
Tak sadar waktu bergulir dengan sangat cepat. Baru saja mentari menampakan diri di langit sana dan sekarang ia sudah mulai bersembunyi di balik awan gelap yang menandakan akan ada hujan yang turun.
Suasana yang semakin dingin kala angin sore ini berputar arah membangunkan sosok cantik yang tengah terbaring lelap di atas dada bidang pria jantan itu.
Dahinya menyeringit pertanda agak risih. Ia merasakan hawa nafas hangat seseorang dan degupan jantung yang stabil.
"Aax!" gumam Kellen segera membuka mata embernya. ia menautkan alisnya kala melihat dada bidang dan tubuh kekar ini.
Namun, sedetik kemudian Kellen segera bangkit dengan wajah syok bercampur kesal.
"Aaaxton!!!" ia berteriak menarik pria itu dari alam bawah sadarnya.
Spontan Axton duduk dengan nyawa masih di ambang-ambang menatap siaga di sekitar tempat ini.
"Dimana mereka?" tanya Axton geram.
"Jangan bicara melantur!!!"
Kellen memukul bahu Axton yang tersadar. Ia pikir tadi ada yang mengusik tidur lelap istrinya dan ternyata wanita ini tengah menghakiminya.
"Kell!"
"Kenapa kau disini? Dari mana saja sampai aku tak menemukanmu di sekitar Kediaman?" cerocos Kellen meluapkan rasa cemasnya. Alis wanita ini menukik menandakan ia tengah marah dan khawatir.
"Jawab!! Apa ada yang mengusikmu lagi? Atau kau di kurung dan.."
"Ini!"
Ucapan Kellen terhenti kala Axton menyodorkan sesuatu di dalam genggaman tangan kekarnya.
"Apa?"
"Punyamu. Kell!"
Axton membuka genggamannya hingga mata Kellen di perlihatkan oleh sebuah anting yang mungil dengan manik mutiaranya.
Refleks Kellen memegang satu kedua telinganya dan benar saja, Antingnya sudah hilang.
"Kau mencari ini?"
"Hm." Axton mengangguk memasangkan itu ke telinga Kellen yang termenggu. Anting mutiara ini adalah pemberian dari Mommynya, dan sangat beruntung Axton bisa menemukan benda itu.
"Aku tak sadar jika ini hilang."
"Di dapur!"
Kellen mengangguki itu. Ia tadi memang ke dapur dan tak di sangka antingnya jatuh, kalau hilang total. Kellen bisa menangis sepanjang hari.
"Terimakasih. Tapi.. Lain kali kau jangan pergi begitu saja, aku pikir kau tengah di sekap atau bagaimana oleh mereka."
"Kau cemas?" tanya Axton dengan wajah datar dan tak bermakna.
" Tentu saja, lain kali jangan begitu."
"Baik."
Jawabnya singkat kembali memeluk Kellen yang pasrah. Jika Axton begini, ia berani untuk jujur dan mengungkapkan segalanya.
"Ax!"
"Hm."
"Apa kau kenal dengan pria tua di Kediaman itu?" tanya Kellen seraya meraba dada bidang Axton yang menikmati belaian tangan lentik ini.
"Siapa?"
"Yakin kau tak mengenalnya?" ulang Kellen masih penasaran.
"Tidak."
"Tapi, bukankah dia Daddynya Martinez? Lalu kenapa dia seperti itu? Jelas-jelas putranya tengah di larikan kerumah sakit. Tapi dia.."
"Aku tak tahu."
Jawaban itu membuat Kellen menghela nafas. Percuma bertanya pada Axton yang pasti tak akan mengerti apa yang tengah ia katakan.
"Lalu apa yang kau tahu?" mengadah menatap wajah tampan ini. Mereka persis seperti sepasang kekasih dengan Kellen yang bermanja begini.
"Kau!"
"Tak ada jawaban lain?" kesal Kellen mengkerut masam. Tapi apalah dayanya, Axton lagi-lagi menggeleng lugu tak tahu artinya.
"Tidak!"
"Fyuhhh.. Terserah padamu saja. Tuan! Aku harus menemui Castor sebentar."
Kellen berdiri seraya mengulur tangan membantu Axton bangkit. Tentu Axton menurut seakan menarik tangan Kellen padahal jika ia memang memberatkan tubuhnya maka Kellen akan tumbang.
"Ayo! Kau belum makan. Bukan?"
"Belum."
"Ayo makan. Aku juga lapar."
Tatapan waspada para penjaga sana tak luput dari pindaian mata elang Axton. Anehnya penjaga di sekitar Bangunan kecil tempat tinggal mereka juga di jaga.
"Ax! Apa ada yang akan datang?"
"Kell!" Axton menggeleng tak tahu. Ia berhenti di tempat kala melihat Castor yang berjalan kesini bersama Groel yang tampak masih menyimpan dendam pada mereka.
"Masuklah kedalam kamar kalian!" Groel mendekati Kellen yang heran.
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu." jawab Groel ingin mendorong bahu Kellen tapi saat melihat tatapan membunuh Axton ia langsung mengurungkan niatnya.
"Akan ada tamu spesial Nyonya yang datang. Jangan sampai mereka melihat pria penyakitan ini."
"Jaga bicaramu. Ya!!!" bentak Kellen tak suka. Castor memilih mengisyaratkan Kellen agar menurut saja.
"Kau ingin dia mati atau bawa dia kembali ke kamarmu!"
"Cih."
Ia berdecih menarik Axton kembali ke arah Bangunan kecil tempat tinggal mereka. Lagi-lagi Axton yang di jadikan alasan untuk tak keluar.
"Sebenarnya mau mereka apa? Aku sudah jijik melihatnya."
"Kell!"
"Tak apa. Nanti aku yang akan mengambil makanan untukmu." jawab Kellen membuka pintu kamar.
Ia ingin pergi tapi Axton menolak untuk di tinggal. Tentu ini akan membutuhkan waktu dan kesabaran.
"Ax! Hanya sebentar, nanti aku kembali."
"Tidak!"
Alhasil Kellen menatap Castor yang sudah lebih dulu memerintahkan Yagatri kemari. Ia tahu Kellen belum membawa apapun dari Kediaman utama.
"Nona!" Yagatri datang membawa nampan makanan. Wanita paruh baya itu melewati beberapa penjaga yang sangat sangar sore ini.
"Terimakasih. Maaf sudah merepotkan."
"Tak apa. Saya permisi."
Kellen mengangguk menerima nampan itu. Ia menatap Castor yang ikut masuk untuk memastikan sesuatu.
"Apa ada masalah?" tanya Kellen meletakan nampan ke atas tempat tidur seraya mendudukan Axton di sampingnya.
Castor duduk di sofa singel tak jauh dari tempat tidur. Kellen tak pernah mengumbar pakaian-pakaian dalamnya di dalam kamar hingga Castor bisa datang kapanpun.
"Sepertinya mereka menerima tamu penting."
"Yah. Apa itu Klien Nyonya Verena?"
Castor menggeleng. Ia paham betul Nyonya Verena tak pernah membawa Rekan kerjanya ke Kediaman. Wanita itu sangat berhati-hati.
"Aku rasa tidak. Ini pasti berhubungan dengan dunia bawah."
"Lalu, kita harus bagaimana?" tanya Kellen seraya menyuapi Axton dengan Stik daging sapi dan Sup asparagus yang sangat sehat.
"Aku akan mencari tahu. Untuk sementara ini, kau jaga dia di kamar ini. Jika terjadi sesuatu kau bisa menghubungi aku."
"Baiklah."
Kellen mengangguki itu. Ia kembali fokus menyuapi Axton dan sesekali dirinya. Tatapan menyelidik Castor bisa di rasakan Axton yang bersikap seperti biasa.
Ia selayaknya anak-anak yang hanya akan makan jika di suapi ibunya Dan itulah yang Axton tunjukan sekarang.
"Ax! Habiskan makananmu. Aku ke kamar mandi sebentar."
"Ikut!"
"Ayolah. Hanya sebentar." pinta Kellen memelas.
"Ikut. Kell!"
"Baiklah. Tapi tunggu di depan pintu."
Axton mengangguk menguntit Kellen ke arah kamar mandi. Saat wanita itu masuk ke pintu Toilet, Axton menunggu di luar merapat ke pintu.
Castor berdiri dengan langkah gontai mendekati Axton yang hanya memandang pintu itu tanpa mau berpaling.
"Kau tadi kemana?"
Axton tak menjawab. Ia lebih pada pura-pura tak mendengar membuat Castor mengepal. Gejolak perasaan si dadanya tak bisa ia kendalikan.
Matanya tampak berkaca-kaca hingga ia melempar pandangan ke arah lain.
"Sampai kapan kau akan membohongi. Kami?"
Deggg...
Vote and Like Sayang.