
6 bulan telah berlalu dengan cepat. Seiring dengan bertambahnya waktu perubahan juga selalu menyertai.
Beberapa bulan ini Axton sangat sibuk mengurus pekerjaannya. Ia juga sering jarang pulang dan bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di Markasnya.
Bukan tanpa alasan Axton benar-benar mengerahkan tenaganya untuk mengurus berbagai pekerjaan karna ia ingin menyelesaikan secepat mungkin dan barulah bisa damai menghabiskan waktu dengan Istrinya.
Kellen juga sudah di boyong ke Kediaman Miller dimana para pelayan sangat senang akan kedatangan Malaikat kecil itu dan Tuan Fander yang menghabiskan watu bersama cucunya.
Lalu siapa yang tak punya tujuan? Tentu saja seorang pria dengan kehidupan telah di ambang-ambang itu.
"Sampai kapan kau akan termenung di situ terus. Ha??"
Suara Nyonya Verena menyangga Martinez yang tengah duduk di tepi kolam memandangi gerombolan ikan berenang di dekatnya.
Martinez benar-benar jauh berubah bahkan, ia terkesan lebih pendiam semenjak tahu kisah permusuhan masa lalu itu.
"Mom! Aku tak mau diganggu."
"Dasar menyebalkan!!" umpat Nyonya Verena segera mendekat ke arah Martinez lalu menarik telinga pria itu dengan kasar.
Tentu Martinez langsung terperanjat memeggangi lengan Mommynya.
"M..Mom sakit!!"
"Berhenti melamun tak berguna seperti ini. Cepat makan-makananmu di dalam!!" geram Nyonya Verena menatap tajam Martinez. Namun, ia terdiam kala tatapan Martinez tampak tak bergairah terlihat lebih pendiam dan murung.
Helaan nafasnya turun. Ntah apa yang membuat pria ini sampai mengacuhkan semua orang?
"Ada apa?"
"Tidak ada." jawab Martinez kembali duduk di teli Kolam menatap kembali ikan-ikan hias di dalamnya. Sesekali ia mencelupkan tangannya ke dalam seakan tak punya pekerjaan lain.
"Martin! Kau tak perlu mencemaskan tentang Perusahaan."
"Mom." gumam Martinez menyeringit kala Nyonya Verena duduk di dekatnya. Terlihat jelas pandangan sendu itu untuk pertama kalinya.
"Aku masih punya Bisnis dan itu murni hasil kerja kerasku, kau tak perlu sampai seperti ini." mengiba dan merasa bersalah.
Tahu akan arah pembicaraan Nyonya Verena. Martinez langsung tertawa jahat membuat wanita itu menyeringit dengan tangan terkepal.
"Kenapa kau tertawa???"
"Mom! Aku..aku sangat tak menyangka kau bisa seperti ini." ucap Martinez memeggangi perutnya yang sakit. Semenjak masalah Axton selesai tiba-tiba saja sikap Nyonya Verena berubah lebih hangat.
"Martinez! Aku serius."
"Aku juga." jawab Martinez menarik senyuman. Terlihat jelas ia berusaha bersikap baik-baik saja padahal hatinya tengah gundah.
"Aku juga serius, Aku baik-baik saja dan tak memikirkan tentang kekayaan. Aku lelah, Mom."
Nyonya Verena terasa tertikam dalam. Senyuman nanar Martinez serta ucapan pria ini membuat dirinya membayang ke masa dimana kehidupan yang ia hadirkan hanyalah sebuah penyiksaan bagi Putranya sendiri.
"Kau pasti mengalami hal yang sangat berat."
Batin Nyonya Verena dengan mata berkaca-kaca. Tak lagi menuruti egonya, ia segera menarik bahu Martinez yang syok kala Nyonya Verena memeluknya.
Tiba-tiba dada Martinez berdesir. Perasaan aneh dan sesuatu yang tak pernah menghampirinya selama ini.
K..kenapa sangat hangat?
Martinez melemah merasakan kehangatan dan rasa nyaman yang belum pernah menyentuh batinnya. Apa perasaan ini yang telah direnggut dari Axton? Ini terlalu kejam.
"Maaf." satu kata keluar diringi dengan lelehan bening di pipinya.
"M..Mom! Kau.."
"Maafkan aku, karna aku kau mengalami hal yang sangat buruk." sesal Nyonya Verena mengusap kepala Martinez yang memejamkan matanya.
Sungguh, jika ia bisa memilih maka ia ingin seperti ini sejak lahir. Ia tak mau di acuhkan dan terus di desak agar bersikap keras pada dirinya sendiri.
"Maafkan. Mommy! Seharusnya kau.."
"Tidak. Jangan berkata begitu." sela Martinez menggeleng dengan mengurai pelukan. Ia mengusap tetesan air bening itu dari pipi Nyonya Verena yang terlihat menangis.
"M..maafkan aku, aku membuatmu merasakan hidup dengan tekanan yang kuat. Kau mendapatkan seorang Ayah yang suka mabuk-mabukan dan bermain wanita. Maafkan aku."
"Mom! Sudahlah, itu bukan salahmu " bantah Martinez tak mau melihat kebelakang. Sekarang ia hanya ingin memperbaiki dirinya sendiri.
"M..Martin. Mommy.."
"Suutt. Sudah! Aku ngeri melihat ingus Mommy." kelakar Martinez membuat darah Nyonya Verena mendidih hebat langsung memukul pundaknya kuat.
"KAU INI MEMANG BENAR-BENAR. HA???"
"Mom. Kau lebih cocok seperti ini." jawab Martinez tersenyum membuat Nyonya Verena lagi-lagi di landa sesak kembali memeluk erat putranya.
"Katakan! Kau ingin apa?"
"Banyak. Aku ingin semuanya."
"Salah satunya?" tanya Nyonya Verena mengusap kepala Martinez yang terdiam. Pikirannya tiba-tiba terbayang pada wajah cantik seorang wanita yang sudah lama meninggalkannya.
"Mom!"
"Hm? Katakan!"
"Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan seorang wanita dan bisa seperti Axton yang sudah punya anak?" tanya Martinez membuat Nyonya Verena terdiam cukup lama.
Ia tak begitu mengerti wanita mana yang Martinez maksud tapi yang ia tahu hanya Miss Barbie-lah yang selalu ada untuk putranya.
"Kau mencintai seseorang?"
"Siapa dia? Ayo kita temui dan kalian akan menikah."
"Aku tak tahu."
Jawaban itu membuat Nyonya Verena syok. Ia melihat wajah Martinez berubah sendu dan putus asa.
"Aku sudah mencarinya di sekitar tempat dimana biasa dia ada. Tetapi, ini sudah lewat satu tahun tapi dia masih menghilang."
"Miss Barbie?" tanya Nyonya Verena membuat Martinez mengulum senyum. Perhatian dan sikap lembut wanita itu selalu menghantuinya.
Melihat rona bersemu itu saja. Nyonya Verena sangat terkejut, apa benar Martinez mencintai wanita itu?
"Hey! Dulu kau menolaknya mentah-mentah. Ada apa ini?"
"Mom! Aku sadar, tak ada wanita yang bisa menerimaku sebaik dia. Wanita cantik, lembut dan penyabar. Itu sangat langka. Bukan? Bahkan Kellen tak bisa selembut dia." jelas Martinez agak ngeri membayangkan sikap kasar Kellen padanya, tapi berjuta kali berbeda jika bersama Axton.
"Baiklah! aku akan membantumu mencarinya."
"Benarkah??" pekik Martinez sangat syok dan berharap.
Nyonya Verena mengangguk menepuk bahunya lalu melangkah pergi. Tak tanggung-tanggung Martinez langsung berjingkrak kegirangan sampai tercebur ke dalam Kolam ikan.
"TERIMAKASIH MOOOOM! AKU MENYAYANGIMU!!!"
Teriak Martinez membuat Nyonya Verena geli. Ia masuk ke dalam Kediaman utama dimana Kellen terlihat menata makanan diatas meja seraya menelfon.
"Kapan pulang? Kau ini sudah tak mencintaiku lagi. Ha??"
"Bukan begitu."
"Lalu? Kenapa jarang menelfonku? Kau ingin aku mencari suami baru. Begitu?"
"KELLEEN!!!"
Suara geraman Axton membuat Kellen terkekeh kecil menata sup dan piring bersama Yagatri yang tersenyum mendengar obrolan Tuan dan Nona mudanya.
"Kenapa tak pulang?"
"Kau tenang saja. Saat aku pulang, kau tak akan ku biarkan pergi dari ranjangku."
"Aax! Kau.."
Kellen memerah malu kala kalimat Axton terdengar fulgar dan sangat menekan. Para pelayan yang mendengarnya tampak mengulum senyum membuat Kellen segera pergi dengan malu.
"Ax! Bisa tidak jangan aneh-aneh."
"Tidak! Untukmu aku selalu suka yang aneh."
Godaan itu membuat Kellen bersemu. Mereka hanya bisa saling menggoda satu sama lain. Axton sudah 3 bulan berpuasa karna kesibukan di luar rumah.
"Kapan pulang? Aku sangat merindukanmu." gumam Kellen bersandar Kedinding di belakangnya.
"Kau begitu tak sabar. Hm?"
"Ax! Bukan masalah kepuasaan Sayang, aku ingin melihatmu ada di sini." jawab Kellen meraba bibirnya sendiri. Munafik jika ia juga sangat merindukan belaian tangan kekar itu di setiap jengkal tubuhnya.
"Hm. Aku akan berusaha cepat! Tapi, saat aku pulang Iblis kecil itu sudah tak punya bagian lagi, INGAT. sampaikan padanya."
Kellen terkekeh geli mendengarnya. Lagi-lagi Baby San akan menjadi rival terberat Axton.
"Baiklah. Daddy!"
"Hm. Kau juga harus mempersiapkan diri, Harimau yang lama bebas itu lebih ganas dari yang di kandang. Sayang!"
Goda Axton semakin membuat Kellen membayang hebat. Ia menggeleng berusaha untuk berpikiran positif.
Setelah beberapa lama keduanya saling menggoda. Kellen baru menyadari jika Nyonya Verena memandanginya diujung sana dengan tatapan yang semu.
"A.. M..Mommy!"
Dengan cepat mematikan panggilan takut Nyonya Verena mendengar obrolan Mesum Axton. Ia mendekat dengan wajah kaku.
"Axton?"
"A.. Iya. Dia..dia menanyakan kabar Baby San." jawab Kellen dengan jelas di sadari itu hanya elakan.
Axton tak akan pernah sehangat itu dan terkesan perhatian.
"Sudahlah. Aku tahu Axton hanya akan menanyakanmu."
"A.. Itu.." Kellen tak bisa mengelak lagi. Ia menunduk dengan rona merah terlihat sangat cantik. jika Axton disini, ia pasti lebih dulu menggigitnya.
"Kell!"
"Iya. Mom?"
"Apa kau tahu dimana keberadaan Miss Barbie?"
Kellen terdiam sejenak. Semenjak malam itu ia juga tak pernah mendengar kabar tentang Miss Barbie.
"Tidak. sudah satu tahun lebih, Miss Barbie tak ada kabar atau menghubungiku. Nomernya juga tak aktif. Mom!"
"Dimana dia? Pantas jika Martinez cemas."
....
Vote and Like Sayang..