My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Berat hati meninggalkanmu!



Sudah lama Mobil itu melaju dengan stabil melalui jalan aspal bersih Barcelona yang sangat indah dengan panorama teknologi gedung yang menunjukan jika mereka memang kota maju tapi budayanya masih kental di perkenalkan.


Lampu-lampu jalan yang terang dengan pencahayaan dari air pancur di beberapa jalan berwarna-warna di saksikan banyak orang yang berhenti mengabadikan Momen itu.


"Kau yakin ingin melakukan ini?"


Tanya Castor yang tengah mengemudikan Mobil. Axton hanya diam menatap keluar jendela mobil.


Satu tangannya mengusap lembut kepala seorang wanita yang sudah lama hanyut dalam alam bawah sadarnya.


"Ax! Aku rasa, kau terlalu nekat."


"Itu keputusanku."


Jawaban Axton seketika bisa meyakinkan Castor. Tak lagi ada percakapan karna keduanya punya pikiran masing-masing.


Lama suasana mobil benar-benar sunyi. Axton yang tak pandai bicara banyak dan membual itu selalu saja membuat suasana dingin dan kosong.


Belaian tangan kekar itu ke surai lembut sang istri mampu menariknya dalam kesadaran duniawi. Perlahan pelupuk netra amber itu bergerak dengan dahi menyeringit.


"A..Asss!!"


"Kau sadar?" tanya Castor mendengar ringisan Kellen.


Mata wanita itu terbuka menatap sipit pada langit-langit Mobil dan mengendus aroma Parfum seseorang yang tak asing baginya.


Wajah cantik agak pucat yang terbenam ke perut keras dan kekar ini langsung tersentak kala melihat wajah tampan datar seseorang yang memangku kepalanya.


"A..Ax!"


"Hm."


Axton meraih botol air di samping kursi mobil, Dengan ringan membuka dan meminumnya sedikit. Dirasa aman barulah ia mengangkat kepala Kellen pelan menyodorkan air itu ke bibir mungilnya.


"Minumlah!"


"Kenapa aku bisa ada disini?"


Batin Kellen masih berfikir. Ia dengan kaku menegguk botol itu pelan lalu menyudahinya.


"Kepalamu masih pusing?"


"Emm.. Sedikit."


Jawab Kellen ingin duduk tapi Axton menahan bahunya untuk tetap berbaring. Tatapan datar yang tak menyimpan amarah tapi beginilah dia.


"Berbaringlah!"


"A.. Ax! Aku.."


"Kau lapar?"


Kellen diam sejenak. Ia rasa ini agak canggung setelah aksi pertengkaran mereka tadi pagi.


Walau di rasa perutnya sangat lapar. Kellen terpaksa menggeleng karna tak berani untuk membahas hal lebih.


"T..Tidak. Aku..aku tak lapar."


"Cih. Jelas sedari kau tidur perutmu berbunyi terus."


Batin Castor melirik dari spion. Tak ada respon berlebih dari wajah Axton yang segera mengambil sesuatu di belakang kursi Mobil.


Dan saat itulah Kellen terkejut kala Axton membawa Paper-bag berisi kotak makanan dan banyak lagi Snack ringan yang sehat.


"Aku..aku tak lapar."


"Duduk!"


Dengan kaku Kellen perlahan duduk di kursinya belum menyadari arah Mobil ini kemana. Bahkan, pakaiannya sudah berganti-pun Kellen belum tahu.


"A..Ax!"


Axton tak menjawab. Ia menggulung rambut panjang Kellen keatas sampai rapi lalu mengeluarkan Kotak makanan itu dari dalam Paper- bag.


"A..Ax!"


"Ini masakan rumah."


"A..Apa?" tanya Kellen terhenyak melihat isi dari Kotak makanan itu. Ada beberapa potongan daging yang sepertinya dibaluri saos ikan dan Salad sayur yang di racik khas. Terlihat menggiurkan.


"Yagatri memasaknya untukmu."


"T..tapi kapan? Kita..kita belum pulang ke.."


"Makanlah!"


Axton mengangkat sendok ke mulut Kellen yang diam merasa Axton terlalu dingin padanya. Apa karna kejadian tadi?


"Ax! Aku.."


"Makanlah dulu. Baru kita bicara." tegas Axton memasukan sendok itu lembut ke mulut Kellen yang dengan segan mengunyah makananya.


Setiap Kellen ingin bicara. Axton selalu memasukan makanan itu ke mulutnya, alhasil wanita itu diam dan fokus untuk mengunyah.


"Siaal!! Aku sangat lapar."


Batin Kellen merasa sulit berhenti. Axton tahu dan paham kebiasaan Kellen bagaimana, jika tengah gugup maka, Kellen akan selalu berbuat ceroboh dan tak jujur.


Melihat Kellen lahap makan di suapi begitu. Castor seketika menarik senyum sinis, wanita ini memang menguras tenaga.


"Kau bilang tak lapar. Tapi, tak ada yang tersisa selain sendok dan tempat makan itu."


"A..Aku.."


Kellen tersentak spontan menggeleng dengan wajah memerah. Ia menatap Castor yang menahan kegelian lalu berhenti mengunyah segera menunduk malu.


"A..aku..hanya.."


"Apa salahnya kau bilang saja lapar?"


"A..Aku sudah kenyang."


Lirih Kellen belum sepenuhnya menelan makananya. Ia dengan tak rela menjauhkan bungkusan-bungkusan Snack itu di hadapannya membuat Axton melempar tatapan membunuh pada Castor.


"Makanlah!"


"A..aku .."


Axton menghela nafas halus menatap Kellen dengan pandangan yang sulit di jabarkan. ntah ia tengah senang atau kesal itu sulit di tebak.


"Dia hanya bercanda."


"Tapi, aku malu padamu."


Batin Kellen merasa ingin mencabik Castor. Ia berusaha bersikap biasa dengan Axton tetapi si ubur-ubur jantan ini sangat menyusahkannya.


"Kau ingin bicara apa?"


"Itu.. Aku.."


Kellen mengangkat kepalanya menatap Axton yang melihat bibirnya belepotan.


"Aku minta maaf!"


"Soal?" tanya Axton seraya mengusap bibir Kellen dengan jempolnya membersihkan sisa saos yang menempel.


"Ax! aku tahu kau marah padaku, tapi aku ingin kau mengerti kalau aku ingin bertemu Daddyku. Hanya sebentar, aku hanya akan memastikan dia baik-baik saja dan.."


"Aku mengerti." jawab Axton seraya menghisap jempolnya yang terdapat sisa saos di bibir Kellen tadi.


Melihat itu Kellen diam. Hal biasa yang di lakukan Axton setiap hari padanya tapi ntah kenapa jadi sangat mempesona.


"L..lalu.."


"Lihat keluar!"


Kellen segera menatap keluar jendela. Seketika matanya terkejut kala melihat jalan ini adalah jalan menuju Bandara Internasional di Barcelona apalagi ada Gedung Hotal besar yang dulu ia lihat saat di dalam Mobil Taksi.


"A..Ax!"


Kellen dengan cepat mengeluarkan kepalanya ke luar jendela memastikan jika ia tak bermimpi.


"Axton! Kau.."


"Jangan keluarkan kepalamu. Bisa saja ada mobil di belakang."


Axton menarik Kellen kembali ke dalam. Wajah wanita itu tampak masih ragu-ragu jika mereka akan benar-benar ke Bandara.


"A..Ax! Kau..kau mau kemana dan.. Dan ini.."


"Menurutmu?" tanya Axton membuat Kellen berfikir. Ia beralih memandang Castor dari spion Mobil dan saat Castor menganggukinya, jantung Kellen langsung berguncang.


"B..Benar.. Ini.."


"Makanlah yang banyak. Aku tak ingin saat kau pulang, aku di kira tak mengurus Istriku dengan baik."


Kellen seketika berhambur keperluan Axton yang selalu siap menerima tubuh molek ini dalam pelukan hangatnya. Kotak makanan itu di pinggirkan ke belakang.


Namun. Kellen seketika terasa hambar kala menduga jika Axton tak akan pergi. Pria ini akan tetap di Negaranya dan ia pulang dengan jarak yang jauh.


"A..Ax!"


Axton mengusap kepala Kellen yang segera mengangkat kepalanya dari bahu Axton.


"Mungkin nanti aku tak akan sempat menghubungimu."


"Maksudmu?" tanya Axton mengusap pipi Kellen halus.


"Kalau dengan Daddy aku tak bisa terlalu fokus pada ponsel. apalagi, nanti pasti aku akan mengurus Klinik ku."


"Sesibuk itu?" tanya Axton dan diangguki Kellen dengan tak rela.


"Yah. Daddyku sangat cerewet dan nanti, aku berusaha berbicara dengannya kalau kita sudah menikah."


Axton diam sesaat. Ia harus mengurus disini dulu dan barulah ia bisa pergi menyusul Kellen di sana.


Itu-pun rasanya Axton tak sanggup. Ini terlalu berat baginya, tapi. Ia tak mau melukai Kellen terus.


"Tapi, berbeda kalau kau ikut. Ax!"


"Aku ingin dan sangat ingin." gumam Axton membenamkan wajah Kellen ke dada bidangnya.


Kecupan ringan itu Axton hadiahkan ke puncak kepala Kellen sebagai sebuah tanda perasaan yang dalam darinya.


"Nanti, kalau aku sudah selesai mengurus disini. Aku akan menyusul mu."


"Benarkah?"


Tanya Kellen sangat berharap. Axton mengangguk menatap keluar jendela dan mereka sudah memasuki Bandara yang sekarang masih ramai.


Pelukan keduanya mengerat dengan kecupan hangat terus Axton labuhkan ke kening Kellen yang juga merasa sesak ingin berpisah begini.


"Kita sudah sampai. Ax!"


"Hm."


Castor memasukan mobil ke Lobby dimana beberapa anggota mereka sudah menyamar menjadi Stav Bandara.


Disini mereka tak boleh terlihat menonjol dan untungnya nuansa malam yang pekat dan agak dingin membuat mereka nyaman.


"Semuanya sudah siap. Tuan!"


"Jangan terlalu terlihat kalian disini."


Ucap Castor keluar mobil lalu membuka pintu bagian Axton.


Ia melihat jika dua manusia ini masih enggan untuk melepas pelukan itu bahkan terlihat semakin rapat dan erat.


"Ax! Kita harus cepat."


"Aku tahu." jawab Axton perlahan mengurai pelukan tapi bukan berarti terlepas.


Axton keluar dari mobil menggenggam tangan Kellen yang masih masuk dalam pelukannya.


"Pakai maskermu. Disini cukup ramai."


"Iya."


Kellen hanya diam membiarkan Axton memakaikannya. Ia beralih membelit pinggang kokoh Axton yang sudah memakai masker hitam yang sama dengannya.


"Ayo! Kesini."


"Saya akan memandu kalian." imbuh Anggota mereka yang sudah menarik Koper Kellen yang nyatanya sudah di turunkan.


Mereka melangkah keluar Lobby dimana ada banyak orang yang tengah keluar masuk tujuan.


Tak ada yang mengenal atau menyapa selain beberapa anggota yang sudah Axton tugaskan menjaga tempat ini selagi Kellen belum berangkat.


"Ax! Kita foto dulu."


"Foto?"


"Iya. Ayo!"


Kellen menarik lengan Axton ke sebuah pancuran besar yang ada di lapangan dekat Bandara. gemerlap lampu dan warnanya yang seperti pelangi membuat Kellen bersemangat.


"Disini! Kita ambil foto disini."


"Kau yakin?" tanya Axton agak risih di keramaian begini. Beberapa anak kecil memperhatikan mereka tapi Axton acuh dan tak nyaman.


Sangat berbeda dengan Kellen yang meminta Castor membantu menjadi Fotografer.


"Caas! Fotokan kami!"


"Aku?" gumam Castor menunjuk dirinya sendiri. kala Kellen menganggu spontan Castor menggeleng, tapi. Lirikan mata membunuh Axton membuatnya tak berkutik.


"Ayolah!"


"Cih." decah Castor mendekat mengambil alih ponsel Kellen yang kembali ke dekat Axton. keduanya membuka masker karna disini tak terlalu kenal dengannya.


"Ayo! lihat ke kameranya."


"Hm."


Axton dengan kaku berdiri tegap membelit pinggang Kellen yang sudah tersenyum begitu cantik membuat Axton lebih tertarik melihat ke wajah Kellen.


"Lihat ke kameranya. Ax!"


"Hm."


Namun Axton tak bergeming. Ia melihat Kellen sangat bersemangat malam ini. Senyuman yang belum pernah ia lihat dan tatapan sangat ambisius.


"Lihat ke sana!!"


"Ax! Kau tak sedang di kantor polisi." timpal Castor sudah mengambil gambar di setiap exspresi Kellen dan Axton yang tak mau berpaling juga.


"Ax! Ayolah, lihat kesana!"


"Baiklah." jawab Axton kali ini menatap ke arah kamera. dengan beberapa kali pengambilan, akhirnya Castor selesai memberikan ponsel itu pada Kellen.


"Mana fotonya?"


"Kau lihat saja wajah aspal suamimu."


Kellen terhenyak akan ucapan Castor yang menahan kegelian. Kala ia sudah melihat Galerinya dan seketika Kellen menggeleng melihat raut datar Axton yang tampak sangat tak bisa di bawa ceria.


"Lihat, Ax! Kau seperti baru saja membunuh seseorang."


"Maksudmu?"


Kellen menunjukan foto-foto mereka dan benar saja. Wajahnya terlalu monoton dan kaku seperti tak biasa dan memang iya. Tapi, menurut Axton itu sudah bagus dan sempurna.


"Apa masalahnya?"


"Wajahmu! Kau seperti tak bahagia denganku, aku seperti seorang istri yang hidup bersama Suaminya yang tak mencintainya sama sekali."


"Itu salah." tegas Axton tak menyukainya.


"Kalau begitu sekali lagi. Kalau memang kau tak mencintaiku maka wajahmu akan tetap seperti ini." tantang Kellen kembali menyerahkan ponselnya pada Castor yang mau tak mau kembali ke posisi.


"Kalian Siaap?"


"Aku sudah." jawab Kellen melebarkan senyuman. Satu tangannya membentuk love dan Axton mulai mengkondisikan wajahnya.


"Begini!" mengangkat sedikit senyuman yang kaku.


"Angkat lagi. Jangan tak tulus begitu."


"Begini!" ia kembali menipiskan bibirnya membuat Castor kagum melihat Kellen menarik kedua sudut bibir Axton agar bisa tersenyum lebih lebar dan ceria.


"Matamu jangan datar saja, tunjukan kalau kita senang malam ini."


"Hm."


Kellen mengulum bibir kala melihat Axton tak menurunkan senyumannya. mereka kembali melihat ke kamera dan kali ini Castor begitu bersemangat.


Tak hanya sekali atau dua kali. Kellen terus meminta Axton memberikan senyuman hingga sampai semuanya Axton lakukan hanya untuk Kellen.


Beberapa orang di sekitarnya tampak kagum akan pesona keduanya tapi kali ini, mereka sangat menikmati raut santai Axton yang mencoba berbagai posisi dengan Kellen.


"Begini. manyunkan bibirmu."


"Iya. Tuaaan!!" yang lain ikut menyoraki. Kellen memanyunkan bibirnya seperti ingin mencium Axton tapi matanya menatap Kamera.


Di situasi ini Axton mulai oleng pada bibir istrinya yang di tatap penuh puja oleh lelaki di sekitar sini.


"Ayo. Ax! Mereka menunggu kejutanmu dan.."


Cupp..


Mata Kellen melebar kala bibirnya di sambar Axton dengan sangat posesif membuat para pengunjung histeris. Mereka ingin merekam tapi tak di perbolehkan oleh para anggota yang sudah turun tangan.


........


Vote and Like Sayang..