My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Rasa bahagia yang terpendam!



Sejumlah Team medis yang di datangkan dari Rumah Sakit sudah memasuki Rumah klasik Kellen yang di buat begitu sangat ramai.


Axton benar-benar memerintahkan Dokter Profesional seperti Mayner yang merupakan kepala Rumah Sakit besar yang ada di New York. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata dan penampilan yang sangat berkelas.


Ia juga membawa Team medis yang terdiri dari 3 orang Suster dan 1 Asisten dari Dokter Mayner.


Melihat banyaknya orang yang masuk ke dalam kamarnya. Kellen langsung memijat pelipis yang berdenyut.


"Kenapa bisa seperti ini?" gumam Kellen bersandar ke kepala ranjang dengan tenaga yang sudah terkuras.


Para anggota yang sudah berjaga di luar tengah menahan Joy agar tak masuk sedangkan Castor, Ia tengah berbicara dengan Dokter Mayner di dekat pintu.


"Dokter. periksalah dia!"


"Maaf, tapi aku kira ini terlalu serius tapi, nyatanya.."


"Maksudmu apa?" tanya Axton menyambar membuat Dokter Mayner menelan ludah. Walau ia tak mengenal Axton tetapi dari tatapan dan aura pria ini ia seakan harus patuh.


"Tuan. Sebaiknya beri ruang untuk Nona bernafas, aku kira terjadi sesuatu yang serius. Jadi, .."


"Kalau begitu kau saja yang memeriksanya. Yang lain akan menunggu di luar." sela Castor mencari aman. Dalam kondisi seperti ini Axton bisa saja membuat kekacauan seperti tadi.


Castor mengiring yang lain keluar dari kamar sementara Axton masih belum mau menyingkir dari tempatnya. Pandangan cemas dan tajam itu tak ia alihkan dari Kellen yang masih menjauh darinya.


"A.Ax!"


"Iya?" sambar Axton cepat ingin mendekat tetapi Kellen menggeleng kembali menutup hidungnya.


"K..Keluar!"


"Kell!" gumam Axton nanar. Ia ingin berada dekat di sisi wanita itu tapi kenapa Kellen menolaknya?


"Aku memakai Parfum yang biasa dan kau juga menyukainya. Aku juga sudah mandi, lalu apa?"


"A..aku tak tahu." gumam Kellen memang tak tahan akan aroma tubuh Axton. Tuan Benet hanya diam dengan pikirannya sendiri, ia menatap perut Kellen lalu segera menggeleng. Itu tak mungkin, Kellen pasti tak mengalami hal itu.


"Periksa putriku. Sejak kemaren dia terus muntah dan nafsu makannya kurang, apa yang terjadi?"


"Baik. Permisi sebentar!"


Dokter Mayner segera mendekat ke ranjang Kellen yang di baringkan dengan tenang. Axton terus memperhatikan pergerakan Dokter yang terlihat mengamati wajah pucat Kellen.


"Sudah berapa kali muntah? Nona!"


"Sudah beberapa hari ini. Dok!" jawab Tuan Benet mewakili. Dokter Mayner memeggang pergelangan tangan Kellen lalu terdiam sesaat.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia.."


"Ax! Tenang dulu." gumam Kellen merasa Axton terlalu cerewet. Ia pusing melihat pria ini sedari tadi hilir-mudik tapi tak kunjung diam.


"Kau bilang tenang? Sudah jelas kau sakit tapi tak memberi tahuku!!"


"Kenapa kau yang marah?? Seharusnya aku yang begitu, kau tak biasanya secerewet ini. biasanya kau hanya bicara Hmm.. Iya.. Baiklah. Sekarang kenapa banyak bicara?" cerocos Kellen terlihat kesal dan tak biasanya ia begitu.


Melihat respon Kellen yang begitu bahaya. Axton memilih diam agar tak menyulut kembali pertengkaran.


"Baiklah. Tarik nafas dan hembuskan perlahan. Nona!"


"Hm."


Kellen melakukannya sesuai arahan Dokter Mayner yang mengeluarkan Stetoskop dari sakunya. Ia memeriksa apakah benar dugaannya terjadi pada wanita ini atau tidak.


"Sudah berapa lama Nona tak datang bulan?"


"Sudaah.. Emm .."


Kellen berfikir sejenak lalu ingat jika ia tak datang bulan satu minggu setelah pulang kesini.


"Sekitar satu minggu yang lalu." imbuh Kellen belum sadar.


"Apa setiap pagi Nona selalu muntah?"


"Yah, apalagi kalau mencium aroma yang aneh-aneh." gumam Kellen masih menelan ludahnya.


Dokter Mayner mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan itu adalah sebuah Permen rasa buah Strawberry dan terlihat manis.


"Ini. Aku rasa Nona hanya dalam masa hormonal. ini akan membantu untuk menetralisir rasa mual."


"Hanya Permen?" tanya Axton masih belum puas. Ia ingin istrinya di periksa secara menyeluruh karna bisa saja terjadi sesuatu atau jika tidak Axton sangat lega.


"Ini bisa membuat Nona lebih nyaman, dari semua keluhan Nona, saya yakin jika Nona tengah Hamil."


Duaaarr..


Seketika mata mereka terbelalak lebar dengan keterkejutan Kellen dan juga Axton yang terdiam kaku.


Kedua mata mereka bersitatap tak menyangka dan tampak masih belum percaya.


"T..tapi..."


"Untuk lebih jelasnya. Kalian harus melakukan USG, dari denyut jantung dan perut Nona. Saya yakin Nona hamil dan usianya diperkirakan baru 2 minggu"


Jelas Dokter Mayner lugas ia memberikan beberapa Pil dan Vitamin pada Kellen yang menerimanya dengan gugup.


Ia tak tahu apa yang haru ia katakan pada Tuan Benet yang tampak diam tak bersuara satu patah katapun.


"Saya akan menunggu Nona dan Suami anda untuk datang. Lebih cepat lebih baik."


"T..tapi.."


Kellen terlihat masih belum yakin. Melihat itu Dokter Mayner mengulum senyum, ia mengeluarkan Testpack dari dalam tasnya lalu memberikan benda itu ke tangan Kellen.


"Untuk hasil yang lebih akurat, cobalah saat kau bangun tidur. Hm?"


"B..Baiklah." jawab Kellen mengangguk kaku. Dokter Mayner tak mengerti kenapa respon Kellen seperti ini, biasanya seorang istri yang mengetahui dia hamil pasti sangat senang.


Dan hal itu juga yang tangah mengganggu Axton. Ia masib belum bisa mengekspresikan bagaimana terguncangnya dunia ini baginya, ia tak menyangka akan secepat ini.


Antara senang dan sangat bahagia ia ingin berteriak tapi ia masih belum bisa melakukan itu.


"Saya rasa Nona cukup cerdas menyikapi ini. Untuk Mual dan nafsu makan yang kurang itu hal biasa, saya sudah memberikan obatnya dan itu akan berangsur membaik saat Trimester kehamilan bertambah."


"T..Terimakasih."


Jawab Kellen menunduk hingga Dokter Mayner pamit untuk keluar kamar. Sekarang, tinggallah mereka bertiga dengan pandangan tajam Tuan Benet menghunus Kellen.


"D..Dad." gumam Kellen masih menunduk tak tahu harus mengatakan dan mulai dari mana. Cerita ini begitu panjang dan sangat rumit.


"Kenapa? Kenapa bisa begini? Apa kau.."


"Jangan mendesaknya." sela Axton masih berdiri di tempat.


Dengan emosi yang kuat. Tuan Benet berdiri lalu menghampiri Axton yang hanya dim sejenak melihat mata berkilat amarah yang tersirat di manik pria ini.


"Kauuu!!!"


"Aku.."


Bughh..


"Daaad!!!' pekik Kellen kala Tuan Benet memberikan pukulan ke rahang Axton yang tak bergerak sama sekali. Hanya kepala pria itu saja yang tertolak ke samping tapi pertahanannya masih kokoh.


"Apa yang kau lakukan pada Putriku??? Kau memanfaatkan keluguanyaaa!!!" bentak Tuan Benet tak tahan lagi hingga memukuli Axton yang hanya menerima saja.


Kellen turun dengan lemah dari atas ranjangnya dengan mata berkaca-kaca melerai Tuan Benet yang meninju telak wajah Axton.


"Bajingaan!!!"


"S..Sudaah hiks. Sudaah!!" teriak Kellen langsung berdiri di tengah-tengah mereka membuat Tuan Benet terhenti dengan deru nafas menggebu dan dada naik turun.


Pandangannya pada Kellen terlihat kecewa dan sangat tak menyangka.


"D..Dad!"


"Kau.. Kau kenapa? Kenapa.. Kell." gumam Tuan Benet sendu. Ia tak pernah membiarkan Kellen di lecehkan begini dan ia sebagai seorang ayah merasa Axton hanya ingin merusak anak perempuannya.


"D..Daddy!"


"Daddy mengirimmu ke sana bukan untuk ini!! Kau ..kau merusak masa depanmu sendiri. Ini.."


Tiba-tiba saja dada Tuan Benet terasa nyeri membuat pria tua itu meringis mencengkram dadanya.


Kellen terkejut segera memeggang bahu Tuan Benet yang perlahan duduk di tepi ranjang.


"D..Dad. Daddy kenapa?"


"J..Joyyy!!" panggil Tuan Benet tampak kesulitan bernafas. Sepertinya ia terlalu emosi sampai tak bisa menahan diri.


"J..Joyyyy!!"


"Iya. Uncel!" Joy masuk dengan tersentak melihat ini semua. Ia melempar pandangan tak sukanya pada Axton dan barulah ia menghampiri Tuan Benet.


"Uncel! Kau jangan terlalu memaksakan diri, keadaanmu masih belum stabil."


"A..Antar aku ke kamarku!"


Joy mengangguk membopong Tuan Benet keluar pintu kamar. Castor yang tadi hanya diam mendengar suara pertengkaran akhirnya masuk membiarkan Joy membawa pria paruh baya itu.


"Ax!"


Axton tampak diam dengan wajah lebam. Castor bisa mengerti apa yang tengah terjadi disini.


"Aku akan berjaga di luar!"


"Hm."


Castor kembali keluar menutup pintu. Dengan spontan Kellen menjatuhkan dirinya di tepi ranjang terduduk dengan lepas.


"D..Dad." gumam Kellen menatap nanar pintu itu. Ia tak mengira jika ia hamil sebelum memberi tahu tentang status hubungannya dan Axton.


"Aku.. I.ini.."


"Jangan menangis." lirih Axton berjongkok masih menjaga jarak dengan Kellen. Ia tak mau wanita ini kembali di siksa oleh rasa mual yang hebat.


"A..Ax!"


"Jangan. Aku mohon." pinta Axton tak tahan, ia ingin sekali merengkuh tubuh rapuh itu tapi apalah dayanya yang tak bisa oleh keadaan.


"S..Sekarang D..Daddy marah. A..Ax! Aku.. Aku tak tahu.. Dia.."


"Semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis, aku akan bicara dengan Daddymu. Hm?"


Jelas Axton tak memperdulikan lebam di wajahnya. Ia berdiri mengambil tisu di atas meja rias lalu memberikannya pada Kellen lewat uluran tangan jenjangnya.


"Ini, jangan menangis!"


Kellen diam mengambilnya. Dengan linangan air mata itu ia melihat jelas jika pipi dan rahang Axton lebam padahal selama ini Axton tak pernah di pukuli dalam keadaan sadar begini.


"I..itumu.."


"Hm?" tanya Axton masih memperhatikan Kellen yang mengusap pipinya.


"Wajahmu. Ambil obat laci, aku akan mengobatinya."


"Tak apa. Aku baik-baik saja."


"Kau jangan keras kepala!! Ambil di laciii!!" pekik Kellen sudah mau menangis antara ia harus senang karna hamil dan harus cemas akan Tuan Benet.


Axton tak juga bergerak. Mata Kellen semakin berkaca-kaca melihat Axton yang menahan diri untuk mendekat padahal ia tahu Axton tampak tersiksa begini.


"A..Ax!"


"Kau senang-kan?" tanya Axton mengutarakan kecemasannya.


"A..aku.."


"Kau senang mengandung bayiku?"


Kellen terdiam sejenak lalu segera mengangguk memberi senyuman membuat Axton memejamkan matanya meredam perasaan yang tengah bergejolak.


"Aku senang. Tapi.. Tapi Daddy.."


"Jangan memikirkan itu. Aku akan bertanggung jawab, kau dan Baby akan baik-baik saja." jawab Axton tampak cerah dan sangat ingin memeggang perut Kellen yang hanya bisa menatap itu.


"A..Ax!"


"Aku akan menjagamu. Tidurlah!"


Vote and Like Sayang..