
Bukannya menepis tangan lentik Kellen, Axton justru dengan lugunya menunjukan resleting celananya yang rusak tersangkut ke Boxer miliknya.
Wajah Kellen benar-benar tak lagi bisa di sembunyikan bagaimana rona merah panasnya kala merasakan bunjulan itu.
Otak Kellen lagi-lagi berputar hebat membayangkan bagaimana besar dan kokohnya benda ini.
"T..Tidak.. Apa..apa yang ku pikirkan?"
Batin Kellen menggeleng memusnahkan pikiran mesum itu. Bisa-bisanya ia membayangkan ini pada Axton yang tak tahu apapun.
"Kell!"
"A.. Iya. Kau..kau itu.."
"I..ini.."
Axton tak nyaman dengan jepitan resleting ke kain Boxernya . ia merasa sakit di bagian itunya membuat Kellen kebingungan menatap ngeri bagian menonjol ini.
"A..Ax! Kau..kau mandi sendiri, ya? Kau pasti bisa."
"I..Ini.."
Kellen menelan ludah berat. Mau tak mau ia berjongkok pelan dengan wajah tepat berhadapan dengan benda ini.
Memang benar ini tersangkut membuat jemari Kellen memberanikan diri untuk menyentuh bagian resleting.
"A..Ax! Ini.. Ini kuat, celana-mu rusak." gugup Kellen mencari alasan untuk kabur.
"S..Sempit."
"Apanya?"
"I..Ini.."
Kellen benar-benar merasa ingin menghilang dari tempat ini. Tangannya saja sudah gemetar untuk pertama kalinya berada di depan pintu pertama melihat tombak arwana itu.
"Kau jangan bergerak."
"Hm."
Kellen menghembuskan nafas tenang. Keringat dingin bercampur rembesan air di keningnya seakan tengah mengoperasi Klien kecantikannya.
Perlahan tapi sangat gugup Kellen mencoba melepas jepitan resleting ini dari luar Boxer Axton yang ntah kenapa merasa aneh dengan tubuhnya.
"Susah." gumam Kellen fokus. Ia agak menarik resleting itu tapi bukannya terlepas tapi jemari Kellen menekan bagian sensitif di dalam sana.
Tentu Axton masih normal tapi ia gelisah. Ntah kenapa tiba-tiba sentuhan Kellen membuatnya panas dingin dengan bagian itu terasa berdenyut.
"K..Kell."
"Sebentar. Aku tengah berusaha." jawab Kellen menganggap panggilan itu seperti memastikan sudah atau belum. Padahal, Axton sudah berpeggangan ke pinggir kursi karna merasa ada yang bergerak mengisi sesuatu di dalam sana.
"Kenapa sangat susah? Kau menariknya sangat kuat."
Axton memejamkan matanya kala Kellen tanpa sadar memberikan pancingan hasrat untuk Axton. Belum lagi lekukan tubuh indah Kellen yang tercetak jelas ini membuat Axton kebingungan.
"K..Kell!" nafas mulai terasa berat dan aliran darah mendesir hebat.
Kellen masih belum menyadari itu. Ia larut dalam usahanya melepas resleting ini tanpa sadar jika bagian pusaka bertuah itu sudah membengkak lebih besar dari sebelumnya.
"Diamlah. Jangan mundur terus."
"K..Kellmm.." geraman Axton gelisah dengan hembusan nafas sangat bergetar.
"Sedikit lagi. Aku akan selesai."
Kellen masih bergerak lincah menarik-narik benda itu sampai akhirnya terlepas membuat ia lega.
"Syukurlah."
"Ke..Kell."
"Sudah. Kau.."
Kellen menyeringit kala mendengar tarikan nafas berat Axton yang begitu aneh. Saat kepala Kellen perlahan mengadah, alangkah terkejutnya wanita itu dengan wajah tampan Axton meradang merah.
"A..Axx!"
"K..Kelmm.. Kell!" gumam Axton kebingungan. Tiba-tiba kefokusannya beralih mengukir bibir sensual Kellen yang terperangah tak percaya.
"Siall!! Aku..aku lupa kalau..kalau Axton juga normal."
Batin Kellen sadar akan hal itu. Apalagi bagian Boxer Axton sudah terlihat sesak akibat pembengkakan yang terjadi.
"A.. Ax.. Aku.."
"Kell!" gumam Axton dengan nafas memburu. Tatapan matanya berubah di kelabui hasrat dengan keinginan lelaki yang nyata.
"A...Ax! Air..airnya dingin, kau..kau bisa menggunakan itu dan.."
Axton segera menyambar bibir Kellen yang terbelalak hebat spontan mencengkram bahu Axton yang menekannya ke dinding kamar mandi.
"Ehmm!!!" pekikan tertahan Kellen memberontak tapi ia tak bisa.
Axton tak mengerti cara berciuman hingga ia hanya menempelkan bibir keduanya seperti yang baru saja terjadi tadi.
Tubuhnya mengunci pergerakan Kellen yang berusaha lepas tapi lengan kekar Axton menahan bagian pinggangnya.
"Lepasmm!!!"
Axton tak mendengar itu. insting kelelakiannya bekerja tapi terkesan kaku dan sangat kasar.
Kellen harus menahan bobot tubuh Axton yang mendorongnya kuat sampai nafas Kellen terengah menepuk cepat bahu Axton agar berhenti menekannya.
"Aaaxxmm!!"
Teriakan tertahan Kellen sudah tak bisa bernafas bahkan wajahnya begitu pucat membuat Axton tersadar.
"Kell!!"
"L..Lepass.."
Kellen mendorong bahu Axton menjauh hingga nafasnya langsung memburu hebat. Dada Kellen naik turun mengisi rongga dada yang tadi sempat kosong.
Rasa cemas Axton muncul melihat Kellen tak baik-baik saja.
"Kell!"
"Di..disitu.. Diam disitu.."
Axton tak bergerak. Tatapan matanya begitu panik mulai merasa cemas yang berlebihan dan sangat takut.
"K..Kell.. Kau.."
"D..Diam.. Jangan.. Jangan bergerak." cegah Kellen dengan nafas terengah. Ia berusaha menormalkan segalanya dengan mata beralih ke bagian bawah Axton.
Batin Kellen merasa frustasi dengan keadaan yang menjerumuskannya pada hal seperti ini.
Melihat Kellen yang diam. Axton menganggap itu sebagai isyarat jika Kellen marah, wanita ini akan pergi darinya.
"J..Jangan.. .."
Melihat Axton yang tampak emosi dengan dirinya sendiri membuat Kellen sigap mengambil langkah baru.
"Ax! Aku baik-baik saja."
"Kell!"
"It's ok. I'm fine, tak ada yang perlu kau cemaskan." jawab Kellen memutar tubuhnya seakan mengatakan 'Aku tak kekurangan apapun'. Walau berbeda dengan apa yang tengah Kellen rasakan sekarang.
Melihat itu. Tanpa sungkan Axton segera memeluk Kellen dengan sangat erat membuat wanita itu lagi-lagi merasakan sakit di punggungnya.
"J..Jangan.."
"Suttt. Tak apa, ayo mandi."
Kellen kembali melanjutkan tugasnya. Ia kali ini memilih untuk menggunakan tangan Axton sendiri untuk membersihkan bagian bawah.
Axton tak melepas tatapannya dari Kellen yang memejamkan mata berjongkok melepas celananya.
"Kell!"
"Ax! Kau lapar atau mau tidur?" tanya Kellen membawa Axton berfikir yang lain.
"K..Kell!"
"Coba pejamkan matamu. Kau mau makan apa?" pinta Kellen yang di turuti Axton. Saat mata itu terpejam Kellen segera membuka netra embernya yang menatap ke samping.
Walau samar-samar bisa ia lihat lekukan otot Axton tapi ia tak mau mengambil kesempatan emas ini. Begitulah kiranya.
"Apa yang kau mau. Ax?"
"Kell!" gumam Axton hanya membayangkan wajah Kellen.
"Bukan. Kita bicara makanan."
"K..Kellen."
Kellen hanya menghela nafas. Tapi, ada senyum kecil di sudut bibirnya kala Axton bisa memanggilnya dengan nama itu.
"Kellen!"
"Hm? Namamu?"
"Aa..Axton!"
"Jadi?"
Axton berusaha menyambung kata-katanya sebagai permainan oleh Kellen. Hal sederhana ini mampu memancing Axton agar berfikir lebih normal.
"K..Kellen.."
"Lalu?" tanya Kellen mengarahkan tangan Axton yang ia beri sabun ke arah paha pria itu. Jika tangannya yang berkerja maka yang lain akan tambah hidup.
"A..Axton."
"Yeahh. Good Boy." ujar Kellen mengapresiasi. Mendengar intonasi senang Kellen, Axton mengulang-ngulangnya lagi seperti tak bosan mengucapkannya.
Melihat itu Kellen hanya membungkus senyuman. Ia membasahi seluruh tubuh Axton dengan air hingga pria ini terlihat semakin mempesona.
"Sudah?"
"S..Sudah.."
"Pakai handuk dulu."
Axton mengangguk dengan tatapan datar tapi terkesan sangat penurut memantau Kellen yang meraih handuk yang tadi ia letakan di dekat gantungan di belakang.
"Berbalik. Ax!"
"B..Balik.."
"Yea. Putar tubuhmu ke belakang." pinta Kellen masih belum mau menatap bagian bawah Axton.
Ia perkirakan benda itu memang sangat menggairahkan tapi otak Kellen masih suci dan sehat.
"Belitkan begini. Saat mandi lain kali jangan terlalu kasar menggosok tubuhmu, tuangkan sedikit sabun dan shamponya dan usap lembut seperti tadi. Paham?"
"P...Paham!" mengangguk membuat Kellen gemas membalutkan handuk itu dari belakang ke pinggang kekar Axton.
Terkadang saat pria ini masih tenang seperti anak harimau, tapi jika sudah kambuh. Maka Axton akan lupa apapun.
Namun. Kellen tersigap saat ada suara riuh terdengar di luar sana. Axton juga terganggu sampai tatapan pria itu kembali bersiaga dan sangat beku.
"Aku akan lihat. Kau tunggu disini."
"Kell!" Axton tak membiarkan Kellen keluar. Ia merasakan jika bahaya di luar akan membuat Kellen terluka, Axton merasakannya.
"Tak apa. Pakaianmu akan ku siapkan, tetap di belakang. Hm?"
Axton terlihat mendingin tapi Kellen menangkap rahangnya lembut. Tatapan hangat netra ember Kellen mengisyaratkan Axton agar tetap tenang.
"Tak apa. Ayo keluar."
"Hm."
Axton menggenggam tangan Kellen keluar kamar mandi. Suara gemeriuh itu semakin terasa nyata dan berisik menganggu Axton yang cepat emosi.
Ada paper-bag diatas ranjang. Sepertinya Castor sudah mempersiapkan segalanya.
"Ax! Pakai dulu bajumu."
Axto hanya diam. Ia memperhatikan pintu kamar Kellen dengan tajam tak berkedip. Kellen yang meraih paper-bag hanya fokus mengeluarkan kaos lengan pendek warna hitam dan celana longgar pendek selutut berbahan jeans.
"Ini. Pakai juga Boxermu."
Menyerahkan pakaian itu. Tapi mata elang Axton melihat ada sinaran merah tepat di dekat pelipis Kellen dan itu berasal dari jendela kamar.
"Ada apa?"
Diam tak bergeming. Tangan Axton bergerak menyentuh titik merah itu hingga akhirnya Kellen melihat di cermin rias jika ini adalah laser seseorang.
"A..Aaaaxxx!!"
Teriakan Kellen mendorong Axton diiringi dengan suara pecahan kaca karna tembakan melesatkan timah ke dalam.
..........
Vote and Like Sayang