My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Meracuni Nyonya Verena!



Ntah apa yang terjadi, tiba-tiba saja Nyonya Verena jatuh pingsan tadi sore hingga sekarang Dokter Hans di panggil untuk menanganinya.


Para Team medis dari luar juga di kerahkan, menandakan jika keadaan wanita itu benar-benar serius.


Di dalam kamar luas dengan dekorasi mewah dan elegan itu tampak di pantau oleh Martinez yang cemas dengan keadaan Mommynya.


"Tenang saja. Momymu pasti baik-baik saja."


"Kau buta. Ha??"


Miss Barbie terperanjat kala Martinez membentaknya. seluruh mata di dalam kamar ini terlempar pada mereka membuat Miss Barbie menunduk.


"Mommyku tak sadarkan diri. Dan kau masih mengatakan hal ini?"


"A.. Aku..aku hanya ingin kau tenang." gumam Miss Barbie ingin menyentuh lengan Martinez yang menepisnya kasar.


Alhasil ia hanya mencoba menebalkan muka atas perlakuan tak mengenakan Martinez padanya.


Melihat itu semuanya dan Dokter Hans menghela nafas berat, ia baru saja melakukan injeksi ke lengan Nyonya Verena yang masih belum membuka mata.


"Apa yang terjadi pada. Mommyku? Kenapa dia bisa pingsan tiba-tiba? Ini tak pernah terjadi sebelumnya." tanya Martinez tanpa henti.


"Saya perlu berbicara secara pribadi dengan anda. Tuan!"


"Baik. Jelaskan padaku!"


Ucap Martinez melangkah keluar di ikuti Dokter Hans yang sebelumnya memerintahkan para bawahannya untuk melanjutkan pemeriksaan.


Di luar sini. Martinez membawa pria paruh baya itu ke dekat sofa dekat tangga yang tak jauh dari kamar Nyonya Verena.


Raut wajah Martinez sangat serius membuat Dokter Hans mengerti akan itu.


"Katakan!"


"Kami menemukan tubuh Nyonya terkena tumbuhan beracun Tanaman Hemlock."


"Maksudmu?" tanya Martinez tak mengerti.


"Tanaman Hemlock itu salah satu tanaman beracun di Amerika. ia memiliki daun seperti Seledri dan sangat mematikan terutama di bagian akar."


"Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Tak mungkin Mommyku kehutan belantara menemukan tanaman itu." ucap Martinez masih kebingungan.


"Saya juga memahami itu. Tuan! Kemungkinan ini terjadi di luar kendali Nyonya, akar itu tak mungkin Nyonya makan kecuali ada yang telah meraciknya menjadi sebuah cairan."


"Jadi. Menurutmu ada yang.."


"Kemungkinannya begitu, tapi saya masih mencoba mendalami dengan hasil Lab nanti." sela Dokter Hans membuat Martinez terdiam.


Kepalan tangannya menguat membayangkan jika Mommynya memang telah di racuni seseorang.


"Sialll!!! Siapa yang berani melakukan hal itu?? Brengsekk!!"


Dokter Hans hanya diam tak mau menyangga. Ia tahu Martinez tak akan menerima saran ataupun ucapan dari orang lain.


Seperti sekarang. Miss Barbie hanya bisa menatap sendu Martinez dari arah pintu. Hatinya sakit tapi ia berusaha bertahan agar selalu bisa menghadapi semua ini.


Drett..


Ponsel Miss Barbie bergetar di tangannya. Wanita itu segera melangkah cepat melewati Martinez yang tak memperdulikannya.


Ia turun ke bawah karna menerima panggilan dari Manajernya.


"Hello!"


"Miss! Kapan kau pulang? Kita ada Pemotretan seminggu lagi. Cutimu hampir selesai!"


Miss Barbie berhenti di ruang utama. Ia tak tahu harus menjawab apa sedangan situasi disini masih belum stabil.


Ia tak enak pulang sedangkan keadaan Nyonya Verena tengah sekarat.


"Tean! Untuk itu aku belum bisa memastikannya."


"Miss terkena masalah apa? Aku bisa menjemputmu ke sana."


"No! I'm ok."


"Ada apa? Miss, jangan menganggapku orang lain."


Miss Barbie mengigit bibir bawahnya. Wanita berambut pendek itu terlihat bimbang dan sangat bingung.


"Aku baik-baik saja. Ean!"


"Kau yakin?"


"Ofcourse! Kau tak perlu mencemaskanku."


Terdengar helaan nafas di seberang sana. Jelas jika sekarang pria itu tengah pusing memikirkan masalahnya.


"Begini saja. Aku akan meminta agar Foto itu di ambil di sana, kau bisa?"


"Benarkah??" pekik Miss Barbie sangat senang mendengarnya.


"Up to you!"


"Eaan!! Thanks you verry much."


Gumam Miss Barbie lega jika Tean mengerti posisinya. Pria ini memang selalu bisa diandalkan.


"Baiklah! Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kau sakit dan itu akan menyebalkan."


"Aku tahu. Terimakasih!"


Balas Miss Barbie lalu mematikan sambungan. Ia menghela nafas lega karna setidaknya beban itu sedikit ringan di pundaknya.


"Syukurlah. Aku bisa menemani Martin disini."


"Apa yang kau harapkan darinya? Miss!"


Degg..


Miss Barbie langsung berbalik hingga ia terperanjat kala melihat Kellen yang sedari tadi mendengar dialognya dengan Tean.


Wanita cantik dan cerdas itu tampak memandangnya iba dan sangat tak percaya.


"Dokter Kellen!"


"Sudah cukup. Semua ini tak pantas untuk wanita terhormat sepertimu." ucap Kellen mendekati Miss Barbie yang tak mau memandang mata embernya.


"Dulu, aku pikir seorang pria yang menjadi calon suamimu itu adalah pria yang bermartabat. Pria yang.."


"Cukupp!!"


Cegat Miss Barbie tak mau mengerti dan tak ingin mendengar kejelekan tentang Martinez. Mau bagaimanapun semua orang mengatakannya, ia akan tetap berjuang mempertahankannya.


"Kau tak berhak mengatakan hal buruk tentangnya."


"Sampai kapan?"


Tanya Kellen menciptakan rasa sesak di dada Miss Barbie yang berusaha agar tak menangis. Ia sendiri juga tak tahu tapi nekat mencoba.


"Jika dia mencintaimu, dia tak akan membuat kebohongan sebesar ini. Dan dia tak akan berulang kali menyakitimu. Miss! Aku temanmu dan aku tak mau kau di lukai oleh pria seperti itu, kau terlalu baik untuknya."


"Kau tak mengerti."


Jawab Miss Barbie tersenyum miris tapi ia memeggang bahu Kellen hangat. Tak ada amarah atau benci pada Kellen.


"Miss.."


"Dokter Kellen! Kau tak mengerti bagaimana perasaan wanita dan lelaki, kau hanya selalu paham dengan batasan tapi tak dengan sisi lain."


Kellen terdiam. Ia tahu maksud Miss Barbie tapi memang ia belum merasakan cinta yang seperti itu.


"Apa tak cukup tahu jika dia tak mencintaimu, keadaan tak mendukung dan itu bisa jadi alasan kau pergi?!"


Miss Barbie menggeleng. Kellen masih terlalu awam tentang Cinta.


Ucap Miss Barbie lalu melangkah pergi. Ucapannya barusan membuat Kellen terdiam cukup lama.


Bahkan, wanita itu memandangi kepergian Miss Barbie yang menurut Kellen terlalu baik dan agak polos.


"Kenapa setiap orang yang mencintai harus seperti itu? Cinta itu rumit. Haiss.."


Kellen mengumpat. Tapi, ia teringat akan Axton. Timbul pertanyaan di benak Kellen yang masih bingung apa ia mencintai Axton? Tapi. Ia rasa, perasaan itu tak seperti Miss Barbie.


"Sebaiknya aku harus cepat menyelesaikan ini. Aku tak ingin menjadi seperti, Miss Barbie." gumam Kellen pusing memikirkannya.


"Wanita sialan!!!"


Kellen terperanjat kala suara Martinez membentaknya dari belakang. Seketika ia membelo jengah melihat pria itu tertatih-tatih turun dari tangga ke arahnya.


"Nyatanya kau belum mati. Juga?"


"Kau yang meracuni. Mommyku, bukan??? Iyakan??" sarkas Martinez berdiri murka di hadapan Kellen yang menyeringit.


"Maksudmu apa??"


"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kau sangat liciik." geram Martinez benar-benar meledak-ledak. Sorot matanya menyimpan kebencian dan amarah yang jelas.


Namun. Tuduhan itu tak Kellen mengerti, ia tak tahu jika Nyonya Verena pingsan karna di racuni.


"Aku tak tahu apapun. Jangan seenaknya kau.."


"Kau memang sangat keterlaluan!!" bentak Martinez ingin menampar Kellen yang menghindar sangat syok.


Castor dan Axton yang melihat dari arah pintu samping sana segera mendekat dengan Axton yang berusaha tak membunuh Martinez di tempat.


"Kau ini apa-apaan. Ha??" geram Kellen kehilangan kesabaran.


"Aku belum ada niatan membunuhmu. Tapi, apa yang kau lakukan ini sudah di luar batas. Kellen!!"


Marah Martinez melambung tinggi. Ia tak sadar jika perlakuannya selama ini pada Kellen juga melebihi batas normal.


Melihat Martinez yang bisa saja melukai Kellen, Axton mengisyaratkan Castor agar bertindak sesuai rencananya.


"Tuan!!"


Ia mendekat membuat mereka menoleh. Axton hanya diam berdiri di dekat Kellen yang menjauhkannya dari Martinez mengantisipasi perkelahian.


"Kell!"


"Aku tak apa-apa." jawab Kellen menggenggam tangan Axton yang menatap bibir Kellen agak sedikit bengkak karnanya tadi.


"Aku yakin wanita ini yang telah melakukan hal sepicik itu."


"Ada apa. Tuan? Kenapa?" tanya Castor dengan raut wajah di buat tak tahu.


"Mommyku di racuni. Dan aku bersumpah tak akan melepaskan wanita ini!!"


Geram Martinez masih seakan menelan Kellen yang nyatanya memang tak tahu apapun. Sedangkan Axton, ia hanya menyeringai iblis mendengar itu semua.


Perlahan tapi pasti. Ia akan membalas semuanya satu persatu.


Begitu juga Castor. Ia puas akan rencana Tuannya, nyatanya Axton sudah memberi lebih dulu di bandingkan dirinya.


"Tuan! Sebaiknya anda jangan emosi lebih dulu, bisa saja ini dari luar."


"Siapa? Hanya wanita ini yang berani melakukannya." sarkas Martinez masih kekeh.


Axton memandang Castor seakan menekankan agar lanjutkan provokasi itu.


"Untuk apa Kellen melakukan itu? Jika dia mau. Maka sedari awal dia sudah melakukannya."


"Yah. Benar! Aku bisa saja melakukannya saat pertama melihat Mommymu." sambar Kellen membenarkan.


Martinez terdiam. Raut ragu-ragunya sudah Axton tebak dari awal membuat rencana picik ini.


"Lalu siapa?"


"Bisa saja salah satu anggota yang tadi kesini. Aku melihat jika mereka juga tak suka pada. Nyonya!" hasut Castor bersemangat. Disini tak ada Groel yang bisa menggagalkan rencananya.


"Johar? Dia memang selalu membuat Mommyku marah."


"Nah. benar, Tuan! Itu yang ku maksud." timpal Castor lagi.


Axton semakin jengah melihat kebodohan Martinez yang ia ingat jelas dulu bagaimana menindasnya. Sangat memalukan jika membayangkan kejadian itu.


"Benar juga! Tadi saja dia bilang Mommymu wanita tak tahu diri."


"Dia mengatakan itu?" tanya Martinez yang diangguki Kellen.


"Yah. Itupun kalau kau percaya, kau itu lamban. makanya sangat susah menangkap maksudku."


"Siall!!" umpat Martinez membayangkan wajah cacat Johar. Ia juga tak mengerti kenapa Mommynya begitu tak mau membalas pria itu padahal jelas Johar selalu bersikap semena-mena.


"Aku tahu apa yang harus dilakukan. Tuan!"


"Apa?" tanya Martinez lagi.


Mereka semakin puas akan jawaban pria ini. Sangat mudah di akali.


"Besok. Anggota Johar akan membawa Axton ke Markas besar."


"Jadi?"


"Kau bisa ikut dan membalas semuanya disana."


Martinez berfikir sejenak dan akhirnya ia mengangguk seraya menatap Axton yang memeluk posesif Kellen.


"Aku setuju. Kau urus saja rencananya."


"Aku siap." jawab Castor membiarkan Martinez kembali ke atas.


Ia mengulum senyum kemenagan memandang Axton yang hanya menatapnya datar tapi jelas pria itu juga puas.


"Aneh! Siapa yang meracuninya?" Kellen bingung.


"Mungkin memang Johar!"


"Apa benar? Tapi, terserah. Aku tak perduli." jawab Kellen menaikan bahu acuh.


Axton juga hanya pura-pura tak mengerti kembali mengigit bahu Kellen remang membuat wanita itu kesal bukan main.


"Kauu!!"


"Kell!!"


"Aku sudah cukup sabar saat kau melakukan hal tadi. dan sekarang mau kau ulangi lagi. Ha??" ketus Kellen melepas pelukan Axton dengan kasar.


Axton hanya menunjukan wajah lugu datar itu. Ia menautkan jari kelingking mereka sebagai bentuk permintaan maaf yang dulu Kellen ajarkan padanya.


"Nanti pasti kau ulangi lagi."


"Iya."


"Aaax! Kau.. "


Kellen tak bisa marah karna Axton pasti akan memandangnya selugu itu. Alhasil Kellen melenggang pergi ke arah dapur meninggalkan mereka dengan kedongkolan.


Tatapan Axton kembali berubah dengan kedua tangan masuk di kedua sisi saku celananya. Ia masih membutuhkan banyak waktu untuk memberitahu Kellen tentang ini.


"Kapan kau akan memberi tahunya?"


"Tidak untuk sekarang." jawab Axton datar lalu pergi menyusul Kellen. Agenda waktu luangnya hanya untuk menguntit wanita ini.


Jika mentari sudah berganti rembulan. Barulah Axton agar menjadi dirinya sendiri. Karna saat itu Kellen tengah ada dalam mimpinya.


Vote and Like Sayang..