisa mengigit bibirnya menerima belaian yang telah lama tak mencumbu tubuhnya. Ntahlah, sebagai seorang wanita bersuami Kellen juga normal dan sangat menginginkan Axton.
"A..Ax hmm.."
"Aku sangat merindukanmu." gumam Axton menyesap lembut dan sangat syahdu. Ia suka bermain lebih lama disini apalagi Axton pecandu berat akan tubuh istrinya.
Lama-kelamaan nafas keduanya mulai tak stabil. Hasrat yang hadir semakin meluap-luap sampai mengisi titik terdalam setiap bagian dari tubuh masing-masing.
Shitt. Kenapa kau selalu membuatku tak ingin berpaling? Kau menjeratku terlalu kuat. Sayang!
Batin Axton mabuk akan pesona dramatis Kellen. Walau banyak wanita yang ia temui bahkan lebih cantik dari wanita ini tetapi, tetap saja hatinya akan terpaut kembali ke asal. Tak perduli bagaimana keadaanya, Axton akan pulang ke Kediaman lamanya.
"Akhmm Ax.".
Erangan Kellen mencuat panas kala Axton benar-benar membuatnya melayang. Sensasi bercinta dengan gelora yang dahyat itu kembali ia rasakan sekarang.
Bibir keduanya terkunci rapat dengan decapan erotis menipiskan suhu kamar. Kellen hanya bisa menggeliat kala tubuhnya tak luput dari belaian hangat Axton yang juga tak bisa sabar.
"A..Ax!"
"Aku sangat menginginkanmu." bisik Axton berat dan memburu kembali menyatukan tautannya.
Ia membuai Kellen sampai tak sadar jika Axton sudah melepas bagian bawanya hingga tubuh molek ini benar-benar polos.
"A..Ax! Kau.."
"Dia menunggumu." serak Axton dengan tatapan memujanya yang khas.
Tanpa menunggu lebih lama. Axton segera melepas ikatan di tangan Kellen lalu bergegas bak kesetanan melepas pakaiannya sendiri.
"Ax! Aku tak akan lari."
"Hm." gumam Axton melepas Boxsernya hingga Kellen bersemu melihat tubuh kekar Atletis nan seksi ini lagi-lagi mengotori matanya.
Yang membuat Kellen bertambah malu adalah senjata perkasa yang terlihat begitu kokoh dan sangat menyiksa.
Cih, kenapa aku jadi senakal ini?
Batin Kellen mengusir pikiran-pikiran kotor yang mulai berputar di kepalanya.
"Ax!"
"Dia menantikanmu." gumam Axton begitu sangat ingin. Wajahnya sampai merah menahan hasrat yang begitu besar.
Tak mau menunggu lagi. Akhirnya Kellen mulai melancarkan aksinya memanjakan Axton yang sangat menyukai sikap liar Kellen ketika diatas ranjang.
"S..Sayang. B..berbalik." lirih Axton terbata-bata mengusap bibir basah Kellen yang mengangguk berbalik sesuai keinginan Axton yang menegakkan pinggangnya.
"A..Ax!"
"Hm." gumam Axton memposisikan tubuh. Saat ia ingin mendorong tiba-tiba suara ponsel Kellen berbunyi.
"Sebentar."
"Siapa?" tanya Axton kesal mengusap keringat di wajahnya. Wajah Kellen memucat melihat ada nama Martinez di layar benda pipih itu.
"Martinez. Sayang! Tadi Baby bersama den.."
"Tak akan ku biarkan." desis Axton langsung mendorong kuat membuat Kellen terpekik hebat mencengkram selimut dibawahnya.
"Aaax!!"
"Ehmm.. d..dia hanya m..menganggu." desis Axton terpengaruh sensasi nikmat ini. Ia tahu jika Baby San biasanya meminum Asi lebih awal dan pasti Kellen sudah melakukannya sebelum keluar dari Kediaman.
Semua jadwal itu sudah hapal di luar kepala Axton yang selalu mencari kesempatan.
.....
Vote and Like Sayang..