
Pagi ini tiba-tiba saja Kellen mendapat telpon dari Agatha yang mengatakan jika Presdir Perusahaan Christofer Crops sudah menunggu di sebuah Resort yang ada di Pantai Eford New York.
Alhasil Kellen sangat terburu-buru bersiap karna ia kesiangan dan Axton sama sekali tak berniat untuk membangunkannya.
Pakaian yang Kellen kenakan begitu sederhana yaitu Dress Monalisa selutut dengan lengan panjang dan pita di dekat leher. Ia mengurai surai kecoklatan lurus itu dengan pita kain berwarna Moca yang sama dengan Dressnya.
"Ax! Kenapa kau tak membangunkan aku?" tanya Kellen kesal seraya merapikan penampilannya di depan cermin. terlihat sangat anggun dan manis tak menghilangkan kesan Feminimnya.
"Makanlah dulu!"
"Aku tak sempat, ini sudah jam 10. Semuanya bisa kacau nanti." jawab Kellen menolak. Ia menyambar Tasnya di atas ranjang lalu pergi ke lemari sepatu mencari Heels pendek yang menunjang penampilannya.
Axton hanya diam meletakan nampan diatas ranjang. ia tahu Kellen ingin bertemu dengan pria Pemimpin Perusahaan yang telah membuat sebuah konspirasi besar ini.
"Ax! Dimana ponselku?"
"Aku tak tahu." jawab Axton duduk di tepi ranjang melihat Kellen tampak gusar mencari ponselnya. Padahal Agatha baru saja menghubunginya dan benda itu sangat cepat hilang.
"Aax! bantu mencarinya."
"Kau makan dulu."
"Tapi..."
Kalimat Kellen terhenti kala melihat exspresi Axton sudah sangat mengerikan. Alhasil ia menurut dengan duduk di samping Axton seraya masih melirik-kanan kiri.
"Buka mulutmu!"
"Ponselku." gumam Kellen menerima suapan makanan dari Axton. Mau tak mau Kellen menelan Nasi yang Axton tambahkan dengan berbagai sayuran, ia mendadak menjadi Koki di sini.
"Ax!"
"Hm."
"Rasanya enak." puji Kellen menyukainya. Axton hanya memberikan raut datar yang sangat lembut melayani dan mengurus semua keperluan wanita ini.
Setelah beberapa lama. Kellen menyudahi acara makannya karna piring itu sudah kosong, ia kembali mencari ponsel dan nyatanya benda itu sudah ada di Tasnya.
"Kenapa aku jadi pelupa begini? Haiss!"
"Pergilah. Kau bisa terlambat." ucap Axton membuat dahi Kellen menyeringit. Tak biasanya pria ini merelakannya begitu saja.
"Kau sakit?"
"Tidak." jawab Axton berdiri menarik lengan Kellen pelan untuk keluar dari kamar bersama. Rasanya begitu aneh tetapi Kellen lega karna pagi ini Axton tak bertingkah.
Saat menuruni tangga ke bawah. Axton benar-benar menjaga langkah Kellen yang seakan di buat seperti orang sakit.
"Aku bisa berjalan sendiri. Ax!"
"Hm."
Gumam Axton meraih pinggang ramping Kellen yang di buat hanya bisa menggeleng saja. Di bawah sini sudah ada Tuan Benet yang tampak masih enggan untuk berbicara dengan Kellen.
Semenjak pembicaraan hari itu. Tuan Benet jadi diam dan lebih banyak menyendiri.
"Dad!"
Tuan Benet menatap datar Kellen yang tampak sendu. Hati siapa yang tak akan merasa sakit melihat putrinya selalu seperti ini. Tetapi, saat melihat Axton ada rasa berat bagi Tuan Benet untuk menyapa.
"Aku akan terlambat pulang. Jaga dirimu baik-baik."
"D..Dad." gumam Kellen kala Tuan Benet melewatinya begitu saja. Hatinya terasa mencolos dan nyeri.
"Sudahlah. Daddymu hanya perlu waktu."
"Tapi.."
"Percayalah padaku." bisik Axton mengusap kepala Kellen lembut membuat wanita itu akhirnya mengerti.
"Baiklah."
"Sekarang. Kau pergilah! Aku ada urusan di luar." ucap Axton mengantar Kellen ke depan dimana Castor sudah siap di dekat Mobil dan Nicky juga ada.
"Lama tak berjumpa. Kellen!"
"Kau tambah membosankan." ketus Kellen pada Nicky yang hanya mengulum senyum. Ia tahu jika Bumil ini tengah dalam suasana hati dilema.
"Yah. ini khusus untukmu." tukas Kellen masuk ke dalam Mobil dimana Castor juga sudah bersiap mengemudi.
Ia dan Axton saling pandang dengan isyarat tersendiri tanpa di sadari Kellen yang tampak sibuk.
"Aku pergi. Ax!"
"Pergilah."
Kellen lagi-lagi di buat heran. Ia tampak menyipitkan matanya pada Axton yang hanya diam memilih mengacuhkannya.
"Dia ini kenapa?" gumam Kellen kesal bukan main. Melihat itu Castor hanya bisa diam melajukan Mobil keluar arena pagar.
"Ax! Kau yakin ingin melakukan ini?"
"Hm."
"Kau memang sangat cepat." puji Nicky bersemangat. Ia tak menduga jika Axton akan segera mengambil alih hanya karna masalah Kellen.
"Siapkan saja surat-suratnya. Dan pertemukan aku dengan si lamban itu."
"Siap! Aku sudah menyiapkan semuanya, kau hanya tinggal bermain."
Axton mengangguk masuk ke Mobil mereka. Ia sempat melirik kaca keluar dimana Tuan Benet tengah mengintai dari dalam.
"Ax! Martinez pasti sangat terkejut."
"Aku tak perduli."
"Yah. Kau memang sangat tak perduli." gumam Nicky masuk ke Mobil dan mulai mengemudi keluar dari Pagar Rumah ini.
Seperti biasa Axton memanfaatkan waktu untuk membawa Buku panduannya dan kali ini lebih serius.
.........
Perdebatan sengit itu terdengar di dekat Mobil yang sunyi karna telah di jaga para pengawal mereka. Disini ada seorang wanita paruh baya yang baru saja datang tetapi sudah membuat Pria berperawakan Amerika itu tampak kesal.
"Mom! Untuk apa Mommy menyuruhku merendahkan Dokter Kellen?"
"Kau diam saja. Ini akan berdampak baik bagi Perusahaan." tekan Nyonya Soulen yang merupakan Ibu dari Gelvin. Nyonya Soulen meminta Putranya Galvin untuk memperpanas kejadian yang kemaren ia buat, kali ini ia ingin Kellen benar-benar terdesak.
"Mom! Dokter Kellen mau bekerja dengan kita, apa masalahnya?"
"Tapi, dia memakai nama Kliniknya. Galvin!" sarkas Nyonya Soulen yang tampak emosi. Detik-detik seperti ini bisa-bisanya Galvin menolak padahal ia sudah mengancam jika sampai Kellen masih membuka Kliniknya maka Perusahaan akan pindah tangan.
"Apa masalahnya dengan itu? Mommy jangan membuatku pusing."
"No! Kau harus melakukan itu, ini cara agar kita bisa membuat kesepakatan yang lebih menguntungkan. Boy! are you know that?"
Galvin mengusap wajahnya kasar. Pria dengan wajah lembut tampan dan berkulit exsotis ini tampaknya sudah frustasi akan ambisi gila Mommynya.
"Ayolah. Galvin! Satu langkah lagi kita bisa mrngambil alih Kesepakatan besar ini."
"Mom! Sebenarnya apa yang kurang?" tanya Galvin heran. Mereka tak kekurangan harta atau sejenisnya tapi wanita ini seakan menjadi orang yang kelaparan.
Mendengar kalimat itu Nyonya Soulen benar-benar emosi. Ia seperti punya dendam pada Kellen.
"Kau tak mengerti apapun. Galvin! Ini yang namanya Bisnis, aku mempercayakan Perusahaan padamu karna aku pikir kau mampu sepertiku. Ingat, kau harus MELAKUKANNYA."
"Mom.. Aku.. Mommy!!" panggil Galvin kala Nyonya Soulen sudah masuk ke Mobil dengan para pengawal siap menjaganya.
Galvin tampak bimbang membuat Asistennya Ferry menjadi ikut merasakan kecemasan Tuan Mudanya.
"Kenapa dia tak mengerti juga? Aku menyukai Kellen!"
"Tuan! Sebaiknya anda jangan membantah, Nyonya Besar." ucap Ferry tak mau nanti bermasalah.
Galvin mendecah kasar. Ia sudah lama mengagumi Kellen tetapi beberapa bulan ini ia tak melihat wanita itu, alhasil saat Kellen sudah kembali. Ia mulai memberanikan diri untuk membuat pendekatan, tetapi ia malah di buat heran dengan Mommynya.
Sepasang mata tajam jelas memperhatikan itu dari arah tempat masuk. Ia berdiri di balik pohon besar menghadap pantai dan tentu percakapan itu terdengar olehnya.
"Cih. Nyatanya banyak yang terpikat olehmu, tapi kau jangan senang dulu." desisnya terlihat sangat menggeram. Jika bergerak sekarang, ia tak akan bisa karna Axton ada di belakang Kellen.
....
Vote and Like Sayang..