
Rasa gelisah dan tak tenang itu terus menghantui Kellen yang mencoba untuk tetap berfikir positif.
Ia terusik akan ucapan Tuan Benet tadi sore. Sekarang sudah malam dan cukup larut, Kellen belum terfikir untuk menelfon Axton.
Ia baru saja mandi hanya memakai Bathrobe seraya bersandar diatas kepala ranjang menatap ke arah Balkon kamarnya.
"Kenapa jadi rumit begini? Daddy tak boleh tahu siapa Axton sebenarnya." gumam Kellen memejamkan matanya. Rambut panjang itu sudah ia gulung dengan handuk karna baru saja keramas.
Tak lama berselang. Ponsel Kellen langsung menyala membuyarkan lamunan Kellen yang segera mengambilnya.
Namun. Senyuman di wajah wanita itu mekar kala melihat nama seseorang tertera di sana. Ini adalah panggilan Vidio Call.
"Apa aku sudah cantik?" gumam Kellen menatap dirinya dari pantulan cermin meja rias. Ia merapikan handuk di atas kepalanya lalu berbaring santai.
Kala sambungan sudah terangkat. Kellen membalikan kamera kebelakang hingga hanya pemandangan kamar yang terlihat.
"Mana wajahmu?"
Kellen hanya diam mengulum senyum dengan mata penuh kerinduan pada sosok Tampan yang terlihat duduk diatas sebuah sofa. Sepertinya Axton belum juga istirahat.
"Aku ingin melihatmu!"
"Emm.. Ax!"
"Hm."
Kellen ingin sedikit mengerjai Axton yang tadi siang begitu menyebalkan.
"Aku demam!"
"Apaa??? Bagaimana bisa? Kenapa mereka tak memberitahuku.. Castoooor!!"
Kellen tersenyum senang. Ia benar, Axton telah memberi anggota pemantau untuk mengawasinya dan semua urusan rumah ini tadi anggotanya-lah yang bekerja.
Terdengar amarah Axton menggebu-gebu pada para anggotanya terutama Castor yang jadi kambing hitam Kellen.
"Istriku sakit. Kau bilang dia baik-baik saja!!"
"A..Ax! Aku..aku tak tahu, sesuai laporan Kellen aman di rumah."
"Kauu.."
Kellen segera membalikan kamera memperlihatkan wajahnya. Seketika geraman Axton terjeda kala melihat wajah cantik Kellen yang tampak baik-baik saja.
"Kellen."
"Aku demam cinta untukmu!"
Seketika Axton meletakan ponselnya ke atas meja tak lagi memperlihatkan visualnya. Suara umpatan Castor terdengar sampai pintu tertutup.
"Selalu saja aku!! Hanya aku yang hidup diatas dunia ini!!"
"Caas! Tapi, aku memang demam. Tanya pada Suamiku!" ucap Kellen terkekeh geli sendiri.
Axton yang tengah bersandar ke sofa singel di ruangan baca ini hanya bisa diam memejamkan matanya. Ia sangat merindukan Kellen tetapi jarak ini terlalu menyusahkan.
Sementara Kellen. Ia masih ingin bercanda dengan Axton yang pasti tengah kesal bukan main.
"Ax! Kau masih disana?"
"Hm."
"Kau marah?"
"Hm."
Sudah di tebak pria ink tengah merajuk. Kellen akhirnya mulai merubah intonasi suaranya.
"Baiklah. Kalau kau tak mau bicara, aku tutup telpon i.."
"Kau sudah makan?"
Suara Axton mengalun diringi dengan ponsel yang kembali berpindah ke tangannya. Wajah tampan datar yang terlihat tak lekang menatap visual cantik Kellen.
"Sudah. Kalau kau?"
"Sudah."
"Bohong!" sambar Kellen dengan tatapan menajam. Ia sangat tahu Axton sangat susah makan berat dan selalu menunda-nunda.
"Makan di hadapanku SEKARANG!"
"Baiklah. Nyonya!"
Jawab Axton pasrah mengambil makanan yang memang sudah di bawakan Castor tadi di sini. Ia hanya tak berselera saja.
"Mana? Ayo cepat!"
"Kau makan berapa sendok?"
"Aku tak terlalu banyak. Soalnya mau diet."
Seketika wajah Axton berubah mengeras. Ia tak pernah suka jika Kellen selalu membatasi porsi makannya sedangkan ia tak kekurangan apapun.
Melihat wajah menyeramkan Axton. Kellen hanya bisa melempar cengiran tak berdosanya.
"Ax! Aku sudah mulai berlemak, pahaku sudah berisi dan pinggulku juga."
"JANGAN COBA-COBA MELAKUKANNYA."
Tekan Axton menggertakan giginya kuat ******* sepotong roti yang sudah ia telan bulat-bulat.
"Ax! Kau mau punya istri sebesar Tangki air? Nanti kau mau membawaku keluar."
Axton terlihat menghela nafas dengan wajah sangat serius. Pria ini tak bisa di ajak bercanda sedikit saja maka akan tersulut.
"Kau akan ku rantai di atas ranjang ku."
"Haisss.. Kau memang menyebalkan." umpat Kellen lalu keduanya saling tatap spontan memberi senyuman.
Senyuman Axton tak begitu lebar. Tetapi, kala sudut bibir pria itu terangkat sedikit saja. Sudah mampu membuat Kellen senang.
"Ax!"
"Hm?"
"Ada yang ingin-ku bicarakan denganmu."
Axton mengangguk mendengarkan apa yang akan Kellen katakan. Kelihatanya pembahasan ini begitu serius.
"Tadi aku memberi tahu tentangmu pada Daddy."
"Lalu?"
Kellen menghela nafas halus seraya menatap Axton terlihat tak mengalihkan pandangan.
"Daddy bilang, selagi kau tak mengundang bahaya untukku maka dia akan menerima. Tapi, aku hanya takut jika.."
"Kau takut jika aku tak di terima?"
Sela Axton menangkap jelas kekhawatiran Kellen yang segera mengangguk.
"Emm.. Iya."
"Aku mengerti jika Daddymu mengatakan itu karna kau putri kesayangannya."
"Tapi, bagaimana kalau.."
"Aku tak akan mundur."
Jawaban Axton membuat Kellen terdiam. Tatapan mata wanita itu terlihat sangat terharu akan jawaban tegas suaminya.
"Apa yang telah menjadi Milikku tak akan ku kembalikan. Jangan terlalu dipikirkan."
"Kau yakin?" tanya Kellen dengan perasaan campur aduk.
Axton mengangguk dengan tatapan sangat tegas. Ia menyalurkan ketenagan pada Kellen yang akhirnya bisa lega.
"Sekarang tidurlah. Ini sudah larut!"
"Kau sudah tidur?" tanya Kellen karna yakin sekarang sudah mau pagi di sana. Perbedaan waktu disini dan di Spanyol cukup membuat mereka berbeda.
"Masih banyak yang harus ku kerjakan. Tidurlah, jangan matikan ponselmu."
"Emm.. Temani aku."
Axton mengangguk membiarkan Kellen memposisikan ponselnya di dekat bantal di sebelahnya. Ia melepas handuk diatas kepalanya lalu mulai berbaring menyamping menatap layar ponsel.
"Good Night!"
"Night. Tapi, jendelamu sudah di kunci kan?"
"Sudah."
"Tutup tirai balkon mu. Dan matikan lampu utama."
Kellen hanya mendengarkan ucapan Axton yang terlihat meneliti apa saja yang ada di belakang Kellen.
Ia menjaga istrinya yang tampak mulai mengantuk karna kesunyian dan hening yang sengaja Axton biarkan untuk melelapkan sang kesayangan.
Setelah beberapa lama. Kellen sudah tak lagi sadar terbukti dengan mata terpejam dan helaan nafas halus dari dadanya.
Sementara Axton di seberang sana belum mau beranjak dari sini. Ia memandangi wajah damai Kellen dengan sangat lembut seakan tak akan pernah bosan.
Ada sepasang mata yang tengah menatap dari atas pelapon sana. Ia sengaja melubangi bagian atas yang tepat berada di atas kepala Axton yang tampak tak mencurigainya.
"Siaall! Siapa wanita itu?" gumamnya menggeram hebat. Ia melihat dan mendengar percakapan mereka tetapi yang menyulut amarahnya adalah respon Axton yang seperti tengah menjadi orang lain.
"Wanita itu memang sangat cantik. Aku tak mengenalnya dan.."
Kalimatnya terhenti kala satu tembakan tiba-tiba melesat menembus plafon sampai mengenai pahanya.
Ringisan itu keluar dengan plafon yang langsung robek karna tembakan peluru itu memang mengenai perekat di tengah-tengah plafon.
"Shitt! Dia memang tak berubah."
Batin wanita itu memeggangi pahanya yang berdarah. Axton masih duduk tenang di sofanya tapi pistol yang ia peggang masih tertuju ke atas sana.
"Merusak tidur. Malam bulanku!"
"A..Ax!"
Wanita itu langsung mengoyak lebar plafon atas lalu meloncat keluar dengan paha masih meneteskan darah segar yang menjijikan.
Raut wajah Axton sangat dingin. Ia sudah membisukan sambungan mereka karna tak ingin Kellen terperanjat dari tidurnya.
"Ax! aku sangat merindukanmu."
"Tak cukup satu." gumam Axton melempar pandangan membunuhnya. Tapi, bukannya pergi dari sini, wanita dengan wajah sama seperti di Bandara waktu itu malah memberikan seringaian.
"Apa dia mangsa barumu?"
"Isyana!!"
Suara Castor yang baru sampai segera masuk menatap sosok wanita yang ia panggil Isyana. Wanita berambut bergelombang dengan tatapan mata yang tajam dan licik.
"Ouhh. Apa kau bocah pengikut setia itu. Hm?"
"Kenapa kau disini?" tanya Castor yang menatap luka di paha Isyana. Ini pasti karna Axton dan itu tak aneh lagi.
"Kau datang langsung membuat kekacauan. Kau memang sudah gila!"
"Yah. Aku Gila karna Axton tak mengingat aku." geram Isyana melempar tatapan geramnya pada Axton yang sudah tahu siapa wanita ini tapi ia tak ingin membuat hubungan apapun.
"Siapa wanita itu dan kenapa kau begitu perhatian padanya? Apa ini karna musuhmu?"
"Isyana! Ikut aku!" Castor ingin menarik lengannya tapi Isyana segera menghindar melangkah mendekati Axton yang sudah mengepal.
"Axton! Aku yang berlatih bersamamu saat di Hutan dan aku yang sudah menyelamatkan Emon. Kau.."
Axton sudah menodongkan pistolnya ke kepala Isyana yang tercekat. Ia tahu Axton tak pernah bercanda.
"Menjauh DARIKU!" Tekan Axton membuat Isyana mengepal kuat.
"Kauu apa-apaan. Ha? Kita ini sudah di jodohkan. Ax!"
"Isyana! Keluar!!" sambar Castor tak mau jika Axton melakukan pembunuhan disini. Ia tak bisa mencegah jika itu sudah terjadi.
"Kau pasti membuat rencana baru untuk dia. Dia itu musuhmu dan kau punya banyak cara membunuhnya. Benarkan?"
"Isyana." geram Castor menyeret kasar Isyana keluar menjauhi Axton yang tampak membuang nafas berat.
"Kenapa dia muncul sekarang?!" umpat Axton melempar pistolnya ke sembarang arah.
Vote and Like Sayang..